Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Kawasan yang dahulu dipenuhi hutan lebat kini menghadapi kerusakan akibat kebakaran, pembabatan, dan penebangan liar. Dari situ muncul sebuah ajakan: bisakah masyarakat bergotong royong menjaga hutan Kalimantan agar tidak terus terbakar, ditebang, atau beralih menjadi lahan tambang, perkebunan sawit, dan kawasan industri?

Dalam percakapannya bersama Denny Sumargo, Ferry Irwandi menjelaskan latar belakang gerakan “Patungan untuk Hutan”, kebutuhan di lapangan, pengelolaan dana, serta berbagai kritik yang menyertainya. Pembicaraan itu juga menyentuh persoalan tanggung jawab pemerintah, batas kemampuan individu, dan alasan pribadi Ferry menjalankan kegiatan sosial.

Ringkasan
  • Ferry Irwandi menegaskan bahwa “Patungan untuk Hutan” bukan penggalangan dana untuk membeli hutan, melainkan untuk mendukung perlindungan, penanganan, masyarakat, dan satwa terdampak.
  • Dalam empat hari, penggalangan dana disebut mencapai sekitar Rp6,3 miliar dari sekitar 73.000 orang, sementara kebutuhan program diperkirakan bisa mencapai Rp50–100 miliar.
  • Gerakan ini juga memunculkan perdebatan mengenai tanggung jawab negara, partisipasi masyarakat, transparansi donasi, dan risiko personalisasi gerakan sosial.

Patungan untuk Hutan Bukan untuk Membeli Hutan

Sejak awal, Ferry meluruskan salah pengertian yang telanjur menyebar. Gerakan tersebut bukanlah penggalangan dana untuk membeli hutan.

Menurutnya, urusan kawasan hutan melibatkan persoalan status lahan, perizinan, dan tata kelola yang berlapis. Karena itu, sejak pengumuman pertama, nama dan tujuan kampanyenya adalah “Patungan untuk Hutan”. Dana dihimpun untuk mendukung kebutuhan perlindungan dan penanganan hutan beserta masyarakat serta satwa yang terdampak.

Bagi Ferry, perbedaan istilah tersebut penting karena menyangkut tujuan kegiatan dan pemahaman para donatur. Ia merasa perlu meluruskan informasi yang keliru agar orang yang sudah menyumbang, maupun yang memiliki kepedulian, tidak memperoleh gambaran yang salah.

Saat percakapan itu berlangsung, penggalangan dana disebut telah mencapai sekitar Rp6,3 miliar dalam empat hari, dengan kurang lebih 73.000 orang berpartisipasi. Ferry mengaku terharu terutama oleh jumlah orang yang ikut menyumbang. Dukungan itu menunjukkan bahwa kepedulian datang dari banyak orang, termasuk mereka yang memberikan donasi dalam nominal kecil.

Ia melihatnya sebagai bukti bahwa masyarakat Indonesia memiliki kemampuan bergotong royong yang besar.

Rp6,3 M Donasi dalam empat hari
73.000 Perkiraan jumlah donatur
Rp50–100 M Rentang kebutuhan yang disebut
3 wilayah Aceh, NTT, dan Kalimantan

Gerakan ini juga tidak muncul secara mendadak. Sebelumnya, Ferry dan tim telah menjalankan penyaluran bantuan di Aceh serta Nusa Tenggara Timur. Dalam percakapan tersebut, ia menyebut penghimpunan dana sekitar Rp10,3 miliar untuk Aceh dan sekitar Rp8–9 miliar untuk NTT. Ketika kegiatan di Kalimantan dimulai, sebagian tim masih bekerja di daerah-daerah tersebut.

Pengalaman itu menjadi bekal, tetapi kondisi Kalimantan menuntut pendekatan berbeda.

Ketika menangani bantuan di Aceh dan Flores, tim mendatangi posko penanganan, lokasi pengungsian, dan desa-desa terpencil. Di Flores, perjalanan menuju suatu lokasi bahkan dapat membutuhkan delapan jam dengan sepeda motor.

