Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Investor kawakan Lo Kheng Hong mengungkap salah satu saham properti yang masuk portofolionya: PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST). Per akhir Juli 2026, dia memiliki 196,83 juta saham BEST atau sekitar 2,04% dari modal perseroan.

Lo Kheng Hong mengatakan mulai membeli saham BEST pada 2025 dengan alasan sederhana: valuasinya murah. Saat mengambil posisi, dia menyebut saham pengelola Kawasan Industri MM2100 tersebut diperdagangkan dengan price to book value atau PBV sekitar 0,2 kali.

Tetapi tesis BEST kini tidak hanya berbicara tentang diskon terhadap nilai buku. Semester I/2026 memperlihatkan pemulihan bisnis yang tajam: pendapatan melonjak 303,35% menjadi Rp380 miliar dan perusahaan berbalik membukukan laba bersih Rp144 miliar. Pada saat bersamaan, BEST mencoba menangkap gelombang investasi data center dan artificial intelligence melalui pengembangan BeFa Digital Town.

Ringkasan
  • Lo Kheng Hong memiliki 196,83 juta saham BEST atau 2,04% per akhir Juli 2026 dan mengaku mulai membeli saham tersebut pada 2025 ketika PBV sekitar 0,2 kali.
  • Fundamental BEST membaik pada semester I/2026: pendapatan melonjak 303,35% menjadi Rp380 miliar dan laba bersih mencapai Rp144 miliar dari rugi Rp58,25 miliar setahun sebelumnya.
  • Katalis berikutnya berasal dari kawasan industri digital dan data center, tetapi sejumlah kerja sama terbaru masih berupa MoU sehingga kontribusi terhadap pendapatan dan laba belum dapat dipastikan.

Lo Kheng Hong Punya 196,83 Juta Saham BEST

Lo Kheng Hong mengungkap kepemilikannya di BEST mencapai 196,83 juta saham per akhir Juli 2026. Jumlah tersebut setara sekitar 2,04% saham perseroan.

Dari dua angka tersebut, perhitungan sederhana Receh.in mengindikasikan total saham BEST yang menjadi basis persentase tersebut sekitar 9,65 miliar saham. Angka ini merupakan hasil pembagian matematis 196,83 juta saham dengan porsi 2,04%, sehingga bukan angka resmi jumlah saham beredar dari keterbukaan informasi.

196,83 Jt Saham BEST milik Lo Kheng Hong
2,04% Porsi kepemilikan per akhir Juli 2026
2025 Tahun mulai membeli menurut Lo
0,2x PBV yang disebut saat tesis pembelian

Lo mengatakan alasan awal membeli BEST adalah harga saham yang murah. Parameter yang dia soroti adalah PBV sekitar 0,2 kali.

Secara konsep, PBV 0,2 kali berarti harga pasar saham berada jauh di bawah nilai buku per saham. Namun PBV rendah tidak otomatis berarti saham undervalued. Diskon terhadap nilai buku baru menjadi menarik apabila aset perusahaan memiliki kualitas yang memadai, neracanya sehat, dan aset tersebut mampu dikonversi menjadi laba serta arus kas.

Untuk perusahaan kawasan industri seperti BEST, faktor tersebut menjadi sangat penting karena sebagian nilai bisnis berada pada tanah, kawasan yang dikembangkan, utilitas, dan kemampuan menjual lahan kepada tenant.

Pembacaan investor: alasan “PBV 0,2 kali” menjelaskan harga masuk yang dianggap menarik oleh Lo Kheng Hong, tetapi tesis investasi BEST kini perlu diuji dengan kemampuan perusahaan menjual lahan, meningkatkan recurring income dan mengubah tema data center menjadi transaksi yang menghasilkan laba.

