Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Musim dividen 2026 menghadirkan distribusi dana jumbo kepada investor Bursa Efek Indonesia. Tiga bank besar menjadi pemimpin, dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membagikan dividen paling besar sepanjang kalender 2026, mencapai sekitar Rp52,10 triliun.

Di bawah BBRI terdapat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan total sekitar Rp50,63 triliun, disusul PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) sekitar Rp40,06 triliun.

Perhitungan ini menggunakan pendekatan kalender pembayaran. Artinya, seluruh dividen tunai yang dibayarkan atau telah dijadwalkan untuk dibayar antara 1 Januari hingga 31 Desember 2026 masuk dalam penghitungan, meskipun berasal dari tahun buku yang berbeda.

Metode tersebut penting karena sejumlah emiten membayar sisa dividen tahun buku 2025 sekaligus dividen interim tahun buku 2026 pada tahun kalender yang sama.

Ringkasan
  • BBRI menjadi pembagi dividen terbesar kalender 2026 dengan sekitar Rp52,10 triliun.
  • BMRI dan BBCA menyusul dengan Rp50,63 triliun dan Rp40,06 triliun.
  • Daftar ini menghitung dividen berdasarkan tanggal pembayaran selama 2026, bukan semata berdasarkan tahun buku.
Rp52,10 T Dividen kalender 2026 BBRI
Rp50,63 T Dividen kalender 2026 BMRI
Rp40,06 T Dividen kalender 2026 BBCA
12 Emiten Dalam daftar dividen jumbo

Daftar Emiten dengan Dividen Terbesar 2026

Berikut emiten dengan nilai pembayaran dividen terbesar sepanjang kalender 2026 berdasarkan data pengumuman dividen BEI, aksi korporasi KSEI, dan keterbukaan informasi perusahaan.

Peringkat Emiten Total Dividen 2026 Dividen per Saham
1 BBRI Rp52,10 triliun Rp346
2 BMRI Rp50,63 triliun ±Rp542,95
3 BBCA Rp40,06 triliun Rp326
4 TLKM Rp21,99 triliun ±Rp223,16
5 ASII Rp15,67 triliun Rp390
6 BBNI Rp13,03 triliun Rp349,41
7 BYAN ±Rp8,9 triliun ±Rp267,29
8 ADRO ±Rp7,57 triliun ±Rp263,40
9 HMSP Rp6,55 triliun Rp56,3
10 UNTR ±Rp5,34 triliun Rp1.526
11 ANTM Rp5,04 triliun Rp209,98
12 GEMS ±Rp4,98 triliun ±Rp849,88
Kenapa menggunakan kalender pembayaran?
Investor menerima uang dividen berdasarkan tanggal pembayaran, bukan tahun buku laba. Karena itu, dividen final tahun buku 2025 dan dividen interim 2026 dapat sama-sama dihitung sebagai arus kas dividen kalender 2026 jika keduanya dibayarkan pada tahun ini.

BBRI, BMRI, dan BBCA Dominasi Dividen Terbesar

BBRI menempati posisi pertama dengan total pembayaran sekitar Rp52,10 triliun atau Rp346 per saham.

Jumlah tersebut berasal dari dua tahap pembayaran dividen tahun buku 2025. Dividen interim sebesar Rp137 per saham atau sekitar Rp20,63 triliun dibayar pada 15 Januari 2026, kemudian dividen final Rp209 per saham senilai sekitar Rp31,47 triliun dibayar pada 8 Mei.

Bank Mandiri berada sangat dekat di posisi kedua. Total dividen yang masuk kalender 2026 mencapai sekitar Rp50,63 triliun.

Untuk tahun buku 2025, BMRI membagikan total Rp476,95 per saham melalui dividen interim Rp100 dan final Rp376,95. Bank Mandiri kemudian menambah dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp66 per saham atau sekitar Rp6,16 triliun.

Jika seluruh pembayaran tersebut digabung, investor BMRI menerima sekitar Rp542,95 per saham sepanjang kalender 2026.

BBCA menduduki posisi ketiga dengan total sekitar Rp40,06 triliun atau Rp326 per saham.

BCA sebenarnya menetapkan dividen tahun buku 2025 sebesar Rp336 per saham. Namun Rp55 per saham telah dibayarkan pada Desember 2025 sehingga tidak masuk penghitungan kalender tahun ini.

Pembayaran yang masuk 2026 terdiri atas sisa dividen Rp281 per saham serta dua dividen interim tahun buku 2026 masing-masing Rp20 dan Rp25 per saham.

Tiga bank besar membagikan lebih dari Rp140 triliun
Jika BBRI, BMRI, dan BBCA dijumlahkan, total distribusi dividen yang masuk kalender 2026 mencapai sekitar Rp142,79 triliun. Besarnya angka tersebut memperlihatkan bagaimana sektor perbankan menjadi salah satu sumber arus kas dividen terbesar di BEI.

TLKM hingga ANTM Juga Tebar Dividen Triliunan

Di luar tiga bank terbesar, TLKM menjadi salah satu distributor dividen terbesar dengan pembayaran sekitar Rp21,99 triliun atau Rp223,16 per saham untuk tahun buku 2025.

Nilai tersebut menarik karena setara sekitar 123% dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada periode yang menjadi dasar pembagian.

