Daftar IsiTampilkan

Receh.in — Ledakan kecerdasan buatan mulai mengubah peta investasi digital Indonesia menjadi persoalan energi. Pusat data AI membutuhkan listrik dalam jumlah besar, dan ketika kapasitas komputasi terus bertambah, pertanyaan pentingnya bukan lagi sekadar di mana jaringan internet tersedia, melainkan di mana listrik yang cukup, murah, dan dapat diandalkan bisa ditemukan.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. melihat perubahan itu terjadi sangat cepat. Dalam enam bulan terakhir, permintaan terhadap pusat data meningkat signifikan dan sebagian besar kapasitas yang tersedia disebut telah terisi.

Direktur Network Telkom Budi Satria Dharma Purba mengatakan masih terdapat permintaan besar yang mengantre. Salah satu daya tarik Indonesia, menurutnya, adalah harga listrik yang relatif murah dibandingkan beberapa pusat data regional.

Budi menyebut tarif listrik di Indonesia sekitar sepertiga tarif di Singapura. Pernyataan tersebut menggambarkan mengapa Indonesia mulai menarik perhatian industri yang harus menjalankan server dalam jumlah sangat besar selama 24 jam sehari, terutama untuk kebutuhan AI.

Tetapi keunggulan harga listrik saja tidak cukup. Tantangan berikutnya justru memastikan kapasitas energi tersebut tersedia di lokasi yang dibutuhkan pusat data.

Data Center Mulai Mengikuti Sumber Listrik

Selama ini pembangunan pusat data banyak terkonsentrasi di Jakarta, Cikarang, Batam, Surabaya, dan Semarang. Pilihan tersebut masuk akal karena wilayah-wilayah itu memiliki konsentrasi pengguna, jaringan telekomunikasi, aktivitas bisnis, dan konektivitas internasional yang relatif kuat.

Masalahnya, perkembangan AI membuat kebutuhan listrik pusat data meningkat cepat. Telkom kini mulai mempertimbangkan pendekatan berbeda: membangun pusat data lebih dekat ke lokasi dengan ketersediaan energi, alih-alih selalu membawa tambahan pasokan energi ke pusat data yang sudah terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Strategi tersebut membuka kemungkinan pembangunan kapasitas komputasi baru di wilayah dengan pasokan listrik lebih longgar, termasuk di luar Jawa.

Secara ekonomi, pendekatan ini mempunyai logika. Energi merupakan salah satu komponen biaya utama operasional pusat data. Lokasi yang menyediakan energi dalam volume besar dengan harga kompetitif dapat memberikan keuntungan biaya selama umur fasilitas yang dapat berlangsung puluhan tahun.

Namun listrik menciptakan persoalan baru: sebuah pusat data tidak banyak berguna jika memiliki energi tetapi tidak mempunyai jalur data yang memadai.

Karena itu, strategi mendekati sumber energi harus berjalan bersamaan dengan pembangunan jaringan serat optik, kabel bawah laut, jalur cadangan, dan konektivitas ke pusat konsumsi data. Untuk aplikasi AI yang memerlukan respons cepat, kualitas koneksi dan latensi tetap menjadi faktor penting.

Pemerintah Ingin Data Center Tidak Berhenti di Jawa dan Batam

Arah tersebut juga muncul dalam rancangan kebijakan pemerintah.

Kementerian Komunikasi dan Digital tengah mematangkan rancangan Peraturan Presiden mengenai pusat data dan kabel bawah laut. Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi Wayan Toni Supriyanto mengatakan rancangan tersebut telah melalui konsultasi publik dan pemerintah masih mengumpulkan masukan dari industri serta pemangku kepentingan.

Salah satu agenda yang dibawa adalah pemerataan pusat data ke wilayah timur Indonesia.

Pemerintah menilai pembangunan tidak harus terus terkonsentrasi di Batam dan Pulau Jawa. Sulawesi hingga Kupang disebut sebagai wilayah yang berpotensi dikembangkan dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing daerah.

Namun pusat data memiliki persyaratan lokasi yang jauh lebih kompleks dibandingkan sekadar tersedianya tanah.

Kebutuhan Kenapa Penting untuk Data Center AI
Listrik AI membutuhkan kapasitas komputasi besar dan konsumsi energi tinggi yang harus tersedia secara terus-menerus.
Konektivitas Fiber dan kabel bawah laut diperlukan untuk menghubungkan fasilitas dengan pengguna domestik maupun jaringan internasional.
Redundansi jaringan Pusat data membutuhkan jalur cadangan agar layanan tidak berhenti ketika satu jaringan mengalami gangguan.
Air dan pendinginan Server menghasilkan panas sehingga desain sistem pendinginan menjadi bagian penting dari kebutuhan fasilitas.
Lahan Harus sesuai untuk pembangunan fasilitas berskala besar sekaligus memungkinkan ekspansi.
Emisi energi Permintaan energi bersih menjadi semakin penting bagi perusahaan teknologi global yang mempunyai target emisi.

