Receh.in — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) mulai menjajaki pasar baru untuk bisnis listrik panas bumi, yakni pusat data atau data center. Perusahaan menyiapkan proyek percontohan berkapasitas 5 megawatt (MW) di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Jawa Barat, untuk menguji kelayakan pasokan listrik bersih bagi industri digital.
Direktur Utama PGEO Ahmad Yani mengatakan teknologi yang diperlukan untuk proyek tersebut sudah siap. Namun, perusahaan masih harus menyelesaikan kajian komersial dan sejumlah persyaratan regulasi sebelum dapat memasuki tahap pengembangan berikutnya.
PGEO menargetkan penyelesaian kajian dan penyesuaian regulasi sekitar akhir 2026 hingga awal 2027. Sementara itu, pelaksanaan proyek percontohan diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga dua tahun.
Pengembangan tersebut membuka peluang diversifikasi pelanggan bagi PGEO, yang selama ini mengandalkan penjualan uap dan listrik kepada entitas dalam ekosistem PT PLN (Persero). Namun, proyek Kamojang masih berada pada tahap persiapan sehingga belum dapat dihitung sebagai tambahan pendapatan komersial yang sudah pasti.
Kamojang 5 MW Jadi Proyek Percontohan Listrik untuk Data Center
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO Edwil Suzandi menjelaskan perusahaan sedang melakukan pembahasan intensif dengan sejumlah pelaku industri data center yang berpotensi menjadi pembeli listrik atau offtaker.
PGEO memilih Kamojang sebagai lokasi awal karena kawasan tersebut sudah memiliki infrastruktur pembangkit panas bumi yang beroperasi secara komersial.
Berdasarkan profil resmi perusahaan, PLTP Kamojang memiliki lima unit pembangkit dengan kapasitas terpasang mencapai 235 MW. Operasi komersialnya telah dimulai sejak 1983.
Dengan demikian, alokasi 5 MW untuk proyek data center setara sekitar 2,13% dari kapasitas terpasang Kamojang.
| Proyek Data Center PGEO | Keterangan |
|---|---|
| Lokasi | PLTP Kamojang, Jawa Barat |
| Emiten | PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) |
| Kapasitas proyek awal | 5 MW |
| Kapasitas PLTP Kamojang | 235 MW |
| Porsi kapasitas proyek awal | 2,13% |
| Estimasi periode pilot | 1–2 tahun |
| Target penyelesaian kajian | Akhir 2026–awal 2027 |
| Calon pelanggan | Pelaku industri data center, masih dalam pembahasan |
| Status | Tahap pilot dan kajian komersialisasi |
Sumber: Keterangan manajemen PGEO, 4 November 2026, dan profil resmi PLTP Kamojang. Persentase kapasitas merupakan perhitungan Receh.in.
PGEO ingin membuktikan bahwa fasilitas data center dapat beroperasi menggunakan listrik panas bumi tanpa harus bergantung pada pembangkit dengan sumber energi lain.
Konsep tersebut berbeda dari data center yang menggunakan listrik jaringan umum kemudian membeli sertifikat energi terbarukan sebagai bagian dari strategi pengurangan emisi.
Dalam proyek Kamojang, perusahaan ingin menguji keandalan pasokan panas bumi secara langsung, termasuk kemampuan pembangkit mendukung kebutuhan listrik pusat data yang berlangsung terus-menerus.
Namun, penggunaan satu sumber energi tidak dengan sendirinya menjamin keandalan sistem secara keseluruhan. Pusat data tetap memerlukan rancangan redundansi, pemeliharaan, dan mekanisme cadangan untuk menjaga kontinuitas layanan.
Mengapa Data Center Menarik bagi Bisnis Panas Bumi?
Pertumbuhan aplikasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), layanan komputasi awan, serta kebutuhan penyimpanan data mendorong peningkatan permintaan listrik dari industri data center.
Berbeda dari sebagian konsumen listrik yang memiliki fluktuasi penggunaan berdasarkan jam operasional, pusat data pada umumnya membutuhkan pasokan listrik yang stabil sepanjang hari.
Karakter tersebut sesuai dengan salah satu keunggulan pembangkit panas bumi.
PLTP dapat menghasilkan listrik secara berkelanjutan tanpa bergantung langsung pada intensitas sinar matahari atau kecepatan angin. Karena itu, panas bumi berpotensi menyediakan listrik rendah karbon yang relatif stabil untuk kebutuhan komputasi.
