Receh.in — PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) menyiapkan ekspansi bisnis ritel fisik pada 2027 dengan menambah merek baru di kategori kecantikan, olahraga, fashion, dan aksesori. Strategi ini ditempuh ketika bisnis ritel perseroan masih menghadapi penurunan pendapatan, sementara pertumbuhan grup semakin bergantung pada bisnis gaming.
CEO BUKA Retail Aswadi mengatakan perusahaan akan memperluas portofolio merek secara selektif. Bukalapak tidak berniat langsung bersaing dengan merek besar yang sudah mendominasi pasar, melainkan mencari produk dengan segmen konsumen lebih spesifik dan basis pelanggan yang relatif kuat.
Saat ini BUKA Retail mengelola portofolio enam merek. Salah satu ekspansi terbarunya adalah menjadi distributor resmi Legato Largo, merek tas asal Jepang yang membuka gerai pertama di Indonesia pada 3 November 2026.
Ekspansi tersebut memperlihatkan perubahan arah bisnis Bukalapak. Perusahaan yang dahulu identik dengan perdagangan elektronik kini mengembangkan sejumlah lini usaha, mulai dari produk digital gaming, layanan Mitra Bukalapak, investasi, hingga ritel dengan gerai fisik.
Namun strategi ini juga menghadirkan tantangan baru. Bisnis ritel memiliki karakter biaya dan persaingan berbeda dari platform digital, termasuk kebutuhan persediaan barang, sewa lokasi, karyawan toko, serta pengelolaan distribusi.
BUKA Retail Incar Beauty, Sport, Fashion dan Aksesori
Aswadi menjelaskan bahwa penambahan merek akan menjadi bagian dari agenda bisnis BUKA Retail pada 2027. Namun perusahaan belum mengumumkan jumlah merek yang akan ditambahkan maupun nilai investasi yang disiapkan.
Perusahaan masih menyusun anggaran dan proyeksi kinerja tahun depan. Karena itu, rencana ekspansi tersebut belum disertai target pendapatan atau jumlah gerai baru yang definitif.
Kategori yang sedang dipertimbangkan mencakup kecantikan, olahraga, fashion, dan aksesori.
Di antara kategori tersebut, fashion apparel dipandang memiliki tingkat persaingan yang sangat ketat. BUKA Retail karena itu membuka kemungkinan lebih besar untuk mengembangkan produk aksesori atau segmen fashion yang lebih khusus.
Strateginya bukan mengandalkan sebanyak mungkin merek, tetapi mencari produk dengan karakter pelanggan yang jelas.
Pendekatan ini relevan karena persaingan ritel modern tidak hanya terjadi antargerai di pusat perbelanjaan. Perusahaan juga harus bersaing dengan marketplace, social commerce, distributor resmi, dan penjualan langsung dari pemilik merek.
Dalam pasar semacam itu, merek dengan komunitas pelanggan atau kebutuhan spesifik dapat memiliki keunggulan dibandingkan produk yang mudah dibandingkan hanya berdasarkan harga.
Legato Largo Jadi Contoh Ekspansi Merek Niche
Salah satu contoh strategi tersebut terlihat melalui masuknya Legato Largo ke Indonesia.
Merek tas asal Jepang yang berdiri sejak 2004 itu membuka gerai pertamanya di Central Park Mall, Jakarta, pada Selasa (3/11/2026). Gerai tersebut sekaligus menjadi toko fisik pertama Legato Largo di luar Jepang.
Dalam kerja sama itu, BUKA Retail bertindak sebagai distributor resmi untuk pasar Indonesia.
Legato Largo dikenal melalui produk tas yang mengutamakan bobot ringan, kenyamanan, dan fungsi sehari-hari. Produk yang dipasarkan mencakup tas tangan, tas selempang, tote bag, pouch, hingga dompet.
Menurut informasi peluncuran, koleksi Legato Largo di Indonesia ditawarkan dengan harga sekitar Rp699.000 hingga Rp999.000.
Posisi harga tersebut memperlihatkan bahwa BUKA Retail tidak semata-mata membidik pasar produk murah. Perusahaan juga mencoba menjangkau konsumen yang bersedia membayar lebih untuk merek, desain, dan pengalaman berbelanja tertentu.
Legato Largo sebelumnya sudah dikenal sebagian konsumen Indonesia melalui perjalanan ke Jepang dan layanan jasa titip. Dengan membuka toko resmi, perusahaan berupaya mengubah permintaan yang sebelumnya dilayani melalui jalur tersebut menjadi transaksi ritel domestik.