Lo juga menyebut saham BEST telah menguat sekitar 75% dalam dua bulan terakhir. Kenaikan harga tersebut menunjukkan pasar mulai memberikan valuasi lebih tinggi, tetapi tidak otomatis berarti diskon terhadap fundamental telah sepenuhnya hilang atau sebaliknya saham masih murah. Untuk menilainya diperlukan harga saham dan nilai buku terkini.

Laba BEST Berbalik Positif, Pendapatan Melonjak 303%

Argumen fundamental BEST mendapat dukungan dari laporan keuangan semester I/2026. Perseroan membukukan pendapatan Rp380 miliar, naik 303,35% dari Rp94,31 miliar pada semester I/2025.

Peningkatan tersebut diikuti pembalikan kinerja di bottom line. BEST mencatat laba bersih Rp144 miliar dibandingkan rugi Rp58,25 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Indikator BEST Semester I/2025 Semester I/2026 Perubahan
Pendapatan Rp94,31 M Rp380 M +303,35%
Laba/rugi bersih -Rp58,25 M Rp144 M Berbalik laba
Penjualan lahan industri Rp265 M

Perhitungan Receh.in menunjukkan margin laba bersih semester I/2026 berada di kisaran 37,9%, menggunakan laba bersih Rp144 miliar dibagi pendapatan Rp380 miliar.

Margin tersebut terlihat tinggi, tetapi tidak boleh langsung diasumsikan sebagai margin berulang jangka panjang. Bisnis kawasan industri mempunyai karakter pendapatan yang dapat berfluktuasi mengikuti waktu pengakuan penjualan lahan.

Penjualan lahan industri mencapai Rp265 miliar pada semester pertama. Jumlah tersebut setara sekitar 69,7% dari pendapatan konsolidasi Rp380 miliar berdasarkan perbandingan sederhana.

Ini menjelaskan mengapa peningkatan transaksi lahan menjadi pendorong utama lonjakan pendapatan BEST. Manajemen juga menyebut recurring income terus tumbuh dari tahun ke tahun, tetapi bahan yang tersedia tidak memberikan angka detail kontribusinya sehingga belum dapat dihitung seberapa besar porsi pendapatan berulang terhadap total bisnis.

Hal yang perlu diperhatikan: kenaikan laba BEST memang signifikan, tetapi basis pembanding semester I/2025 juga lemah karena perusahaan mencatat rugi. Investor perlu melihat apakah penjualan lahan yang kuat dapat berlanjut pada semester II dan seberapa besar recurring income berkembang untuk mengurangi volatilitas pendapatan.

MM2100 dan Data Center Jadi Alasan Tambahan

Selain valuasi, Lo Kheng Hong menyoroti posisi BEST sebagai pemilik dan pengembang Kawasan Industri MM2100. Salah satu daya tarik yang dia sebut adalah keberadaan banyak fasilitas data center di kawasan tersebut.

Tema ini semakin relevan karena BEST sedang mengembangkan BeFa Digital Town, kawasan yang dipersiapkan untuk menangkap investasi dari artificial intelligence, data center, cloud computing, smart manufacturing, Internet of Things, dan automation.

Perubahan karakter kebutuhan tenant industri digital memang cukup besar. Investor data center tidak hanya membutuhkan lahan dan akses logistik, tetapi juga pasokan listrik berkapasitas besar, kualitas dan kontinuitas daya, konektivitas data, air, serta kemampuan meningkatkan kapasitas sejalan dengan ekspansi.

Kebutuhan Kawasan Industri Tradisional Tambahan Kebutuhan Era AI & Data Center
Lokasi Power availability
Akses logistik Digital connectivity
Lahan Reliability
Utilitas dasar Scalability
Akses transportasi Certainty of supply

Jika BEST berhasil mengubah posisi MM2100 menjadi destinasi bagi data center dan industri digital, potensi dampaknya tidak hanya datang dari penjualan lahan. Dalam jangka lebih panjang, pertambahan tenant juga dapat memperluas basis layanan kawasan dan pendapatan berulang.

