Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Sulit membicarakan sejarah reksa dana saham Indonesia tanpa menyebut Schroder Dana Prestasi Plus. Produk yang diluncurkan pada September 2000 ini pernah menjadi raksasa: dana kelolaannya mencapai sekitar Rp18,35 triliun pada akhir 2018.

Sekarang ukurannya tinggal sekitar Rp2,28 triliun.

Artinya, dibandingkan puncaknya, sekitar Rp16,07 triliun atau hampir 88% dana kelolaan telah menyusut. Grafik AUM 10 tahun di Bibit memperlihatkan gambaran yang nyaris tanpa perlu banyak penjelasan: setelah mencapai puncak Rp18,35 triliun, garis dana kelolaan bergerak turun dalam tren panjang hingga tersisa sedikit di atas Rp2 triliun pada 2026.

Penurunan sebesar itu tentu tidak bisa dibaca semata-mata sebagai investor menarik uang Rp16 triliun. Nilai AUM bergerak karena dua hal sekaligus: perubahan harga aset di dalam portofolio dan arus masuk-keluar unit penyertaan. Tetapi ketika dana kelolaan menyusut hampir 88% sementara kinerja tiga, lima, hingga 10 tahun juga negatif, sulit mengabaikan bahwa Schroder Dana Prestasi Plus sedang berada dalam periode yang sangat berbeda dibandingkan masa kejayaannya.

Dari Produk Legendaris Menjadi Potret Sulitnya Reksa Dana Saham

Schroder Dana Prestasi Plus efektif pada 12 September 2000 dan mulai ditawarkan pada 25 September 2000. Tujuannya adalah memperoleh pertumbuhan modal jangka panjang dengan menangkap pertumbuhan pasar saham Indonesia.

Kebijakan investasinya sederhana: antara 80% hingga 100% aset ditempatkan pada efek saham, sementara maksimal 20% dapat ditempatkan pada instrumen pasar uang.

Produk ini dikelola PT Schroder Investment Management Indonesia. Sejak 31 Maret 2026, Schroders Indonesia menjadi bagian dari Grup Manulife setelah PT Manulife Aset Manajemen Indonesia menyelesaikan akuisisi perusahaan tersebut.

Profil Schroder Dana Prestasi Plus
Jenis Reksa Dana Saham
Manajer Investasi PT Schroder Investment Management Indonesia
Tanggal efektif 12 September 2000
Tanggal peluncuran 25 September 2000
AUM 20 Oktober 2026 Rp2,28 triliun
NAB/unit Rp26.117,03
AUM tertinggi historis pada grafik Bibit sekitar Rp18,35 triliun
Penurunan AUM dari puncak sekitar 87,6%
Minimum pembelian Rp10.000
Bank kustodian Deutsche Bank AG Cabang Jakarta
Risiko Tinggi

Untuk memberi perspektif betapa besarnya produk ini dahulu, fund fact sheet Januari 2019 masih mencatat dana kelolaan Rp15,83 triliun. Pada September tahun yang sama masih Rp14,54 triliun. Januari 2020 turun menjadi Rp12,81 triliun dan Agustus 2020 menjadi Rp10,78 triliun.

Jadi penyusutan AUM bukan fenomena yang baru muncul akibat crash pasar pada Oktober 2026. Tren itu sudah berlangsung bertahun-tahun.

Kinerja 2026 Mempercepat Tekanan

Pada 20 Oktober 2026, data yang ditampilkan Bibit menunjukkan gambaran yang berat hampir di seluruh horizon investasi.

Periode Return
1 bulan -16,93%
3 bulan -13,30%
YTD 2026 -24,05%
1 tahun -20,80%
3 tahun -23,08%
5 tahun -16,70%
10 tahun -15,84%
Drawdown 1 tahun -34,54%

Angka tersebut mengatakan sesuatu yang lebih serius daripada sekadar satu bulan yang buruk.