Selain toko fisik, Legato Largo juga menyiapkan kanal website resmi untuk konsumen Indonesia.
Langkah itu memperlihatkan bahwa strategi ritel Bukalapak tidak harus sepenuhnya meninggalkan kanal digital. Toko fisik dapat menjadi tempat konsumen mencoba produk, sedangkan kanal daring membantu memperluas jangkauan penjualan.
Pendapatan Retail BUKA Turun 8% pada 9M26
Di balik rencana ekspansi tersebut, kinerja keuangan menunjukkan bisnis ritel Bukalapak masih membutuhkan perbaikan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per September 2026, pendapatan segmen ritel mencapai Rp208,59 miliar, turun sekitar 8,0% dari Rp226,75 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Penurunan ini berbeda dari kinerja grup secara keseluruhan.
Pendapatan konsolidasian Bukalapak justru tumbuh 19,34% menjadi Rp5,64 triliun, dari Rp4,73 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Namun pertumbuhan tersebut terutama berasal dari bisnis gaming, bukan ritel fisik.
| Segmen Bisnis BUKA | 9M26 | 9M25 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Gaming | Rp4,88 triliun | Rp3,85 triliun | +26,8% |
| Online to Offline | Rp483,56 miliar | Rp605,96 miliar | −20,2% |
| Retail | Rp208,59 miliar | Rp226,75 miliar | −8,0% |
| Investasi | Rp67,24 miliar | Rp42,73 miliar | +57,3% |
| Total pendapatan | Rp5,64 triliun | Rp4,73 triliun | +19,3% |
Sumber: Laporan keuangan konsolidasian BUKA per 30 September 2026. Pertumbuhan dihitung dari angka pendapatan dalam laporan keuangan.
Kontribusi retail terhadap pendapatan grup hanya sekitar 3,7%, sedangkan gaming telah menyumbang sekitar 86,5%.
Artinya, ekspansi merek ritel mungkin memiliki arti strategis dalam diversifikasi bisnis, tetapi kontribusinya terhadap pertumbuhan konsolidasian masih relatif kecil.
Untuk memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja grup, bisnis ritel perlu tumbuh jauh lebih cepat daripada posisinya saat ini.
Margin Retail Besar, tetapi Profitabilitas Masih Tertekan
Ada perbedaan menarik antara ekonomi bisnis retail dan gaming Bukalapak.
Segmen retail mencatat pendapatan Rp208,59 miliar dengan beban pokok pendapatan sekitar Rp123,97 miliar selama sembilan bulan pertama 2026.
Dengan demikian, laba kotornya mencapai sekitar Rp84,62 miliar atau setara margin laba kotor 40,6%.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan margin laba kotor gaming yang sekitar 4%.
Namun, margin kotor tinggi tidak otomatis menghasilkan keuntungan operasional.
Bisnis ritel membutuhkan biaya penjualan, pemasaran, pengelolaan toko, karyawan, distribusi, dan administrasi yang tidak sedikit.
BUKA Retail mencatat adjusted EBITDA negatif sekitar Rp8 miliar pada 9M26, memburuk dari negatif Rp4 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
| Indikator Retail BUKA 9M26 | Nilai |
|---|---|
| Pendapatan | Rp208,59 miliar |
| Beban pokok pendapatan | Rp123,97 miliar |
| Laba kotor | Rp84,62 miliar |
| Margin laba kotor | 40,6% |
| Adjusted EBITDA | Negatif ±Rp8 miliar |
Laba kotor dan margin dihitung dari laporan keuangan 9M26. Adjusted EBITDA merupakan ukuran non-PSAK yang dilaporkan manajemen.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama retail Bukalapak bukan hanya mencari merek yang dapat dijual dengan margin menarik.
Perusahaan juga perlu memastikan volume penjualan cukup besar untuk menutup biaya operasional.
Dalam model ritel fisik, pembukaan toko baru dapat meningkatkan pendapatan, tetapi juga menambah biaya tetap. Jika produktivitas penjualan per toko tidak memenuhi target, ekspansi justru dapat memperbesar kerugian.
Karena itu, keputusan BUKA Retail memilih merek dengan captive market dapat dipahami sebagai upaya mengurangi risiko ekspansi yang terlalu agresif.
BUKA Punya Kas Besar, tetapi Ekspansi Harus Menghasilkan Return
Dari sisi pendanaan, Bukalapak mempunyai posisi likuiditas yang relatif besar.