Namun narasi tersebut masih harus dibedakan antara potensi dan realisasi.

BEST melalui BeFa telah menandatangani sejumlah nota kesepahaman untuk mendukung konsep kawasan AI-ready. BeFa bersama Industrial Grid Nusantara atau IGN dan PT PLN (Persero) menandatangani MoU terkait kesiapan serta kepastian infrastruktur listrik.

SolidBlue juga menjalin kerja sama dengan XenithIG untuk memperkuat konektivitas dan infrastruktur digital BeFa Digital Town.

MoU tersebut merupakan tahap kolaborasi dan bukan bukti bahwa seluruh proyek infrastruktur telah selesai, kapasitas listrik tertentu telah terealisasi, atau tenant data center baru sudah menandatangani transaksi komersial.

Investor perlu membedakan: pembangunan ekosistem AI-ready merupakan katalis potensial. Tetapi MoU belum sama dengan kontrak penjualan lahan, komitmen investasi tenant, pendapatan maupun laba. Konfirmasi yang lebih kuat akan muncul ketika BEST mengumumkan tenant, luas lahan terjual, kapasitas utilitas, nilai investasi atau kontribusi recurring income.

Apakah Saham BEST Masih Murah setelah Naik 75%?

Inilah pertanyaan yang menjadi semakin relevan setelah Lo menyebut saham BEST telah naik sekitar 75% dalam dua bulan.

Ketika dia mulai membeli pada 2025, alasan utamanya adalah valuasi PBV sekitar 0,2 kali. Namun setelah harga saham meningkat tajam, valuasi saat ini tentu tidak dapat diasumsikan masih sama tanpa menggunakan harga pasar dan nilai buku terbaru.

Bagi investor yang ingin mengikuti tesis Lo Kheng Hong, setidaknya terdapat empat lapisan yang perlu dianalisis.

Faktor Apa yang Perlu Dicermati?
Valuasi PBV dan valuasi terkini setelah harga saham naik
Penjualan lahan Apakah momentum Rp265 miliar pada semester I berlanjut
Recurring income Seberapa cepat kontribusi pendapatan berulang bertambah
Data center & AI Konversi MoU dan pipeline menjadi tenant serta transaksi riil
Neraca Utang, likuiditas dan kebutuhan modal untuk ekspansi kawasan
Profitabilitas Apakah laba semester I dapat dipertahankan tanpa bergantung pada transaksi lahan besar

Faktor pertama adalah valuasi. Membeli saham dengan PBV sangat rendah dapat memberikan margin of safety apabila nilai aset benar-benar dapat direalisasikan. Namun setelah saham naik, margin tersebut dapat menyempit.

Kedua adalah kualitas pemulihan laba. Revenue yang melonjak empat kali lipat dan perusahaan yang berbalik untung merupakan perubahan positif, tetapi investor tetap perlu memeriksa keberlanjutannya.

Ketiga adalah transformasi MM2100 menuju kawasan yang lebih siap menerima investasi digital. Data center merupakan industri yang membutuhkan lahan sekaligus utilitas dalam skala besar sehingga dapat menjadi sumber permintaan baru bagi kawasan industri.

Keempat adalah eksekusi. BEST belum merevisi target marketing sales, pendapatan ataupun laba bersih 2026. Manajemen memilih mempertahankan target yang ada sembari memonitor kondisi ekonomi dan mengoptimalkan pipeline.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa perbaikan semester pertama belum diterjemahkan menjadi target baru yang lebih agresif.

Intinya: tesis Lo Kheng Hong pada BEST berawal dari valuasi sangat rendah—PBV sekitar 0,2 kali ketika ia membeli pada 2025—tetapi kini mendapatkan dukungan dari perbaikan fundamental dan opsi pertumbuhan data center. Pendapatan semester I/2026 melonjak 303,35% dan BEST kembali menghasilkan laba Rp144 miliar. Meski begitu, kenaikan harga saham sekitar 75% dalam dua bulan membuat investor baru perlu menghitung valuasi dari awal. Membeli saham yang sama dengan investor kawakan tidak berarti memperoleh harga atau margin of safety yang sama.