Di Kalimantan, tujuan perjalanan mereka justru titik-titik api.

Ferry menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana ekologis dengan unsur aktivitas manusia yang besar. Penanganannya pun memiliki tantangan tersendiri: api dapat meluas dengan cepat, sementara lokasi yang membutuhkan pertolongan terus berubah.

Kebutuhan yang paling mendesak adalah membantu warga dan relawan yang memadamkan kebakaran secara swadaya. Banyak dari mereka bekerja dengan peralatan terbatas. Ada yang hanya menggunakan ember. Jumlah personel tidak banyak, tetapi mereka harus bersiaga sepanjang waktu karena kebakaran dapat mengancam permukiman.

Dalam perjalanan dari Ketapang menuju Kayong Utara, Ferry dan tim menyaksikan api tiba-tiba membesar di sekitar sebuah permukiman. Warga berusaha menghubungi pemadam kebakaran, tetapi seluruh petugas sedang menangani lokasi lain. Para relawan juga sudah tersebar di titik-titik kebakaran.

Warga kesulitan bertindak karena sumber air terbatas dan peralatan tidak tersedia. Mereka membutuhkan mesin pompa, selang, nosel, serta penampungan air.

Pada malam itu juga, tim memutuskan mencari perlengkapan di Ketapang. Mereka mengadakan penampungan air dan peralatan yang diperlukan, lalu membantu warga menyusun selang serta memadamkan api.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa bantuan harus dapat bergerak cepat. Api tidak menunggu sampai peralatan tersedia atau proses penggalangan dana selesai.

Poin penting: sejak awal, gerakan ini ditempatkan sebagai respons terhadap kebutuhan lapangan—bukan sebagai proyek membeli kawasan hutan. Fokusnya bergerak dari penanganan darurat, mitigasi, hingga dukungan terhadap masyarakat dan satwa terdampak.

Dari Mesin Pompa hingga Drone Termal: Dana Disusun Berdasarkan Kebutuhan Lapangan

Setelah itu, tim mengumpulkan informasi dari organisasi, yayasan, relawan, dan kelompok masyarakat. Pertanyaan utamanya sederhana: apa yang mereka butuhkan agar dapat bekerja?

Jawabannya beragam. Ada kelompok yang berfokus pada pemadaman kebakaran, pembangunan sumur bor, konservasi, perlindungan masyarakat adat, hingga penyelamatan satwa. Bahkan organisasi yang sama-sama menangani satwa dapat memiliki fokus yang berbeda.

Dari sana, kampanye disusun untuk mencakup mitigasi, penanganan darurat, dan pemulihan.

Ferry menceritakan bahwa ia menghabiskan beberapa hari menyusun riset serta perhitungan anggaran. Kebutuhan dihimpun dari banyak sumber, kemudian dipetakan berdasarkan kondisi lapangan dan kemampuan setiap kelompok.

Besarnya kebutuhan bergantung pada cakupan wilayah serta jenis intervensi. Dalam pembahasan berikutnya, ia menyebut rentang target Rp50–100 miliar, sambil menegaskan bahwa rencana tetap harus disiapkan apabila dana yang terkumpul lebih sedikit.

Menurutnya, membahas Kalimantan secara keseluruhan tidak bisa dilakukan hanya dengan satu ukuran. Titik berangkat yang lebih masuk akal adalah melihat kebutuhan nyata masing-masing kelompok masyarakat dan organisasi.

Informasi kampanye, tujuan penggunaan dana, dan daftar donatur disebut tersedia pada halaman “Patungan untuk Hutan” di Kitabisa. Ketika percakapan berlangsung, kerja sama dengan berbagai pihak masih diurus, sementara bantuan untuk tahap darurat mulai disalurkan.

Ferry menempatkan keterbukaan sebagai dasar pertanggungjawaban. Pengalamannya di bidang akuntansi ikut membentuk cara ia mengelola uang publik. Baginya, kepercayaan tidak cukup diterima begitu saja; kepercayaan harus dijaga melalui tindakan setelah dana terkumpul.