Dalam laporan operasional semester I/2026, PGEO mencatat availability factor sebesar 99,71% dan capacity factor sebesar 90,42%. Kedua indikator tersebut menggambarkan tingkat kesiapan dan pemanfaatan pembangkit yang tinggi.
Namun, angka itu merupakan indikator operasional portofolio perusahaan, bukan jaminan ketersediaan listrik khusus proyek data center Kamojang.
Jika kapasitas 5 MW dimanfaatkan penuh selama 24 jam sehari sepanjang satu tahun, secara teoritis energi yang dapat dihasilkan mencapai 43,8 gigawatt-hour (GWh) per tahun.
Angka tersebut hanyalah ilustrasi batas produksi pada utilisasi 100%. Produksi aktual bergantung pada ketersediaan pembangkit, pola operasi, konsumsi internal, dan pengaturan teknis proyek.
Regulasi dan Kontrak PLN Menjadi Tantangan Komersialisasi
Meskipun teknologi pembangkit telah tersedia, PGEO masih menghadapi beberapa pekerjaan sebelum dapat menjual listrik kepada pelanggan data center.
Edwil menjelaskan bahwa perusahaan perlu menyesuaikan sejumlah regulasi, termasuk perizinan lingkungan dan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan atau Amdal.
Selain itu, PGEO harus mengkaji kembali kapasitas listrik yang saat ini menjadi bagian dari komitmen pasokan kepada pembeli eksisting, termasuk PLN.
Aspek tersebut penting karena kapasitas terpasang pembangkit tidak otomatis sama dengan kapasitas listrik yang bebas dialihkan untuk pelanggan baru.
Dalam bisnis pembangkit, penyaluran listrik biasanya diatur melalui perjanjian jual beli listrik atau power purchase agreement (PPA). Kontrak tersebut memuat kewajiban pasokan, tarif, periode kerja sama, dan ketentuan komersial lainnya.
Karena itu, apabila sebagian produksi listrik hendak dialokasikan kepada pelanggan data center, PGEO perlu memastikan skema tersebut sesuai dengan kontrak yang berlaku dan ketentuan penyediaan tenaga listrik.
Perusahaan juga perlu menentukan bagaimana jaringan penyaluran dibangun, siapa yang memiliki dan mengoperasikannya, serta bagaimana keandalan pasokan dijamin.
Ahmad Yani sebelumnya menyebut beberapa prasyarat pengembangan data center berbasis panas bumi, termasuk penyempurnaan skema tarif listrik, dukungan pembiayaan hijau, serta sinkronisasi wilayah kerja panas bumi dengan perencanaan sistem ketenagalistrikan.
Dengan demikian, tantangan komersialisasi tidak terletak pada kemampuan pembangkit menghasilkan listrik saja. Proyek juga membutuhkan kepastian pelanggan, skema tarif, izin, kontrak, dan struktur investasi.
Kinerja PGEO 9M26: Laba Naik 21,44%
Pengembangan bisnis data center dilakukan ketika kinerja keuangan PGEO menunjukkan pertumbuhan.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2026, pendapatan PGEO mencapai US$352,20 juta, naik 10,45% dibandingkan US$318,86 juta pada periode sama tahun sebelumnya.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 21,44% menjadi US$126,63 juta, dari US$104,27 juta pada sembilan bulan pertama 2025.
Kamojang merupakan salah satu kontributor pendapatan terbesar PGEO. Sepanjang sembilan bulan 2026, pendapatan dari wilayah tersebut mencapai sekitar US$124,16 juta.
| Kinerja PGEO | 9M26 | 9M25 | Pertumbuhan |
|---|---|---|---|
| Pendapatan | US$352,20 juta | US$318,86 juta | +10,45% |
| Laba bruto | US$203,53 juta | US$181,01 juta | +12,44% |
| Laba usaha | US$186,26 juta | US$158,59 juta | +17,45% |
| Laba bersih pemilik induk | US$126,63 juta | US$104,27 juta | +21,44% |
Sumber: Laporan keuangan konsolidasian PGEO periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026. Angka dalam dolar AS.
Dengan pendapatan sembilan bulan mencapai US$352,20 juta, proyek percontohan 5 MW belum menjadi faktor yang dapat mengubah profil keuangan perusahaan dalam waktu dekat.
Untuk menilai kontribusinya, investor masih membutuhkan informasi tarif listrik, volume energi yang benar-benar dijual, biaya investasi tambahan, serta durasi kontrak dengan pelanggan data center.
Tanpa informasi tersebut, menghitung tambahan pendapatan atau laba dari proyek Kamojang akan terlalu spekulatif.
