Receh.in — Prospek jangka panjang sektor rumah sakit Indonesia dinilai masih menarik, tetapi sumber pertumbuhannya mulai bergeser. Di tengah pertumbuhan pendapatan Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN yang melambat, pasien privat justru menjadi mesin pertumbuhan utama bagi emiten rumah sakit.
Dalam riset yang disusun Nicholas Bryan dan Andrianto Saputra, IPS menginisiasi cakupan sektor kesehatan dengan rekomendasi Overweight. PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) menjadi top pick dengan rekomendasi Buy dan target harga Rp2.850.
Alasan utamanya bukan sekadar ekspansi jumlah pasien. IPS melihat peningkatan revenue intensity atau pendapatan yang dapat dihasilkan dari setiap kasus/pasien, eksposur JKN yang relatif rendah, serta valuasi yang dinilai mulai mencapai titik bawah sebagai faktor utama yang mendukung MIKA.
- IPS memproyeksikan pendapatan emiten rumah sakit tumbuh dengan CAGR 10,1% pada FY26–FY28F, ditopang kenaikan belanja kesehatan dan penyakit tidak menular.
- Pendapatan non-JKN tumbuh 12,1% YoY pada 1H26, jauh lebih cepat dibandingkan pendapatan JKN yang hanya naik 1,1%.
- MIKA menjadi top pick dengan target harga Rp2.850 karena kontribusi pendapatan privat sudah sekitar 90%, revenue intensity tinggi, dan eksposur terhadap JKN terbatas.
Belanja Kesehatan Indonesia Masih Rendah, Ruang Pertumbuhan Besar
IPS melihat sektor kesehatan Indonesia masih berada dalam kondisi underpenetrated. Total belanja kesehatan baru sekitar 2,6% terhadap produk domestik bruto, lebih rendah dibandingkan rata-rata negara pembanding sekitar 4%.
Meski demikian, pengeluaran kesehatan per kapita Indonesia tumbuh dengan CAGR 3,8%, lebih cepat dibandingkan Malaysia dan Thailand menurut riset tersebut.
Beberapa faktor dinilai menopang pertumbuhan struktural jangka panjang. Pertama, kenaikan pendapatan masyarakat meningkatkan kemampuan membayar layanan kesehatan. Kedua, anggaran pemerintah untuk kesehatan tumbuh dengan CAGR 12,1% sejak FY15.
Ketiga, prevalensi non-communicable diseases atau penyakit tidak menular diperkirakan meningkat seiring bertambahnya populasi usia lanjut. Penyakit semacam ini umumnya membutuhkan diagnosis, tindakan, dan perawatan yang lebih kompleks sehingga dapat meningkatkan kebutuhan layanan rumah sakit.
Dengan kombinasi tersebut, IPS memperkirakan pendapatan rumah sakit tercatat di bursa dapat tumbuh rata-rata 10,1% per tahun pada FY26–FY28F.
Pertumbuhan JKN Hanya 1,1%, Segmen Privat Melaju 12,1%
Meski prospek jangka panjang masih kuat, pertumbuhan jangka pendek menghadapi tantangan dari JKN.
IPS mencatat pendapatan JKN agregat rumah sakit yang dianalisis hanya tumbuh 1,1% secara tahunan pada semester I/2026. Sebaliknya, pendapatan non-JKN tumbuh 12,1%.
| Indikator | Pertumbuhan | Implikasi |
|---|---|---|
| Pendapatan non-JKN 1H26 | +12,1% YoY | Menjadi motor pertumbuhan utama |
| Pendapatan JKN 1H26 | +1,1% YoY | Tertahan pengetatan referral |
| Pendapatan privat FY25 | +9,4% YoY | Lebih cepat dari JKN |
| Pendapatan JKN FY25 | +3,3% YoY | Pertumbuhan lebih lambat |
| Revenue intensity agregat FY25 | +4,1% | Mendukung pertumbuhan segmen privat |
Selisih pertumbuhan tersebut cukup besar. Pada semester I/2026, pertumbuhan pendapatan non-JKN lebih tinggi sekitar 11 poin persentase dibandingkan JKN.
IPS mengaitkan lemahnya pertumbuhan JKN dengan pengetatan sistem rujukan sejak kuartal III/2024. Sejumlah reformasi yang sebelumnya diharapkan menjadi katalis—seperti Kelas Rawat Inap Standar atau KRIS, Coordination of Benefits (CoB), serta Indonesian Diagnosis Related Groups atau iDRG—juga dinilai belum akan memberikan dampak material sebelum FY27F.
Kondisi tersebut membuat pendapatan privat menjadi penopang pertumbuhan jangka pendek yang lebih penting.
MIKA Punya Porsi Privat 90%, HEAL Masih Mengejar
Perbedaan komposisi pendapatan menjadi salah satu faktor pembeda utama di antara emiten rumah sakit.
MIKA sudah memperoleh sekitar 90% pendapatannya dari segmen non-JKN, sementara SILO sekitar 84%. HEAL masih memiliki porsi JKN yang lebih besar dan berencana meningkatkan kontribusi non-JKN menjadi 60% dalam beberapa tahun ke depan.
| Emiten | Porsi Non-JKN | Revenue Intensity CAGR FY26–FY28F | Posisi Strategis |
|---|---|---|---|
| MIKA | ~90% | 7% | Eksposur JKN paling terbatas, top pick IPS |
| SILO | ~84% | 5% | Basis pasien privat sudah tinggi |
| HEAL | Target 60% | 2% | Masih dalam proses meningkatkan kontribusi non-JKN |
MIKA juga memiliki proyeksi pertumbuhan revenue intensity tertinggi di antara ketiga emiten tersebut, yakni CAGR 7% pada FY26–FY28F. SILO diproyeksikan 5%, sedangkan HEAL sekitar 2%.
| Statistik Kunci MIKA |
Revenue intensity pada konteks riset ini mencerminkan kemampuan rumah sakit menghasilkan pendapatan lebih besar melalui kasus yang lebih kompleks, teknologi medis, peralatan, dokter spesialis, maupun bauran layanan yang bernilai lebih tinggi.