Di luar jumlah uang, gerakan ini juga memunculkan respons yang tidak ia duga.

Ferry mengingatkan bahwa perkebunan sawit di Kalimantan tidak seluruhnya dimiliki perusahaan besar. Ada kebun milik warga, ada yang dikelola dengan sistem bagi hasil, dan ada masyarakat yang memilih sawit karena pilihan penghidupan mereka terbatas.

Sebagian warga sebenarnya tidak ingin menanam sawit, tetapi komoditas lain belum dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Karena itu, menurut Ferry, persoalan tersebut perlu dipahami melalui kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Menyalahkan warga tanpa melihat keterbatasan pilihan mereka tidak menyelesaikan masalah.

Ia lalu menceritakan seorang warga yang sebelumnya enggan melepas penggunaan kebun sawitnya. Setelah melihat besarnya kepedulian masyarakat, warga tersebut menyatakan kesediaan agar lahannya dialihfungsikan menjadi koridor hutan.

Ferry menegaskan bahwa penghidupan pemilik lahan tetap harus diperhitungkan. Perubahan penggunaan lahan perlu disertai pengaturan yang layak dan melibatkan yayasan yang kredibel.

Ada pula warga lain yang memiliki sekitar tiga hektare lahan dan semula ingin menanaminya dengan sawit. Setelah melihat gerakan tersebut, ia menghubungi Ferry dan menyatakan kesediaan agar lahannya ditanami pohon.

Selain itu, Ferry menyebut adanya pasangan suami istri yang memiliki tiga izin pengelolaan dengan luas sekitar 13.000 hektare dan menyampaikan keinginan untuk ikut mendukung pelestarian.

Cerita-cerita tersebut masih perlu ditindaklanjuti melalui pertemuan dan pengaturan di lapangan. Namun, bagi Ferry, respons itu menunjukkan bahwa gerakan ini dapat membawa pengaruh melampaui nominal donasi.

Ia ingin menyampaikan pesan bahwa masyarakat peduli terhadap hutan dan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Salah satu harapannya sederhana: kelak ada papan bertuliskan bahwa hutan tersebut dijaga oleh masyarakat Indonesia.

Target Dana Harus Punya Beberapa Skenario

Ketika ditanya tentang pengalaman yang paling menyentuh hati, Ferry menjelaskan bahwa pada tahap itu ia sedang berusaha sangat fokus. Pengalaman menangani bantuan mengajarinya bahwa keputusan harus tetap logis dan rasional, sekalipun situasinya menggugah emosi.

Ia merasa perlu menjaga ketelitian dalam perencanaan, keuangan, dan pemantauan. Dana yang dikelola adalah amanah, sehingga rasa iba perlu diterjemahkan menjadi keputusan yang tepat.

Target penggalangan dana pun harus disertai beberapa skenario.

Jika dalam satu tahun terkumpul Rp10 miliar, program harus disusun agar dana itu menghasilkan manfaat sebesar mungkin. Jika terkumpul Rp20 miliar, cakupan bantuan dapat diperluas. Jika mencapai Rp50 miliar atau lebih, wilayah dan jenis intervensinya dapat bertambah.

Skenario Dana Pendekatan Program
Rp10 miliar Memaksimalkan manfaat dengan cakupan paling prioritas
Rp20 miliar Cakupan bantuan dapat diperluas
Rp50 miliar atau lebih Wilayah dan jenis intervensi dapat ditambah

Penanganan darurat menjadi salah satu prioritas utama karena biaya peralatannya besar.

Ferry menjelaskan bahwa ia membandingkan harga alat satu per satu, termasuk harga di dalam dan luar negeri, pajak, serta bea masuk. Ia mencontohkan drone termal untuk mendeteksi titik panas, yang harganya dapat mencapai lebih dari Rp100 juta. Peralatan tambahan, operator, dan pemeliharaan juga harus masuk perhitungan.

