Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Minyak jelantah dan serbuk gergaji biasanya berakhir di dua jalur limbah yang sama sekali berbeda. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) justru mencoba mempertemukan keduanya menjadi satu material baru: bioplastik yang lentur, translusen, dan hidrofobik.

Konsep tersebut muncul dalam permohonan paten BRIN bernomor P00202604730 yang diumumkan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual pada 29 September 2026.

Invensinya tidak sekadar mencampurkan minyak bekas dan serbuk kayu. Minyak jelantah terlebih dahulu diubah menjadi sumber asam lemak melalui proses kimia pada suhu ruang. Asam lemak itu kemudian direaksikan dengan serbuk gergaji berlignoselulosa hingga terbentuk material bioplastik.

Bagian yang cukup menarik terdapat pada tahap awalnya. BRIN menyebut proses pemisahan asam lemak dapat menghasilkan rendemen hingga 92% tanpa membutuhkan tambahan energi panas maupun sentrifugasi intensif. Setelah itu, sintesis bioplastik juga berlangsung selama lima jam pada suhu ruang.

Jika proses tersebut nantinya dapat ditingkatkan ke skala produksi dengan karakter material yang tetap konsisten, teknologi ini menawarkan cerita ekonomi sirkular yang cukup konkret: satu limbah dapur dan satu limbah industri kayu diubah menjadi bahan baku material baru.

Ringkasan
  • BRIN mengajukan paten bioplastik dari minyak jelantah dan serbuk gergaji kayu.
  • Asam lemak dari jelantah disebut dapat diperoleh dengan rendemen hingga 92% melalui proses suhu ruang tanpa tambahan pemanasan.
  • Bioplastik yang dihasilkan diklaim memiliki sifat lentur, translusen, dan hidrofobik, dengan Weight Percent Gain 170%–280%.
92% Rendemen asam lemak dari jelantah
5 Jam Waktu esterifikasi bioplastik
170–280% Weight Percent Gain
29 Sep 2026 Tanggal pengumuman paten

Dua Limbah Masuk, Material Baru Keluar

Yang membuat invensi ini berbeda adalah penggunaan dua aliran limbah sekaligus.

Pertama, minyak jelantah berperan sebagai sumber asam lemak. Kedua, serbuk gergaji kayu menyediakan material lignoselulosa yang kemudian dimodifikasi menjadi matriks bioplastik.

Dokumen paten menyebut minyak jelantah menjalani proses saponifikasi. Produk sabun yang terbentuk kemudian melalui teknik asidifikasi dingin pada suhu ruang.

Pada tahap ini digunakan campuran tiga komponen—sabun, HCl 6N, dan n-hexane—dengan rasio 1:1:1.

Kombinasi tersebut memicu pemisahan fase secara spontan dan menghasilkan asam lemak dengan rendemen hingga 92%.

Bahan Peran dalam Proses
Minyak jelantah Sumber asam lemak untuk reaksi esterifikasi
Serbuk gergaji kayu Sumber lignoselulosa
HCl 6N Bagian dari sistem asidifikasi
n-Hexane Bagian dari campuran pemisahan fase
TFAA Agen pendorong reaksi esterifikasi
Keunikannya ada pada “perkawinan” dua limbah. Jelantah tidak sekadar dipakai ulang sebagai minyak, dan serbuk gergaji tidak hanya menjadi filler. Keduanya diproses secara kimia menjadi bagian dari material baru.

Kenapa Proses Suhu Ruang Menarik?

Dalam produksi material, kebutuhan panas dapat menjadi salah satu komponen konsumsi energi.

BRIN menonjolkan bahwa tahap pengambilan asam lemak dari jelantah berlangsung tanpa tambahan energi panas dan tidak membutuhkan proses sentrifugasi intensif.

Asidifikasi dilakukan pada suhu ruang. Tahap sintesis berikutnya juga berlangsung dalam kondisi suhu ruang selama sekitar lima jam.

Serbuk kayu yang digunakan berukuran sekitar 40–100 mesh. Material tersebut direaksikan dengan asam lemak hasil pengolahan jelantah menggunakan bantuan trifluoroacetic anhydride atau TFAA.

Hasil reaksinya menunjukkan laju esterifikasi hingga 10,5 mmol/g.

Parameter Proses Nilai
Ukuran serbuk kayu 40–100 mesh
Rendemen asam lemak Hingga 92%
Waktu esterifikasi 5 jam
Kondisi utama Suhu ruang
Laju esterifikasi Hingga 10,5 mmol/g

Meski demikian, “tanpa pemanasan” tidak berarti seluruh proses otomatis rendah energi secara keseluruhan. Dokumen pengumuman belum memuat kebutuhan energi lengkap, konsumsi pelarut, pemulihan n-hexane, kebutuhan TFAA, maupun proses pengeringan dan pembentukan produk pada skala industri.

Bioplastiknya Lentur, Translusen, dan Hidrofobik

Hasil akhir yang disebut dalam abstrak bukan berupa plastik kaku.

Material bioplastik yang dihasilkan dikarakterisasi sebagai lentur, translusen, dan hidrofobik.

Sifat hidrofobik menarik karena lignoselulosa pada dasarnya mempunyai gugus yang mudah berinteraksi dengan air. Modifikasi kimia melalui esterifikasi diarahkan untuk mengubah karakter permukaan material tersebut.