Komdigi juga ingin pusat data di luar Jawa tidak berubah menjadi fasilitas yang terisolasi. Pemerintah berencana memastikan konektivitas menuju pusat kegiatan nasional dan internasional sekaligus menyediakan jalur cadangan untuk meningkatkan ketahanan jaringan.

Dengan demikian, pemerataan data center sebenarnya membutuhkan pembangunan dua infrastruktur besar pada saat bersamaan: infrastruktur energi dan infrastruktur telekomunikasi.

Danantara Tidak Mau Indonesia Cuma Menyewakan Tanah

Ada pertanyaan ekonomi yang lebih besar di balik gelombang investasi pusat data: seberapa banyak nilai investasi tersebut akhirnya tinggal di Indonesia?

Chief Technology Officer Danantara Sigit Puji Santosa menilai model yang hanya mengandalkan penyewaan lahan menghasilkan nilai ekonomi yang relatif terbatas.

Menurut perhitungan yang disampaikan Sigit, investasi pusat data senilai US$3 miliar hingga US$4 miliar dapat hanya menghasilkan pendapatan sekitar US$100 juta–US$150 juta jika keterlibatan domestik sebagian besar berhenti pada penyediaan lahan.

Karena itu, Danantara ingin mengembangkan ekosistem yang lebih luas, termasuk semikonduktor dan sistem kendali berbasis AI.

Dalam skenario yang dikemukakannya, pengembangan ekosistem semacam itu berpotensi menghasilkan pendapatan antara US$1,5 miliar hingga US$7 miliar.

Angka tersebut merupakan estimasi potensi yang disampaikan Danantara, bukan proyeksi pendapatan yang sudah dikontrak atau dipastikan terealisasi. Tetapi perbandingannya menunjukkan strategi yang ingin dikejar: Indonesia tidak hanya menjadi lokasi tempat perusahaan teknologi asing menaruh rak server.

Semakin banyak bagian rantai nilai yang dapat dibangun di dalam negeri—mulai dari desain fasilitas, energi, jaringan, sistem pendinginan, perangkat keras, komponen semikonduktor, perangkat lunak hingga layanan AI—semakin besar pula nilai ekonomi yang dapat ditangkap.

Data Center AI pada Akhirnya Adalah Bisnis Listrik

Perkembangan ini membuat industri pusat data menjadi semakin dekat dengan industri energi.

Server AI membutuhkan listrik bukan hanya dalam jumlah besar, tetapi juga stabil. Gangguan beberapa detik saja dapat menjadi persoalan bagi fasilitas komputasi bernilai miliaran dolar. Artinya, lokasi dengan pembangkit berlimpah tetapi jaringan listrik yang tidak andal belum tentu otomatis menarik.

Di sisi lain, daerah dengan surplus listrik mempunyai peluang baru jika mampu mengubah kelebihan pasokan tersebut menjadi daya tarik investasi digital.

Di sinilah strategi membangun pusat data dekat sumber energi menjadi menarik. Daripada terus menambah beban listrik pada kawasan yang sudah padat, kapasitas komputasi dapat bergerak menuju daerah yang mempunyai pasokan energi lebih besar—selama jaringan telekomunikasinya ikut dibangun.

Model seperti ini juga bisa mengubah cara melihat ekonomi digital. Pusat data tidak lagi sekadar proyek teknologi. Ia menghubungkan industri listrik, telekomunikasi, properti, konstruksi, pendinginan, semikonduktor, hingga pasar modal.

Catatan Recehin
Boom data center AI membuat keunggulan Indonesia bergeser dari sekadar populasi besar dan pertumbuhan pengguna internet ke sesuatu yang jauh lebih mendasar: energi. Telkom melihat permintaan melonjak, pemerintah ingin fasilitas menyebar ke luar Jawa, sementara Danantara ingin Indonesia menangkap nilai ekonomi lebih besar daripada sekadar menyewakan tanah. Tantangannya adalah menyatukan tiga hal sekaligus—listrik murah dan andal, konektivitas berkapasitas besar, serta industri teknologi yang cukup dalam. Jika satu saja hilang, Indonesia bisa menjadi lokasi data center tanpa benar-benar menjadi pusat industri AI.
Sumber: Pernyataan Direktur Network PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Budi Satria Dharma Purba dalam Bali Tech Week 2026; Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Wayan Toni Supriyanto; serta CTO Danantara Sigit Puji Santosa dalam konferensi pers Danantara Technology and Innovation Forum 2026.

Catatan permintaan: Pernyataan bahwa sebagian besar pusat data telah terisi dan terdapat permintaan besar yang mengantre merupakan keterangan Telkom mengenai kondisi yang mereka lihat dalam enam bulan terakhir.

Catatan tarif listrik: Perbandingan tarif listrik Indonesia sekitar sepertiga Singapura merupakan pernyataan Direktur Network Telkom dalam sumber, bukan perhitungan independen Receh.in.

Catatan potensi ekonomi: Angka pendapatan US$1,5 miliar hingga US$7 miliar merupakan potensi yang dikemukakan CTO Danantara apabila Indonesia mengembangkan ekosistem industri yang lebih luas. Angka tersebut bukan pendapatan yang telah terealisasi atau dijamin akan tercapai.