Begitu pula dengan mesin pompa. Pemadaman kebakaran membutuhkan tekanan dan debit air yang sesuai, sehingga pemilihannya tidak bisa disamakan dengan pompa untuk kebutuhan biasa.

Jika dana memungkinkan, tim dapat memilih peralatan tertentu. Jika terbatas, mereka harus mencari alternatif yang tetap mampu menjalankan fungsi yang dibutuhkan.

Latar pendidikan Ferry di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, dengan spesialisasi kebendaharaan negara, memengaruhi pendekatan tersebut. Ia percaya bahwa perencanaan, pendanaan, dan penganggaran yang baik akan menentukan hasil kegiatan serta manfaat yang diterima masyarakat.

Ia juga memperhitungkan perubahan harga di daerah bencana. Biaya dapat naik dengan cepat sehingga anggaran yang semula dianggap cukup menjadi kurang dalam satu atau dua minggu. Kecepatan penggunaan dana dan kemungkinan pembengkakan biaya harus terus dipantau.

Perencanaan tidak menjamin seluruh perkiraan tepat, tetapi dapat memperkecil kesalahan dan membantu tim menyiapkan respons.

Tanggung Jawab Negara, Kritik Publik, dan Perbedaan Cara Berpartisipasi

Besarnya perhatian publik juga membawa kritik.

Ada yang menilai Ferry sedang mencari sorotan, ingin menjadi pahlawan, atau mempersiapkan kepentingan politik. Ada pula yang mempertanyakan mengapa masyarakat harus mengumpulkan uang untuk urusan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Ferry mengakui bahwa setiap orang berhak mengkritik dan tidak menyukai seseorang. Kritik yang tepat perlu dijadikan bahan perbaikan. Namun, ia memilih untuk tidak menanggapi semua komentar dengan kadar perhatian yang sama.

Kesalahan informasi mengenai tujuan kegiatan tetap diluruskan. Sementara itu, penilaian tentang dirinya tidak selalu perlu dibalas panjang lebar.

Ia juga berusaha menjaga jarak dari pujian maupun celaan. Baginya, pujian orang lain tidak otomatis membuat dirinya sebaik yang dibayangkan, sebagaimana kritik tidak harus selalu dihadapi sebagai serangan yang perlu dibalas.

Denny kemudian mengangkat keberatan yang lebih mendasar: jika Ferry memiliki pengaruh besar, mengapa tidak menggunakannya untuk menggalang protes agar pemerintah menjalankan tanggung jawabnya?

Ferry memahami keberatan tersebut. Ia sepakat bahwa pemerintah tetap memiliki kewajiban. Namun, menurutnya, bentuk partisipasi masyarakat dalam demokrasi tidak harus seragam.

Tidak semua orang mempunyai kesempatan, tenaga, kondisi mental, atau kemampuan yang sama untuk mengikuti aksi. Ada yang menyampaikan kritik, ada yang turun menjadi relawan, dan ada yang menyumbang. Masyarakat seharusnya memiliki kebebasan memilih cara berpartisipasi sesuai kemampuannya.

Ia menegaskan bahwa bantuan warga tidak mengurangi kewajiban pemerintah.

Jika pemerintah memiliki seratus kewajiban dan masyarakat membantu satu hal, kewajiban pemerintah tidak otomatis menjadi sembilan puluh sembilan. Tanggung jawabnya tetap utuh.

Posisi Ferry: partisipasi masyarakat tidak menggantikan tanggung jawab negara. Donasi, kritik, aksi, dan kerja relawan dapat berjalan bersamaan tanpa harus saling meniadakan.

Ferry juga menyinggung pengalaman gerakan masyarakat dalam sejarah, termasuk dukungan pendanaan untuk perlawanan terhadap segregasi ras di Amerika Serikat. Ia menggunakan contoh tersebut untuk menjelaskan bahwa penggalangan dana dapat menjadi bagian dari tekanan sosial dan politik.

