Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan minyak dari luar negeri semakin besar. Pada 2025, konsumsi minyak mencapai 1,699 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya 581.000 barel per hari. Kesenjangannya melebar menjadi sekitar 1,118 juta barel per hari.

Pelebaran gap tersebut berjalan beriringan dengan kenaikan volume impor migas. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan volume impor migas mencapai 55,33 juta ton pada 2025, tertinggi dalam satu dekade terakhir dan naik 2,94% dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun nilai impornya justru turun 9,67% menjadi US$32,77 miliar. Ini menunjukkan tekanan ketahanan energi tidak selalu terlihat dari nilai dolar impor semata. Ketika harga energi turun, tagihan dapat mengecil meski ketergantungan fisik terhadap pasokan luar negeri justru bertambah.

Ringkasan
  • Konsumsi minyak Indonesia mencapai 1,699 juta barel per hari pada 2025, sedangkan produksi hanya 581.000 barel per hari sehingga gap mencapai 1,118 juta barel per hari.
  • Volume impor migas naik ke rekor satu dekade sebesar 55,33 juta ton, tetapi nilainya turun menjadi US$32,77 miliar seiring perubahan harga dan komposisi impor.
  • Biodiesel membantu menekan kebutuhan solar impor, dengan penghematan devisa Rp132,81 triliun dan pengurangan impor solar sekitar 3,3 juta kiloliter pada 2025.

Volume Impor Migas Rekor, Nilainya Justru Turun

Volume impor migas Indonesia mencapai 55,33 juta ton pada 2025, naik 2,94% dibandingkan 2024 dan menjadi yang tertinggi dalam periode satu dekade yang dibahas dalam bahan.

Namun nilai impornya bergerak ke arah sebaliknya. Nilai impor migas turun 9,67% menjadi US$32,77 miliar.

55,33 Juta Ton Volume impor migas 2025
+2,94% Pertumbuhan volume
-9,67% Perubahan nilai impor
US$32,77 M Nilai impor migas

Jika ditarik ke 2016, volume impor migas telah meningkat 14,49%, sementara nilainya melonjak 74,87%. Nilai impor tertinggi terjadi pada 2022 sebesar US$40,42 miliar ketika harga energi global melonjak.

Sementara itu, titik terendah volume dan nilai impor terjadi pada 2020 ketika mobilitas dan aktivitas ekonomi terganggu pandemi. Volume saat itu 37,65 juta ton dengan nilai US$14,26 miliar.

Perbedaan arah antara volume dan nilai pada 2025 juga memberi petunjuk mengenai perubahan biaya rata-rata impor.

Indikator 2024 2025 Perubahan
Volume impor migas ~53,75 juta ton 55,33 juta ton +2,94%
Nilai impor migas ~US$36,28 miliar US$32,77 miliar -9,67%
Nilai rata-rata per ton ~US$675 ~US$592 ~ -12,3%

Perhitungan sederhana tersebut menunjukkan nilai rata-rata impor per ton turun sekitar 12,3%. Ini bukan harga minyak mentah resmi, karena impor migas Indonesia terdiri atas berbagai jenis minyak mentah dan produk hasil minyak dengan harga berbeda.

Dari sisi negara asal, Singapura menjadi pemasok terbesar dengan nilai US$9,72 miliar. Setelah itu terdapat kelompok negara Afrika US$5,70 miliar, Malaysia US$5,31 miliar, dan Amerika Serikat US$3,01 miliar.

Poin penting: nilai impor yang turun tidak berarti ketergantungan energi ikut berkurang. Pada 2025, Indonesia justru mengimpor migas dalam volume tertinggi selama satu dekade dalam data yang dibahas.

Gap Minyak Indonesia Membesar Jadi 1,118 Juta Barel per Hari

Akar persoalan berada pada kesenjangan antara kebutuhan minyak dengan kemampuan produksi domestik.

Menurut Statistical Review of World Energy 2026 dari Energy Institute, konsumsi minyak Indonesia naik 4,4% menjadi 1,699 juta barel per hari pada 2025.

Produksi minyak hanya meningkat tipis dari 580.000 menjadi 581.000 barel per hari.

Indikator Minyak 2024 2025 Perubahan
Konsumsi 1,627 juta bph 1,699 juta bph +4,4%
Produksi 580.000 bph 581.000 bph Hampir stagnan
Gap konsumsi-produksi 1,047 juta bph 1,118 juta bph +71.000 bph

Secara sederhana, produksi domestik hanya setara sekitar 34,2% dari konsumsi minyak 2025. Sebaliknya, gap konsumsi-produksi setara sekitar 65,8% konsumsi.

