Receh.in — Inflasi Indonesia kembali menguat pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan sebesar 3,19%, naik dari 2,88% pada Juli 2026 dan lebih tinggi dibandingkan 2,31% pada Agustus tahun lalu.
Tekanan harga datang dari beberapa arah sekaligus. Secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi terbesar, disusul perawatan pribadi yang terutama terdorong lonjakan emas perhiasan, serta transportasi. Tiga kelompok tersebut secara bersama-sama menyumbang sekitar 2,34 poin persentase atau 73% dari inflasi nasional.
Namun ada satu detail penting. Secara bulanan, inflasi Agustus hanya 0,21% dan tekanan utamanya justru terkonsentrasi pada pangan serta emas. Transportasi malah mengalami deflasi 0,50% secara bulanan setelah harga sejumlah BBM nonsubsidi dan tarif angkutan udara menurun. Artinya, inflasi tahunan 3,19% tidak sepenuhnya menggambarkan tekanan harga terbaru pada Agustus.
- Inflasi Indonesia Agustus 2026 mencapai 3,19% YoY, naik dari 2,88% pada Juli. Secara bulanan, terjadi inflasi 0,21% dan secara tahun kalender 1,86%.
- Makanan-minuman-tembakau menyumbang 1,13 poin inflasi tahunan, perawatan pribadi 0,63 poin, dan transportasi 0,58 poin.
- Tekanan terbaru Agustus terutama berasal dari daging ayam, cabai rawit, beras dan emas perhiasan, sementara bensin dan tiket pesawat justru membantu menahan inflasi secara bulanan.
Inflasi Agustus 2026 Naik dari 2,88% Menjadi 3,19%
BPS mencatat Indeks Harga Konsumen pada Agustus 2026 mencapai 111,97 dibandingkan 108,51 pada Agustus 2025. Perubahan tersebut menghasilkan inflasi tahunan 3,19%.
Laju inflasi ini meningkat 0,31 poin persentase dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 2,88%. Jika dibandingkan Agustus 2025 yang mencatat inflasi 2,31%, terdapat kenaikan sebesar 0,88 poin persentase.
Pergerakan sepanjang 2026 sendiri cukup dinamis. Inflasi tahunan sempat mencapai 4,76% pada Februari, kemudian turun hingga 2,42% pada April. Setelah itu inflasi kembali bergerak naik menjadi 3,08% pada Mei dan 3,34% pada Juni, turun ke 2,88% pada Juli, sebelum kembali naik menjadi 3,19% pada Agustus.
| Bulan 2026 | Inflasi YoY |
|---|---|
| Januari | 3,55% |
| Februari | 4,76% |
| Maret | 3,48% |
| April | 2,42% |
| Mei | 3,08% |
| Juni | 3,34% |
| Juli | 2,88% |
| Agustus | 3,19% |
Meski inflasi tahunan naik, gambaran bulanannya jauh lebih moderat. Setelah mengalami deflasi 0,14% pada Juli, Indonesia mencatat inflasi 0,21% pada Agustus.
Artinya, kenaikan angka YoY tidak dapat semata-mata dibaca sebagai lonjakan harga yang sangat kuat dalam satu bulan. Sebagian merupakan hasil perbandingan dengan level harga tahun sebelumnya.
Ayam, Beras dan Emas Jadi Mesin Inflasi
Secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar. Kelompok ini mengalami inflasi 3,86% dan memberikan andil 1,13 poin persentase.
Komoditas yang dominan antara lain daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, beras, cabai rawit, daging sapi, dan cabai merah. Produk tembakau juga memberikan tekanan melalui sigaret kretek mesin, sigaret kretek tangan, dan sigaret putih mesin.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan harga paling tinggi, yakni 9,25% YoY, dengan kontribusi 0,63 poin terhadap inflasi nasional. Faktor utamanya adalah emas perhiasan.