Investor yang kebetulan masuk tepat pada awal periode lima tahun yang dihitung Bibit masih mencatat kerugian kumulatif sekitar 16,7%. Bahkan pada horizon 10 tahun, return yang ditampilkan masih minus 15,84%.

Padahal Schroder Dana Prestasi Plus bukan produk eksperimental atau reksa dana kecil. Usianya lebih dari seperempat abad, dikelola salah satu nama terbesar dalam sejarah industri manajemen investasi Indonesia, dan bahkan memperoleh penghargaan kategori reksa dana saham berusia lebih dari 10 tahun dengan AUM di atas Rp1 triliun pada 2025.

Itulah yang membuat ceritanya relevan: masalah yang sedang terjadi pada reksa dana saham Indonesia bukan hanya menyerang produk kecil.

Portofolionya Aktif, Bukan Sekadar Meniru IHSG

Secara historis, Schroder Dana Prestasi Plus dirancang sebagai reksa dana saham aktif yang berfokus pada perusahaan Indonesia dengan kapitalisasi pasar relatif besar dan prospek pertumbuhan jangka panjang.

Data fund fact sheet April 2026 menunjukkan 91,78% aset ditempatkan di saham dan 8,22% pada pasar uang. Sementara data Bibit yang lebih baru menunjukkan eksposur saham bahkan sempat berada di kisaran 95%.

Daftar kepemilikan yang muncul dalam data Bibit pada Agustus 2026 antara lain:

Kode Emiten
ADROAlamtri Resources Indonesia
ARCIArchi Indonesia
ASIIAstra International
BBCABank Central Asia
MYORMayora Indah
MDKAMerdeka Copper Gold
MIKAMitra Keluarga Karyasehat
BTPSBank BTPN Syariah
TLKMTelkom Indonesia
TAPGTriputra Agro Persada

Portofolio itu menunjukkan pendekatan yang cukup berbeda dari reksa dana indeks. Manajer investasi tidak harus mengikuti bobot IHSG dan dapat memilih sektor atau saham yang dianggap mempunyai potensi lebih baik.

Strategi aktif tersebut pernah bekerja sangat baik. Pada fund fact sheet April 2026, misalnya, return sejak peluncuran Schroder Dana Prestasi Plus tercatat sekitar 3.198,6%, jauh di atas benchmark sekitar 1.167,85% pada periode yang sama.

Tetapi keunggulan sejak awal peluncuran tidak berarti setiap generasi investor menikmati hasil yang sama. Mereka yang membeli pada fase ketika harga dan AUM produk sudah tinggi dapat memperoleh pengalaman yang sangat berbeda dibandingkan investor yang masuk pada awal 2000-an.

AUM Turun Bukan Cuma karena Harga Saham Turun

Ini bagian yang penting ketika membaca grafik Rp18,35 triliun menjadi Rp2,28 triliun.

Dana kelolaan reksa dana merupakan hasil perkalian NAB per unit dengan jumlah unit penyertaan yang beredar. Karena itu, AUM dapat turun karena nilai portofolionya merosot, investor melakukan redemption, atau kombinasi keduanya.

Kalau penurunan Rp16 triliun semata-mata datang dari harga saham, NAB produk harus jatuh hampir 88%. Kenyataannya tidak demikian. NAB memang melemah dalam beberapa horizon, tetapi skalanya jauh lebih kecil.

Itu memberi indikasi kuat bahwa penyusutan unit penyertaan—dengan kata lain keluarnya dana investor—ikut berperan besar dalam tren AUM jangka panjang.

Namun tanpa rangkaian data unit penyertaan per bulan, kita tidak bisa secara presisi membagi berapa triliun yang hilang akibat penurunan harga dan berapa triliun akibat redemption. Karena itu, angka Rp16,07 triliun lebih tepat disebut penyusutan AUM, bukan “uang investor yang ditarik keluar”.

Dan Schroder Bukan Kasus Tunggal

Di sinilah cerita Schroder Dana Prestasi Plus menjadi jauh lebih besar daripada satu produk.

