Receh.in — Sukuk Ritel seri SR025 mencatat pemesanan Rp29,7 triliun hingga pukul 12.00 WIB, Rabu, 16 September 2026. Angka tersebut bukan hanya melampaui target awal pemerintah Rp20 triliun, tetapi juga menempatkan SR025 sebagai salah satu penerbitan Sukuk Ritel dengan penyerapan terbesar sejak seri SR pertama diterbitkan pada 2009.
Secara matematis, nilai pemesanan SR025 sudah sekitar 48,5% di atas target awal. Salah satu magnet utamanya adalah kupon tetap 6,80%–6,90% per tahun, yang disebut sebagai tingkat imbal hasil tertinggi dalam lima tahun terakhir untuk seri Sukuk Ritel.
Namun tingginya penjualan SR025 tidak hanya berasal dari kupon. Ada efek reinvestasi yang cukup penting. Pada 10 September 2026, SR019T3 senilai Rp17,5 triliun jatuh tempo, dan sebagian dana tersebut diperkirakan kembali masuk ke SR025.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar SBN Ritel mulai ditopang oleh dua kelompok sekaligus: investor baru dan investor lama yang melakukan roll over dana jatuh tempo ke seri berikutnya. Bagi pemerintah, pola tersebut membuat basis pembeli SBN Ritel semakin dalam. Bagi investor, persaingan utamanya kini bukan sekadar saham versus obligasi, tetapi juga deposito versus instrumen pemerintah dengan kupon tetap yang relatif kompetitif.
- Pemesanan SR025 mencapai Rp29,7 triliun per 16 September 2026, sekitar 48,5% di atas target awal pemerintah Rp20 triliun.
- Kupon SR025 berada di kisaran 6,80%–6,90% per tahun, tertinggi untuk Sukuk Ritel dalam lima tahun terakhir.
- Jatuh tempo SR019T3 senilai Rp17,5 triliun ikut menyediakan likuiditas reinvestasi, sementara basis investor SBN juga terus bertambah.
SR025 Sudah Lampaui Target Hampir 50%
Data order book Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menunjukkan pemesanan SR025 telah mencapai Rp29,7 triliun pada Rabu siang.
Pemerintah sebelumnya hanya menargetkan penjualan sekitar Rp20 triliun, sejalan dengan kisaran target rata-rata penerbitan Sukuk Ritel sejak 2023.
Dengan capaian tersebut, SR025 disebut menempati posisi kedua penjualan tertinggi di antara seluruh seri Sukuk Ritel sejak 2009.
Jika dibandingkan dengan seluruh penerbitan SBN Ritel sejak 2025, SR025 berada di posisi ketiga dari sisi nominal penjualan.
| Produk SBN Ritel | Nilai Penjualan/Pemesanan | Posisi |
|---|---|---|
| ORI030 | Rp40,00 triliun | 1 |
| ORI027 | Rp37,35 triliun | 2 |
| SR025 | Rp29,70 triliun* | 3 |
*Data DJPPR per pukul 12.00 WIB, 16 September 2026.
Nilai SR025 setara sekitar 74,3% dari realisasi ORI030 dan sekitar 79,5% dari ORI027.
Kupon 6,80%–6,90% Jadi Daya Tarik Utama
Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Deni Ridwan menilai tingginya minat investor tidak dapat dilepaskan dari besarnya imbal hasil yang ditawarkan.
SR025 memberikan kupon tetap sekitar 6,80% dan 6,90% per tahun, dengan spread terhadap benchmark sekitar 105–115 basis poin.
Besaran tersebut merupakan yang tertinggi untuk Sukuk Ritel dalam lima tahun terakhir. Secara historis, kupon Sukuk Ritel yang lebih tinggi pernah diberikan SR011 sebesar 8,05%.
| Faktor | Daya Tarik SR025 |
|---|---|
| Kupon | 6,80%–6,90% per tahun |
| Jenis kupon | Fixed rate |
| Spread | ~105–115 bps |
| Minimum pembelian | Rp1 juta |
| Karakter produk | Sukuk negara untuk investor ritel |
Kupon tetap menjadi penting ketika investor ingin mengunci tingkat imbal hasil selama tenor investasi.
Head of PR & Corporate Communication Bibit William menyebut investor di platformnya lebih banyak memilih tenor tiga tahun. Alasannya, tenor lebih pendek dianggap memberikan fleksibilitas lebih tinggi, sementara selisih imbal hasil dengan tenor yang lebih panjang tidak terlalu lebar.
Dalam kondisi seperti itu, investor tidak hanya membandingkan besarnya kupon, tetapi juga mempertimbangkan berapa lama modal harus ditempatkan untuk mendapatkan tambahan imbal hasil.
Jatuh Tempo SR019 Rp17,5 Triliun Ikut Menambah Likuiditas
Salah satu faktor penting di balik penjualan besar SR025 adalah efek reinvestment.