Transportasi menjadi penyumbang terbesar ketiga dengan inflasi tahunan 4,79% dan andil 0,58 poin. Bensin, tarif angkutan udara, pelumas mesin, mobil, dan sepeda motor menjadi beberapa komoditas yang disebut BPS sebagai pendorongnya.
| Kelompok Pengeluaran | Inflasi YoY | Andil Inflasi |
|---|---|---|
| Makanan, Minuman & Tembakau | 3,86% | 1,13 pp |
| Perawatan Pribadi & Jasa Lainnya | 9,25% | 0,63 pp |
| Transportasi | 4,79% | 0,58 pp |
| Restoran | 2,67% | 0,27 pp |
| Perumahan, Air, Listrik & BBRT | 1,01% | 0,16 pp |
| Perlengkapan Rumah Tangga | 2,00% | 0,10 pp |
| Informasi, Komunikasi & Jasa Keuangan | 1,72% | 0,10 pp |
Perhitungan Receh.in menunjukkan makanan-minuman-tembakau sendiri menjelaskan sekitar 35,4% dari inflasi nasional. Perawatan pribadi sekitar 19,7% dan transportasi sekitar 18,2%.
Jika ketiganya digabungkan, kontribusinya mencapai 2,34 poin dari inflasi 3,19%, atau sekitar 73,4%. Dengan kata lain, tekanan inflasi tahunan Agustus cukup terkonsentrasi pada tiga kelompok utama.
MBG Ikut Angkat Permintaan Ayam, Transportasi Justru Deflasi Bulanan
Jika melihat perubahan harga hanya dari Juli ke Agustus, ceritanya sedikit berbeda.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,57% secara bulanan dan memberikan andil 0,17 poin. Daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, dan beras menjadi pendorong penting.
BPS mencatat adanya peningkatan permintaan daging ayam ras pada Agustus. Salah satu faktor yang disebut adalah kembali aktifnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah libur sekolah. Permintaan juga meningkat seiring aktivitas peringatan HUT RI dan Maulid Nabi.
Dari sisi pasokan, produksi cabai rawit disebut menurun di beberapa daerah sentra seperti Sampang, Lamongan, dan Temanggung. Kondisi tersebut membantu menjelaskan mengapa komoditas pangan bergejolak kembali memberikan tekanan harga.
Beras juga masih meningkat. Data BPS menunjukkan harga beras pada Agustus naik di seluruh rantai perdagangan: 1,32% di tingkat penggilingan, 0,80% di grosir, dan 0,42% di eceran dibandingkan Juli.
| Komponen Bulanan Agustus | Perubahan MtM | Andil | Pendorong Utama |
|---|---|---|---|
| Inti | +0,21% | +0,13 pp | Emas perhiasan, oli, ponsel, biaya kuliah |
| Harga bergejolak | +0,88% | +0,15 pp | Ayam ras, cabai rawit, beras |
| Harga diatur pemerintah | -0,33% | -0,07 pp | Tiket pesawat dan bensin |
Yang menarik, tekanan transportasi secara tahunan belum hilang, tetapi secara bulanan arahnya sudah berbalik.
Kelompok transportasi mengalami deflasi 0,50% pada Agustus dan memberikan andil deflasi 0,06 poin. Komponen harga diatur pemerintah secara keseluruhan juga mengalami deflasi 0,33%.
BPS mencatat tarif angkutan udara dan bensin sebagai dua komoditas yang dominan menahan harga. Pemerintah menurunkan batas maksimal fuel surcharge penerbangan domestik menjadi 30% dari tarif batas atas seiring penurunan harga avtur.
Pertamina juga melakukan penyesuaian turun harga BBM nonsubsidi pada Agustus. Dalam catatan BPS, Pertamax di banyak wilayah turun sekitar Rp350 atau sekitar 2%, sedangkan Pertamax Turbo turun sekitar Rp1.050 atau sekitar 5% dibandingkan awal Juli.
