Daftar IsiTampilkan

Receh.in — Prospek saham-saham Grup Alamtri memasuki fase yang lebih menarik pada semester II/2026. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) sama-sama mencatat pertumbuhan laba pada semester I/2026, sementara sumber pertumbuhan mulai bergeser dari ketergantungan penuh pada batu bara menuju batu bara metalurgi dan aluminium.

ADRO mencatat lonjakan laba bersih paling tinggi, yakni 76,83% menjadi US$309,37 juta. AADI masih menjadi mesin laba terbesar dengan laba bersih US$473,77 juta, sedangkan ADMR mencatat pertumbuhan pendapatan paling agresif sebesar 31,52% menjadi US$583,88 juta.

Namun cerita yang paling transformasional berada di ADMR. Smelter aluminium PT Kalimantan Aluminium Industry atau KAI telah memasuki tahap komersialisasi dan ditargetkan mencapai kapasitas penuh 500.000 ton per tahun pada akhir 2026. KB Valbury Sekuritas memperkirakan bisnis aluminium dapat menyumbang sekitar US$900 juta terhadap topline ADMR pada 2026 dan memberikan rekomendasi Buy dengan target Rp2.100 per saham.

Ringkasan
  • ADRO membukukan laba bersih US$309,37 juta pada semester I/2026, naik 76,83% YoY, dengan margin laba bersih secara sederhana sekitar 31%.
  • AADI mencetak laba bersih US$473,77 juta dan tetap menjadi mesin kas batu bara grup, sementara BRI Danareksa memberikan rekomendasi Buy dengan target Rp12.400.
  • ADMR mulai memperoleh mesin pertumbuhan baru dari aluminium; KB Valbury memasang target Rp2.100 dan memproyeksikan laba bersih tumbuh CAGR 24% hingga 2030.

ADRO, AADI, dan ADMR Sama-sama Tumbuh, tetapi Ceritanya Berbeda

Kinerja semester I/2026 memperlihatkan tiga profil yang berbeda dalam Grup Alamtri. ADRO mencatat ekspansi margin yang kuat, AADI mempertahankan skala pendapatan dan laba terbesar, sedangkan ADMR menawarkan pertumbuhan pendapatan tercepat sekaligus transformasi bisnis yang paling agresif.

Emiten Pendapatan 1H26 Pertumbuhan YoY Laba Bersih 1H26 Pertumbuhan YoY
ADRO US$999,24 juta +16,51% US$309,37 juta +76,83%
AADI US$2,55 miliar +6,13% US$473,77 juta +10,52%
ADMR US$583,88 juta +31,52% US$174,18 juta +23,97%

ADRO membukukan pendapatan US$999,24 juta, naik dari US$857,69 juta. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat jauh lebih cepat dari pendapatan, dari US$174,94 juta menjadi US$309,37 juta.

Berdasarkan perhitungan Receh.in, margin laba bersih sederhana ADRO naik dari sekitar 20,4% menjadi 31,0%. Pelebaran sekitar 10,6 poin persentase ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan laba ADRO bukan semata-mata akibat kenaikan penjualan.

+76,83% Pertumbuhan laba ADRO
US$473,77 Jt Laba bersih AADI
+31,52% Pertumbuhan pendapatan ADMR
500.000 ton Target kapasitas penuh smelter KAI

Dari sisi segmen ADRO, pertambangan disebut menjadi kontributor utama dengan pendapatan US$580,39 juta, sementara jasa pengolahan pertambangan menyumbang US$397,30 juta. Dua segmen tersebut secara bersama-sama setara sekitar 97,8% dari total pendapatan konsolidasi ADRO.

AADI mempunyai skala yang lebih besar. Pendapatan semester I/2026 mencapai US$2,55 miliar, sementara laba bersih mencapai US$473,77 juta. Margin laba bersih sederhananya berada di sekitar 18,6%.

ADMR berada di antara keduanya dari sisi margin, dengan laba bersih US$174,18 juta dari pendapatan US$583,88 juta. Margin laba bersih sederhana mencapai sekitar 29,8%.

