Receh.in — Dolar Amerika Serikat menguat pada perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026, ketika lonjakan harga minyak kembali menghidupkan kekhawatiran inflasi dan investor menunggu risalah rapat Federal Reserve untuk membaca arah suku bunga berikutnya.
Indeks dolar AS atau DXY naik 0,3% ke 102,13 setelah turun 0,27% sehari sebelumnya. Euro melemah 0,4% menjadi US$1,1216, sementara yen Jepang turun 0,13% ke 158,31 per dolar AS.
Menariknya, penguatan dolar terjadi ketika pasar justru memangkas ekspektasi kenaikan bunga Fed pada Oktober. Probabilitas kenaikan sedikitnya 25 basis poin menyusut menjadi 21,6% dari sekitar 51% sepekan sebelumnya dalam snapshot CME FedWatch yang dikutip Reuters.
Dengan demikian, dukungan terhadap dolar pada sesi ini tidak hanya datang dari ekspektasi kebijakan moneter, tetapi juga dari minyak yang kembali menembus US$100 per barel dan meningkatnya permintaan terhadap greenback di tengah ketidakpastian global.
- Indeks dolar AS naik 0,3% menjadi 102,13, sementara euro dan yen melemah.
- Brent kembali menembus US$100 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan dan konflik Timur Tengah.
- Peluang kenaikan suku bunga Fed pada Oktober turun menjadi 21,6% dari sekitar 51% sepekan sebelumnya.
Minyak di Atas US$100 Ikut Menopang Dolar
Harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat dolar. Brent kembali menembus US$100 per barel ketika pasar mencemaskan potensi gangguan pasokan dari badai yang mengancam wilayah produksi minyak Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap Bandara Internasional Aden juga menambah kekhawatiran terhadap jalur energi regional.
Kenaikan minyak penting bagi pasar valuta asing karena energi yang lebih mahal dapat mempertahankan tekanan inflasi. Kondisi tersebut berpotensi membuat bank sentral harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau kembali menaikkannya.
Dominic Bunning, Head of G10 FX Strategy Nomura, mengatakan kenaikan minyak memberikan dukungan jangka pendek terhadap dolar, meskipun momentum penguatan greenback mulai menunjukkan tanda melambat.
Pasar Justru Makin Ragu Fed Naikkan Bunga pada Oktober
Federal Reserve dijadwalkan merilis risalah rapat kebijakan September. Dalam rapat 15-16 September tersebut, Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023 sebagai respons terhadap inflasi yang masih berada di atas target.
Namun data ekonomi yang muncul setelah rapat itu mengurangi urgensi kenaikan berikutnya. Data pengeluaran konsumsi pribadi dan ketenagakerjaan lebih lemah dari perkiraan, sementara sejumlah pejabat Fed mulai terdengar lebih berhati-hati.
| Pertemuan Fed | Probabilitas Kenaikan Bunga |
|---|---|
| Oktober 2026 | 21,6% |
| Desember 2026 | 68,6% |
Angka Oktober turun tajam dari sekitar 51% sepekan sebelumnya. Pasar dengan demikian lebih condong pada skenario Fed menahan bunga bulan ini dan kembali mempertimbangkan pengetatan pada Desember.
Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeff Schmid masih menilai kenaikan bunga tambahan dibutuhkan untuk mengendalikan inflasi. Sebaliknya, pejabat lain menyerukan kehati-hatian setelah data ekonomi melemah.
Ketua Fed Kevin Warsh juga memberikan lebih sedikit panduan ke depan dibandingkan pendekatan komunikasi bank sentral sebelumnya. Akibatnya, pasar menjadi lebih sensitif terhadap setiap data ekonomi baru dan pidato pejabat Fed.
Euro Tertekan Isu Fiskal Prancis, Yen Belum Terangkat BOJ
Euro turun 0,4% menjadi US$1,1216 setelah menguat pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan mata uang tunggal Eropa belakangan juga dipengaruhi gejolak obligasi Prancis menjelang pemilihan presiden 2027. Kandidat National Rally Marine Le Pen mengusulkan program penghematan belanja sekitar €140 miliar hingga 2032, naik dari rencana sebelumnya €125 miliar.
Rencana tersebut sempat memberi kelegaan kepada pasar obligasi, tetapi kekhawatiran mengenai utang dan defisit Prancis masih menjadi beban bagi euro.
Di Jepang, yen tetap melemah menjadi 158,31 per dolar meskipun anggota Dewan Kebijakan Bank of Japan Ayano Sato menyatakan dukungan terhadap kenaikan suku bunga secara bertahap.
BOJ diperkirakan dapat memberikan sinyal bahwa inflasi yang mendasari semakin mendekati target 2%, yang akan membuka ruang bagi kenaikan suku bunga berikutnya. Namun pada sesi ini, faktor tersebut belum cukup untuk mengalahkan kekuatan dolar.
Pasar Valas Menunggu Fed, Minyak, dan Timur Tengah
Selain euro dan yen, poundsterling turun 0,21% menjadi US$1,3248. Dolar Australia melemah 0,21% ke US$0,6969 dan dolar Selandia Baru turun 0,24% menjadi US$0,5609.
| Mata Uang | Posisi | Perubahan |
|---|---|---|
| Euro | US$1,1216 | -0,40% |
| Yen Jepang | 158,31/US$ | -0,13% |
| Poundsterling | US$1,3248 | -0,21% |
| Dolar Australia | US$0,6969 | -0,21% |
| Dolar Selandia Baru | US$0,5609 | -0,24% |
Dalam jangka pendek, arah dolar akan sangat bergantung pada tiga hal: seberapa hawkish risalah Fed, perkembangan harga minyak, dan apakah data ekonomi Amerika terus melemah.
Jika inflasi kembali mendapat tekanan dari energi tetapi pasar tenaga kerja melambat, Fed menghadapi dilema yang lebih rumit: menaikkan bunga untuk meredam inflasi dengan risiko semakin menekan pertumbuhan.
FAQ Dolar AS dan Suku Bunga Fed
Berapa posisi indeks dolar AS pada 7 Oktober 2026?
Berapa peluang Fed menaikkan suku bunga pada Oktober?
Mengapa dolar menguat meski peluang kenaikan bunga turun?
Berapa nilai euro terhadap dolar?
Kapan Fed terakhir menaikkan suku bunga?
Catatan: Probabilitas FedWatch berubah sepanjang perdagangan. Angka 21,6% untuk Oktober dan 68,6% untuk Desember merupakan snapshot yang dikutip Reuters pada awal sesi 7 Oktober; pembaruan Reuters pada jam berikutnya menunjukkan probabilitas Oktober kembali bergerak di sekitar 19%-20% dan peluang Desember meningkat. Artikel menggunakan angka sesuai waktu laporan sumber utama.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi transaksi valuta asing, obligasi, atau komoditas. Ekspektasi suku bunga dan nilai tukar dapat berubah cepat mengikuti data ekonomi, kebijakan bank sentral, dan perkembangan geopolitik.

0 Komentar