Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Lo Kheng Hong kembali menambah kepemilikan di PT ABM Investama Tbk. (ABMM). Sepanjang Oktober 2026, investor kawakan tersebut tercatat delapan kali membeli saham ABMM dengan akumulasi 634.300 saham, sehingga kepemilikannya meningkat menjadi 156.798.400 saham atau sekitar 5,70%.

Frekuensi transaksinya terlihat agresif. Namun jika dibandingkan dengan posisi yang sudah dimiliki Lo sebelumnya, tambahan tersebut sebenarnya relatif kecil. Kepemilikannya hanya bertambah sekitar 0,4% dari jumlah saham ABMM yang sudah ia pegang pada awal rangkaian transaksi Oktober.

Dengan total saham ABMM sebanyak 2,753 miliar lembar, porsi Lo secara matematis bergerak dari sekitar 5,672% menjadi 5,695%. Artinya, delapan kali pembelian itu hanya menambah sekitar 0,023 poin persentase kepemilikan perusahaan.

Delapan Kali Beli ABMM, Terbesar pada 19 Oktober

Transaksi terbaru tercatat pada Jumat, 23 Oktober 2026 sebanyak 35.700 saham. Jumlah kepemilikan Lo naik dari 156.762.700 menjadi 156.798.400 saham.

Empat hari sebelumnya, pada 19 Oktober, ia membeli 275.000 saham. Inilah transaksi terbesar dari delapan pembelian yang tercatat sepanjang Oktober dan mewakili sekitar 43,4% dari seluruh saham yang diakumulasinya bulan tersebut.

Tanggal Pembelian Estimasi Kepemilikan Setelah Transaksi
5 Oktober 2026 50.000 saham 156.214.100
7 Oktober 2026 40.000 saham 156.254.100
7 Oktober 2026 10.000 saham 156.264.100
14 Oktober 2026 10.000 saham 156.274.100
15 Oktober 2026 120.400 saham 156.394.500
16 Oktober 2026 93.200 saham 156.487.700
19 Oktober 2026 275.000 saham 156.762.700
23 Oktober 2026 35.700 saham 156.798.400
Total 634.300 saham -

Jumlah tersebut membuat posisi Lo bertambah dari 156.164.100 saham sebelum transaksi pertama Oktober menjadi 156.798.400 saham.

Dengan harga penutupan ABMM Rp2.540 pada 23 Oktober, 634.300 saham itu mempunyai nilai pasar referensi sekitar Rp1,61 miliar. Ini bukan nilai pembelian sebenarnya karena harga eksekusi masing-masing transaksi tidak tersedia dalam data yang digunakan.

Pada harga yang sama, seluruh 156,80 juta saham ABMM milik Lo bernilai sekitar Rp398,3 miliar.

Delapan Transaksi Terdengar Besar, Tambahan Posisinya Hanya 0,4%

Bagian ini penting karena frekuensi transaksi sering kali lebih mencolok daripada skalanya.

Perhitungan Hasil
Kepemilikan sebelum rangkaian Oktober 156.164.100 saham
Tambahan Oktober 634.300 saham
Kepemilikan terakhir 156.798.400 saham
Tambahan dibanding posisi awal ±0,41%
Porsi awal terhadap ABMM ±5,672%
Porsi terakhir terhadap ABMM ±5,695%
Kenaikan porsi ±0,023 poin persentase

Jadi, membaca berita ini hanya dari kalimat “Lo Kheng Hong delapan kali membeli ABMM” bisa memberikan kesan bahwa terjadi penambahan posisi dalam skala sangat besar.

Datanya menunjukkan gambar yang lebih proporsional. Yang terlihat justru pola akumulasi bertahap atas posisi yang memang sudah besar. Rata-rata pembelian dari delapan transaksi tersebut sekitar 79.000 saham per transaksi.

Lo juga bukan investor yang baru masuk ke ABMM. Pada akhir Juni 2026 saja kepemilikannya sudah sekitar 155,72 juta saham atau 5,66%. Posisi tersebut kemudian terus bertambah secara bertahap dalam beberapa bulan berikutnya.

Laba ABMM Naik 41,9% Meski Pendapatan Nyaris Tidak Tumbuh

Akumulasi berlangsung ketika kinerja laba ABMM pada semester I 2026 menunjukkan perbaikan.

ABM Investama membukukan pendapatan konsolidasian US$506,2 juta, hanya turun sekitar 0,1% dibandingkan US$506,9 juta pada semester I 2025. Namun laba bersih meningkat 41,9% dari US$27,7 juta menjadi sekitar US$39,4 juta.

