Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Saham PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk. (RANS) belum berhenti turun. Hingga penutupan sesi I perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, saham emiten Raffi Ahmad dan Nagita Slavina itu berada di Rp111, turun 5,13% dari penutupan sehari sebelumnya Rp117.

Harga tersebut sudah 34,7% di bawah harga IPO Rp170 dan sekitar 59,2% lebih rendah dari puncak Rp272 yang sempat dicapai pada 15 Juli 2026, hanya beberapa hari setelah pencatatan perdana.

Dengan sekitar 12,61 miliar saham beredar, kapitalisasi pasar RANS kini tinggal sekitar Rp1,40 triliun.

Pada harga tertingginya Rp272, valuasi pasar perusahaan sempat mencapai sekitar Rp3,43 triliun. Artinya, sekitar Rp2,03 triliun kapitalisasi pasar menguap dari puncaknya.

Perjalanan Saham RANS Harga Vs Rp111
Harga IPO Rp170 -34,7%
Hari pertama perdagangan Rp228 -51,3%
Puncak 15 Juli 2026 Rp272 -59,2%
Penutupan 28 Oktober Rp117 -5,1%
Sesi I 29 Oktober Rp111 —

Pada 28 Oktober RANS sempat menyentuh Rp116 intraday, tetapi ditutup pada Rp117. Data 29 Oktober menggunakan posisi penutupan sesi I dan bukan harga penutupan akhir perdagangan.

Dari ARA Rp228 hingga Tinggal Rp111

Perjalanan saham RANS berlangsung sangat cepat.

Perseroan menawarkan 2,525 miliar saham baru atau sekitar 20,02% modal setelah IPO pada harga Rp170 per saham dan menghimpun dana bruto Rp429,25 miliar.

Saat debut pada 10 Juli, saham langsung melonjak 34,12% ke Rp228 dan menyentuh batas Auto Reject Atas.

Lima hari kemudian RANS mencapai Rp272.

Namun reli tersebut tidak bertahan. Saham mulai mengalami proses penurunan panjang hingga kembali menembus harga IPO dan sekarang bergerak di sekitar Rp110.

Kapitalisasi Pasar Estimasi
Pada harga IPO Rp170 ±Rp2,14 triliun
Pada puncak Rp272 ±Rp3,43 triliun
Pada Rp111 ±Rp1,40 triliun
Penurunan dari puncak ±Rp2,03 triliun

Penurunan harga tersebut juga dibarengi penyusutan sangat besar jumlah pemegang saham.

Pada hari pencatatan, jumlah SID pemegang saham RANS tercatat sekitar 754.691. Pada akhir Agustus tinggal 148.096 dan kembali turun menjadi 126.253 SID pada akhir September.

Secara matematis, jumlah pemegang saham telah menyusut sekitar 83% dibandingkan saat listing.

Menariknya, free float tidak turun dengan skala serupa. Porsi saham publik hanya bergerak dari sekitar 20,02% setelah IPO menjadi sekitar 19,82% pada September.

Artinya, turunnya jumlah SID tidak otomatis berarti seluruh saham publik dibeli kembali oleh pemegang saham pengendali. Lebih mungkin terjadi perpindahan dan konsentrasi saham publik ke jumlah pemegang yang lebih sedikit.

Pendapatan Turun, tapi Laba RANS Justru Naik

Tekanan harga sering dikaitkan dengan kinerja fundamental RANS. Namun angka laporan keuangan menunjukkan cerita yang lebih bernuansa.

Pendapatan semester I/2026 memang turun 13,17% menjadi Rp149 miliar dari Rp171,60 miliar.

Pendapatan hiburan dan lifestyle turun sekitar 10,3% menjadi Rp105,93 miliar. Penjualan produk makanan, minuman dan kecantikan berbasis IP turun lebih dalam sekitar 19,5% menjadi Rp43,07 miliar.

Tetapi laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik induk justru naik 12,48% menjadi Rp25,57 miliar dari Rp22,73 miliar.

Kinerja RANS H1 2025 2026 Perubahan
Pendapatan Rp171,60 miliar Rp149,00 miliar -13,17%
Beban pokok Rp101,79 miliar Rp84,81 miliar -16,68%
Laba kotor Rp69,81 miliar Rp64,18 miliar -8,1%
Beban penjualan Rp11,96 miliar Rp6,06 miliar -49,3%
Laba operasi Rp31,03 miliar Rp33,59 miliar +8,3%
Laba pemilik induk Rp22,73 miliar Rp25,57 miliar +12,48%

Jadi laba naik bukan karena RANS menjual lebih banyak produk atau memperoleh pendapatan lebih besar.