Poin penting: tiga saham dalam Grup Alamtri tidak menawarkan tesis yang identik. AADI lebih dekat dengan eksposur batu bara termal dan arus kas, ADMR menawarkan pertumbuhan batu bara metalurgi plus aluminium, sedangkan ADRO menjadi holding dengan eksposur lebih luas terhadap transformasi grup.

AADI Tetap Jadi Mesin Batu Bara, ADMR Bermain di Met Coal

Pertumbuhan AADI terutama ditopang oleh kenaikan penjualan batu bara domestik dari US$343,75 juta menjadi US$400,43 juta. Kenaikannya mencapai sekitar 16,5% secara tahunan.

Penjualan ekspor batu bara kepada pihak ketiga mencapai US$1,82 miliar, memperlihatkan bahwa eksposur AADI terhadap pasar internasional tetap besar. Kondisi ini membuat pergerakan harga batu bara global, permintaan pembeli utama, serta kebijakan produksi domestik tetap menjadi faktor fundamental utama.

Sementara itu, ADMR mempunyai komposisi pasar yang berbeda karena berfokus pada batu bara metalurgi. Hingga semester I/2026, sekitar 43% penjualan diarahkan ke pasar domestik, terutama sejalan dengan kebutuhan pabrik kokas.

Pasar Batu Bara Metalurgi ADMR Porsi Penjualan 1H26
Indonesia 43%
Jepang 25%
India 17%
China 12%
Korea Selatan 3%

Komposisi tersebut membuat ADMR memiliki diversifikasi geografis yang relatif luas. India menjadi salah satu pasar yang dipandang strategis karena peningkatan kapasitas industri baja negara tersebut berpotensi mendorong permintaan batu bara metalurgi dalam jangka panjang.

China tetap merupakan pasar penting, sementara Australia diperkirakan tetap menjadi pemasok utama batu bara metalurgi global. Dengan demikian, prospek ADMR juga sangat dipengaruhi dinamika pasokan dari Australia dan pertumbuhan industri baja Asia.

Untuk 2026, manajemen menargetkan volume berada pada level yang relatif sama dengan pencapaian 2025. Ini berarti katalis pertumbuhan ADMR tidak hanya datang dari ekspansi volume batu bara, tetapi semakin bergeser menuju kontribusi bisnis aluminium.

Smelter Aluminium Bisa Mengubah Profil ADMR

Transformasi terbesar dalam Grup Alamtri muncul dari PT Kalimantan Aluminium Industry. Smelter KAI telah memulai tahap commissioning sejak Desember 2025 dan menurut riset KB Valbury Sekuritas berhasil melakukan pengiriman komersial perdana ke Amerika Serikat dan Korea Selatan pada Juni 2026.

Fasilitas tersebut ditargetkan mencapai kapasitas penuh 500.000 ton aluminium per tahun pada akhir 2026. Jika ramp-up berjalan sesuai rencana, bisnis aluminium akan mulai memberi kontribusi lebih besar terhadap pendapatan konsolidasi ADMR.

500.000 Ton/tahun kapasitas penuh KAI
US$900 Jt Proyeksi topline aluminium 2026 KB Valbury
43,9% Proyeksi porsi aluminium 2026
50,7% Proyeksi porsi aluminium 2030

KB Valbury memperkirakan kontribusi aluminium terhadap total pendapatan konsolidasi ADMR meningkat dari sekitar 43,9% pada 2026 menjadi 50,7% pada 2030. Jika proyeksi tersebut terealisasi, aluminium akan berubah dari lini diversifikasi menjadi salah satu bisnis utama ADMR.

Research Analyst KB Valbury Sekuritas Adolf Setiadi memperkirakan topline smelter aluminium dapat mencapai sekitar US$900 juta pada 2026. Namun angka tersebut merupakan proyeksi analis, sehingga tetap bergantung pada kecepatan ramp-up produksi, realisasi penjualan, harga aluminium, utilisasi smelter, dan biaya operasi.

Timing ekspansi dinilai mendukung karena pasar aluminium global disebut menghadapi potensi defisit pasokan sekitar 2,2 juta ton pada 2026 akibat gangguan produksi di Timur Tengah.

