Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
PT Pertamina Gas membawa limbah daun nanas ke jalur yang cukup jauh dari bisnis utamanya: bahan baku tekstil. Perusahaan mengajukan paten sederhana untuk metode mengolah daun nanas menjadi material menyerupai kapas yang dapat digunakan dalam proses tekstil.

Menariknya, gagasan menjadikan daun nanas sebagai serat bahkan benang sebenarnya bukan wilayah yang sepenuhnya baru. Riset di Indonesia dan luar negeri sudah menunjukkan pineapple leaf fibre atau PALF dapat dipintal menjadi benang, termasuk dicampur dengan kapas. Di pasar global bahkan sudah terdapat produk benang komersial berbasis limbah daun nanas.

Artinya, sisi menarik permohonan Pertamina Gas bukan sekadar klaim besar bahwa “daun nanas bisa menjadi tekstil”. Yang lebih relevan adalah bagaimana proses spesifik yang diajukan mengubah serat kasar menjadi kapas daun nanas yang terbuka dan mengembang sehingga lebih siap masuk ke tahap pemintalan.

Permohonan bernomor S00202610982 tersebut diterima pada 22 September 2026 dan diumumkan DJKI pada 28 September 2026. Lima inventor tercatat di dalamnya: Maulana Rizky Wijaya, Salsabila Tyas Pradipta Haris, Dyan Pertiwi Aufa Dinina, Humaira, dan Gokhan.

Ringkasan
  • Pertamina Gas mengajukan metode mengolah limbah daun nanas menjadi kapas untuk aplikasi tekstil.
  • Riset terdahulu menunjukkan serat daun nanas dapat dipintal menjadi benang, termasuk melalui campuran dengan kapas.
  • Pembeda yang perlu diperhatikan dari permohonan Pertamina Gas adalah rangkaian refining, bio-degumming, dan mechanical opening untuk menghasilkan serat yang terbuka dan mengembang.
3–5 Hari Durasi bio-degumming Pertamina Gas
45:55 PALF : kapas pada salah satu eksperimen benang OE Indonesia
20 Ne Benang hibrida PALF-recycled cotton dalam studi 2026
Ne8–Ne20 Rentang produk Piñayarn komersial

Pertamina Gas Tidak Langsung Membuat Benang

Ada satu pembedaan penting dalam membaca invensi Pertamina Gas.

Dokumen paten tidak menyatakan perusahaan sudah memproduksi benang atau kain. Hasil akhir metode yang diajukan adalah “kapas daun nanas” berbentuk terbuka dan mengembang yang dapat digunakan sebagai bahan baku dalam proses tekstil.

Proses dimulai dengan pemanenan dan sortasi daun nanas, dilanjutkan dekortikasi mekanis untuk memperoleh serat kasar. Serat kemudian dicuci, dikeringkan, dilonggarkan, dan menjalani ekstraksi serta pemurnian mekanis lanjutan atau refining.

Tahap Proses Pertamina Gas
1 Sortasi daun nanas
2 Dekortikasi untuk mengambil serat kasar
3 Pencucian, pengeringan, dan pelonggaran
4 Refining atau pemurnian mekanis lanjutan
5 Bio-degumming menggunakan mikroorganisme alami selama 3–5 hari
6 Pemerasan dan pengeringan
7 Pemotongan sesuai panjang staple
8 Mechanical opening dengan Rotary Wave Opener

Pada tahap bio-degumming, serat ditempatkan dalam media berair menggunakan inokulum mikroorganisme alami selama tiga hingga lima hari. Setelah dikeringkan dan dipotong pada panjang staple tertentu, serat kemudian diproses dengan mesin Rotary Wave Opener.

Tujuannya mengindividualisasi dan membuka berkas serat sehingga material akhirnya menyerupai kapas yang mengembang.

Jadi rantainya belum “daun nanas masuk, benang keluar”. Invensi Pertamina Gas lebih tepat ditempatkan pada tahap penyiapan serat menjadi material yang berpotensi lebih cocok untuk proses pemintalan berikutnya.

Bisakah Daun Nanas Benar-Benar Jadi Benang? Risetnya Sudah Ada

Jawabannya: secara teknis, sudah pernah dilakukan.

Riset mengenai pemanfaatan serat daun nanas sebagai tekstil bahkan sudah cukup lama berkembang. Kajian yang diterbitkan Jurnal Teknoin Universitas Islam Indonesia membahas dekortikasi, degumming, sifat serat daun nanas, hingga kelayakannya untuk dibuat menjadi benang dan kain.