Pendorong utamanya justru efisiensi.

Beban pokok turun lebih cepat daripada pendapatan, sedangkan beban penjualan dipangkas hampir separuh. Beban umum dan administrasi juga turun menjadi sekitar Rp24,52 miliar dari Rp26,81 miliar.

Akibatnya, net profit margin berdasarkan laba pemilik induk meningkat dari sekitar 13,2% menjadi 17,2%.

Masalah bagi investor adalah seberapa jauh pola tersebut bisa dipertahankan.

Efisiensi dapat menjaga laba dalam jangka pendek, tetapi perusahaan pada akhirnya membutuhkan pertumbuhan pendapatan jika ingin memperbesar laba secara berkelanjutan.

Masalah Topline Sudah Ada Sebelum IPO

Penurunan pendapatan semester I juga bukan kejadian satu kali.

Pendapatan RANS pada 2023 tercatat sekitar Rp437,81 miliar. Angka tersebut turun menjadi Rp410,50 miliar pada 2024 dan kembali berkurang menjadi Rp353,38 miliar pada 2025.

Tahun Pendapatan Perubahan
2023 Rp437,81 miliar —
2024 Rp410,50 miliar -6,2%
2025 Rp353,38 miliar -13,9%
H1/2026 Rp149,00 miliar -13,2% YoY

Laba 2025 juga turun cukup tajam menjadi Rp56,69 miliar dari Rp97,07 miliar pada 2024.

Dengan demikian, tantangan fundamental RANS bukan perusahaan sedang merugi. Perseroan masih mencetak laba dan bahkan mampu meningkatkan profit semester pertama melalui efisiensi.

Tantangannya adalah membuktikan kembali narasi pertumbuhan pendapatan yang menjadi salah satu dasar investor memberikan valuasi tinggi ketika IPO.

Dana IPO sendiri dirancang untuk mendukung ekspansi baru. Sekitar Rp161,5 miliar dialokasikan untuk konser, Rp85 miliar untuk mengakuisisi 51% Rans Kosmetika Indonesia, Rp80 miliar untuk Cipungland, Rp35 miliar untuk bisnis AI, serta sebagian lainnya untuk pelunasan kredit dan modal kerja.

Jika proyek-proyek tersebut berhasil menghasilkan pendapatan tambahan, tren topline dapat berubah. Tetapi dampaknya belum sepenuhnya terlihat dalam laporan semester I karena IPO baru berlangsung pada Juli.

Benarkah Trimegah yang Menekan Saham?

Pergerakan broker juga menjadi perhatian karena PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. (TRIM), dengan kode broker LG, merupakan penjamin emisi tunggal IPO RANS.

Salah satu analisis broker summary yang dipublikasikan Bloomberg mencatat net sell melalui LG mencapai lebih dari Rp204 miliar pada harga rata-rata sekitar Rp225.

Angka tersebut besar. Jika dibagi harga rata-ratanya, nilainya ekuivalen dengan sekitar 907 juta saham.

Namun ada dua hal penting sebelum menyimpulkan Trimegah “membuang saham RANS”.

Pertama, broker summary menunjukkan transaksi yang dieksekusi melalui kode broker LG. Data tersebut tidak menunjukkan apakah penjualnya Trimegah menggunakan proprietary account atau nasabah-nasabah Trimegah.

Karena itu, net sell LG tidak otomatis berarti saham tersebut merupakan saham milik Trimegah.

Kedua, hasil broker summary sangat tergantung periode pengamatan.

Dalam periode yang lebih baru, 28 September sampai 27 Oktober, data yang dikutip IDNFinancials justru menunjukkan LG menjadi net buyer sekitar Rp28 miliar. Pada periode tersebut net seller terbesar adalah Stockbit Sekuritas Digital.

Periode/Data Broker LG / Trimegah
Periode lebih panjang yang dikutip Bloomberg Net sell >Rp204 miliar
28 Sep–27 Okt 2026 Net buy ±Rp28 miliar

Dengan demikian, kurang tepat menyebut aksi jual Trimegah sebagai satu penyebab tunggal penurunan RANS.

Yang dapat dikatakan adalah pernah terdapat tekanan jual besar yang dieksekusi melalui kode LG pada periode tertentu, tetapi arus transaksi broker tersebut sudah berbeda ketika horizon waktunya dipersempit.

Valuasi Turun Banyak, Apakah Sekarang Sudah Murah?