Dari Pilot 5 MW ke Peluang Bisnis Energi Digital
PGEO memandang proyek Kamojang sebagai tahap awal untuk membangun model bisnis listrik panas bumi yang dapat dipasarkan kepada industri pusat data.
Jika pengujian teknis dan komersial berhasil, model serupa berpotensi dipertimbangkan di wilayah kerja panas bumi lainnya.
Perusahaan saat ini mengoperasikan pembangkit panas bumi dengan kapasitas terpasang sekitar 727 MW secara langsung.
Namun keberhasilan proyek Kamojang belum berarti seluruh kapasitas tersebut dapat segera dialihkan untuk data center. Setiap wilayah kerja memiliki karakteristik sumber daya, komitmen penjualan listrik, jaringan, serta kebutuhan investasi yang berbeda.
Untuk pelanggan data center, lokasi juga merupakan faktor penting. Selain ketersediaan listrik, operator perlu mempertimbangkan jaringan fiber optic, konektivitas, akses transportasi, keamanan, dan kedekatan dengan pengguna layanan.
Hal ini dapat membatasi kemungkinan membangun data center langsung di semua wilayah pembangkit panas bumi.
Sebaliknya, bila teknologi penyaluran dan kontrak memungkinkan, sebagian pelanggan dapat menggunakan pembangkit panas bumi sebagai bagian dari strategi pengadaan listrik rendah karbon.
Dalam jangka panjang, peluang tersebut menjadi relevan karena operator data center global semakin memperhatikan jejak emisi dari penggunaan listrik.
Bagi PGEO, keberhasilan menjual listrik kepada industri digital juga berpotensi memperluas basis pelanggan yang selama ini terkonsentrasi pada perusahaan ketenagalistrikan.
Proyek 5 MW di Kamojang memang kecil dibandingkan kapasitas terpasang PLTP Kamojang sebesar 235 MW.
Namun nilai strategisnya tidak terletak pada tambahan megawatt tersebut.
Yang sedang diuji PGEO sebenarnya adalah model bisnis baru: apakah produsen listrik panas bumi dapat menjual pasokan rendah karbon langsung kepada industri digital yang membutuhkan listrik stabil sepanjang waktu?
Jika jawabannya ya, pasar potensial PGEO dapat meluas melampaui pembeli listrik tradisional.
Tetapi investor belum bisa langsung mengapitalisasi peluang itu sebagai pertumbuhan laba.
Masih ada empat hal yang harus diselesaikan: izin, kepastian kapasitas yang dapat dialokasikan, kontrak pelanggan, dan tarif penjualan.
Dengan kapasitas 5 MW, produksi listrik teoritis maksimum sekitar 43,8 GWh per tahun. Berapa pendapatan yang dapat dihasilkan baru bisa dihitung setelah harga jual dan volume kontraknya diketahui.
Dalam jangka pendek, pertumbuhan laba PGEO masih lebih banyak ditentukan oleh produksi pembangkit yang sudah beroperasi, efisiensi, serta realisasi proyek ekspansi utama.
Sementara itu, proyek data center menjadi opsi pertumbuhan jangka panjang yang menarik, tetapi masih membutuhkan pembuktian komersial.
Jadi, perkembangan yang paling penting untuk dipantau berikutnya bukan sekadar pengumuman kerja sama, melainkan kapan PGEO memperoleh pelanggan dengan kontrak listrik yang jelas dan mulai membukukan pendapatan dari bisnis tersebut.
Catatan status proyek: Proyek Kamojang masih berada pada tahap pilot, kajian regulasi, dan penyiapan komersialisasi. Belum ada kontrak jual beli listrik untuk data center yang diumumkan dalam informasi yang digunakan.
Catatan kapasitas: Kapasitas 5 MW setara 2,13% dari kapasitas terpasang Kamojang sebesar 235 MW. Estimasi produksi 43,8 GWh per tahun merupakan kapasitas teoritis pada utilisasi penuh, bukan target produksi aktual.
Catatan klaim teknologi: Ambisi menghadirkan data center berbasis pasokan panas bumi secara mandiri merupakan rencana PGEO yang masih harus dibuktikan melalui pengujian teknis dan komersial. Klaim sebagai fasilitas pertama di dunia belum diverifikasi secara independen.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham PGEO. Proyeksi dan rencana pengembangan dapat berubah mengikuti kelayakan teknis, izin, kontrak, dan keputusan investasi.

0 Komentar