Receh.in — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) mungkin lebih mudah dikenali lewat nama produknya: Gojek, GoFood, GoPay, hingga Tokopedia. Namun struktur bisnis GoTo saat ini sudah berbeda cukup jauh dibandingkan ketika perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2022.
Tokopedia tidak lagi dikonsolidasikan sebagai anak perusahaan seperti sebelumnya. Setelah transaksi dengan TikTok pada awal 2024, bisnis e-commerce Tokopedia berada dalam entitas yang dikendalikan TikTok, sementara GoTo tetap memperoleh manfaat ekonomi melalui kepemilikannya, biaya layanan e-commerce, serta hubungan ekosistem dengan Gojek dan GoPay.
Pada saat yang sama, perhatian investor mulai bergeser dari cerita pertumbuhan menuju pertanyaan yang lebih sederhana: bisakah GoTo menghasilkan laba secara konsisten?
Jawabannya mulai terlihat pada 2026. GoTo membukukan laba bersih pada kuartal I dan kembali mencetak laba pada kuartal II, sehingga untuk pertama kalinya perusahaan mencatat dua kuartal laba berturut-turut.
Profil Singkat GOTO
| Nama perusahaan | PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. |
| Kode saham | GOTO |
| Bursa | Bursa Efek Indonesia |
| Tanggal IPO | 11 April 2022 |
| Harga IPO | Rp338 per saham |
| Dana IPO dan greenshoe | Sekitar Rp15,8 triliun |
| Bisnis utama saat ini | On-demand services dan financial technology |
| Produk utama | Gojek, GoFood, GoRide, GoCar, GoSend, GoPay dan layanan keuangan |
| Hubungan dengan Tokopedia | Entitas asosiasi/mitra strategis setelah transaksi dengan TikTok |
| Direktur Utama | Hans Patuwo |
| Komisaris Utama | Agus D.W. Martowardojo |
Sejarah GOTO: Berawal dari Gojek dan Tokopedia
GoTo lahir dari penggabungan dua perusahaan teknologi Indonesia: Gojek dan Tokopedia.
Gojek sendiri mulai beroperasi pada 2010. Model bisnis awalnya jauh lebih sederhana dibandingkan sekarang: menghubungkan pengguna dengan pengemudi ojek melalui call center.
Pada 2015, Gojek meluncurkan aplikasi dengan tiga layanan utama, yakni GoRide, GoSend, dan GoFood. Setahun kemudian perusahaan meluncurkan GoPay dan GoCar.
Tokopedia memiliki sejarah berbeda. Marketplace ini berdiri pada 2009 sebagai platform perdagangan berbasis web, kemudian berkembang menjadi salah satu marketplace terbesar di Indonesia.
Pada 17 Mei 2021, Gojek dan Tokopedia resmi mengumumkan pembentukan Grup GoTo.
Kombinasi tersebut saat itu menciptakan ekosistem yang mencakup layanan transportasi, pesan-antar makanan, logistik, e-commerce, pembayaran, dan layanan keuangan.
GOTO IPO di Harga Rp338
Kurang dari setahun setelah pembentukan Grup GoTo, perusahaan melaksanakan penawaran umum perdana saham.
GOTO resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 11 April 2022 dengan harga penawaran Rp338 per saham.
GoTo menawarkan sekitar 46,7 miliar saham Seri A dalam proses IPO dan skema penjatahan lebih.
Total dana yang dihimpun mencapai sekitar Rp15,8 triliun, terdiri atas sekitar Rp13,7 triliun dari IPO dan Rp2,1 triliun dari penjualan saham treasury melalui skema greenshoe.
Pada harga IPO tersebut, kapitalisasi pasar GoTo diperkirakan mencapai Rp400,3 triliun.
Sekitar 300.000 investor berpartisipasi dalam IPO GOTO, menjadikannya salah satu penawaran saham perdana dengan jumlah investor terbesar di BEI pada saat itu.
Apa Sebenarnya Bisnis GOTO Sekarang?
Untuk memahami GoTo hari ini, investor perlu memisahkan perusahaan ini dari gambaran GoTo ketika IPO.
Saat IPO, GoTo mempunyai tiga pilar besar: on-demand services melalui Gojek, financial technology melalui GoTo Financial, dan e-commerce melalui Tokopedia.
Setelah restrukturisasi Tokopedia pada 2024, dua mesin bisnis yang kini paling penting secara langsung bagi laporan keuangan GoTo adalah:
| Segmen | Bisnis | Contoh Produk |
|---|---|---|
| On-Demand Services | Mobilitas dan delivery | GoRide, GoCar, GoFood, GoSend |
| Financial Technology | Pembayaran dan layanan keuangan | GoPay, GoPay Later dan pembiayaan |
| Ekosistem e-commerce | Kemitraan dengan Tokopedia | Service fee dan integrasi Gojek-GoPay |
Tokopedia Sekarang Milik Siapa?
