Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
BRICS kini jauh lebih besar daripada ketika namanya hanya merujuk Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Keanggotaannya meluas, jangkauan ekonominya membesar, dan pengaruhnya di negara-negara Global South semakin sulit diabaikan. Tetapi perang di Iran memperlihatkan satu masalah yang belum mampu diselesaikan oleh ekspansi tersebut: semakin banyak negara bergabung, semakin sulit pula mereka berbicara dengan satu suara.

Dalam analisis yang diterbitkan Al Jazeera, perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran dipandang sebagai ujian paling nyata terhadap kemampuan BRICS mengubah bobot ekonominya menjadi kekuatan geopolitik.

KTT BRICS di New Delhi pada September 2026 tetap menghasilkan deklarasi bersama, tetapi dokumen tersebut tidak secara langsung membahas perang Iran maupun mengambil posisi tegas terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Itu bukan sekadar pilihan bahasa diplomatik. Menurut analisis tersebut, kompromi itu memperlihatkan batas struktural BRICS: anggotanya sama-sama menginginkan tatanan global yang lebih multipolar, tetapi mereka tidak selalu sepakat tentang siapa yang harus dilawan, kapan harus mengambil posisi, dan seberapa jauh konfrontasi seharusnya dilakukan.

Iran Ingin Kecaman, UEA Punya Kepentingan Berbeda

Perbedaan itu bahkan sudah terlihat sebelum KTT berlangsung.

Pertemuan para menteri luar negeri BRICS pada Mei 2026 gagal menghasilkan posisi bersama mengenai perang Iran. Iran mendorong kelompok tersebut mengecam operasi militer Amerika Serikat dan Israel, sedangkan Uni Emirat Arab keberatan dengan rumusan yang mengabaikan serangan Iran dan kekhawatiran keamanannya sendiri.

Di sinilah ekspansi BRICS menghasilkan paradoks. Penambahan anggota memperbesar representasi geografis dan ekonomi, tetapi sekaligus membawa rivalitas regional masuk ke dalam organisasi.

Iran dan UEA merupakan contoh paling jelas. Keduanya berada di dalam BRICS, tetapi memiliki kepentingan keamanan dan strategi regional yang tidak selalu sejalan. Jika satu konflik menyentuh kepentingan keduanya secara langsung, ruang untuk menghasilkan posisi bersama otomatis menyempit.

Semakin besar BRICS, semakin rumit konsensusnya
Ekspansi memberi BRICS lebih banyak ekonomi, populasi, sumber daya, dan legitimasi politik. Namun setiap anggota baru juga membawa hubungan bilateral, rivalitas regional, serta kepentingan nasional yang harus diakomodasi dalam setiap keputusan bersama.

Masalah BRICS Bukan Kekurangan Kekuatan Ekonomi

Dalam kerangka analisis Al Jazeera, persoalan utama BRICS bukan karena kelompok ini terlalu kecil untuk memengaruhi dunia. Justru sebaliknya: bobot ekonominya sudah besar, tetapi kekuatan itu belum otomatis menghasilkan satu instrumen politik yang terkoordinasi.

Perang Iran memperlihatkan perbedaan penting antara menjadi forum ekonomi dan menjadi aliansi geopolitik.

Sebuah kelompok dapat sepakat mengenai pembiayaan pembangunan, perdagangan dalam mata uang lokal, reformasi lembaga internasional, atau pengurangan ketergantungan terhadap sistem pembayaran Barat. Kesepakatan menjadi jauh lebih sulit ketika anggota harus memilih pihak dalam konflik bersenjata nyata.

BRICS karena itu lebih mudah bersatu ketika agenda yang dibahas adalah perubahan aturan sistem global daripada ketika pertanyaannya berubah menjadi: pihak mana yang harus didukung?

India Tidak Ingin BRICS Menjadi Blok Anti-Amerika

India menggambarkan kontradiksi tersebut dengan sangat jelas.

New Delhi melihat BRICS sebagai salah satu sarana mempertahankan strategic autonomy, bukan sebagai aliansi untuk menghadapi Amerika Serikat.

India tetap memperdalam hubungan dengan Washington, bergabung dalam Quad, serta mempertahankan kerja sama pertahanan dan ekonomi yang luas dengan negara-negara Barat. Pada saat yang sama, India terus menjalin hubungan dengan Rusia dan mempertahankan keterlibatan penting dengan China.

Justru kemampuan bergerak di antara beberapa pusat kekuatan itulah yang menjadi nilai strategis BRICS bagi India. Jika BRICS berubah menjadi blok anti-AS, manfaat tersebut berisiko berkurang.

China dan Rusia Juga Tidak Selalu Menginginkan Konfrontasi Langsung

China dan Rusia memang memiliki alasan lebih kuat untuk mendorong sistem internasional yang mengurangi dominasi Amerika Serikat. Namun itu tidak berarti keduanya ingin BRICS berubah menjadi aliansi militer atau wadah konfrontasi langsung dengan Washington.

