Receh.in — Investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menambah kepemilikan saham PT ABM Investama Tbk. (ABMM) pada September 2026. Pada 4 September 2026, ia membeli 64.600 saham ABMM, sehingga total kepemilikannya meningkat menjadi sekitar 155,99 juta saham atau 5,67%.
Aksi beli tersebut melanjutkan pola akumulasi yang sudah berlangsung sejak tahun lalu. Pada akhir Desember 2024, Lo Kheng Hong tercatat memiliki sekitar 149,64 juta saham ABMM. Jumlahnya meningkat menjadi 154,01 juta saham pada akhir 2025, lalu kembali bertambah pada 2026.
Yang membuat ceritanya lebih menarik, penambahan kepemilikan terjadi ketika fundamental ABMM juga menunjukkan perbaikan profitabilitas. Pada semester I/2026, pendapatan memang cenderung datar, tetapi laba bersih tumbuh 41,9% YoY menjadi US$39,9 juta, ditopang peningkatan produksi batu bara dan stabilisasi bisnis kontraktor pertambangan.
- Lo Kheng Hong membeli lagi 64.600 saham ABMM pada 4 September 2026.
- Total kepemilikannya kini sekitar 155,99 juta saham atau 5,67%.
- ABMM membukukan laba bersih semester I/2026 sebesar US$39,9 juta, naik 41,9%, meski pendapatan nyaris stagnan.
Lo Kheng Hong Terus Akumulasi ABMM
Data kepemilikan menunjukkan Lo Kheng Hong terus menambah saham ABMM secara bertahap.
| Periode | Kepemilikan | Perubahan |
|---|---|---|
| Akhir Desember 2024 | 149,64 juta saham | — |
| 31 Desember 2025 | 154,01 juta saham | +4,37 juta saham |
| 4 September 2026 | 155,99 juta saham | +64.600 saham pada transaksi terbaru |
Secara keseluruhan, kepemilikannya bertambah sekitar 6,35 juta saham dibandingkan posisi akhir 2024.
Namun investor perlu membedakan dua hal: Lo Kheng Hong membeli saham ABMM memang merupakan fakta transaksi, tetapi alasan spesifik di balik setiap pembelian tidak dijelaskan secara rinci dalam bahan.
Karena itu, kurang tepat jika langsung menyimpulkan bahwa setiap penambahan tersebut merupakan sinyal bahwa saham pasti undervalued pada harga tertentu.
Laba ABMM Naik 41,9% Meski Pendapatan Datar
ABMM mencatat pendapatan sekitar US$506,2 juta pada semester I/2026, turun tipis 0,1% dibandingkan US$506,9 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun laba bersih justru meningkat tajam menjadi US$39,9 juta atau sekitar Rp714,17 miliar, naik 41,9% secara tahunan.
Kenaikan laba yang jauh lebih cepat dibandingkan pendapatan menunjukkan bahwa perbaikan profitabilitas lebih banyak datang dari faktor margin dan efisiensi, bukan sekadar pertumbuhan top line.
Manajemen menyebut pendorong utama berasal dari peningkatan produksi operasi tambang batu bara serta stabilisasi bisnis kontraktor pertambangan.
EBITDA disesuaikan secara LTM juga naik 6,4% menjadi US$346,9 juta.
Produksi Batu Bara Naik, Overburden Malah Turun
Dari sisi operasional, coal getting ABMM meningkat 14,2% menjadi 17,9 juta ton pada semester I/2026.
Di saat yang sama, overburden removal turun 12,6% menjadi 98,0 juta bcm.
| Indikator Operasional | 1H2026 | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Coal getting | 17,9 juta ton | +14,2% |
| Overburden removal | 98,0 juta bcm | -12,6% |
Kombinasi produksi batu bara yang naik dengan overburden removal yang turun berpotensi membantu profitabilitas jika strip ratio dan biaya penambangan bergerak lebih efisien.
Namun bahan tidak memberikan angka strip ratio eksplisit atau biaya per ton, sehingga belum tepat menyimpulkan seberapa besar kontribusi efisiensi tersebut terhadap margin.
Manajemen juga menyoroti peningkatan produksi tambang di Aceh yang mendorong volume penjualan kuartalan dan berkontribusi terhadap profitabilitas berbagai unit usaha dalam rantai nilai pertambangan.
Aset Baru dan Logistik Bisa Jadi Katalis Berikutnya
Memasuki semester II/2026, ABMM masih memiliki beberapa katalis.
Pertama, perusahaan memperkirakan peningkatan produksi dari tambang Aceh berlanjut.
Kedua, ABMM sedang menyelesaikan proses perizinan aset tambang batu bara baru milik PT Piranti Jaya Utama di Kalimantan Tengah, yang ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Ketiga, bisnis logistik mulai mendapat tambahan dukungan dari kontrak jasa jangka panjang dengan pelanggan kategori A-list.
| Katalis | Potensi Dampak |
|---|---|
| Peningkatan produksi Aceh | Mendorong volume dan utilisasi rantai tambang |
| Aset baru PT Piranti Jaya Utama | Menambah basis produksi jika perizinan selesai |
| Kontrak logistik jangka panjang | Menambah visibilitas pendapatan |
| Diversifikasi non-batu bara | Mengurangi ketergantungan terhadap satu segmen |
Namun seluruh katalis tersebut tetap memiliki risiko eksekusi. Perizinan bisa mundur, produksi baru membutuhkan capex, dan kontrak logistik tetap harus dilihat dari margin serta kontribusi ekonominya.
ABMM juga masih sensitif terhadap harga batu bara, biaya bahan bakar, kebijakan pertambangan, dan kondisi geopolitik yang dapat mengubah struktur biaya operasional.
FAQ Lo Kheng Hong dan Saham ABMM
Berapa saham ABMM yang dimiliki Lo Kheng Hong?
Berapa saham yang baru dibeli Lo Kheng Hong?
Bagaimana kinerja ABMM semester I/2026?
Berapa produksi batu bara ABMM?
Apa katalis ABMM pada semester II/2026?
Apakah membeli karena Lo Kheng Hong juga membeli itu aman?
Perhitungan Receh.in: Kepemilikan Lo Kheng Hong bertambah sekitar 6,35 juta saham dibandingkan akhir 2024, dari 149,64 juta menjadi 155,99 juta saham.
Catatan: Bahan tidak menyebut harga transaksi pembelian 64.600 saham pada 4 September 2026, sehingga artikel tidak menghitung nilai pembelian. Bahan juga tidak menjelaskan secara spesifik alasan setiap transaksi Lo Kheng Hong, sehingga artikel tidak mengasumsikan motif tertentu di luar fakta bahwa kepemilikan bertambah.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham ABMM. Investor perlu mempertimbangkan valuasi, harga batu bara, biaya operasional, arus kas, capex, perizinan tambang, dan risiko industri sebelum mengambil keputusan.
0 Komentar