Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
PT Mitra Energi Persada Tbk. (KOPI) menjadi saham dengan kenaikan tertinggi pada perdagangan Bursa Efek Indonesia, Rabu, 28 Oktober 2026. Saham KOPI melonjak 26,17% dan ditutup di Rp188.

PT Koka Indonesia Tbk. (KOKA) menyusul dengan kenaikan 22,12% menjadi Rp138, sedangkan PT Panca Budi Idaman Tbk. (PBID) masuk tiga besar setelah menguat 13,33% berdasarkan snapshot data penutupan yang digunakan dalam artikel ini.

Kenaikan saham-saham tersebut terjadi ketika IHSG hanya bertambah 0,31% ke 5.282,31. Bahkan breadth pasar masih negatif: 406 saham turun dibandingkan hanya 272 saham yang naik.

Dengan kata lain, saham top gainers hari ini bergerak jauh melampaui pasar secara keseluruhan.

Rank Saham Emiten Kenaikan
1 KOPI Mitra Energi Persada +26,17%
2 KOKA Koka Indonesia +22,12%
3 PBID Panca Budi Idaman +13,33%
4 MKNT Mitra Komunikasi Nusantara +12,50%
5 PTSP Pioneerindo Gourmet International +12,16%
6 VICI Victoria Care Indonesia +11,88%
7 HEAL Medikaloka Hermina +11,68%
8 UNIQ Ulima Nitra +11,63%
9 LTLS Lautan Luas +11,11%
10 RLCO Abadi Lestari Indonesia +10,27%

KOPI dan KOKA Melesat Lebih dari 20%

KOPI menjadi saham paling agresif hari ini. Dari penutupan sebelumnya sekitar Rp149, saham perusahaan energi tersebut melompat ke Rp188 atau naik 26,17%.

Mitra Energi Persada bergerak dalam bisnis distribusi dan perdagangan gas, terutama melalui kegiatan usahanya di Sumatra Selatan.

Nilai transaksi KOPI hari ini berada di kisaran Rp2,8 miliar. Angka itu menunjukkan kenaikan harga cukup besar, tetapi nilai transaksinya masih jauh di bawah saham-saham likuid berkapitalisasi besar.

Receh.in belum menemukan keterbukaan baru pada 28 Oktober yang secara langsung menjelaskan lonjakan harga tersebut. Karena itu, kenaikan KOPI tidak tepat langsung dikaitkan dengan satu aksi korporasi atau perubahan fundamental tertentu tanpa informasi tambahan.

Kondisi serupa terlihat pada KOKA.

Saham perusahaan konstruksi tersebut naik 22,12% menjadi Rp138. Aktivitas perdagangannya bahkan lebih besar, dengan nilai transaksi yang terpantau sekitar Rp18,5 miliar.

KOKA sendiri sudah menunjukkan volatilitas cukup tinggi dalam beberapa sesi terakhir. Sehari sebelumnya saham ini juga termasuk saham yang menguat kuat.

Bagi investor, kenaikan dua digit tanpa katalis fundamental baru yang jelas membuat perhatian terhadap volume, frekuensi transaksi dan keterbukaan informasi menjadi lebih penting daripada sekadar persentase kenaikannya.

PBID Punya Katalis yang Lebih Mudah Dibaca: Laba Naik 131%

PBID mempunyai cerita yang berbeda.

Pada hari yang sama dengan kenaikan sahamnya, Panca Budi Idaman merilis laporan keuangan sembilan bulan 2026.

Produsen kantong plastik tersebut membukukan laba bersih sekitar Rp695,78 miliar, melonjak 131,71% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Pendapatan juga naik 27,43% menjadi sekitar Rp4,96 triliun.

Kinerja PBID 9M 2026 Realisasi
Pendapatan Rp4,96 triliun
Pertumbuhan pendapatan +27,43% YoY
Laba bersih Rp695,78 miliar
Pertumbuhan laba +131,71% YoY

Rilis laba tersebut memberikan fundamental news yang konkret pada hari perdagangan.

Tetapi tetap perlu dibedakan antara dua pernyataan: laporan keuangan PBID memang keluar pada hari yang sama dan menunjukkan pertumbuhan laba besar, sementara memastikan bahwa kenaikan harga saham terjadi semata-mata karena laporan tersebut membutuhkan data perilaku transaksi yang lebih lengkap.

MKNT Masih Bergerak Setelah Private Placement Jumbo

Saham MKNT naik 12,50% dan ditutup sekitar Rp9.

Pergerakan MKNT perlu dibaca bersama perubahan struktur modal yang sangat besar pada awal Oktober.

Perseroan baru saja menerbitkan sekitar 1,024 triliun saham seri B baru melalui Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau PMTHMETD dengan harga pelaksanaan Rp1 per saham.

Jumlah saham beredar setelah transaksi melonjak dari sekitar 5,5 miliar saham menjadi lebih dari 1,029 triliun saham.

PT Headwell Bintang Energi Hijau kemudian menjadi pemegang saham pengendali baru.

Artinya, harga nominal MKNT yang berada di bawah Rp10 harus dibaca bersama jumlah saham beredarnya yang luar biasa besar pasca-private placement. Harga per lembar yang rendah tidak otomatis berarti valuasinya murah.

PTSP Lanjutkan Pergerakan Volatil

Pioneerindo Gourmet International (PTSP), pengelola jaringan restoran California Fried Chicken atau CFC, berada di peringkat kelima dengan kenaikan sekitar 12,16%.

Yang perlu diperhatikan, PTSP bukan baru bergerak hari ini.

Dalam beberapa sesi sebelumnya harga sahamnya telah mengalami pergerakan dua digit. Pada 22 dan 23 Oktober, misalnya, saham PTSP sempat mengalami kenaikan sekitar 25% per sesi berdasarkan data historis perdagangan.