Per akhir September 2026, perusahaan mencatat kas dan setara kas sekitar Rp15,56 triliun. Jika memasukkan investasi likuid, nilainya mencapai sekitar Rp16,8 triliun.
Likuiditas tersebut memberikan ruang bagi BUKA untuk mengembangkan portofolio, memperluas distribusi, atau menjalin kemitraan dengan pemilik merek.
Namun kemampuan menyediakan modal tidak sama dengan kemampuan menghasilkan keuntungan dari ekspansi.
Setiap merek baru membutuhkan investasi pada persediaan, pemasaran, saluran distribusi, dan kemungkinan pembukaan gerai.
Risikonya juga tidak hanya datang dari persaingan pasar.
BUKA Retail menghadapi tekanan kurs rupiah terhadap dolar AS yang dapat meningkatkan biaya pengadaan produk impor.
Aswadi menyebut perusahaan berusaha menjaga harga jual dengan mengoptimalkan dukungan logistik dari pemilik merek, termasuk konsolidasi pengiriman dan skema pengaturan biaya distribusi.
Strategi tersebut relevan untuk produk seperti Legato Largo yang berasal dari Jepang dan memiliki harga jual dalam rentang tertentu.
Jika biaya impor meningkat tetapi harga jual dipertahankan, perusahaan harus meningkatkan efisiensi agar margin tidak tergerus.
Di sisi lain, laporan keuangan BUKA mencatat rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp885,89 miliar pada 9M26, berbalik dari laba sekitar Rp2,91 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.
Perubahan tersebut terutama dipengaruhi pergerakan nilai investasi, sehingga tidak dapat seluruhnya dikaitkan dengan operasi retail.
Perusahaan juga mulai menunjukkan perbaikan pada tingkat adjusted EBITDA konsolidasian, yang mencapai positif Rp11 miliar pada 9M26. Meski demikian, adjusted EBITDA positif tidak sama dengan laba bersih menurut laporan keuangan.
Bagi investor, perkembangan bisnis ritel pada 2027 perlu dinilai melalui indikator yang lebih konkret: pertumbuhan penjualan per merek, produktivitas toko, margin laba kotor, biaya distribusi, dan kemampuan mencapai EBITDA positif.
Bukalapak sedang melakukan sesuatu yang menarik: perusahaan yang dahulu tumbuh sebagai marketplace kini mulai serius membangun jaringan ritel fisik.
Namun angka keuangannya menunjukkan bahwa keberhasilan strategi tersebut belum terbukti.
Pendapatan retail masih turun 8%. Adjusted EBITDA juga masih negatif.
Sementara itu, bisnis gaming justru tumbuh hampir 27% dan menghasilkan lebih dari 86% pendapatan grup.
Artinya, bisnis yang sedang menjadi fokus ekspansi bukan bisnis yang saat ini menopang pertumbuhan terbesar Bukalapak.
Hal tersebut tidak otomatis menjadi keputusan yang keliru. Diversifikasi memang sering dibangun sebelum lini bisnis baru memberikan kontribusi besar.
Tetapi ekspansi ritel memiliki ekonomi yang berbeda dari platform digital. Ada stok barang, sewa toko, distribusi, dan kebutuhan modal kerja.
BUKA memiliki kas besar untuk mendanainya. Namun justru karena modal tersedia, disiplin memilih merek dan menentukan skala ekspansi menjadi semakin penting.
Enam merek yang ada sekarang dapat menjadi laboratorium untuk menguji strategi tersebut.
Ukuran keberhasilannya bukan berapa banyak merek baru diumumkan pada 2027, melainkan apakah penambahan merek mampu membalikkan penurunan pendapatan retail, meningkatkan penjualan per toko, dan pada akhirnya memperbaiki profitabilitas.
Catatan ekspansi: Rencana penambahan merek retail pada 2027 belum disertai anggaran final, jumlah merek, atau target gerai. Kategori beauty, sport, fashion, dan aksesori merupakan peluang yang sedang dipertimbangkan perusahaan.
Catatan kinerja: Pendapatan retail Rp208,59 miliar merupakan angka segmen dalam laporan keuangan. Penurunan sekitar 8% dihitung dari posisi Rp226,75 miliar pada 9M25. Angka adjusted EBITDA merupakan indikator non-PSAK.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham BUKA. Rencana ekspansi dapat berubah mengikuti keputusan manajemen, kondisi pasar, biaya operasional, dan anggaran perusahaan.

0 Komentar