ASII berada di posisi berikutnya dengan sekitar Rp15,67 triliun yang masuk dalam kalender pembayaran 2026.

Angka tersebut terdiri atas dividen final tahun buku 2025 sebesar Rp292 per saham dan dividen interim tahun buku 2026 Rp98 per saham.

BBNI membagikan sekitar Rp13,03 triliun atau Rp349,41 per saham. Pembagian itu setara dengan sekitar 65% laba bersih konsolidasian yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Emiten batu bara BYAN kemudian menyusul dengan dividen US$500 juta atau sekitar Rp8,9 triliun.

ADRO membagikan total US$447,5 juta atau sekitar Rp7,57 triliun, terdiri atas dividen interim US$250 juta dan dividen final US$197,5 juta.

HMSP membayar sekitar Rp6,55 triliun, disusul UNTR sekitar Rp5,34 triliun dan ANTM sekitar Rp5,04 triliun.

ANTM membagikan sekitar 70% laba bersih tahun buku 2025 sebagai dividen. Dengan laba sekitar Rp7,20 triliun, jumlah yang dibagikan kepada pemegang saham mencapai sekitar Rp5,04 triliun atau Rp209,98 per saham.

Dividen Besar Belum Tentu Saham Paling Menarik

Nilai dividen secara nominal tidak sama dengan dividend yield.

Emiten yang membagikan Rp50 triliun belum tentu menawarkan yield terbesar karena yield ditentukan oleh besarnya dividen per saham dibandingkan harga saham.

Investor juga perlu melihat apakah pembagian dividen tersebut berkelanjutan.

Indikator Apa yang Perlu Dilihat
Dividend yield Dividen per saham dibanding harga saham
Payout ratio Porsi laba yang dibagikan sebagai dividen
Free cash flow Kemampuan kas mendanai dividen
Utang Apakah pembagian mengganggu penguatan neraca
Capex Kebutuhan dana untuk ekspansi
Rekam jejak Konsistensi pembagian dari tahun ke tahun

Hal tersebut terlihat pada beberapa perusahaan yang membagikan dividen mendekati atau bahkan melebihi laba bersih tahun berjalan.

Payout ratio yang tinggi memang menarik bagi pencari pendapatan, tetapi belum tentu dapat dipertahankan jika arus kas, laba, atau kebutuhan investasi berubah.

Untuk perusahaan komoditas, keberlanjutan dividen juga sangat bergantung pada harga batu bara, emas, nikel, atau komoditas lain. Ketika harga turun, laba dan kemampuan membayar dividen dapat berubah signifikan.

FAQ Dividen Terbesar 2026

Saham apa yang membagikan dividen terbesar pada 2026?
BBRI menjadi emiten dengan nilai pembayaran dividen terbesar dalam kalender 2026, sekitar Rp52,10 triliun.
Berapa total dividen BMRI sepanjang 2026?
Total pembayaran yang masuk kalender 2026 sekitar Rp50,63 triliun atau sekitar Rp542,95 per saham, termasuk dividen tahun buku 2025 dan interim tahun buku 2026.
Berapa dividen BBCA sepanjang 2026?
Pembayaran yang masuk kalender 2026 mencapai sekitar Rp326 per saham atau Rp40,06 triliun, terdiri atas sisa dividen tahun buku 2025 serta dua dividen interim tahun buku 2026.
Kenapa dividen 2025 bisa dihitung dalam daftar 2026?
Karena daftar ini menggunakan tanggal pembayaran. Dividen atas laba tahun buku 2025 tetap masuk kalender 2026 apabila pembayarannya dilakukan pada 2026.
Apakah dividen terbesar berarti dividend yield tertinggi?
Tidak. Dividend yield dihitung berdasarkan dividen per saham dibanding harga saham. Nilai total dividen perusahaan yang besar tidak otomatis menghasilkan yield paling tinggi bagi investor.
Berapa dividen ANTM pada 2026?
ANTM membagikan sekitar Rp5,04 triliun atau Rp209,98 per saham dari laba tahun buku 2025.
Catatan Recehin
Daftar ini memperlihatkan bahwa nominal dividen terbesar masih didominasi emiten berkapitalisasi besar, terutama bank. Tetapi bagi investor, angka triliunan bukan ukuran utama untuk memilih saham dividen. Yield, payout ratio, pertumbuhan laba, free cash flow, kebutuhan capex, dan konsistensi pembayaran jauh lebih menentukan. Dividen tinggi yang ditopang laba dan kas berulang biasanya lebih bernilai dibanding pembagian jumbo yang hanya terjadi sekali karena kondisi luar biasa.
Sumber: Pengumuman dividen Bursa Efek Indonesia, data aksi korporasi PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), serta keterbukaan informasi masing-masing emiten yang dihimpun hingga Oktober 2026.

Metodologi: Peringkat menggunakan total dividen tunai dengan tanggal pembayaran pada periode 1 Januari–31 Desember 2026, termasuk pembayaran yang telah terealisasi dan pembayaran yang telah dijadwalkan. Dividen yang dibayar pada 2025 tidak dimasukkan meskipun berasal dari tahun buku yang sama.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham. Jadwal dan nilai dividen yang belum dibayarkan masih dapat berubah mengikuti keputusan perusahaan dan keterbukaan informasi berikutnya.