Bagi Rusia, BRICS penting karena menyediakan jalur ekonomi dan diplomatik yang dapat mengurangi dampak tekanan Barat. Tetapi konfrontasi yang berubah menjadi konflik militer lebih luas dengan AS dan NATO membawa risiko yang jauh berbeda.

China juga berkepentingan memperkuat tatanan multipolar, meningkatkan posisi Global South, dan mengurangi keunggulan struktural Amerika Serikat dalam keuangan serta institusi internasional. Meski demikian, AS tetap menjadi bagian penting dari sistem perdagangan global dan pasar bagi ekspor China.

Karena itu, tidak semua perselisihan yang melibatkan Washington otomatis menguntungkan Beijing jika BRICS dipaksa mengambil posisi frontal.

Indonesia dan Brasil Punya Logika yang Mirip

Indonesia dan Brasil menambah lapisan kerumitan lain.

Keduanya memiliki kepentingan pada reformasi sistem internasional, perluasan pembiayaan pembangunan, dan peningkatan posisi tawar negara berkembang. Tetapi kepentingan tersebut tidak otomatis berarti keduanya ingin BRICS menjadi perpanjangan strategi geopolitik China atau Rusia.

Bagi Indonesia, analisis Al Jazeera menggambarkan BRICS lebih sebagai sarana memperluas pilihan ekonomi dan strategis daripada kendaraan untuk memilih satu kubu dalam persaingan kekuatan besar.

Pola yang sama membuat BRICS berbeda dari NATO atau aliansi formal lainnya. Tidak ada kewajiban bagi anggota untuk menyatukan kebijakan luar negeri mereka setiap kali sebuah konflik muncul.

Negara Kepentingan Utama dalam BRICS menurut analisis sumber Batas terhadap Konfrontasi dengan AS
India Strategic autonomy dan ruang bermanuver Tetap membangun hubungan erat dengan AS dan Barat
China Multipolaritas dan pengurangan dominasi Barat Tidak berkepentingan menjadikan semua isu sebagai konfrontasi langsung dengan Washington
Rusia Mengurangi dampak tekanan ekonomi dan politik Barat Menghindari eskalasi menjadi konflik langsung dengan AS/NATO
Brasil Reformasi tata kelola global dan pembiayaan pembangunan Tidak ingin BRICS menjadi instrumen geopolitik China atau Rusia
Indonesia Memperluas pilihan ekonomi dan strategis Tidak melihat BRICS sebagai kendaraan untuk memilih blok
Iran Mendorong dukungan politik lebih tegas Menghendaki posisi lebih keras terhadap AS dan Israel dalam konflik
UEA Kerja sama ekonomi dan pengaruh global Memiliki kepentingan keamanan regional yang tidak selalu sejalan dengan Iran

BRICS Terjebak dalam “Polycentric Trap”

Al Jazeera menyebut dilema tersebut sebagai semacam polycentric trap.

Kekuatan terbesar BRICS adalah keberagamannya. Kelompok ini mampu menghubungkan negara besar dari Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin yang sebelumnya memiliki ruang terbatas dalam menentukan arsitektur tata kelola global.

Tetapi keberagaman itu juga menjadi penghambat ketika keputusan memerlukan kesatuan politik.

Setiap anggota baru membawa sumber daya dan legitimasi. Pada saat yang sama, ia membawa kepentingan nasional baru yang harus dinegosiasikan.

Hasil akhirnya mungkin bukan sebuah blok geopolitik tunggal, melainkan sebuah koalisi tawar-menawar yang sangat besar.

Karakter semacam itu menjelaskan mengapa BRICS relatif mudah bersepakat mengenai reformasi IMF dan Bank Dunia, perdagangan Selatan-Selatan, pembiayaan pembangunan, keamanan pangan dan energi, atau pembayaran dalam mata uang lokal. Tetapi kesatuan jauh lebih sulit muncul ketika kelompok harus mengambil posisi terhadap perang konkret.

Apakah Itu Berarti BRICS Gagal?

Belum tentu.

Justru bagian paling menarik dari analisis tersebut adalah kemungkinan bahwa kelemahan geopolitik BRICS bisa menjadi keunggulan jangka panjang.

BRICS tidak harus berubah menjadi NATO versi Global South untuk memengaruhi tatanan internasional.

Kelompok tersebut dapat mengubah keseimbangan kekuatan dengan cara yang jauh lebih bertahap: menekan IMF dan Bank Dunia agar memberi representasi lebih besar kepada negara berkembang, memperbesar lembaga pembiayaan alternatif, meningkatkan perdagangan menggunakan mata uang lokal, serta mengurangi ketergantungan terhadap infrastruktur keuangan Barat.

Perubahan semacam itu memang tidak sedramatis deklarasi bersama menentang suatu negara. Tetapi jika berlangsung selama bertahun-tahun, konsekuensinya terhadap sistem ekonomi global bisa lebih besar.