Pada 10 September 2026, Sukuk Ritel SR019T3 jatuh tempo dengan nilai sekitar Rp17,5 triliun.
DJPPR memperkirakan sebagian dana yang diterima investor SR019 kembali ditempatkan ke SR025.
COO Bareksa Ni Putu Kurniasari menyebut secara historis sekitar seperempat dari dana SBN Ritel yang jatuh tempo kembali diinvestasikan pada produk baru.
Jika angka seperempat tersebut sekadar digunakan sebagai ilustrasi terhadap Rp17,5 triliun SR019T3, nilainya setara sekitar Rp4,38 triliun. Namun ini bukan angka resmi reinvestasi SR019 ke SR025, melainkan ilustrasi berdasarkan rasio umum yang disampaikan Bareksa.
Faktor reinvestasi penting karena menunjukkan bahwa kesuksesan penerbitan baru tidak sepenuhnya berasal dari uang baru.
Ketika seri lama jatuh tempo, pemerintah secara tidak langsung memiliki kumpulan investor yang sudah memahami mekanisme SBN dan berpotensi langsung mengalokasikan kembali uangnya.
Di sisi lain, basis investor juga bertambah. Sekitar 150.000 investor SBN baru tercatat bertambah sepanjang Desember 2025 hingga Juli 2026.
Kombinasi investor baru dan investor lama yang melakukan reinvestasi membuat permintaan terhadap SBN Ritel semakin besar.
Apakah SBN Ritel Masih Menarik Setelah SR025?
Kalangan pelaku industri masih menilai permintaan terhadap SBN Ritel di sisa 2026 akan relatif solid.
Alasannya, beberapa seri kembali jatuh tempo sehingga menciptakan likuiditas baru di tangan investor, sementara kupon yang masih tinggi membuat instrumen pemerintah tetap kompetitif dibandingkan deposito.
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto bahkan memperkirakan imbal hasil produk berikutnya dapat mendekati 7% per tahun apabila lingkungan suku bunga tinggi bertahan.
Namun angka tersebut merupakan perkiraan analis, bukan kupon yang sudah ditetapkan pemerintah.
Bareksa juga melihat munculnya pembeli dari kelompok high net worth yang relatif muda pada dua penerbitan terakhir. Menurut Putu, sebagian investor tersebut tampak memilih aset berisiko lebih rendah sambil menunggu arah pasar saham maupun aset berisiko lainnya menjadi lebih jelas.
Ada beberapa alasan SBN Ritel tetap memiliki ceruk pasar sendiri:
- nilai pembelian minimum relatif rendah, mulai Rp1 juta;
- arus kupon dapat lebih mudah diproyeksikan;
- risiko kredit berkaitan dengan pemerintah Republik Indonesia;
- pajak kupon SBN memiliki perlakuan berbeda dibandingkan bunga deposito;
- dan ada investor yang memang memiliki preferensi terhadap instrumen syariah.
Meski demikian, rendah risiko tidak berarti tanpa risiko. Untuk seri yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder, harga tetap dapat bergerak ketika suku bunga dan yield obligasi berubah. Investor yang menjual sebelum jatuh tempo dapat memperoleh capital gain ataupun capital loss.
FAQ Sukuk Ritel SR025
Berapa penjualan SR025?
Berapa kupon SR025?
Berapa target awal penjualan SR025?
Kenapa SR025 laris?
Apakah dana SR019 langsung masuk seluruhnya ke SR025?
Apakah SBN Ritel bebas risiko?
Perhitungan Receh.in: Order book Rp29,7 triliun dibanding target Rp20 triliun berarti sekitar 48,5% lebih tinggi. Nilai SR025 setara sekitar 74,3% dari ORI030 Rp40 triliun dan 79,5% dari ORI027 Rp37,35 triliun. Jika rasio reinvestasi umum sekitar 25% yang disebut Bareksa diaplikasikan secara ilustratif pada SR019T3 Rp17,5 triliun, nilainya sekitar Rp4,38 triliun; angka ini bukan realisasi resmi reinvestasi SR019 ke SR025.
Catatan: Data DJPPR per pukul 12.00 WIB mencatat order book Rp29,7 triliun, sementara Bareksa menyebut realisasi penjualan sekitar Rp29,8 triliun. Perbedaan Rp100 miliar dapat mencerminkan waktu pencatatan atau sumber data yang berbeda. Artikel menggunakan angka DJPPR sebagai acuan utama karena merupakan data pemerintah pada waktu yang disebutkan.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli SR025 atau SBN Ritel tertentu. Investor perlu mempertimbangkan tenor, kupon, pajak, kebutuhan likuiditas, risiko harga pasar sekunder, dan alternatif investasi sebelum mengambil keputusan.

0 Komentar