Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) menjaga laju pertumbuhan pada 2026 dengan kenaikan pendapatan dan laba dua digit, disertai rekor produksi panas bumi hingga Juli.

Sepanjang semester I-2026, PGE membukukan pendapatan US$235,03 juta, naik 14,7% dibandingkan US$204,85 juta pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih mencapai US$79,61 juta, tumbuh 15,48% secara tahunan.

Momentum operasional bahkan berlanjut setelah periode laporan. Hingga 31 Juli 2026, total produksi mencapai sekitar 3.222 GWh, naik 12,7% dari 2.859 GWh dan menjadi rekor tertinggi perseroan.

Di belakang pertumbuhan itu, Lumut Balai menjadi salah satu pendorong paling agresif. Produksi wilayah tersebut melonjak 85,5% menjadi 567 GWh setelah Unit 2 beroperasi penuh sejak Juni 2025.

Ringkasan
  • Pendapatan PGEO semester I-2026 naik 14,7% menjadi US$235,03 juta, sedangkan laba bersih tumbuh 15,48% menjadi US$79,61 juta.
  • Produksi hingga Juli mencapai rekor 3.222 GWh, naik 12,7% secara tahunan.
  • Ekspansi Lumut Balai Unit 3 dan 4 masuk Green Book Bappenas 2026, membuka potensi akses pinjaman luar negeri sekitar US$307,83 juta.
US$235,03 Juta Pendapatan semester I-2026
US$79,61 Juta Laba bersih semester I-2026
3.222 GWh Produksi hingga Juli 2026
5.255 GWh Target produksi 2026

Pendapatan dan Laba Tumbuh Dua Digit

Per 30 Juni 2026, PGEO mencatat pendapatan sebesar US$235,027 juta atau meningkat 14,7% dibandingkan US$204,850 juta pada semester I-2025.

Laba bersih mencapai US$79,605 juta, naik 15,48% secara tahunan.

Pada kuartal I-2026, laba bersih tercatat US$43,899 juta. Dengan demikian, tambahan laba pada kuartal II sekitar US$35,71 juta.

Indikator Semester I-2025 Semester I-2026 Perubahan
Pendapatan US$204,85 juta US$235,03 juta +14,7%
Laba bersih ±US$68,93 juta US$79,61 juta +15,48%
Ekuitas — US$2,01 miliar —
Liabilitas — US$961,18 juta -2,80% vs akhir 2025

Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat menyebut kenaikan pendapatan ditopang pertumbuhan produksi, peningkatan keandalan PLTP, serta keuntungan selisih kurs.

Yang menarik bukan hanya pertumbuhan laba. PGE juga mencatat penurunan liabilitas dibanding akhir 2025, sehingga ekspansi berlangsung ketika struktur permodalan tidak memburuk.

Produksi Rekor 3.222 GWh, Lumut Balai Melonjak

Hingga akhir Juli 2026, produksi PGE mencapai sekitar 3.222 GWh, naik 12,7% dari 2.859 GWh pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan terbesar datang dari Lumut Balai yang membukukan produksi 567 GWh atau melonjak 85,5%.

Wilayah Produksi hingga Jul 2026 Pertumbuhan Catatan Operasional
Lumut Balai 567 GWh +85,5% Unit 2 beroperasi penuh sejak Juni 2025
Kamojang 1.113 GWh +6,3% Permintaan PLN meningkat
Karaha 75 GWh +22,7% Tambahan uap Cluster TLG.3
Ulubelu 953 GWh +1,8% Tambahan uap Cluster M
Lahendong 514 GWh +1,0% EFOR 0,00%

Target produksi setahun penuh 2026 ditetapkan sebesar 5.255 GWh, naik dari 5.095 GWh pada 2025.

Jika dibandingkan dengan realisasi 3.222 GWh hingga Juli, PGE telah mencapai sekitar 61,3% dari target tahunan.

Keandalan Aset Ikut Naik

Pertumbuhan produksi tidak hanya berasal dari tambahan kapasitas, tetapi juga dari peningkatan keandalan pembangkit.

Secara konsolidasi, capacity factor naik menjadi 90,62% dari 87,78%, sedangkan availability factor meningkat menjadi 99,51% dari 99,13%.

Pada saat yang sama, tingkat gangguan turun menjadi 0,15% dari 0,22%.