Menurutnya, anggapan bahwa orang akan berhenti marah setelah berdonasi juga tidak sesuai dengan kenyataan. Seseorang dapat menyumbang sekaligus tetap mengkritik kebijakan pemerintah. Bantuan langsung dan tuntutan pertanggungjawaban dapat berjalan bersamaan.

Untuk menjelaskan prioritas penanganan darurat, Ferry memakai perumpamaan rumah tetangga yang terbakar.

Jika seseorang melihat rumah tetangganya dibakar, sementara ia mempunyai selang dan mesin pompa, ia dapat membantu memadamkan api sambil menunggu petugas. Upaya mengejar pelaku dan menuntut penegakan hukum tetap penting, tetapi rumah yang sedang terbakar membutuhkan tindakan segera.

Bagi Ferry, membantu memadamkan api tidak berarti mengambil alih seluruh tugas pemadam kebakaran atau membebaskan pelaku dari tanggung jawab.

Perbedaan Pandangan dengan Greenpeace

Perbedaan pandangan juga pernah terjadi antara Ferry dan Iqbal Damanik dari Greenpeace. Menurut cerita Ferry, Iqbal mengapresiasi kepedulian tersebut, tetapi khawatir penggalangan dana akan menggeser perhatian dari tuntutan kepada pemerintah untuk menyelesaikan akar persoalan.

Ferry kemudian menanggapi secara langsung. Ia menyampaikan bahwa jika kegiatan itu dianggap tidak tepat, penggalangan dana dapat dihentikan dan dana yang sudah masuk tetap disalurkan.

Dari percakapan itu, keduanya mulai membahas kebutuhan lapangan secara lebih terperinci. Ferry menjelaskan bahwa relawan dan kelompok masyarakat memang membutuhkan bantuan serta peralatan. Ia juga menyampaikan batas kemampuannya: pada saat itu, ia belum memiliki cukup tenaga untuk menjalankan seluruh bentuk gerakan yang diharapkan, tetapi masih mampu mengerjakan penggalangan dan penyaluran bantuan.

Menurut Ferry, diskusi tersebut akhirnya membuka ruang pembagian peran. Unggahan kritik diturunkan, dan pembicaraan mereka berlanjut menjadi masukan mengenai langkah-langkah penanganan.

Baginya, pengalaman itu menunjukkan bahwa perbedaan perspektif dapat diselesaikan melalui komunikasi langsung. Gerakan sebesar ini memang wajar menimbulkan pertanyaan, perdebatan, dan pro-kontra.

Namun, tidak semua kritik memiliki arah yang konsisten.

Ferry menceritakan bahwa ketika mulai dikenal melalui konten, ia pernah diminta berhenti sekadar berbicara di media sosial dan turun langsung menyuarakan aspirasi masyarakat. Setelah turun, ia justru dikritik karena dianggap mengambil sorotan dan membangun penokohan.

Ketika kemudian mengurangi keterlibatan semacam itu dan menjalankan penggalangan dana, muncul kembali tuntutan agar pengaruhnya digunakan untuk menggalang aksi.

Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa ia tidak mungkin memenuhi seluruh harapan orang.

Ia mengingatkan bahwa dirinya adalah warga sipil biasa yang tidak memegang jabatan publik. Ia memiliki kehidupan, keterbatasan, dan beberapa tanggung jawab yang sedang dijalankan sekaligus: distribusi bantuan di Flores, kegiatan di Aceh dan Kalimantan, serta pengembangan pendidikan melalui Malaka dan rencana kampus.

Karena itu, menjaga energi menjadi bagian penting dari pekerjaannya.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan terburuk, Ferry menjawab bahwa salah satu hal yang paling ia khawatirkan adalah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Ia takut bertindak impulsif, menghabiskan energi untuk bertengkar, atau mengucapkan sesuatu tanpa mempertimbangkan akibatnya bagi orang lain. Kegiatan tersebut melibatkan donatur, relawan, tim penyalur, masyarakat, serta lembaga yang membantu perizinan dan logistik.