Data 46 reksa dana saham yang tersedia di Bibit dan dikumpulkan Receh.in pada Oktober 2026 menunjukkan tekanan yang sangat luas. Seluruh produk dalam sampel tersebut mencatat return satu bulan negatif. Hampir semuanya juga masih negatif sejak awal tahun.

Beberapa contoh cukup ekstrem: BRI Indeks Syariah turun lebih dari 44% YTD, BNI-AM PEFINDO I-Grade sekitar 41%, Eastspring IDX ESG Leaders Plus hampir 40%, dan BRI MSCI Indonesia ESG Screened lebih dari 37%.

Bahkan banyak nama lama dan produk besar berada dalam tekanan: Batavia Dana Saham, Schroder Dana Prestasi, BNP Paribas Ekuitas, Manulife Dana Saham, TRIM Kapital, Bahana Primavera 99, hingga Sucorinvest Equity Fund.

Sampel Bibit tentu tidak mewakili seluruh populasi reksa dana saham Indonesia. Ada produk yang tidak dijual melalui platform tersebut dan masing-masing produk mempunyai tanggal valuasi, strategi, serta umur yang berbeda.

Tetapi arah datanya konsisten dengan perubahan struktural yang lebih luas dalam industri.

Dalam riset Receh.in sebelumnya, dana kelolaan reksa dana saham rupiah telah menyusut dari sekitar Rp131,5 triliun pada Januari 2023 menjadi Rp76,2 triliun pada Juni 2026. Dalam 42 bulan, nilainya berkurang sekitar 42%.

Yang membuat tren ini semakin menarik adalah penurunan tersebut tidak selalu terjadi saat pasar saham sedang buruk. Pada 2025, misalnya, IHSG justru naik tajam sementara unit penyertaan reksa dana saham masih menyusut.

Dengan kata lain, industri menghadapi persoalan yang lebih rumit daripada sekadar IHSG naik atau turun.

Kenapa Investor Meninggalkan Reksa Dana Saham?

Ada beberapa kemungkinan yang saling bertumpuk.

Pertama adalah kinerja. Investor bisa menerima volatilitas jika dalam jangka panjang memperoleh kompensasi return yang memadai. Ketika return tiga, lima atau bahkan 10 tahun sejumlah produk tetap negatif, argumen “investasi saham harus jangka panjang” menjadi lebih sulit dijual.

Kedua, investor sekarang mempunyai lebih banyak alternatif. Saham individual jauh lebih mudah dibeli melalui aplikasi sekuritas dibandingkan satu dekade lalu. ETF bertambah, obligasi ritel pemerintah semakin populer, dan reksa dana pasar uang menawarkan pengalaman yang jauh lebih tenang.

Ketiga adalah biaya. Produk saham aktif harus membuktikan bahwa fee pengelolaannya mampu dibayar oleh alpha yang dihasilkan. Fund fact sheet Schroder Dana Prestasi Plus mencantumkan biaya manajemen maksimum 2,5% per tahun serta biaya kustodian maksimum 0,25% per tahun. Ketika return investor sedang lemah, biaya menjadi lebih terasa.

Keempat, karakter indeks Indonesia sendiri berubah. Saham yang memimpin kenaikan pasar tidak selalu merupakan saham yang selama bertahun-tahun menjadi favorit manajer investasi institusional. Ini dapat menghasilkan situasi ketika indeks terlihat kuat tetapi banyak reksa dana aktif tertinggal.

Tapi Ada Satu Kontradiksi Menarik

Schroder Dana Prestasi Plus menunjukkan kenapa melihat angka 10 tahun saja juga bisa menyesatkan.

Jika seseorang melihat fund fact sheet April 2026, produk ini sebenarnya berhasil mengalahkan benchmark cukup jauh pada sejumlah periode. Return satu tahun saat itu masih 8,56%, ketika benchmark minus 5,54%. Return tiga tahun -5,03%, tetapi benchmark lebih buruk di -21,16%. Lima tahun produk masih +14,21%, sedangkan benchmark -13,11%.