Eksperimen yang lebih dekat dengan industri dilakukan peneliti Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Surakarta. Mereka menguji serat daun nanas sebagai campuran kapas untuk pembuatan benang open-end atau OE.

Dari tiga komposisi yang diuji, campuran 45% serat daun nanas dan 55% kapas memberikan efektivitas terbaik dibanding komposisi 14:86 dan 29:71. Namun hasilnya belum sempurna: rata-rata putus benang masih 16,33 kali dalam 60 menit, sehingga proses produksinya dinilai belum berjalan cukup lancar untuk konteks yang diuji.

Riset/Produk Temuan Utama
Riset tekstil Indonesia PALF berpotensi digunakan sebagai bahan benang dan kain
Eksperimen benang OE Indonesia Campuran PALF-kapas 45:55 paling efektif dari komposisi yang diuji, tetapi putus benang masih relatif tinggi
Studi 2026 PALF + recycled cotton Menghasilkan benang 20 Ne dengan performa pemintalan stabil
Piñayarn Produk benang komersial berbasis limbah daun nanas dan serat nabati lainnya

Penelitian lain yang dipublikasikan pada 2026 bahkan membawa eksperimen itu selangkah lebih jauh. Para peneliti membuat benang hibrida dari serat daun nanas dan kapas daur ulang menggunakan pemintalan open-end.

Benang yang dihasilkan memiliki nomor benang sekitar 20 Ne dengan tenacity rata-rata 9,9 cN/tex. Studi tersebut juga melaporkan sekitar 80% input material bersifat sirkular serta kebutuhan energi proses yang sekitar 20%–30% lebih rendah dibanding sistem pembanding ring-spun cotton yang digunakan dalam analisis mereka.

Temuan tersebut menunjukkan persoalannya sudah bergeser. Tantangannya bukan lagi sekadar membuktikan bahwa daun nanas mempunyai serat, melainkan bagaimana membuat serat itu konsisten, mudah dipintal, cukup kuat, dan ekonomis untuk produksi massal.

Dari Piña Filipina sampai Piñayarn Komersial

Pemakaian serat daun nanas sebagai tekstil bahkan memiliki sejarah panjang di Filipina. Tradisi piña handloom weaving di Aklan menggunakan serat yang diekstraksi dari daun nanas dan kemudian ditenun dengan alat tenun tangan.

Pada 2023, UNESCO memasukkan tradisi tenun piña Aklan dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Di level industri modern, perusahaan material Ananas Anam telah menjual Piñayarn, yakni benang yang menggunakan serat dari limbah daun nanas dan serat berbasis tumbuhan lainnya.

Menurut perusahaan, bahan bakunya berasal dari daun sisa panen nanas sehingga tidak membutuhkan penanaman khusus untuk memperoleh serat tersebut. Produk benangnya tersedia antara lain pada ukuran Ne8, Ne10, Ne16, dan Ne20 serta dapat digunakan untuk material tenun maupun rajut.

Perusahaan itu juga menyebut proses pemintalannya tidak menggunakan air dan tidak memakai bahan kimia berbahaya dalam proses yang mereka gunakan.

Ini memberi konteks penting bagi paten Pertamina Gas: konsep tekstil dari daun nanas sudah memiliki sejarah, basis riset, bahkan contoh komersial. Karena itu, nilai invensi Pertamina Gas nantinya akan lebih menarik dinilai dari keunggulan proses spesifiknya—misalnya efisiensi, kualitas serat, rendemen, biaya, atau kemudahan masuk ke mesin pemintalan industri.

Dari Paten ke Pabrik, Masih Ada Pertanyaan Besar

Secara konsep, jalur ekonominya menarik. Indonesia menghasilkan nanas dalam jumlah besar, sementara daun merupakan biomassa yang tersisa setelah pemanenan buah. Jika sebagian residu tersebut dapat masuk ke rantai tekstil, limbah pertanian memperoleh kemungkinan sumber nilai baru.

Tetapi dokumen paten Pertamina Gas belum menyediakan angka yang justru menentukan apakah teknologi ini menarik secara komersial.