Jika konflik pribadi mengganggu hubungan dengan institusi yang dibutuhkan, pihak yang dirugikan bisa jadi justru warga dan relawan di lapangan.

Ferry menyadari bahwa dana masyarakat, sebesar apa pun, tetap tidak dapat menutup seluruh tugas negara. Kegiatan bantuan membutuhkan kerja sama dengan banyak pihak. Karena itu, risiko komunikasi juga harus dipikirkan.

Ia mengakui bahwa dirinya tidak selalu tenang. Ketika lelah, ia kadang menanggapi akun anonim yang menyebarkan hinaan dengan sarkasme. Ia mengaitkan kebiasaan berbalas komentar tersebut dengan pengalamannya bermain gim.

Namun, pengakuan itu juga menunjukkan bahwa ia masih memiliki kekurangan dalam mengelola respons. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai orang yang selalu mampu bersikap ideal.

Denny melihat kelelahan tersebut dan menyampaikan bahwa ia ingin ikut membantu, termasuk melalui publikasi penggalangan dana. Ia juga menceritakan banyaknya pesan dari warga Pontianak, Ketapang, dan daerah lain yang meminta kondisi mereka diangkat melalui media sosial.

Bagi keduanya, perhatian publik dapat membantu menjangkau situasi yang selama ini terasa jauh dari percakapan sehari-hari.

Amanah Donasi, Dana Pribadi, Politik, dan Alasan Personal di Balik Gerakan

Denny kemudian mengingat kembali awal keterlibatan Ferry dalam bantuan di Aceh. Menurutnya, turun langsung merupakan bagian penting dari menjaga harapan orang-orang yang telah menitipkan bantuan.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Andovi dan para relawan lain. Percakapan tersebut turut menyebut tiga relawan yang gugur, sebagai pengingat bahwa pekerjaan kemanusiaan membawa risiko nyata.

Mengenai tuduhan bahwa penggalangan dana dilakukan untuk mencari keuntungan, Ferry memberikan pernyataan tegas. Ia mengatakan tidak mengambil keuntungan pribadi dari donasi yang diinisiasinya.

Sebaliknya, ia menyebut telah mengeluarkan sekitar Rp2,7 miliar dari dana pribadi untuk berbagai kegiatan.

Rp2,7 M Dana pribadi yang disebut telah dikeluarkan Ferry
Rp10,3 M Penghimpunan dana yang disebut untuk Aceh
Rp8–9 M Penghimpunan dana yang disebut untuk NTT

Ia mencontohkan penyewaan pesawat untuk kegiatan di Aceh, pembelian kendaraan berpenggerak empat roda dengan kabin ganda setelah melihat kebutuhan relawan di NTT, serta pembangunan Sekolah Malaka di Aceh. Menurutnya, pengeluaran dan pengelolaan kegiatan tersebut juga disampaikan secara terbuka.

Tuduhan lain bahkan berkembang menjadi teori konspirasi.

Ferry menceritakan adanya dugaan bahwa kebakaran sengaja dibuat agar dirinya muncul sebagai pahlawan dan memperoleh keuntungan politik. Ada pula yang meragukan bahwa puluhan ribu orang bersedia menyumbang secara organik dan menuduh adanya pihak besar di belakang penggalangan dana.

Ia menanggapinya sebagai tuduhan yang terlalu jauh untuk diperdebatkan secara serius. Mengenai donatur, ia kembali menunjuk daftar yang dapat dilihat melalui halaman kampanye. Menurutnya, orang dapat memeriksa data yang tersedia sebelum menarik kesimpulan.

Percakapan tersebut juga menyinggung pentingnya membatasi waktu di media sosial agar orang tetap mampu membedakan spekulasi dengan keadaan nyata.

Ketika pembicaraan beralih ke politik, Ferry mengaku heran namanya muncul dalam sejumlah pembicaraan dan survei meskipun ia bukan politisi, pejabat, atau anggota partai.

Perhatian itu, menurutnya, membawa tekanan tersendiri. Ada yang berharap terlalu besar, ada yang merasa terancam, dan ada yang menganggap setiap tindakannya pasti berkaitan dengan ambisi kekuasaan.