Enam bulan kemudian, setelah pasar mengalami guncangan ekstrem, snapshot Bibit memperlihatkan lima tahun -16,70% dan 10 tahun -15,84%.

Ini bukan berarti salah satu data keliru. Return rolling sangat sensitif terhadap tanggal awal dan akhir pengukuran. Ketika pasar bergerak puluhan persen dalam waktu pendek, angka return lima atau 10 tahun pun dapat berubah tajam karena titik akhirnya bergeser.

Itulah sebabnya penilaian reksa dana sebaiknya tidak berhenti pada satu angka return hari ini. Investor perlu melihat rolling return, konsistensi terhadap benchmark, drawdown, biaya, perubahan AUM, dan—yang sering dilupakan—perubahan jumlah unit penyertaan.

Catatan Recehin
Schroder Dana Prestasi Plus mungkin merupakan ilustrasi paling kuat mengenai perubahan industri reksa dana saham Indonesia. Produk ini pernah mengelola Rp18,35 triliun dan menjadi salah satu kendaraan investasi saham terbesar di negeri ini. Kini AUM-nya tinggal Rp2,28 triliun. Produk ini belum “gagal”—sejak peluncuran return kumulatifnya masih jauh melampaui benchmark dan manajernya pernah mampu menciptakan alpha besar. Tetapi investor generasi terbaru menghadapi cerita berbeda: return 1 bulan, YTD, 1 tahun, 3 tahun, 5 tahun hingga 10 tahun pada snapshot Oktober 2026 semuanya negatif. Ketika pola serupa muncul di banyak produk lain, pertanyaannya tidak lagi hanya “apa yang salah dengan satu reksa dana?”, melainkan apakah model reksa dana saham aktif yang selama dua dekade mendominasi investasi ritel Indonesia sedang kehilangan daya tariknya.
Sumber utama: Bibit, BCA, PT Schroder Investment Management Indonesia, fund fact sheet Schroder Dana Prestasi Plus, dan olahan Receh.in.

Data terkini: Posisi 20 Oktober 2026 menunjukkan AUM sekitar Rp2,282 triliun, NAB Rp26.117,03, return 1 bulan -16,93%, YTD -24,05%, 1 tahun -20,80%, 3 tahun -23,08%, 5 tahun -16,70%, dan 10 tahun -15,84%.

Data historis AUM: Grafik Bibit menunjukkan dana kelolaan pernah mencapai sekitar Rp18,35 triliun. Fund fact sheet historis juga mencatat AUM Rp15,83 triliun pada Januari 2019, Rp14,54 triliun pada September 2019, Rp12,81 triliun pada Januari 2020, dan Rp10,78 triliun pada Agustus 2020.

Catatan AUM: Penurunan dana kelolaan tidak dapat disamakan langsung dengan nilai redemption investor karena AUM dipengaruhi perubahan NAB dan jumlah unit penyertaan. Untuk memisahkan kedua faktor secara presisi diperlukan seri data unit penyertaan.

Catatan industri: Data produk dari Bibit merupakan sampel dan tidak mencakup seluruh reksa dana saham yang beredar di Indonesia. Karena itu, data tersebut digunakan untuk menunjukkan pola pada produk yang tersedia di platform, bukan untuk menghitung kinerja keseluruhan industri.

Perubahan kepemilikan MI: Akuisisi PT Schroder Investment Management Indonesia oleh PT Manulife Aset Manajemen Indonesia selesai pada 31 Maret 2026. Schroders Indonesia tetap beroperasi selama periode integrasi sebagaimana diumumkan perusahaan.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan analitis, bukan rekomendasi membeli, menjual, atau mempertahankan Schroder Dana Prestasi Plus maupun reksa dana lainnya. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil investasi masa depan.