Receh.in — Program Motor Listrik Nasional atau Molinas memasuki babak baru setelah diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 13 Agustus 2026. Pemerintah bahkan menyiapkan skenario penjualan hingga 750.000 unit pada 2029 dengan dukungan regulasi.
Target itu tergolong agresif jika dibandingkan dengan kondisi pasar saat ini. Penjualan motor listrik Indonesia justru turun 27,40% menjadi 18.487 unit pada semester I/2026. Sepanjang 2025 saja, penjualannya baru mencapai 59.232 unit atau sekitar 0,9% dari pasar sepeda motor nasional.
Tantangan Molinas karena itu bukan sekadar membuat motor listrik nasional. Pemerintah harus membangun ekosistem yang mampu meningkatkan permintaan, memperluas pembiayaan, menyatukan standar baterai dan layanan purnajual, serta mendorong industri lokal. Dari sisi perdagangan, Indonesia juga masih tertinggal jauh: nilai ekspor motor listrik pada 2025 hanya US$7,26 juta, dibandingkan Vietnam US$308,45 juta.
- Molinas ditargetkan mencapai penjualan 400.000 unit pada 2029 dalam skenario dasar dan 750.000 unit dalam skenario optimistis.
- Pasar riil masih menantang: penjualan motor listrik semester I/2026 turun 27,40% menjadi 18.487 unit, sementara pasar sepeda motor keseluruhan justru tumbuh.
- Indonesia baru mencatat ekspor motor listrik US$7,26 juta pada 2025, hanya sekitar 1,35% dari total delapan negara ASEAN dalam data Trade Map yang tersedia.
Molinas Bukan Satu Merek, Target TKDN Minimal 60%
Molinas dirancang sebagai platform terbuka, bukan satu merek atau satu model kendaraan. Ekosistemnya mencakup produsen kendaraan, industri komponen dan baterai, pembiayaan, infrastruktur energi, distribusi, hingga layanan purnajual.
Pada tahap awal, ALVA dan Gesits menjadi mitra pengembangan. Pemerintah tetap membuka keterlibatan produsen lain selama memenuhi persyaratan teknis, mutu, keselamatan, kesiapan industri, dan tata kelola.
PT Len Industri bertindak sebagai koordinator sekaligus lead integrator teknis. Tugasnya antara lain mengoordinasikan standardisasi serta menyelaraskan kesiapan antarmitra, sedangkan Danantara mengorkestrasikan kolaborasi ekosistem.
Persyaratan TKDN minimal 60% menjadi penting karena tujuan Molinas tidak hanya meningkatkan adopsi kendaraan listrik, tetapi juga memperbesar nilai tambah industri dalam negeri.
Menurut Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia atau Aismoli, kemampuan industri menyerap komponen lokal bahkan telah mencapai hingga 70%.
Target 750.000 Unit, Seberapa Berat Mengejarnya?
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyusun dua jalur pertumbuhan Molinas. Dalam skenario dasar tanpa perubahan regulasi, penjualan diproyeksikan meningkat dari 60.000 unit pada 2026 menjadi 400.000 unit pada 2029.
Dalam skenario optimistis dengan dukungan regulasi, targetnya jauh lebih tinggi: 70.000 unit pada 2026, 300.000 unit pada 2027, 600.000 unit pada 2028, dan 750.000 unit pada 2029.
| Tahun | Skenario Dasar | Skenario Optimistis | Selisih |
|---|---|---|---|
| 2026 | 60.000 | 70.000 | 10.000 |
| 2027 | 100.000 | 300.000 | 200.000 |
| 2028 | 250.000 | 600.000 | 350.000 |
| 2029 | 400.000 | 750.000 | 350.000 |
Secara kumulatif, skenario dasar berarti penjualan sekitar 810.000 unit sepanjang 2026–2029. Skenario optimistis mencapai sekitar 1,72 juta unit.
Skala target 2029 terlihat semakin besar jika dibandingkan dengan pasar motor listrik 2025. Penjualan optimistis 750.000 unit setara sekitar 12,7 kali penjualan motor listrik sepanjang 2025 yang sebesar 59.232 unit.
Tantangan bahkan sudah terlihat pada target tahun pertama. Semester I/2026 baru menghasilkan 18.487 unit.
| Target 2026 | Realisasi 1H2026 | Kebutuhan 2H2026 | Rata-rata per Bulan di 2H |
|---|---|---|---|
| Skenario dasar 60.000 | 18.487 | 41.513 | 6.919 |
| Skenario optimistis 70.000 | 18.487 | 51.513 | 8.586 |
Rata-rata penjualan semester I/2026 hanya sekitar 3.081 unit per bulan. Artinya, untuk mencapai target dasar, kecepatan penjualan semester II perlu meningkat menjadi sekitar 2,2 kali rata-rata semester pertama. Untuk target optimistis, lajunya perlu hampir 2,8 kali.
Angka tersebut bukan proyeksi bahwa target akan gagal atau tercapai. Perhitungan ini hanya menunjukkan besarnya akselerasi yang dibutuhkan apabila target 2026 tetap dipertahankan.
Pasar Motor 3,13 Juta Unit, Motor Listrik Hanya 18.487
Kontras pasar terlihat semakin jelas ketika motor listrik dibandingkan dengan industri roda dua secara keseluruhan.
Penjualan sepeda motor domestik sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai 3,13 juta unit, naik 0,80% dibandingkan periode yang sama 2025. Ekspornya bahkan meningkat 17,89% menjadi 316.819 unit.