Ia tidak ingin memberi janji mutlak mengenai masa depan yang belum diketahui. Namun, ia meminta agar pekerjaan yang sedang berlangsung juga dilihat berdasarkan kebutuhan hari ini.

Untuk rencana jangka panjang, ia menyebut pendidikan sebagai salah satu hal yang ingin terus dikerjakan. Membantu lebih banyak orang bersekolah dan berkontribusi melalui kampus sudah merupakan tujuan yang berarti baginya.

Menjelang akhir percakapan, Ferry berterima kasih kepada orang-orang yang telah mendukung. Ia juga meminta maaf atas kekurangan pribadi, sikap, dan responsnya.

Ia menyadari bahwa tidak mungkin menyenangkan semua orang. Pada saat yang sama, ketidaksetujuan orang lain tidak otomatis berarti dirinya benar. Ia tetap mungkin salah dan perlu memperbaiki diri.

Pesan yang ingin ia sampaikan adalah agar setiap orang melakukan hal yang masih sanggup dilakukan. Orang tidak perlu terlalu keras kepada dirinya sendiri, dan setiap individu memiliki hak menentukan bentuk keterlibatannya.

Namun, ia berharap kekecewaan terhadap hidup, pekerjaan, atau keadaan tidak membuat seseorang menjadi jahat kepada orang lain. Menghindari konflik yang tidak perlu juga merupakan cara menjaga diri.

Ferry turut menjelaskan bahwa barang mewah bukan prioritas utama dalam hidupnya. Ia merasa tidak memiliki dorongan besar untuk mengejar simbol-simbol kemewahan. Dalam percakapan yang diselingi humor itu, ia menggambarkan kenyamanan menjalani hidup secara sederhana.

Kontribusi untuk Anak-Anaknya

Denny lalu menanyakan alasan paling pribadi di balik seluruh pekerjaan tersebut: kepada siapa Ferry ingin mempersembahkan kontribusinya?

Ferry menjawab bahwa ia memiliki dua anak. Ia tidak tahu berapa panjang usianya atau bagaimana keadaannya ketika anak-anaknya dewasa.

Ia membayangkan suatu hari mereka mengenal internet dan mencari nama ayahnya. Harapannya sederhana: mereka menemukan sesuatu yang membuat mereka bangga.

Ia merasa telah mengalami berbagai bentuk pencapaian, mulai dari penghasilan, popularitas, hingga jumlah pengikut. Pada tahap hidupnya sekarang, meninggalkan jejak yang dapat dihargai anak-anaknya memiliki arti yang besar.

Denny merespons dengan dukungan sekaligus penegasan tentang pertanggungjawaban. Ia akan mendukung Ferry selama amanah itu dijaga, dan akan bersikap tegas jika kepercayaan tersebut disalahgunakan.

Percakapan Beralih ke Film Denny Sumargo

Percakapan kemudian beralih ke film yang sedang dipromosikan Denny. Ia sempat menceritakan kendala perjalanan yang membuat jadwal pertemuan mereka tertunda.

Ferry menyampaikan bahwa film tersebut terasa dekat dengan dirinya sebagai orang berusia 35 tahun yang telah berkeluarga. Dalam penilaiannya, film itu layak diapresiasi dan memiliki pengalaman emosional yang bisa dirasakan penonton tertentu.

Denny menjelaskan bahwa film tersebut dibuat dengan dorongan dari istrinya, Olivia. Bertahun-tahun sebelumnya, sang istri pernah menyampaikan keyakinan bahwa ia dapat membuat film yang bermanfaat bagi orang lain.

Ia mengaku tidak dapat menjamin akan menghasilkan film yang sempurna, tetapi ingin mengerjakannya dengan sepenuh hati.

Hal yang paling berkesan baginya adalah pesan penonton. Sebagian tidak sekadar memuji cerita atau akting, melainkan berterima kasih karena merasa lebih kuat menghadapi kehidupan.