Belum diketahui rendemen—berapa kilogram kapas tekstil yang dapat dihasilkan dari setiap kilogram daun nanas. Tidak tersedia pula informasi mengenai biaya dekortikasi dan bio-degumming, konsumsi energi, kebutuhan air, kecepatan produksi, kekuatan serat setelah proses, maupun kualitas benang apabila kapas daun nanas tersebut benar-benar dipintal.

Pengalaman industri di kawasan juga menunjukkan masalah rendemen dapat menjadi penting. Di Johor, Malaysia, produsen benang serat nanas M&Z menyebut sekitar 10 kilogram daun nanas menghasilkan kurang lebih 100 gram benang pada metode produksinya. Angka itu tidak dapat langsung diterapkan pada teknologi Pertamina Gas karena metode dan prosesnya berbeda, tetapi memberi gambaran bahwa konversi biomassa menjadi benang dapat menghadapi persoalan hasil akhir yang kecil.

Karena itu, paten merupakan satu bagian dari perjalanan teknologi. Ujian yang lebih berat datang ketika proses harus menghasilkan mutu yang konsisten dengan biaya yang memungkinkan bersaing dengan kapas, serat sintetis, maupun serat alternatif lainnya.

Intinya: Pertamina Gas bukan pihak pertama yang menemukan bahwa daun nanas dapat masuk ke dunia tekstil. Penelitian Indonesia, studi internasional, tradisi piña Filipina, sampai produk Piñayarn sudah menunjukkan jalur dari daun nanas menuju benang dan kain memang mungkin. Yang membuat permohonan Pertamina Gas layak diperhatikan adalah metode spesifik untuk mengubah limbah tersebut menjadi material seperti kapas. Pertanyaan berikutnya bukan lagi “bisa atau tidak”, melainkan berapa rendemennya, bagaimana kualitas benangnya, dan apakah ongkos produksinya masuk akal untuk industri.

FAQ Limbah Daun Nanas dan Paten Pertamina Gas

Apakah limbah daun nanas benar-benar bisa dibuat menjadi benang?
Bisa secara teknis. Sejumlah penelitian telah menghasilkan benang dari serat daun nanas, baik secara langsung maupun dengan mencampurnya dengan kapas atau kapas daur ulang.
Apa yang sebenarnya dipatenkan Pertamina Gas?
Permohonan Pertamina Gas berkaitan dengan metode mengolah limbah daun nanas melalui proses mekanis dan biologis hingga menghasilkan kapas daun nanas berbentuk terbuka dan mengembang untuk aplikasi tekstil.
Apakah Pertamina Gas sudah membuat benang daun nanas?
Dokumen pengumuman paten yang tersedia berhenti pada produksi material kapas daun nanas. Dokumen tersebut tidak menyatakan produksi benang atau kain komersial oleh Pertamina Gas.
Apa contoh benang daun nanas yang sudah ada?
Salah satu contoh komersial adalah Piñayarn dari Ananas Anam, yang menggunakan serat limbah daun nanas bersama serat berbasis tumbuhan lainnya dan tersedia dalam beberapa ukuran benang.
Apa tantangan membuat benang dari serat daun nanas?
Di antaranya konsistensi panjang dan kehalusan serat, proses degumming, tingkat putus saat pemintalan, rendemen, kekuatan benang, serta biaya produksi dalam skala industri.
Apakah paten Pertamina Gas sudah diberikan?
Dokumen yang digunakan merupakan pengumuman permohonan paten sederhana. Pemberian hak paten mengikuti proses pemeriksaan dan keputusan DJKI.
Sumber: Berita Resmi Paten Sederhana Seri-A No. BRPS 976/X/2026 DJKI; Jurnal Teknoin Universitas Islam Indonesia; Prosiding SNAST mengenai pemanfaatan serat daun nanas untuk benang open-end; Green Technologies and Sustainability; UNESCO; Ananas Anam; serta pemberitaan Bernama mengenai produksi benang serat nanas di Johor.

Catatan: Temuan penelitian dan produk komersial dari pihak lain digunakan sebagai konteks untuk menunjukkan perkembangan teknologi serat daun nanas. Metode, komposisi, rendemen, dan karakter produk tersebut tidak identik dengan invensi yang diajukan Pertamina Gas.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif. Pengumuman permohonan paten tidak sama dengan pemberian paten maupun bukti kesiapan komersialisasi. Keunggulan teknis dan keekonomian metode Pertamina Gas perlu dinilai dari data pengujian dan skala produksi yang belum dicantumkan dalam dokumen pengumuman.