Dalam skenario KB Valbury, rata-rata harga aluminium LME diperkirakan berada di rentang US$3.577–US$3.750 per ton dan dapat mencapai sekitar US$4.150 per ton apabila tekanan geopolitik membesar.

Harga aluminium yang lebih tinggi secara teori mendukung pendapatan smelter, tetapi dampaknya terhadap laba tidak bersifat satu banding satu. Biaya listrik, alumina, karbon anoda, logistik, utilisasi fasilitas, biaya pembiayaan serta struktur kontrak penjualan akan menentukan margin aktual.

Inilah perubahan penting pada ADMR: tesis investasi perlahan bergeser dari perusahaan batu bara metalurgi menjadi perusahaan mineral dan logam terintegrasi. Jika aluminium benar-benar menyumbang lebih dari separuh pendapatan menjelang 2030, sensitivitas ADMR terhadap siklus batu bara juga berpotensi berkurang.

KB Valbury memberikan rekomendasi Buy untuk ADMR dengan target Rp2.100 per saham dan memproyeksikan laba bersih tumbuh dengan CAGR sekitar 24% pada periode 2025–2030.

Katalis yang disebut meliputi transformasi bisnis logam, peningkatan permintaan batu bara metalurgi yang dipimpin India, serta perubahan dinamika pasokan komoditas global.

AADI dan ADRO Masih Menarik, tetapi Batu Bara Tetap Menjadi Risiko Utama

Meski diversifikasi mulai berjalan, batu bara tetap menjadi mesin utama pendapatan dan arus kas Grup Alamtri dalam jangka dekat. Karena itu, prospek ADRO, AADI dan ADMR masih sangat sensitif terhadap harga komoditas, kuota produksi, biaya energi dan permintaan ekspor.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan pandangan overweight untuk sektor batu bara, tetapi menurunkan pandangan taktis tiga bulan menjadi neutral. Pertimbangannya adalah kemungkinan normalisasi harga serta risiko kinerja jangka pendek.

Tambahan pasokan dari revisi RKAB dapat menekan keseimbangan pasar pada semester II/2026. Di sisi lain, DMO pull-forward dan kebutuhan pembeli mempertahankan persediaan dinilai dapat menahan tekanan harga agar tidak terlalu dalam.

Biaya menjadi faktor lain. Dalam bahan yang diterima, harga HSD domestik disebut meningkat sekitar 35%–40% secara kuartalan. Tekanan tersebut dapat menyerap sebagian manfaat dari kenaikan volume maupun harga jual batu bara.

Saham Rekomendasi dalam Bahan Target Harga Tesis Utama
ADRO Buy — BRI Danareksa Rp2.500 Diversifikasi grup dan eksposur terhadap perbaikan sektor komoditas
AADI Buy — BRI Danareksa Rp12.400 Eksposur batu bara, dividen, valuasi dan katalis spesifik perusahaan
ADMR Buy — KB Valbury Rp2.100 Met coal, aluminium dan transformasi bisnis logam

AADI menjadi salah satu pilihan utama BRI Danareksa karena dinilai memiliki katalis spesifik perusahaan, dukungan dividen, serta valuasi yang memberi bantalan terhadap risiko penurunan harga batu bara. Target harga yang diberikan adalah Rp12.400 per saham.

Untuk ADRO, BRI Danareksa memberikan rekomendasi Buy dengan target Rp2.500 per saham.

Namun target harga saja belum cukup untuk menentukan mana saham yang paling menarik. Investor juga perlu membandingkan harga pasar saat ini, valuasi masing-masing perusahaan, struktur kepemilikan, potensi dividen, belanja modal dan kontribusi bisnis baru terhadap laba.

Dari sudut pandang fundamental, ketiganya menawarkan profil yang berbeda. AADI mempunyai basis laba terbesar dan eksposur langsung terhadap batu bara termal. ADMR menawarkan pertumbuhan yang lebih tinggi tetapi juga mempunyai risiko ramp-up smelter. ADRO memberikan eksposur yang lebih terdiversifikasi melalui struktur grup.