Ia menceritakan pesan dari pasangan yang telah lama berjuang memiliki anak dan kembali menemukan semangat setelah menonton. Ada pula penonton yang membawa ibunya yang mengidap kanker dan merasa film tersebut memberi dorongan untuk terus menjalani hidup.

Bagi Denny, tanggapan semacam itu merupakan bagian dari tujuan filmnya. Keuntungan finansial menjadi pertimbangan berikutnya; jika ada keuntungan, ia berharap sebagian dapat digunakan untuk membantu orang lain.

Garis bawah: “Patungan untuk Hutan” dalam penjelasan Ferry Irwandi bukan proyek membeli hutan, melainkan upaya masyarakat membantu kebutuhan nyata di lapangan—mulai dari pemadaman kebakaran, penyediaan peralatan, konservasi, perlindungan masyarakat, hingga penyelamatan satwa. Pada saat yang sama, gerakan ini membuka pertanyaan yang lebih luas: bagaimana donasi publik dikelola, bagaimana tanggung jawab negara tetap ditagih, dan bagaimana kepedulian masyarakat dapat diterjemahkan menjadi kerja yang terukur serta dapat dipertanggungjawabkan.

FAQ Patungan untuk Hutan

Apakah Patungan untuk Hutan digunakan untuk membeli hutan?
Tidak. Ferry Irwandi menegaskan bahwa gerakan tersebut bukan penggalangan dana untuk membeli hutan. Dana dihimpun untuk mendukung perlindungan dan penanganan hutan, masyarakat, serta satwa yang terdampak.
Berapa dana yang sudah terkumpul?
Saat percakapan berlangsung, Ferry menyebut sekitar Rp6,3 miliar telah terkumpul dalam empat hari dengan kurang lebih 73.000 orang berpartisipasi.
Untuk apa dana Patungan untuk Hutan digunakan?
Kebutuhan yang disebut antara lain penanganan kebakaran, mesin pompa, selang, nosel, penampungan air, pembangunan sumur bor, konservasi, perlindungan masyarakat adat, penyelamatan satwa, drone termal, serta program mitigasi dan pemulihan.
Berapa kebutuhan dana yang diperkirakan?
Ferry menyebut rentang kebutuhan sekitar Rp50–100 miliar, tetapi program tetap akan disusun berdasarkan berapa pun dana yang berhasil dihimpun.
Apakah donasi masyarakat menggantikan tanggung jawab pemerintah?
Menurut Ferry, tidak. Ia menegaskan bahwa bantuan masyarakat tidak mengurangi kewajiban pemerintah. Donasi, kritik, aksi, dan kerja relawan dapat berjalan bersamaan.
Bagaimana transparansi dana dijaga?
Ferry menyebut informasi kampanye, tujuan penggunaan dana, dan daftar donatur tersedia melalui halaman Patungan untuk Hutan di Kitabisa. Ia juga menempatkan keterbukaan sebagai dasar pertanggungjawaban pengelolaan dana publik.
Sumber: Percakapan Ferry Irwandi bersama Denny Sumargo mengenai gerakan “Patungan untuk Hutan”, pengelolaan donasi, kebutuhan lapangan, kritik publik, tanggung jawab pemerintah, dan kegiatan sosial sebagaimana terdapat dalam bahan yang diterima Receh.in.

Catatan: Seluruh angka, cerita lapangan, pandangan, dan penjelasan mengenai gerakan “Patungan untuk Hutan” dalam artikel ini mengikuti keterangan yang disampaikan dalam percakapan tersebut. Sejumlah cerita mengenai rencana penggunaan lahan dan dukungan pemilik izin masih disebut perlu ditindaklanjuti melalui pertemuan serta pengaturan di lapangan.

Disclaimer: Artikel ini merupakan penyajian kembali isi percakapan dalam format jurnalistik dan tidak dimaksudkan sebagai audit atas penggalangan dana, verifikasi status lahan, maupun penilaian hukum atas pihak-pihak yang disebut.