Receh.in — Dibandingkan beberapa reksa dana saham yang sudah kita bedah sebelumnya, Manulife Dana Saham Kelas A masih terlihat besar. Dana kelolaannya pada Oktober 2026 masih sekitar Rp1,81 triliun, jauh dari level belasan miliar seperti Avrist Ada Saham Blue Safir.
Tetapi jika melihat ke belakang, gambarnya berubah.
Pada Desember 2021, total Nilai Aktiva Bersih Manulife Dana Saham pernah mencapai sekitar Rp9,32 triliun. Dalam kurang dari lima tahun, ukurannya menyusut sekitar Rp7,5 triliun atau lebih dari 80%.
Kinerja investasinya memang tidak selalu seburuk reksa dana saham lain. Bahkan sepanjang kejatuhan pasar 2026, Manulife Dana Saham justru mampu menahan penurunan lebih baik daripada IHSG. Namun ketika horizon diperpanjang menjadi tiga, lima, dan 10 tahun, gambarnya tetap sulit disebut menggembirakan.
Ini yang membuat produk tersebut menarik untuk dibedah: tidak hancur seburuk sebagian pesaing, tetapi juga belum memberikan alasan kuat bagi investor lama untuk merasa puas.
Dari Rp9,32 Triliun Menjadi Rp1,81 Triliun
Manulife Dana Saham merupakan salah satu produk reksa dana saham lama di Indonesia. Produk ini memperoleh pernyataan efektif pada 16 Juli 2003 dan diluncurkan pada 1 Agustus 2003.
Tujuan investasinya adalah memperoleh peningkatan investasi yang tinggi dalam jangka panjang. Sebanyak 80%-100% portofolio dapat ditempatkan pada saham, sementara maksimal 20% dapat dialokasikan ke obligasi maupun instrumen pasar uang.
| Profil | Manulife Dana Saham Kelas A |
|---|---|
| Jenis | Reksa Dana Saham |
| Manajer Investasi | PT Manulife Aset Manajemen Indonesia |
| Tanggal efektif | 16 Juli 2003 |
| Tanggal peluncuran | 1 Agustus 2003 |
| AUM Desember 2021 | Rp9,32 triliun |
| AUM Oktober 2026 | sekitar Rp1,81 triliun |
| Penyusutan dari Desember 2021 | sekitar 80,6% |
| Minimum pembelian | Rp10.000 |
| Bank kustodian | Citibank N.A. |
| Expense ratio di Bibit | 3,47% |
| Benchmark resmi historis | LQ45 sejak 1 Desember 2017 |
Penyusutan AUM tersebut tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai redemption Rp7,5 triliun. Dana kelolaan berubah karena kombinasi naik-turunnya harga aset dan perubahan jumlah unit penyertaan.
Tetapi ada petunjuk bahwa arus investor ikut berperan besar.
Pada akhir Oktober 2021, AUM kelas A masih sekitar Rp4,34 triliun. Sebulan kemudian melonjak menjadi Rp5,96 triliun, dan fund fact sheet Desember mencatat total NAB produk mencapai Rp9,32 triliun.
Pada April 2022, hanya empat bulan kemudian, dana kelolaannya sudah turun menjadi sekitar Rp5,73 triliun.
Perubahan tersebut terlalu besar untuk dijelaskan oleh pergerakan NAB saja. Jumlah unit yang masuk dan keluar jelas mempunyai pengaruh penting terhadap perubahan ukuran produk.
Kinerjanya Merah, tetapi 2026 Justru Lebih Baik dari IHSG
Snapshot Bibit Oktober 2026 menunjukkan kinerja berikut:
| Periode | Manulife Dana Saham |
|---|---|
| 1 bulan | -11,79% |
| 3 bulan | -11,97% |
| YTD 2026 | -21,11% |
| 1 tahun | -19,90% |
| 3 tahun | -27,21% |
| 5 tahun | -38,78% |
| 10 tahun | -39,55% |
| Drawdown 1 tahun | -31,54% |
Kalau hanya melihat angka tersebut, kesimpulannya mudah: buruk.
Tapi perbandingan dengan pasar menghasilkan cerita yang lebih menarik.