Ini salah satu bagian yang sering membingungkan ketika membahas GOTO.
Pada Januari 2024, bisnis Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia digabungkan di bawah PT Tokopedia.
TikTok menjadi pemegang saham pengendali entitas tersebut. TikTok juga berkomitmen menginvestasikan lebih dari US$1,5 miliar secara bertahap ke perusahaan gabungan tanpa dilusi tambahan terhadap GoTo.
Sejak 1 Februari 2024, Tokopedia tidak lagi dikonsolidasikan penuh ke laporan keuangan Grup GoTo dan diklasifikasikan sebagai entitas asosiasi.
Namun hubungan GoTo dengan Tokopedia belum putus.
GoTo tetap memperoleh pendapatan berupa e-commerce service fee yang nilainya mengikuti skala dan pertumbuhan bisnis Tokopedia. Pada 2025, pendapatan biaya layanan e-commerce tersebut mencapai sekitar Rp820 miliar.
Ekosistemnya juga masih saling terhubung melalui penggunaan GoPay dan layanan Gojek.
GoPay Makin Penting bagi GOTO
Perubahan paling menarik dalam struktur laba GoTo terjadi pada bisnis financial technology.
Pada kuartal II-2026, pendapatan bersih segmen fintech mencapai Rp2,07 triliun, naik 53% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
EBITDA yang disesuaikan segmen ini mencapai Rp481 miliar, melonjak dari Rp88 miliar setahun sebelumnya.
Bahkan untuk pertama kalinya, EBITDA fintech pada kuartal II-2026 lebih besar daripada bisnis on-demand services.
| Fintech GoTo Q2 2026 | Nilai | YoY |
|---|---|---|
| Core GTV | Rp157,3 triliun | +91% |
| GTV | Rp265,4 triliun | +81% |
| Net revenue | Rp2,07 triliun | +53% |
| Adjusted EBITDA | Rp481 miliar | +447% |
| Outstanding principal pinjaman | Rp11,03 triliun | +58% |
| Monthly transacting users | 28,8 juta | +29% |
Angka pinjaman yang tumbuh 58% juga memperlihatkan bahwa GoTo tidak lagi hanya menjual jasa pembayaran. Bisnis kredit mulai menjadi bagian penting dari monetisasi ekosistemnya.
Namun pertumbuhan kredit juga membawa risiko berbeda: kualitas aset, tingkat gagal bayar, biaya pencadangan, dan manajemen risiko akan semakin penting untuk diperhatikan investor.
Gojek Masih Jadi Mesin Pendapatan Terbesar
Meski fintech tumbuh jauh lebih cepat, bisnis on-demand Gojek masih menghasilkan pendapatan bersih yang lebih besar.
Pada kuartal II-2026, pendapatan bersih on-demand services mencapai Rp3,59 triliun, tumbuh 20% secara tahunan.
EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp464 miliar.
| On-Demand Services Q2 2026 | Nilai | YoY |
|---|---|---|
| GTV | Rp16,69 triliun | +2% |
| Net revenue | Rp3,59 triliun | +20% |
| Adjusted EBITDA | Rp464 miliar | +41% |
| Mobility GTV | Rp5,85 triliun | -3% |
| Delivery GTV | Rp10,84 triliun | +5% |
Data tersebut memperlihatkan sesuatu yang penting: pertumbuhan pendapatan GoTo sekarang tidak semata-mata bergantung pada pertumbuhan nilai transaksi.
GTV on-demand hanya tumbuh sekitar 2%, tetapi pendapatan bersih naik 20%. Artinya, kemampuan perusahaan memonetisasi transaksi dan meningkatkan efisiensi menjadi semakin penting dibandingkan sekadar mengejar volume.
GOTO Mulai Mencetak Laba
Selama bertahun-tahun, salah satu kritik terbesar terhadap perusahaan teknologi seperti GoTo adalah besarnya kerugian yang harus ditanggung untuk mengejar pertumbuhan.
Pola tersebut mulai berubah.
Pada kuartal I-2026, GoTo mencatat laba bersih sekitar Rp171 miliar. Pada kuartal II-2026, laba bersih meningkat menjadi Rp252 miliar.