Rasio tersebut tidak boleh disamakan langsung dengan persentase impor karena sistem pasokan minyak juga dipengaruhi perdagangan produk, ekspor, perubahan stok, karakter minyak mentah, dan aktivitas kilang. Namun angka tersebut menggambarkan besarnya jarak antara konsumsi dan produksi domestik.

Jika gap 1,118 juta barel per hari dipertahankan selama setahun, secara ilustratif volumenya setara sekitar 408 juta barel. Sekali lagi, angka ini bukan volume impor aktual, melainkan konversi tahunan dari selisih konsumsi dan produksi.

Tekanan jangka panjang bahkan lebih terlihat. Dibandingkan 2015, konsumsi minyak telah naik 12,52%, sedangkan produksi domestik turun 26,08%. Akibatnya, gap konsumsi-produksi melebar 54,42%, dari 724.000 menjadi 1,118 juta barel per hari.

Tren serupa terlihat pada lifting minyak. Realisasi lifting 2025 memang naik menjadi 605.300 barel per hari dan sedikit melampaui target APBN 605.000 barel per hari.

Namun target tersebut sudah jauh lebih rendah daripada satu dekade sebelumnya.

Lifting Minyak 2015 2025 Perubahan
Target APBN 826.000 bph 605.000 bph -26,76%
Realisasi 786.000 bph 605.300 bph -22,99%

Artinya, pencapaian 100,05% terhadap target APBN pada 2025 merupakan sinyal positif dari sisi eksekusi, tetapi belum menunjukkan bahwa kapasitas produksi minyak nasional telah kembali ke level satu dekade lalu.

Impor Migas Menekan Neraca Perdagangan

Kesenjangan energi tersebut ikut terlihat dalam neraca perdagangan.

Pada Mei 2026, Indonesia mencatat defisit perdagangan total sebesar US$1,61 miliar. Kondisi itu menjadi defisit bulanan pertama sejak Mei 2020 setelah rangkaian surplus selama enam tahun.

BPS menyebut penyebab utamanya berasal dari migas yang mencatat defisit sekitar US$3,76 miliar, terutama dari hasil minyak dan minyak mentah.

US$3,76 M Defisit migas Mei 2026
+145,1% Kenaikan YoY defisit Mei
US$12,28 M Defisit Jan–Mei 2026
+59% Kenaikan kumulatif YoY

Defisit migas Mei 2026 menjadi yang terdalam sejak Januari 2022 dalam bahan. Secara tahunan, nilainya melonjak 145,10% dan secara bulanan bertambah 9,10%.

Sepanjang Januari–Mei 2026, defisit migas mencapai US$12,28 miliar, naik sekitar 59% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Besarnya defisit menggambarkan hubungan langsung antara ketahanan energi dengan neraca eksternal. Ketika kebutuhan minyak domestik meningkat tetapi produksi tidak mampu mengikutinya, Indonesia membutuhkan lebih banyak pasokan dari luar negeri.

Implikasinya: ketergantungan migas bukan hanya persoalan energi. Ia juga memengaruhi kebutuhan devisa, neraca perdagangan, sensitivitas terhadap harga minyak global, dan pada kondisi tertentu dapat menambah tekanan terhadap rupiah.

Biodiesel Membantu, tetapi Bukan Solusi Tunggal

Salah satu strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan solar impor adalah meningkatkan penggunaan biodiesel melalui mandatori yang berkembang dari B35, B40, hingga rencana B50.

Produksi biodiesel mencapai 15,65 juta kiloliter pada 2025, naik 19,01% dibandingkan 13,15 juta kiloliter pada 2024 dan menjadi yang tertinggi dalam 12 tahun terakhir.

Dibandingkan 2014 yang baru 3,96 juta kiloliter, produksinya telah meningkat hampir empat kali lipat.

Indikator Biodiesel 2025 Capaian
Produksi biodiesel 15,65 juta kl
Pertumbuhan produksi +19,01%
Konsumsi biodiesel 12,70 juta ton
Penghematan devisa Rp132,81 triliun
Nilai tambah industri sawit Rp20,84 triliun
Tenaga kerja 1,87 juta
Penurunan emisi 39,66 juta ton CO2
Pengurangan impor solar ~3,3 juta kl

Kementerian ESDM mencatat pemanfaatan biodiesel mampu mengurangi impor solar sekitar 3,3 juta kiloliter pada 2025.

Secara sederhana, volume pengurangan impor tersebut setara sekitar 21,1% dari produksi biodiesel 2025. Namun angka ini hanya perbandingan skala dan tidak berarti setiap liter biodiesel menggantikan impor solar dalam proporsi yang sama.

Kebijakan tersebut memberi manfaat nyata karena menekan penggunaan solar fosil sekaligus menciptakan permintaan bagi industri sawit domestik.