FAQ Lo Kheng Hong dan Saham BEST

Berapa saham BEST yang dimiliki Lo Kheng Hong?
Lo Kheng Hong mengungkap memiliki 196,83 juta saham PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. atau BEST per akhir Juli 2026. Kepemilikan tersebut setara sekitar 2,04%.
Kapan Lo Kheng Hong membeli saham BEST?
Lo Kheng Hong mengatakan mulai membeli saham BEST pada 2025. Bahan yang tersedia tidak menyebut tanggal transaksi maupun harga rata-rata pembeliannya.
Kenapa Lo Kheng Hong membeli saham BEST?
Alasan yang dia ungkap adalah valuasi saham BEST yang dinilai murah, dengan PBV sekitar 0,2 kali ketika tesis pembelian dibuat. Dia juga menyoroti Kawasan Industri MM2100 dan keberadaan data center di kawasan tersebut.
Bagaimana kinerja BEST pada semester I/2026?
BEST membukukan pendapatan Rp380 miliar, naik 303,35% dari Rp94,31 miliar pada semester I/2025. Laba bersih mencapai Rp144 miliar dibandingkan rugi Rp58,25 miliar setahun sebelumnya.
Berapa penjualan lahan industri BEST?
Penjualan lahan industri BEST pada semester I/2026 mencapai Rp265 miliar. Nilai tersebut setara sekitar 69,7% dari pendapatan Rp380 miliar berdasarkan perbandingan sederhana Receh.in.
Apa hubungan BEST dengan bisnis data center?
BEST mengembangkan BeFa Digital Town untuk mendukung investasi AI, data center, cloud computing dan industri digital. Perseroan juga menjalin sejumlah MoU terkait infrastruktur listrik dan konektivitas, tetapi kerja sama tersebut belum otomatis berarti pendapatan atau investasi tenant sudah terealisasi.
Apakah saham BEST masih murah setelah naik 75%?
Belum dapat disimpulkan hanya dari kenaikan harga. PBV 0,2 kali merupakan valuasi yang disebut Lo Kheng Hong ketika menjelaskan alasan pembeliannya. Investor perlu menghitung ulang PBV dan valuasi berdasarkan harga saham serta nilai buku terkini.
Sumber: Pernyataan Lo Kheng Hong mengenai kepemilikan dan alasan investasi di PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk.; laporan kinerja semester I/2026 BEST; serta keterangan perseroan mengenai pengembangan BeFa Digital Town dan kolaborasi infrastruktur sebagaimana terdapat dalam bahan yang diterima Receh.in.

Perhitungan Receh.in: Kepemilikan 196,83 juta saham yang setara 2,04% mengindikasikan basis sekitar 9,65 miliar saham melalui perhitungan sederhana dan bukan angka resmi saham beredar. Margin laba bersih semester I/2026 sekitar 37,9% dari laba Rp144 miliar dibagi pendapatan Rp380 miliar. Penjualan lahan Rp265 miliar setara sekitar 69,7% dari pendapatan semester I/2026.

Catatan: PBV 0,2 kali merupakan angka yang disebut Lo Kheng Hong terkait alasan pembeliannya dan tidak otomatis menggambarkan valuasi BEST saat ini. Kenaikan saham sekitar 75% dalam dua bulan juga mengikuti keterangan dalam bahan sumber. MoU pengembangan infrastruktur AI-ready bukan kontrak penjualan atau jaminan kontribusi pendapatan.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham BEST. Kepemilikan saham oleh investor tertentu tidak menjamin saham tersebut sesuai untuk investor lain. Harga masuk, valuasi, horizon investasi dan toleransi risiko dapat berbeda.