Indikator Semester I 2025 Semester I 2026 Perubahan
Pendapatan US$506,9 juta US$506,2 juta -0,1%
Laba bersih US$27,7 juta US$39,4 juta +41,9%
Margin laba bersih* ±5,5% ±7,8% +±2,3 ppt
LTM Adjusted EBITDA US$326 juta US$346,9 juta +6,4%

*Margin laba bersih merupakan perhitungan sederhana Receh.in dari laba bersih dibandingkan pendapatan konsolidasian.

Perbedaan antara pertumbuhan pendapatan yang nyaris nol dan kenaikan laba hampir 42% menunjukkan bahwa perbaikan kinerja ABMM pada periode tersebut lebih banyak terjadi di tingkat profitabilitas ketimbang pertumbuhan top line.

Margin laba bersih secara sederhana naik dari sekitar 5,5% menjadi 7,8%. Namun kenaikan margin tidak otomatis dapat dikaitkan hanya dengan satu faktor tanpa melihat lebih rinci kontribusi setiap segmen, harga jual batu bara, biaya produksi, kontraktor, serta pos-pos nonoperasional.

Produksi Batu Bara Naik, Tapi Beberapa Volume Bisnis Turun

Data operasional ABMM juga tidak bergerak satu arah.

Volume coal getting meningkat sekitar 14% menjadi 17,9 juta ton dari 15,7 juta ton. Produksi yang lebih tinggi menjadi salah satu penopang kinerja, termasuk kontribusi dari operasi di Kalimantan Selatan dan peningkatan aktivitas tambang Aceh.

Sebaliknya, volume overburden removal turun sekitar 12,7% menjadi 98 juta bcm dari 112,2 juta bcm.

Penjualan bahan bakar juga turun cukup tajam, sekitar 26,5%, dari 193 juta liter menjadi 141,9 juta liter.

Operasional Semester I 2025 Semester I 2026 Perubahan
Coal getting 15,7 juta ton 17,9 juta ton +±14%
Overburden removal 112,2 juta bcm 98 juta bcm -±12,7%
Penjualan bahan bakar 193 juta liter 141,9 juta liter -26,5%

Dengan demikian, cerita semester I ABMM bukan sekadar produksi dan seluruh aktivitas operasional meningkat bersamaan. Ada ekspansi pada volume pengambilan batu bara, tetapi aktivitas pengupasan tanah dan distribusi bahan bakar justru menurun.

Yang akhirnya terlihat pada laporan keuangan adalah laba tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan pendapatan.

Catatan Recehin
Delapan transaksi Lo Kheng Hong di ABMM menarik karena menunjukkan konsistensi arah: seluruh transaksi Oktober yang tercatat merupakan pembelian. Tetapi skalanya perlu ditempatkan secara proporsional. Tambahan 634.300 saham hanya meningkatkan posisi Lo sekitar 0,4% dibandingkan jumlah saham yang sudah dimilikinya dan menggeser kepemilikan dari sekitar 5,672% menjadi 5,695%. Jadi cerita utamanya bukan perubahan besar dalam struktur kepemilikan ABMM, melainkan akumulasi bertahap oleh investor yang sudah lama menjadi pemegang saham signifikan. Dari sisi fundamental, konteksnya juga menarik: pendapatan semester I hampir tidak tumbuh, tetapi laba naik sekitar 42% dan margin membaik. Itu membuat perkembangan profitabilitas, produksi batu bara, harga komoditas, dan kemampuan mempertahankan margin menjadi lebih relevan daripada sekadar mengikuti transaksi seorang investor terkenal.
Sumber: Data perubahan kepemilikan saham ABMM Oktober 2026; Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI); keterbukaan informasi dan laporan kinerja PT ABM Investama Tbk.; data perdagangan historis ABMM; serta olahan Receh.in.

Catatan kepemilikan: KSEI mencatat jumlah efek ABMM sebanyak 2.753.165.000 saham. Dengan kepemilikan 156.798.400 saham, porsi Lo Kheng Hong secara matematis sekitar 5,695%, yang dibulatkan menjadi 5,70%.

Catatan transaksi: Akumulasi Oktober dihitung dari delapan transaksi dengan total 634.300 saham. Data transaksi tidak digunakan untuk mengestimasi harga beli rata-rata karena harga eksekusi masing-masing transaksi tidak tersedia.

Catatan nilai pasar: Estimasi Rp1,61 miliar untuk saham yang ditambahkan dan Rp398,3 miliar untuk seluruh kepemilikan Lo menggunakan harga penutupan ABMM Rp2.540 pada 23 Oktober 2026. Angka tersebut merupakan nilai pasar referensi, bukan nilai investasi atau biaya perolehan sebenarnya.

Catatan EBITDA: Angka US$346,9 juta merupakan LTM Adjusted EBITDA atau adjusted EBITDA untuk periode 12 bulan terakhir, bukan EBITDA khusus enam bulan pertama 2026.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan analitis, bukan rekomendasi membeli, menjual, atau mempertahankan saham ABMM. Transaksi investor tertentu tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar keputusan investasi.