BRICS mungkin lebih cocok menjadi koalisi negosiasi daripada aliansi
Kegagalan menyatukan posisi terhadap perang Iran menunjukkan batas politik BRICS. Namun jika tujuan utamanya adalah memperbesar daya tawar negara berkembang, membangun alternatif pembiayaan, dan mengurangi ketergantungan pada satu pusat kekuatan, konsensus yang lebih longgar justru bisa membuat kelompok ini bertahan.

Dari Dedolarisasi hingga Reformasi IMF

Karena itu, ukuran keberhasilan BRICS mungkin perlu ditempatkan di tempat yang berbeda.

Bukan pada kemampuan kelompok mengeluarkan pernyataan keras setiap kali terjadi perang, melainkan pada seberapa besar ia mampu menciptakan alternatif bagi negara-negara yang selama puluhan tahun memiliki sedikit pilihan dalam sistem keuangan internasional.

Jika perdagangan dalam mata uang lokal berkembang, lembaga pembiayaan pembangunan membesar, dan negara berkembang memperoleh representasi lebih kuat di IMF maupun Bank Dunia, BRICS tetap dapat menggeser keseimbangan sistem global tanpa harus menjadi sebuah aliansi militer.

Perang Iran dengan demikian memperlihatkan dua wajah BRICS sekaligus. Ia mengungkap batas kemampuan politik kelompok tersebut, tetapi juga membantu menjelaskan jenis kekuatan apa yang sebenarnya mungkin paling realistis dibangun oleh BRICS.

Catatan Recehin
Semakin besar BRICS, kemungkinan semakin kecil pula peluang kelompok ini berbicara dengan satu suara mengenai perang. Tetapi itu tidak otomatis membuat BRICS tidak relevan. Kekuatan kelompok ini mungkin justru bukan dalam menciptakan blok tandingan terhadap Barat, melainkan dalam memberi negara-negara seperti India, Indonesia, Brasil, Iran, dan UEA lebih banyak pilihan untuk bernegosiasi dengan semua pusat kekuatan. Jika demikian, BRICS lebih tepat dibaca sebagai alat diversifikasi geopolitik daripada sebuah aliansi.

FAQ BRICS dan Perang Iran

Kenapa perang Iran dianggap sebagai ujian bagi BRICS?
Menurut analisis Al Jazeera, perang tersebut memperlihatkan kesulitan BRICS menghasilkan posisi politik bersama ketika kepentingan anggotanya saling bertabrakan, terutama antara Iran dan negara lain seperti Uni Emirat Arab.
Apakah BRICS mengecam Amerika Serikat dan Israel dalam deklarasi KTT 2026?
Menurut sumber Al Jazeera, deklarasi KTT New Delhi tidak secara langsung membahas perang Iran maupun mengeluarkan kecaman tegas terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Apakah BRICS merupakan blok anti-Amerika?
Tidak sesederhana itu. Sejumlah anggota seperti India, Brasil, dan Indonesia melihat BRICS sebagai sarana memperluas pilihan strategis dan ekonomi, bukan sebagai aliansi yang harus selalu berhadapan dengan Amerika Serikat.
Kenapa ekspansi BRICS membuat konsensus lebih sulit?
Setiap anggota baru memperbesar kekuatan ekonomi dan representasi BRICS, tetapi juga membawa kepentingan nasional, rivalitas regional, dan hubungan luar negeri yang berbeda.
Apa yang dimaksud polycentric trap?
Dalam analisis sumber, istilah tersebut menggambarkan keadaan ketika keberagaman pusat kekuatan di dalam BRICS menjadi kekuatan sekaligus hambatan: semakin banyak kepentingan terwakili, semakin sulit menghasilkan satu posisi geopolitik.
Kalau bukan aliansi geopolitik, apa kekuatan utama BRICS?
BRICS berpotensi berpengaruh melalui reformasi lembaga internasional, penguatan perdagangan Selatan-Selatan, pembiayaan pembangunan, pembayaran dalam mata uang lokal, serta pengurangan ketergantungan terhadap infrastruktur keuangan Barat.
Sumber: Al Jazeera, analisis mengenai dampak perang Iran terhadap kohesi politik BRICS, Oktober 2026.

Catatan editorial: Materi sumber merupakan tulisan analisis/opini, bukan laporan berita murni. Penilaian mengenai peran Amerika Serikat, batas geopolitik BRICS, dan konsep “polycentric trap” merupakan framing serta argumentasi penulis Al Jazeera dan tidak diposisikan dalam artikel ini sebagai fakta yang tidak diperdebatkan.

Catatan: Artikel ini mempertahankan data dan pokok argumentasi dari sumber, tetapi menggunakan bahasa yang lebih netral untuk membedakan fakta mengenai posisi negara-negara BRICS dari interpretasi geopolitik penulis sumber.