Dokumen juga mencantumkan nilai Weight Percent Gain atau WPG sekitar 170% hingga 280%.

WPG menunjukkan pertambahan berat material setelah modifikasi kimia. Angka yang tinggi menunjukkan masuknya komponen baru dalam jumlah signifikan ke material lignoselulosa, meskipun angka itu tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai kekuatan mekanik atau kualitas plastik.

Karakter Produk Keterangan
Fleksibilitas Lentur
Penampilan Translusen
Interaksi dengan air Hidrofobik
Weight Percent Gain 170%–280%

Untuk menilai apakah material tersebut benar-benar dapat menggantikan plastik tertentu, investor industri atau calon pengguna masih membutuhkan data lain seperti kekuatan tarik, elongasi, ketahanan panas, stabilitas penyimpanan, biodegradabilitas, serta umur pakai.

Dari Ekonomi Sirkular ke Pertanyaan Skala Industri

Dari sudut ekonomi sirkular, invensi ini memiliki cerita yang relatif mudah dipahami.

Minyak jelantah adalah residu konsumsi pangan. Serbuk gergaji adalah produk samping industri pengolahan kayu. Keduanya memiliki nilai ekonomi yang relatif rendah ketika menjadi limbah, tetapi memiliki komponen kimia yang masih dapat dimanfaatkan.

BRIN mencoba memanfaatkan asam lemak dari jelantah sebagai pengganti asam lemak komersial yang lebih mahal, sekaligus memakai serbuk kayu sebagai sumber lignoselulosa.

Secara konsep, ada tiga nilai yang ingin dicapai sekaligus: menekan kebutuhan bahan baku baru, memanfaatkan limbah, dan menurunkan kebutuhan energi pada sebagian tahap proses.

Namun perjalanan dari paten ke produk komersial masih panjang.

Beberapa pertanyaan yang belum dijawab dalam abstrak antara lain:

  • berapa biaya produksi per kilogram bioplastik;
  • berapa banyak TFAA dan pelarut yang dibutuhkan;
  • apakah n-hexane dapat dipulihkan dan digunakan kembali;
  • bagaimana sifat mekanik dibanding plastik konvensional;
  • berapa lama material terurai di lingkungan;
  • apakah produksi dapat berlangsung kontinu;
  • serta aplikasi apa yang paling cocok untuk material tersebut.

Justru pertanyaan terakhir penting. Bioplastik bukan satu kategori produk yang seragam. Persyaratan untuk film kemasan tipis, wadah kaku, coating, komposit, atau material dekoratif berbeda jauh.

Intinya: BRIN mencoba membuat satu material dari dua jenis sampah yang selama ini tidak berhubungan: minyak jelantah dan serbuk gergaji. Daya tarik teknologinya bukan hanya label “bioplastik”, tetapi proses pengambilan asam lemak berendemen hingga 92% pada suhu ruang dan pemanfaatannya untuk memodifikasi lignoselulosa. Pertanyaan berikutnya adalah apakah performa material, penggunaan bahan kimia, dan biaya produksinya cukup baik ketika dibawa dari laboratorium ke pabrik.

FAQ Bioplastik Jelantah dan Serbuk Gergaji BRIN

Apa bahan baku bioplastik BRIN?
Bahan utamanya adalah minyak jelantah sebagai sumber asam lemak dan serbuk gergaji kayu sebagai sumber lignoselulosa.
Berapa rendemen asam lemak dari minyak jelantah?
Abstrak paten menyebut rendemen asam lemak dapat mencapai hingga 92%.
Apakah prosesnya membutuhkan pemanasan?
Tahap asidifikasi dan reaksi esterifikasi utama disebut berlangsung pada suhu ruang. Namun dokumen tidak memberikan neraca energi lengkap untuk seluruh proses.
Apa sifat bioplastik yang dihasilkan?
Material yang dihasilkan disebut memiliki sifat lentur, translusen, dan hidrofobik.
Berapa Weight Percent Gain material tersebut?
Dokumen menyebut Weight Percent Gain berada pada kisaran 170% hingga 280%.
Apakah bioplastik ini sudah diproduksi massal?
Dokumen yang tersedia merupakan pengumuman permohonan paten dan tidak menjelaskan produksi komersial atau kapasitas industrinya.
Sumber: Berita Resmi Paten Seri-A No. BRP 976/X/2026, Direktorat Paten, DTLST, dan RD, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual.

Catatan: Permohonan paten bernomor P00202604730 diterima pada 18 Mei 2026 dan diumumkan pada 29 September 2026. Abstrak menyebut pemanfaatan minyak jelantah dan serbuk gergaji, rendemen asam lemak hingga 92%, esterifikasi selama lima jam pada suhu ruang, laju esterifikasi hingga 10,5 mmol/g, serta Weight Percent Gain 170%–280%.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif. Pengumuman permohonan paten tidak sama dengan pemberian hak paten atau kesiapan komersialisasi. Kelayakan industri perlu dinilai dari data sifat mekanik, biodegradabilitas, penggunaan bahan kimia, biaya, dan skala produksi yang belum dicantumkan dalam abstrak.