Intinya: daya tarik Grup Alamtri pada 2026 tidak lagi hanya berasal dari harga batu bara. ADRO sudah mencatat ekspansi laba yang kuat, AADI tetap menjadi mesin laba besar, sedangkan ADMR memiliki potensi perubahan struktur pendapatan melalui smelter aluminium KAI. Namun batu bara masih menjadi penentu utama kinerja jangka pendek, sementara aluminium baru akan menjadi katalis fundamental apabila ramp-up produksi dan penjualan benar-benar berjalan sesuai rencana.

FAQ Prospek Saham ADRO, AADI, dan ADMR

Bagaimana kinerja ADRO semester I 2026?
ADRO membukukan pendapatan US$999,24 juta, naik 16,51% YoY, sedangkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 76,83% menjadi US$309,37 juta.
Berapa laba bersih AADI semester I 2026?
AADI mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$473,77 juta, naik 10,52% secara tahunan dari pendapatan US$2,55 miliar.
Bagaimana kinerja ADMR semester I 2026?
Pendapatan ADMR meningkat 31,52% menjadi US$583,88 juta, sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 23,97% menjadi US$174,18 juta.
Berapa kapasitas smelter aluminium ADMR?
Smelter PT Kalimantan Aluminium Industry ditargetkan mencapai kapasitas penuh sekitar 500.000 ton aluminium per tahun pada akhir 2026. Fasilitas tersebut telah melakukan pengiriman komersial perdana pada Juni 2026 menurut riset KB Valbury Sekuritas.
Berapa target harga saham ADMR?
KB Valbury Sekuritas memberikan rekomendasi Buy terhadap ADMR dengan target harga Rp2.100 per saham dan memproyeksikan laba bersih tumbuh CAGR sekitar 24% pada periode 2025–2030.
Berapa target harga saham AADI dan ADRO?
Dalam bahan yang diterima, BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi Buy untuk AADI dengan target Rp12.400 per saham dan Buy untuk ADRO dengan target Rp2.500 per saham.
Apa risiko utama saham Grup Alamtri?
Risiko utama meliputi penurunan harga batu bara dan aluminium, kenaikan biaya bahan bakar, perubahan RKAB, pelemahan permintaan ekspor, serta risiko eksekusi dan ramp-up smelter aluminium KAI. Batu bara masih menjadi penggerak utama kinerja grup dalam jangka dekat.
Sumber: Data kinerja semester I/2026 ADRO, AADI dan ADMR, keterangan Corporate Communication Department Head ADRO Karina Novianti, serta riset dan pandangan KB Valbury Sekuritas dan BRI Danareksa Sekuritas sebagaimana terdapat dalam bahan yang diterima Receh.in.

Perhitungan Receh.in: Margin laba bersih sederhana ADRO sekitar 31,0% pada 1H26 dibandingkan sekitar 20,4% pada 1H25. Margin laba bersih AADI sekitar 18,6% dan ADMR sekitar 29,8%. Penjualan domestik batu bara AADI naik sekitar 16,5% dari US$343,75 juta menjadi US$400,43 juta. Pendapatan segmen pertambangan dan jasa pengolahan ADRO secara bersama-sama setara sekitar 97,8% dari pendapatan konsolidasi berdasarkan angka dalam bahan.

Catatan: Target harga, proyeksi harga aluminium, kontribusi topline smelter US$900 juta, CAGR laba ADMR 24%, serta estimasi porsi aluminium hingga 2030 merupakan proyeksi analis dan bukan angka yang sudah terealisasi. Bahan menyebut pendapatan segmen ADRO dengan istilah “pendapatan di luar segmen” sebesar US$580,39 juta; artikel menggunakan angka tersebut sebagai nilai segmen pertambangan sebagaimana konteks sumber, tanpa mengubah angka.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham ADRO, AADI maupun ADMR. Target harga merupakan pandangan masing-masing sekuritas dan dapat berubah mengikuti harga komoditas, produksi, biaya, RKAB, pembangunan smelter, kurs serta kondisi pasar.