Namun biodiesel tidak menyelesaikan seluruh persoalan migas. Indonesia masih membutuhkan minyak mentah dan berbagai produk hasil minyak lainnya, sementara permintaan energi terus meningkat.

Karena itu, ketahanan energi memerlukan beberapa strategi secara bersamaan: meningkatkan investasi hulu, menekan natural decline, mempercepat penemuan dan pengembangan cadangan baru, memperbesar kapasitas dan efisiensi kilang, serta mempercepat diversifikasi energi.

Intinya: masalah utama migas Indonesia bukan sekadar tingginya nilai impor, melainkan kesenjangan struktural antara konsumsi dan produksi. Pada 2025, produksi minyak hanya sekitar sepertiga dari konsumsi domestik secara sederhana, sementara volume impor migas mencetak rekor satu dekade. Biodiesel telah membantu mengurangi impor solar dan menghemat devisa, tetapi penguatan ketahanan energi tetap membutuhkan pemulihan produksi domestik, pengembangan kilang, dan diversifikasi energi secara bersamaan.

FAQ Impor Migas dan Ketahanan Energi Indonesia

Berapa volume impor migas Indonesia pada 2025?
Volume impor migas mencapai 55,33 juta ton pada 2025, naik 2,94% dibandingkan 2024 dan menjadi yang tertinggi dalam periode 10 tahun yang dibahas dalam bahan.
Berapa nilai impor migas Indonesia pada 2025?
Nilai impor migas mencapai US$32,77 miliar, turun 9,67% dibandingkan 2024 meskipun volume impornya meningkat.
Berapa konsumsi dan produksi minyak Indonesia?
Pada 2025, konsumsi minyak mencapai 1,699 juta barel per hari sedangkan produksi domestik sekitar 581.000 barel per hari.
Berapa kesenjangan konsumsi dan produksi minyak Indonesia?
Selisih konsumsi dan produksi mencapai sekitar 1,118 juta barel per hari pada 2025, naik dari 1,047 juta barel per hari pada 2024.
Negara mana yang menjadi pemasok migas terbesar Indonesia?
Dalam data 2025 pada bahan, Singapura menjadi pemasok terbesar dengan nilai impor sekitar US$9,72 miliar.
Berapa defisit perdagangan migas Indonesia pada Mei 2026?
Defisit perdagangan migas mencapai sekitar US$3,76 miliar pada Mei 2026. Secara kumulatif Januari–Mei 2026, defisitnya mencapai US$12,28 miliar.
Seberapa besar biodiesel mengurangi impor solar?
Kementerian ESDM mencatat pemanfaatan biodiesel mengurangi impor solar sekitar 3,3 juta kiloliter pada 2025 dan menghasilkan penghematan devisa sekitar Rp132,81 triliun.
Apakah biodiesel bisa menghilangkan ketergantungan impor migas?
Belum. Biodiesel membantu menggantikan sebagian konsumsi solar berbasis fosil, tetapi Indonesia masih memiliki kebutuhan minyak mentah dan produk migas lain yang jauh lebih luas. Penguatan produksi domestik, kilang, dan diversifikasi energi tetap diperlukan.
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Statistical Review of World Energy 2026 dari Energy Institute, serta pernyataan Aspermigas dan pejabat pemerintah sebagaimana terdapat dalam bahan yang diterima Receh.in.

Perhitungan Receh.in: Produksi minyak 581.000 barel per hari setara sekitar 34,2% dari konsumsi 1,699 juta barel per hari, sedangkan gap konsumsi-produksi sekitar 65,8%. Gap 1,118 juta barel per hari secara ilustratif setara sekitar 408 juta barel dalam setahun. Berdasarkan pertumbuhan yang disebut dalam bahan, volume impor 2024 diperkirakan sekitar 53,75 juta ton dan nilai impor sekitar US$36,28 miliar, sehingga nilai rata-rata impor turun dari sekitar US$675 menjadi US$592 per ton atau sekitar 12,3%. Pengurangan impor solar 3,3 juta kiloliter setara sekitar 21,1% dari produksi biodiesel 15,65 juta kiloliter sebagai perbandingan skala.

Catatan: Gap konsumsi-produksi tidak identik dengan volume impor aktual karena terdapat faktor ekspor, perubahan stok, aktivitas kilang, perbedaan jenis minyak mentah, dan perdagangan produk hasil minyak. Perhitungan nilai rata-rata per ton juga bukan harga minyak mentah resmi karena komposisi impor migas beragam.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis ekonomi energi. Data historis, target lifting, harga komoditas, kebijakan biodiesel, maupun volume perdagangan dapat berubah mengikuti kondisi pasar dan kebijakan pemerintah.