Artinya, kenaikan hari ini merupakan bagian dari periode volatilitas yang sudah berlangsung beberapa hari dan bukan lonjakan satu hari yang berdiri sendiri.

Belum terlihat keterbukaan korporasi baru pada 28 Oktober yang cukup kuat untuk dijadikan penjelasan tunggal pergerakan tersebut.

VICI dan HEAL Punya Cerita Berbeda

Dua saham lain yang menarik adalah VICI dan HEAL.

VICI naik 11,88%. Pergerakannya terjadi sehari sebelum perseroan menggelar RUPSLB pada 29 Oktober 2026.

Salah satu agenda penting rapat tersebut adalah perubahan susunan pengurus. Pemegang saham pengendali telah mengusulkan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo sebagai anggota Dewan Komisaris.

Dalam beberapa pekan terakhir, Victoria Care juga aktif menyampaikan strategi ekspansi ke kategori healthcare dan wellness.

Namun sekali lagi, kedekatan waktu antara agenda RUPSLB dan kenaikan saham tidak otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat.

HEAL bahkan memberi cerita yang lebih kontras.

Saham pengelola jaringan Rumah Sakit Hermina naik 11,68% menjadi sekitar Rp545 pada hari yang sama ketika laporan keuangan sembilan bulan menunjukkan laba bersih justru turun 14,8% menjadi Rp303,31 miliar.

Pendapatan HEAL memang masih naik 4,4% menjadi Rp5,52 triliun, tetapi laba usaha turun menjadi Rp689,55 miliar karena beban tumbuh lebih cepat.

HEAL 9M 2026 Perubahan
Pendapatan +4,4%
Laba usaha Turun ±8,2%
Laba pemilik induk -14,8%
Saham 28 Oktober +11,68%

Kontras tersebut menunjukkan harga saham harian tidak selalu bergerak searah dengan perubahan laba pada laporan terbaru.

Investor dapat bereaksi terhadap ekspektasi sebelumnya, valuasi yang sudah turun, positioning, aliran dana, prospek ke depan, ataupun faktor teknikal lainnya.

Top Gainer Bukan Berarti Saham Terbaik

Daftar top gainers hanya mengurutkan saham berdasarkan kenaikan harga dalam satu sesi perdagangan.

Ia tidak mengukur kualitas bisnis, valuasi, likuiditas, pertumbuhan laba maupun risiko investasi.

Kenaikan 20% pada saham dengan transaksi beberapa miliar rupiah juga mempunyai karakter berbeda dari kenaikan 5% pada saham dengan transaksi ratusan miliar atau triliunan rupiah.

Perdagangan hari ini memberikan contoh yang cukup jelas.

KOPI memimpin kenaikan dengan +26,17%, tetapi nilai transaksinya hanya sekitar Rp2,8 miliar. KOKA memiliki transaksi sekitar Rp18,5 miliar. PBID sekitar Rp9,9 miliar.

Sementara saham-saham yang paling banyak diperdagangkan di seluruh bursa justru BBCA, TLKM, BMRI, BBRI dan BUMI dengan nilai transaksi ratusan miliar hingga sekitar Rp3 triliun.

Jadi persentase kenaikan dan likuiditas perlu dibaca sebagai dua variabel berbeda.

Catatan Recehin
Top gainers hari ini memperlihatkan tiga tipe pergerakan. KOPI dan KOKA melonjak lebih dari 20% tanpa ada keterbukaan baru yang cukup jelas untuk dijadikan satu-satunya katalis; PBID naik bersamaan dengan rilis laba 9M yang melonjak 131%; sedangkan HEAL justru naik hampir 12% ketika laba 9M-nya turun 14,8%. Jadi jangan membaca daftar top gainers sebagai daftar saham dengan fundamental terbaik. Angka kenaikan hanya menjawab satu pertanyaan: saham mana yang harganya naik paling besar hari ini. Pertanyaan berikutnya—mengapa naik, seberapa likuid, dan apakah valuasinya masuk akal—justru jauh lebih penting.
Sumber: Bursa Efek Indonesia; IDXChannel; RTI Business; laporan keuangan dan keterbukaan informasi emiten; data perdagangan 28 Oktober 2026; serta perhitungan dan olahan Receh.in.

Catatan data top gainers: Daftar 10 saham dan persentase kenaikan menggunakan satu snapshot data penutupan yang dipublikasikan IDXChannel pada 28 Oktober 2026 agar basis perbandingan konsisten. Beberapa penyedia data pasar dapat menampilkan harga atau persentase sedikit berbeda akibat waktu snapshot, penyesuaian data, atau metodologi penyajian.

Catatan PBID: Laporan interim 9M 2026 yang dipublikasikan pada hari yang sama menunjukkan laba bersih Rp695,78 miliar atau naik 131,71% YoY dan pendapatan Rp4,96 triliun atau naik 27,43%.

Catatan MKNT: Jumlah saham MKNT melonjak setelah pelaksanaan PMTHMETD sekitar 1,024 triliun saham baru pada harga Rp1. Harga saham per lembar yang rendah tidak digunakan sebagai dasar untuk menyebut saham murah.

Catatan katalis: Artikel membedakan peristiwa yang terjadi bersamaan dengan pergerakan saham dan penyebab pergerakan. Tanpa data order flow atau informasi resmi, korelasi waktu tidak diperlakukan sebagai bukti kausalitas.

Disclaimer: Daftar top gainers bukan rekomendasi beli. Saham yang mengalami kenaikan ekstrem dapat memiliki volatilitas dan risiko penurunan yang tinggi pada sesi berikutnya.