Investasi di bidang robotik, peralatan medis, dan dokter spesialis dipandang sebagai faktor penting untuk meningkatkan kemampuan rumah sakit menangkap kasus-kasus dengan intensitas pendapatan lebih tinggi.
Dari sisi komposisi, MIKA memiliki porsi pendapatan privat sekitar 6 poin persentase lebih tinggi dibandingkan SILO. Dibandingkan target HEAL sebesar 60%, porsi MIKA saat ini lebih tinggi sekitar 30 poin persentase.
KRIS Berubah, Ekspektasi Tambahan Pendapatan JKN Menurun
Riset IPS sebelumnya menghitung penerapan KRIS dengan skema satu kelas berpotensi meningkatkan pendapatan JKN agregat rumah sakit tercatat sekitar 8,8%.
Namun pemerintah kemudian mengumumkan rencana menggunakan sistem tiga kelas untuk KRIS, bukan struktur satu kelas seperti yang sebelumnya diasumsikan.
Perubahan desain tersebut membuat IPS menilai potensi tambahan pendapatan dari KRIS menjadi kurang kuat dibandingkan asumsi awal. Karena itu, strategi rumah sakit untuk meningkatkan kontribusi pasien privat dipandang semakin relevan.
| Faktor | Kondisi | Dampak terhadap Rumah Sakit |
|---|---|---|
| Referral JKN | Diperketat sejak 3Q24 | Menahan pertumbuhan volume JKN |
| KRIS | Berubah ke sistem tiga kelas | Potensi katalis JKN lebih rendah dari asumsi awal |
| CoB | Diperkirakan belum material sebelum FY27F | Katalis tertunda |
| iDRG | Diperkirakan belum material sebelum FY27F | Katalis tertunda |
| Pasien privat | Tumbuh lebih cepat | Menjadi fokus pertumbuhan jangka pendek |
Dengan demikian, semakin kecil ketergantungan emiten pada JKN, semakin kecil pula risiko terhadap perubahan referral atau tertundanya reformasi sistem pembayaran pemerintah—setidaknya dalam kerangka tesis IPS.
MIKA Jadi Top Pick, tetapi Risiko Tetap Ada
IPS memberikan rekomendasi Buy untuk MIKA dengan target harga Rp2.850. Tiga alasan utama yang disebut adalah peningkatan revenue intensity, eksposur JKN yang terbatas, dan valuasi yang dinilai mulai mencapai titik bawah.
| Parameter | MIKA |
|---|---|
| Rekomendasi | Buy |
| Target harga | Rp2.850 |
| Porsi non-JKN | ~90% |
| Revenue intensity CAGR FY26–FY28F | 7% |
| Status | Top pick sektor kesehatan IPS |
Namun rekomendasi tersebut tetap memiliki risiko. IPS menyoroti tiga faktor utama: pengetatan referral JKN yang berkepanjangan, penundaan lebih lanjut implementasi KRIS dan CoB, serta peningkatan wisata medis keluar negeri atau outbound medical tourism.
Risiko terakhir relevan karena rumah sakit domestik tidak hanya bersaing satu sama lain. Sebagian pasien kelas menengah-atas juga memiliki alternatif berobat ke negara lain, sehingga kualitas layanan, teknologi medis, dokter spesialis, serta pengalaman pasien menjadi penting untuk mempertahankan belanja kesehatan di dalam negeri.
FAQ Saham Rumah Sakit MIKA, HEAL, dan SILO
Bagaimana rekomendasi IPS untuk sektor rumah sakit?
Saham rumah sakit apa yang menjadi top pick IPS?
Kenapa MIKA menjadi pilihan utama?
Bagaimana pertumbuhan pendapatan JKN dan non-JKN pada semester I/2026?
Berapa porsi pendapatan non-JKN MIKA dan SILO?
Apa itu revenue intensity rumah sakit?
Apa risiko utama saham rumah sakit menurut IPS?
Perhitungan Receh.in: Pertumbuhan non-JKN pada 1H26 lebih tinggi sekitar 11 poin persentase dibandingkan pertumbuhan JKN. Porsi non-JKN MIKA sekitar 6 poin persentase lebih tinggi dibandingkan SILO dan sekitar 30 poin persentase di atas target non-JKN HEAL. Proyeksi revenue intensity MIKA sebesar 7% CAGR juga lebih tinggi 2 poin persentase dari SILO dan 5 poin persentase dari HEAL.
Catatan: FY26–FY28F merupakan periode estimasi atau forecast dalam riset IPS. Proyeksi, target harga, serta asumsi reformasi JKN dapat berubah sesuai perkembangan kinerja perusahaan, kebijakan pemerintah, dan kondisi pasar.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Target harga Rp2.850 merupakan estimasi analis IPS. Investor perlu mempertimbangkan valuasi terkini, kinerja keuangan, risiko kebijakan JKN, ekspansi rumah sakit, serta kondisi pasar sebelum mengambil keputusan investasi.

0 Komentar