Indikator Keandalan Sebelumnya 2026
Capacity factor 87,78% 90,62%
Availability factor 99,13% 99,51%
Tingkat gangguan 0,22% 0,15%

Lumut Balai mencatat capacity factor 101,14% dan availability factor 99,22%, sementara Kamojang meningkatkan capacity factor menjadi 93,41% dari 88,00%.

Di Ulubelu, tingkat gangguan turun menjadi 0,05% dari 0,17%, sedangkan Lahendong mencatat EFOR 0,00% sepanjang periode.

Ini penting bagi bisnis geothermal. Produksi tidak hanya bergantung pada kapasitas terpasang, tetapi juga pada seberapa sering pembangkit benar-benar tersedia dan beroperasi tanpa gangguan.

Ekspansi Lumut Balai Dapat Jalur Pendanaan

Di sisi pengembangan, PGEO mempercepat proyek Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Muara Enim, Sumatera Selatan, masing-masing berkapasitas 55 MW.

Setelah Final Investment Decision Unit 3 disetujui pada kuartal I-2026, tajak perdana dilakukan pada 8 Juli di sumur LMB 19-3. Pengeboran sumur kedua LMB-19.4 dimulai pada 17 September 2026.

Kedua unit tersebut masuk Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas pada Juni.

Proyek Kapasitas Potensi Pinjaman Luar Negeri
Lumut Balai Unit 3 55 MW US$158,86 juta
Lumut Balai Unit 4 55 MW US$148,97 juta
Total 110 MW US$307,83 juta

Masuknya proyek ke Green Book membuka jalur potensi pembiayaan, tetapi belum berarti dana tersebut sudah ditarik atau seluruh kebutuhan investasi proyek telah terpenuhi.

Proyek lain juga terus bergerak. Tarif Lahendong Low Pressure 15 MW telah disepakati pada April 2026, proyek co-generation total 230 MW menargetkan penandatanganan PPA pada kuartal IV-2026, dan proyek Gunung Tiga 2x27,5 MW di Ulubelu menargetkan COD pada 2029.

Intinya: cerita PGEO pada 2026 tidak hanya soal laba naik 15%. Kualitas operasional ikut membaik, produksi mencetak rekor, dan pipeline ekspansi mulai mendapat jalur pendanaan. Namun proyek Lumut Balai 3-4, co-generation, dan Gunung Tiga tetap perlu dibedakan antara tahap pengembangan, pendanaan potensial, PPA, hingga COD aktual.

FAQ Kinerja dan Proyek PGEO 2026

Berapa pendapatan PGEO semester I-2026?
Pendapatan mencapai US$235,027 juta, naik 14,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berapa laba bersih PGEO semester I-2026?
Laba bersih mencapai US$79,605 juta, tumbuh 15,48% secara tahunan.
Berapa produksi PGEO hingga Juli 2026?
Produksi mencapai sekitar 3.222 GWh, naik 12,7% secara tahunan dan menjadi rekor produksi tertinggi perseroan.
Berapa target produksi PGEO 2026?
PGE menargetkan produksi 5.255 GWh untuk keseluruhan 2026, naik dari 5.095 GWh pada 2025.
Berapa kapasitas Lumut Balai Unit 3 dan 4?
Masing-masing unit direncanakan berkapasitas 55 MW, sehingga totalnya 110 MW.
Apakah dana Green Book sudah pasti cair?
Belum. Masuknya proyek ke Green Book membuka potensi akses pinjaman luar negeri, tetapi tidak berarti pendanaan sudah ditarik atau seluruh proyek sudah terdanai.
Sumber: Keterangan tertulis PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. mengenai kinerja semester I-2026, produksi hingga Juli 2026, dan perkembangan proyek sebagaimana terdapat dalam bahan yang diterima Receh.in.

Perhitungan Receh.in: Realisasi produksi 3.222 GWh setara sekitar 61,3% dari target produksi 2026 sebesar 5.255 GWh. Potensi pinjaman luar negeri untuk Lumut Balai Unit 3 dan 4 berjumlah sekitar US$307,83 juta.

Catatan: Proyeksi, target produksi, PPA, Green Book, dan target COD merupakan rencana atau milestone pengembangan. Artikel tidak memperlakukannya sebagai pendapatan, kapasitas operasi, atau pendanaan yang sudah terealisasi sebelum benar-benar terjadi.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham PGEO. Investor perlu mempertimbangkan harga listrik, risiko proyek, kebutuhan belanja modal, pendanaan, dan realisasi produksi.