IHSG ditutup di 5.328,36 pada 21 Oktober 2026. Pada akhir 2025, indeks masih berada sekitar 8.647. Itu berarti IHSG telah kehilangan lebih dari 38% sepanjang 2026.
Sementara Manulife Dana Saham dalam snapshot yang sama turun sekitar 21,11% YTD.
Jadi dalam crash 2026, produk ini justru mengalahkan IHSG dengan selisih sekitar 17 poin persentase. Manajer investasi berhasil menahan sebagian kerusakan yang terjadi pada indeks secara keseluruhan.
Tetapi ketika periodenya diperpanjang, keunggulan tersebut menghilang.
| Horizon | Manulife Dana Saham | IHSG (perkiraan periode sebanding) | Gambaran |
|---|---|---|---|
| 3 tahun | -27,21% | sekitar -22% | MDS tertinggal |
| 5 tahun | -38,78% | sekitar -19,7% | MDS tertinggal jauh |
| 10 tahun | -39,55% | sekitar -1% hingga -2% | MDS tertinggal sangat jauh |
Perbandingan IHSG menggunakan level indeks sekitar tanggal yang berdekatan dengan periode rolling produk. IHSG bukan benchmark resmi Manulife Dana Saham sejak Desember 2017; benchmark resmi produk adalah LQ45. Perbandingan ini digunakan untuk memberikan konteks pasar secara umum.
Pada 21 Oktober 2021, IHSG berada di 6.632,97. Lima tahun kemudian indeks berada di 5.328,36, atau turun sekitar 19,7%.
Dalam horizon yang kurang lebih sama, Manulife Dana Saham turun sekitar 38,78%. Dengan kata lain, kerugian produk hampir dua kali lebih dalam dibandingkan penurunan IHSG.
Untuk 10 tahun, perbedaannya bahkan lebih mencolok. IHSG pada Oktober 2016 berada sekitar 5.404. Pada Oktober 2026 indeks sekitar 5.328—nyaris kembali ke titik yang sama.
Manulife Dana Saham, sementara itu, mencatat return sekitar -39,55% pada snapshot 10 tahunnya.
Jadi problem produk ini bukan bahwa ia selalu lebih buruk dari pasar. Pada 2026 justru sebaliknya. Problemnya adalah hasil kumulatif jangka panjang belum memberi kompensasi yang memadai atas risiko yang ditanggung investor.
2018 Memang Menjadi Titik Balik, tetapi Puncaknya Sedikit Lebih Awal
Ada pola menarik yang kita temukan ketika membandingkan beberapa reksa dana saham lama: grafik NAB mereka sering terlihat mencapai masa terbaik sekitar 2017-2018, kemudian kesulitan mencetak puncak baru secara konsisten.
Manulife Dana Saham cocok dengan pola tersebut, meskipun secara data akhir tahun puncaknya justru sedikit lebih awal.
| Tahun | NAB Akhir Tahun | Return Tahunan | IHSG |
|---|---|---|---|
| 2014 | Rp12.087 | +16,18% | +5,87% |
| 2015 | Rp10.322 | -14,60% | -12,10% |
| 2016 | Rp11.433 | +10,76% | +15,32% |
| 2017 | Rp13.188 | +15,35% | +19,99% |
| 2018 | Rp11.835 | -10,26% | -2,54% |
| 2019 | Rp11.573 | -2,21% | +1,70% |
| 2020 | Rp11.119 | -3,92% | -5,09% |
| 2021 | Rp11.425 | +2,75% | sekitar +10% |
| 2022 | Rp10.432 | -8,69% | sekitar +4% |
Jadi, setidaknya menggunakan NAB akhir tahun, 2018 bukan puncak Manulife Dana Saham. Puncaknya berada pada 2017 dengan NAB sekitar Rp13.188, sedangkan 2018 merupakan tahun ketika tren mulai berbalik tajam.
Itu justru membuat 2018 lebih menarik sebagai regime change.
Pada 2018 IHSG hanya turun sekitar 2,5%, tetapi LQ45—yang menjadi benchmark resmi Manulife Dana Saham sejak Desember 2017—turun sekitar 9%. Manulife Dana Saham turun 10,26%.
Dalam konteks tersebut, penurunan produk cukup inline dengan benchmark saham-saham besar yang menjadi medan permainannya.