Secara kumulatif selama semester I-2026, laba periode berjalan mencapai sekitar Rp423 miliar, berbalik dari rugi Rp742 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
| Kinerja Grup H1 2026 | H1 2026 | H1 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Core GTV | Rp302,0 triliun | Rp173,0 triliun | +75% |
| GTV | Rp507,7 triliun | Rp297,4 triliun | +71% |
| Net revenue | Rp10,99 triliun | Rp8,56 triliun | +28% |
| Adjusted EBITDA | Rp1,92 triliun | Rp820 miliar | +134% |
| Laba/(rugi) periode berjalan | Rp423 miliar | Rugi Rp742 miliar | Berbalik laba |
Perbaikan ini melanjutkan tren 2025, ketika GoTo membukukan adjusted EBITDA sekitar Rp2 triliun untuk setahun penuh dan menghasilkan adjusted free cash flow sekitar Rp966 miliar.
Untuk 2026, manajemen sebelumnya memberikan panduan adjusted EBITDA Grup Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Perlu dicatat, adjusted EBITDA bukan ukuran laba bersih berdasarkan PSAK. GoTo mengeluarkan sejumlah komponen seperti depresiasi, amortisasi, kompensasi berbasis saham, perubahan nilai wajar, serta beberapa item lain dalam perhitungannya.
Siapa Pemilik Saham GOTO?
Struktur kepemilikan GOTO berbeda dari banyak emiten Indonesia yang mempunyai satu keluarga atau grup bisnis dengan kepemilikan mayoritas.
Kepemilikannya tersebar di antara investor institusi global, investor strategis, pendiri, karyawan, dan publik.
Berdasarkan laporan pemegang saham Juni 2026, dua pemegang saham yang memiliki lebih dari 5% adalah:
| Pemegang Saham | Kepemilikan |
|---|---|
| SVF GT Subco (Singapore) Pte. Ltd. | 7,65% |
| Taobao China Holding Limited | 7,43% |
SVF GT Subco merupakan entitas investasi yang terkait dengan SoftBank Vision Fund, sedangkan Taobao China Holding merupakan bagian dari ekosistem Alibaba.
Pemegang saham lain yang pernah tercatat dengan porsi material antara lain Tencent Mobility, Google Asia Pacific, Peak XV Partners, Telkomsel, Astra International, Provident Capital Indonesia, serta William Tanuwijaya.
Data September 2026 juga menunjukkan Morgan Stanley and Co International PLC telah muncul dengan kepemilikan di atas 5%. Karena kepemilikan kustodian dan investor institusi dapat berubah dari bulan ke bulan, investor sebaiknya merujuk laporan registrasi pemegang efek terbaru ketika membutuhkan posisi kepemilikan terkini.
Struktur GOTO juga mempunyai saham Seri B dengan hak suara multipel. Karena itu, persentase kepemilikan saham tidak selalu identik dengan persentase hak suara.
Siapa yang Mengendalikan GOTO?
GoTo bukan emiten dengan struktur sederhana di mana satu pemegang saham memiliki lebih dari separuh saham.
Dalam struktur sahamnya terdapat mekanisme multiple voting shares atau saham dengan hak suara multipel.
Per Juni 2026, laporan registrasi mencatat rasio hak suara Seri B terhadap saham biasa Seri A sebesar 30:1.
Karena itulah investor perlu membedakan antara persentase kepemilikan ekonomi dan kekuatan voting ketika membaca struktur GOTO.
Hal ini penting terutama dalam keputusan strategis dan RUPS.
Manajemen GOTO Terbaru
Setelah RUPSLB 14 Oktober 2026, susunan manajemen GoTo mengalami perubahan menyusul pengunduran diri Catherine Hindra Sutjahyo dari posisi Wakil Direktur Utama.
| Jabatan | Nama |
|---|---|
| Komisaris Utama | Agus D.W. Martowardojo |
| Komisaris Independen | John A. Prasetio |
| Komisaris Independen | Dirk Van den Berghe |
| Komisaris Independen | Marjorie Tiu Lao |
| Komisaris | Wishnutama Kusubandio |
| Komisaris | Andre Soelistyo |
| Komisaris | Santoso Kartono |
| Direktur Utama | Hans Patuwo |
| Direktur | Simon Tak Leung Ho |
| Direktur | Monica Lynn Mulyanto |
| Direktur | R.A. Koesoemohadiani |
| Direktur | Wuzhen (William) Xiong |
| Direktur | Sudhanshu Raheja |
GOTO Hapus 32 Miliar Saham Treasury
Perubahan penting lain terjadi pada Oktober 2026.
RUPSLB GoTo menyetujui pembatalan sekitar 32 miliar saham treasury, setara sekitar 2,7% dari saham beredar sebelum pembatalan.
Saham treasury adalah saham perusahaan sendiri yang sebelumnya dibeli kembali dan disimpan oleh perseroan.
Ketika saham tersebut dibatalkan secara permanen, jumlah saham beredar berkurang.