Harga nominal Rp111 tidak otomatis membuat sebuah saham murah.

Saat IPO, Panin Sekuritas memperkirakan PER RANS berada sekitar 28–35 kali, dibandingkan peer yang digunakan dalam analisis tersebut sekitar 18,7 kali. Panin menilai valuasinya premium berdasarkan kinerja historis serta ketergantungan bisnis terhadap talent utama.

Analisis Semesta Indovest memberikan gambaran yang sedikit berbeda.

Semesta menghitung PER RANS sekitar 37,8 kali, tetapi peer yang digunakan dalam kajiannya mencapai sekitar 63,5 kali. Dari sisi PER, RANS dalam perbandingan tersebut justru lebih rendah daripada peer.

Sementara PBV RANS sebesar 6,3 kali sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri 5,8 kali.

Artinya, dua riset tersebut tidak sepenuhnya mengatakan hal yang sama dan tidak tepat digabungkan menjadi satu kesimpulan bahwa semua metode valuasi menyebut RANS mahal.

Setelah harga jatuh ke Rp111, valuasinya tentu telah turun tajam.

Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp1,40 triliun dan laba 2025 Rp56,69 miliar, rasio sederhana market cap terhadap laba historis berada sekitar 24,7 kali.

Jika laba pemilik induk semester I/2026 sebesar Rp25,57 miliar sekadar disetahunkan menjadi sekitar Rp51,1 miliar, rasionya berada di sekitar 27 kali.

Perhitungan kedua hanya ilustrasi karena laba perusahaan tidak harus terbagi rata antara semester pertama dan kedua.

Jadi koreksi harga memang telah memangkas premi valuasi secara signifikan, tetapi pertanyaan “murah atau mahal” tetap tergantung seberapa besar laba RANS mampu tumbuh setelah dana IPO mulai bekerja.

Catatan Recehin
Cerita RANS bukan cuma saham selebritas yang turun dari Rp272 ke Rp111. Ada proses repricing terhadap sebuah perusahaan yang masuk bursa dengan valuasi pertumbuhan, sementara pendapatannya justru telah turun sejak 2024 dan kembali menyusut 13% pada semester I/2026. Di sisi lain, perusahaan belum bisa disebut mengalami kerusakan fundamental total: laba H1 malah naik 12,5% karena efisiensi biaya. Ini membuat titik pembuktiannya menjadi jelas. RANS harus menunjukkan dana IPO Rp429 miliar dapat mengubah ekspansi konser, Cipungland, kosmetik dan AI menjadi pertumbuhan pendapatan baru. Tanpa itu, pemotongan biaya punya batas. Satu hal lain: jangan membaca broker summary secara serampangan. Net sell melalui kode LG bukan bukti Trimegah menjual saham miliknya sendiri, dan dalam periode terbaru kode yang sama bahkan tercatat net buy.
Sumber: PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk.; e-IPO Bursa Efek Indonesia; laporan keuangan semester I/2026; prospektus RANS; data perdagangan BEI; Bloomberg Technoz; IDNFinancials; Panin Sekuritas; Semesta Indovest Sekuritas; serta perhitungan dan olahan Receh.in.

Catatan harga: RANS menyentuh Rp116 pada perdagangan 28 Oktober 2026 tetapi ditutup di Rp117. Pada penutupan sesi I 29 Oktober harga berada di Rp111. Angka 29 Oktober bukan harga penutupan perdagangan sehari penuh.

Catatan kapitalisasi pasar: Perhitungan menggunakan sekitar 12,61 miliar saham setelah IPO. Kapitalisasi pasar berubah mengikuti harga saham.

Catatan broker: Broker summary mencatat transaksi yang dilakukan melalui kode broker. Data tersebut tidak mengungkap identitas beneficial owner dan tidak membuktikan transaksi merupakan posisi proprietary perusahaan sekuritas.

Catatan valuasi: PER sekitar 24,7 kali menggunakan laba historis 2025. PER sekitar 27 kali menggunakan laba H1/2026 yang disetahunkan secara sederhana dan bukan proyeksi laba resmi perusahaan.

Catatan riset IPO: Panin dan Semesta menggunakan metodologi serta kelompok pembanding yang berbeda sehingga hasil penilaian keduanya tidak boleh disamakan secara langsung.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan analitis, bukan rekomendasi membeli, menjual, atau mempertahankan saham RANS. Analisis teknikal dan target harga dari pihak ketiga dapat berubah mengikuti kondisi pasar.