Motor listrik bergerak sebaliknya. Penjualan turun dari 25.463 unit pada semester I/2025 menjadi 18.487 unit pada semester I/2026.
| Indikator | 1H2025 | 1H2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Penjualan motor domestik | 3,10 juta | 3,13 juta | +0,80% |
| Ekspor sepeda motor | 268.743 | 316.819 | +17,89% |
| Penjualan motor listrik | 25.463 | 18.487 | -27,40% |
Dengan penjualan 18.487 unit dibandingkan pasar roda dua sekitar 3,13 juta unit, penetrasi motor listrik pada semester I/2026 hanya sekitar 0,59% secara sederhana.
Angka ini bahkan lebih rendah daripada penetrasi sekitar 0,9% pada 2025.
Ketergantungan terhadap stimulus pemerintah juga masih cukup besar. Sepanjang 2023–2024, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp518,5 miliar untuk bantuan pembelian motor listrik. Sekitar 81% penjualan pada 2024 disebut terjadi melalui skema bantuan tersebut.
Pada 2026, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp3 triliun dengan bantuan Rp3 juta per unit dan sasaran hingga 1 juta kendaraan. Secara aritmetika, Rp3 triliun dibagi Rp3 juta memang setara dengan kapasitas bantuan untuk sekitar 1 juta unit.
Namun industri masih menunggu kepastian implementasi dan mekanisme penyaluran. Selain itu, nilai bantuan Rp3 juta lebih rendah dibandingkan subsidi Rp7 juta per unit pada 2024.
Ekspor Naik 84,8%, tetapi Indonesia Masih Jauh di ASEAN
Dari sisi ekspor, terdapat tanda yang lebih positif. Nilai ekspor motor listrik Indonesia dengan kode HS 871160 mencapai US$4,93 juta pada semester I/2026, meningkat 84,81% dibandingkan US$2,67 juta pada semester I/2025.
Realisasi enam bulan tersebut sudah setara 67,95% dari total ekspor sepanjang 2025 yang mencapai US$7,26 juta.
Namun posisi Indonesia dalam perdagangan regional masih kecil. Berdasarkan data Trade Map untuk 2025, Vietnam memimpin ekspor motor listrik di ASEAN dengan US$308,45 juta, diikuti Kamboja US$150,13 juta dan Thailand US$63,23 juta.
| Peringkat | Negara | Ekspor Motor Listrik 2025 | Porsi dari 8 Negara |
|---|---|---|---|
| 1 | Vietnam | US$308,45 juta | 57,28% |
| 2 | Kamboja | US$150,13 juta | 27,88% |
| 3 | Thailand | US$63,23 juta | 11,74% |
| 4 | Filipina | US$8,70 juta | 1,62% |
| 5 | Indonesia | US$7,26 juta | 1,35% |
| 6 | Malaysia | US$623 ribu | 0,12% |
| 7 | Singapura | US$116 ribu | 0,02% |
| 8 | Brunei Darussalam | US$2 ribu | <0,01% |
Total nilai ekspor delapan negara yang tersedia dalam data tersebut mencapai sekitar US$538,51 juta. Indonesia hanya menyumbang sekitar 1,35%.
Vietnam sendiri memiliki nilai ekspor sekitar 42,5 kali Indonesia. Bahkan tiga negara teratas—Vietnam, Kamboja, dan Thailand—menguasai sekitar 96,9% dari total ekspor delapan negara dalam tabel.
Pasar tujuan ekspor Indonesia juga masih sangat terkonsentrasi. Dari US$4,93 juta ekspor semester I/2026, sekitar US$4,37 juta atau 88,73% mengalir ke Thailand.
Konsentrasi itu menunjukkan peluang sekaligus risiko. Peningkatan ekspor telah terjadi, tetapi Indonesia masih perlu memperbesar skala dan melakukan diversifikasi tujuan jika ingin menjadikan industri motor listrik sebagai basis ekspor regional.
FAQ Motor Listrik Nasional Molinas
Apa itu Motor Listrik Nasional atau Molinas?
Siapa produsen yang terlibat dalam Molinas?
Berapa minimum TKDN Molinas?
Berapa target penjualan Molinas pada 2029?
Berapa penjualan motor listrik Indonesia semester I/2026?
Berapa nilai ekspor motor listrik Indonesia?
Indonesia peringkat berapa untuk ekspor motor listrik di ASEAN?
Apa tantangan terbesar pengembangan motor listrik Indonesia?
Perhitungan Receh.in: Target kumulatif Molinas 2026–2029 sekitar 810.000 unit dalam skenario dasar dan 1,72 juta unit dalam skenario optimistis. Untuk mencapai target 2026 sebesar 60.000–70.000 unit setelah penjualan 18.487 unit pada semester I, semester II membutuhkan 41.513–51.513 unit atau rata-rata sekitar 6.919–8.586 unit per bulan. Penetrasi sederhana motor listrik semester I/2026 sekitar 0,59% dari pasar sepeda motor domestik 3,13 juta unit. Total ekspor delapan negara ASEAN dalam tabel Trade Map 2025 sekitar US$538,51 juta, dengan porsi Indonesia sekitar 1,35%; Vietnam sekitar 42,5 kali Indonesia dan tiga eksportir terbesar mencakup sekitar 96,9% dari total tersebut.
Catatan: Proyeksi penjualan Molinas merupakan skenario kebijakan, bukan jaminan realisasi. Data ekspor ASEAN mengikuti negara yang tersedia dalam bahan dan tidak mencakup negara yang tidak tercantum, sehingga pangsa 1,35% merupakan porsi Indonesia terhadap total delapan negara tersebut, bukan klaim pangsa seluruh ASEAN secara absolut. Kode perdagangan yang digunakan adalah HS 871160.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis industri. Proyeksi penjualan, insentif, pembangunan ekosistem, dan kebijakan Molinas dapat berubah mengikuti regulasi serta kondisi pasar.

0 Komentar