Secara matematis, pemegang saham yang tidak menjual sahamnya memperoleh persentase kepemilikan yang sedikit lebih besar setelah jumlah saham beredar berkurang.
Efek yang sama berlaku terhadap laba per saham atau EPS: dengan laba yang sama, EPS akan sedikit lebih tinggi karena pembaginya lebih kecil.
Namun pembatalan 2,7% saham tidak dengan sendirinya meningkatkan laba operasional GoTo. Nilai ekonominya tetap bergantung pada kemampuan perusahaan meningkatkan pendapatan, arus kas, dan laba.
Dari Growth Story Menuju Profit Story
Perjalanan GOTO di Bursa dapat dibagi menjadi dua fase.
Pada masa awal, cerita utama perusahaan adalah pertumbuhan: jumlah pengguna, merchant, mitra pengemudi, GTV, serta luasnya ekosistem Gojek-Tokopedia.
Setelah bertahun-tahun mencatat kerugian besar, pasar kemudian mulai menuntut profitabilitas.
Restrukturisasi Tokopedia, pengurangan insentif, peningkatan monetisasi, perkembangan GoPay, dan disiplin biaya mengubah arah tersebut.
Sekarang pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa besar transaksi yang lewat di ekosistem GoTo, tetapi berapa banyak transaksi tersebut yang akhirnya berubah menjadi laba dan arus kas bagi pemegang saham.
Risiko Saham GOTO
Meski kinerja telah membaik, saham GOTO tetap mempunyai sejumlah risiko yang perlu diperhatikan.
Pertama, persaingan. Gojek menghadapi Grab dan pemain transportasi serta delivery lainnya, sementara GoPay bersaing dengan bank digital, dompet elektronik, dan fintech besar.
Kedua, kredit. Semakin besar portofolio pinjaman GoTo, semakin penting kualitas kredit, biaya dana, dan pencadangan kerugian.
Ketiga, monetisasi. Pertumbuhan GTV yang tinggi belum tentu menghasilkan pertumbuhan laba dengan kecepatan yang sama.
Keempat, Tokopedia. GoTo tidak lagi mengendalikan langsung bisnis e-commerce tersebut. Nilai ekonomi yang diperoleh GoTo kini lebih banyak bergantung pada kepemilikan asosiasi, service fee, dan sinergi ekosistem.
Kelima, jumlah saham yang sangat besar. Meski treasury shares mulai dikurangi, GOTO masih mempunyai jumlah saham beredar yang sangat besar. Ini membuat pertumbuhan laba per saham memerlukan peningkatan laba absolut yang berarti.
Keenam, struktur hak suara. Saham dengan hak suara multipel membuat kekuatan ekonomi dan hak suara tidak selalu sejalan.
Apa yang Perlu Dipantau dari GOTO?
Untuk membaca GOTO ke depan, investor setidaknya perlu mengamati lima indikator utama.
Pertama adalah pertumbuhan net revenue, bukan hanya GTV. Kedua, adjusted EBITDA dan laba bersih. Ketiga, arus kas bebas. Keempat, pertumbuhan fintech termasuk outstanding loan dan kualitas kredit. Kelima, monetisasi ekosistem Tokopedia melalui service fee serta integrasi GoPay dan Gojek.
Laporan berikutnya akan menjadi penting karena GoTo dijadwalkan mengumumkan kinerja kuartal III-2026 pada 29 Oktober 2026.
Setelah dua kuartal berturut-turut mencatat laba bersih, angka kuartal III akan menunjukkan apakah profitabilitas tersebut mulai menjadi pola yang berkelanjutan atau masih sangat dipengaruhi kondisi kuartalan.
Catatan laporan keuangan: Data keuangan terbaru yang digunakan adalah periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026. GoTo menjadwalkan publikasi kinerja kuartal III-2026 pada 29 Oktober 2026.
Catatan Tokopedia: Sejak 1 Februari 2024, Tokopedia diklasifikasikan sebagai entitas asosiasi GoTo setelah transaksi kombinasi dengan TikTok. Karena itu, pendapatan marketplace Tokopedia tidak lagi dikonsolidasikan seperti sebelum transaksi.
Catatan EBITDA: Adjusted EBITDA merupakan ukuran non-PSAK yang digunakan manajemen dan tidak sama dengan laba bersih.
Catatan kepemilikan: Struktur pemegang saham dapat berubah setiap bulan. Data kepemilikan dalam artikel merujuk laporan perusahaan/KSEI yang tersedia hingga 2026.
Disclaimer: Artikel ini dibuat untuk tujuan informasi dan edukasi. Bukan rekomendasi membeli, menjual, atau mempertahankan saham GOTO.

0 Komentar