Masalahnya muncul setelah itu. IHSG mampu naik pada 2019, 2021, dan 2022. Manulife Dana Saham tidak selalu ikut menikmati kenaikan dalam skala yang sama.
Pada 2021 misalnya, fund fact sheet mencatat Manulife Dana Saham hanya naik 2,75%. IHSG naik sekitar 10%, meskipun LQ45 justru sedikit negatif. Artinya produk masih mengungguli benchmark resminya, tetapi tertinggal jauh dari pasar luas.
Ini menjelaskan mengapa membaca reksa dana hanya berdasarkan IHSG juga bisa menyesatkan. Portofolio sebuah dana saham aktif dapat mempunyai karakter jauh lebih dekat dengan LQ45, IDX30, atau kelompok saham tertentu daripada seluruh IHSG.
Portofolio Besar dan Expense Ratio yang Masih Relatif Masuk Akal
Portofolio terbaru yang ditampilkan Bibit menunjukkan sekitar 91,44% aset ditempatkan pada saham, sementara 8,56% berada pada pasar uang.
Sepuluh efek terbesar per Agustus 2026 meliputi:
| Kode | Emiten |
|---|---|
| BBCA | Bank Central Asia |
| BBRI | Bank Rakyat Indonesia |
| ASII | Astra International |
| BMRI | Bank Mandiri |
| TLKM | Telkom Indonesia |
| BBTN | Bank Tabungan Negara |
| INDF | Indofood Sukses Makmur |
| BBNI | Bank Negara Indonesia |
| ANTM | Aneka Tambang |
| TINS | Timah |
Daftar tersebut menunjukkan portofolio yang cukup konvensional untuk reksa dana saham institusional: bank besar, Telkom, Astra, konsumsi, serta komoditas.
Artinya, kelemahan jangka panjang produk ini tidak dapat dijelaskan dengan sederhana sebagai akibat mengejar saham-saham lapis ketiga atau saham sangat tidak likuid.
Expense ratio yang ditampilkan Bibit sebesar 3,47%. Angka ini jelas bukan murah jika dibandingkan dengan produk indeks pasif, tetapi relatif lebih moderat dibandingkan beberapa reksa dana saham aktif yang sebelumnya kita bedah—misalnya Batavia Dana Saham sekitar 4,9%, BNP Paribas Solaris hampir 5%, atau Avrist Blue Safir yang jauh lebih tinggi.
Prospektus Manulife menetapkan biaya manajemen maksimum 2,5% per tahun dan biaya kustodian maksimum 0,25% per tahun. Expense ratio yang tampil pada platform tidak sama dengan management fee karena memasukkan beban operasional lain yang tercermin dalam NAB.
Dalam kasus Manulife Dana Saham, masalah terbesar karena itu tampaknya bukan biaya yang luar biasa mahal.
Pertanyaannya justru lebih mendasar: apakah strategi aktifnya mampu menghasilkan nilai tambah yang cukup besar setelah biaya dalam jangka panjang?
Data AUM historis: Fund fact sheet Desember 2021 mencatat Total Nilai Aktiva Bersih Rp9,320 triliun dengan NAB/unit Rp11.425,04. Snapshot Bibit Oktober 2026 yang digunakan Receh.in menunjukkan AUM Kelas A sekitar Rp1,81 triliun.
Benchmark: Sejak 1 Desember 2017, tolok ukur resmi Manulife Dana Saham adalah Indeks LQ45. Perbandingan dengan IHSG dalam artikel digunakan sebagai konteks kondisi pasar yang lebih luas, bukan sebagai pengganti benchmark resmi produk.
Catatan historis NAV: Data akhir tahun menunjukkan NAB sekitar Rp13.188 pada 2017, Rp11.835 pada 2018, Rp11.573 pada 2019, Rp11.119 pada 2020, Rp11.425 pada 2021, dan Rp10.432 pada 2022. Karena itu, untuk produk ini 2018 lebih tepat dibaca sebagai awal perubahan tren daripada puncak NAB akhir tahun.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan analitis, bukan rekomendasi membeli, menjual, atau mempertahankan Manulife Dana Saham maupun reksa dana lainnya. Kinerja historis tidak menjamin hasil masa depan.

0 Komentar