Inflasi Inti 2,92%, Emas Perhiasan Makin Berpengaruh
Dari sisi komponen, inflasi inti tercatat 2,92% secara tahunan dan memberikan kontribusi paling besar sebesar 1,87 poin persentase.
Komoditas yang memberikan andil antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, pelumas atau oli mesin, serta laptop/notebook.
Komponen harga bergejolak atau volatile food mencatat inflasi lebih tinggi sebesar 4,06%, dengan andil 0,67 poin. Sementara itu, harga diatur pemerintah atau administered prices naik 3,32% dengan andil 0,65 poin.
Jika diukur terhadap inflasi umum 3,19%, komponen inti menyumbang sekitar 58,6%, harga bergejolak sekitar 21%, dan harga diatur pemerintah sekitar 20,4%.
Besarnya andil inflasi inti perlu dibaca hati-hati. Inflasi inti sering digunakan untuk melihat tekanan harga yang lebih persisten, tetapi pada Agustus salah satu pendorong pentingnya adalah emas perhiasan. Harga emas banyak dipengaruhi perkembangan harga emas internasional dan nilai tukar, bukan hanya kekuatan permintaan domestik.
Karena itu, angka inflasi inti 2,92% belum tentu menggambarkan tekanan permintaan domestik secara murni.
Di sisi pangan, risiko tetap perlu dipantau memasuki bulan-bulan berikutnya. Selain tekanan ayam dan cabai, BPS mencatat harga beras naik di tingkat penggilingan, grosir, hingga konsumen. Potensi produksi beras Agustus–Oktober 2026 juga diperkirakan sekitar 9,33 juta ton, sedikit lebih rendah 0,90% dibandingkan periode yang sama 2025.
Tekanan iklim juga berpotensi menjadi variabel tambahan setelah BMKG memprediksi fenomena El Nino 2026 dapat bertahan hingga awal 2027.
Dari sisi wilayah, tekanan harga juga meluas. Seluruh 38 provinsi mengalami inflasi secara tahunan. Maluku Utara menjadi salah satu yang tertinggi sebesar 5,28%, sedangkan Kalimantan Utara mencatat yang terendah sebesar 2,17%.
Namun secara bulanan kondisinya lebih beragam: 27 provinsi mengalami inflasi dan 11 provinsi mengalami deflasi.
FAQ Inflasi Indonesia Agustus 2026
Berapa inflasi Indonesia Agustus 2026?
Apa penyebab utama inflasi Agustus 2026?
Makanan apa yang mendorong inflasi Agustus 2026?
Apakah program Makan Bergizi Gratis memengaruhi inflasi ayam?
Berapa inflasi inti Agustus 2026?
Kenapa emas perhiasan mendorong inflasi?
Apakah transportasi naik atau turun pada Agustus 2026?
Perhitungan Receh.in: Inflasi Agustus 3,19% naik 0,31 poin persentase dari Juli 2,88% dan 0,88 poin dibandingkan Agustus 2025 sebesar 2,31%. Andil makanan 1,13 poin setara sekitar 35,4% inflasi umum; perawatan pribadi 19,7%; dan transportasi 18,2%. Ketiganya menyumbang sekitar 73,4%. Inflasi inti menyumbang sekitar 58,6% dari inflasi umum berdasarkan perbandingan andil 1,87 poin terhadap 3,19%.
Catatan: Andil inflasi menunjukkan kontribusi kelompok atau komponen terhadap perubahan IHK dan tidak sama dengan tingkat kenaikan harga kelompok tersebut. Perbandingan persentase kontribusi yang dihitung Receh.in merupakan rasio sederhana terhadap inflasi umum.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi investasi. Inflasi merupakan salah satu indikator yang dapat memengaruhi kebijakan suku bunga, rupiah, obligasi dan pasar saham, tetapi keputusan investasi perlu mempertimbangkan faktor ekonomi dan risiko lainnya.



0 Komentar