Daftar IsiTampilkan



Receh.in - Era saham hype tengah melanda pasar saham Indonesia beberapa tahun terakhir, terutama saat pandemi melanda. 

Kita bisa melihat saham-saham dengan kinerja keuangan yang buruk tetapi harga sahamnya terus naik, bahkan sampai pada tahap "tidak masuk akal."

Jika kita kembali ke belakang, saham-saham sektor tertentu bisa naik secara bersamaan, bahkan dalam menit dan detik yang sama, contohnya sektor farmasi di tengah pemberitaan soal vaksin. 

Kenaikan saham-saham satu sektor di menit dan detik yang sama terasa tidak masuk akal, meski mungkin jika masih satu sektor okelah ikut terdorong naik tetapi dengan timing yang berbeda. Misalnya, jika satu saham naik dan market maker di saham lain jadi follower maka naiknya ya setelah itu.

Namun begitulah, semakin lama kita semakin maklum bahwa pasar saham bergerak berdasarkan selera market maker atau populer disebut bandar. Meskipun ada orang yang kukuh membedakan definisi bandar dan market maker. 

Salah satu saham hype saat ini adalah bank digital, terutama dipelopori oleh Bank Jago (ARTO) yang dibeli oleh anak usaha Gojek (kelak jadi Goto setelah merger dengan Tokopedia), GoPay. 


Hingga perdagangan 30 Juli 2021 sesi pertama, saham ARTO naik Rp15.308,65 (435,36%) selama tahun berjalan atau year to date (ytd), ke Rp18.825 per saham.

Kapitalisasi pasarnya, atau nilai perusahaan berdasarkan harga saham saat ini adalah Rp258,24 triliun, mendekat nilai pasar BMRI atau Bank Mandiri yang kapitalisasinya Rp266,80 triliun.

Sekarang, kita lihat aset riil Bank Jago berdasarkan laporan keuangan semester I/2021.

Total Aset Bank Jago pada 30 Juni 2021 adalah Rp10.093 miliar atau Rp10 triliun, naik sebesar Rp 7.913 miliar atau 363% dibandingkan dengan posisi pada 31 Desember 2020 yaitu sebesar Rp2.180 miliar. 

Walau ada kenaikan sangat signifikan 363%, tetap saja jauh dari Bank Mandiri yang jadi bank terbesar di Indonesia dengan aset total Rp1.411 triliun.

Adapun total liabilitas Bank Jago tercatat Rp 1.975 miliar pada 30 Juni 2021, naik sebesar Rp 1.027 miliar atau 108% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2020 yaitu Rp 948 miliar.

Kredit yang disalurkan pada 30 Juni 2021 sebesar Rp2.171,1 miliar (Rp2,2 triliun) mengalami kenaikan sebesar Rp 1.263,1 miliar atau 139% dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2020 yang sebesar Rp 908 miliar. 

"Peningkatan kredit yang diberikan ini disebabkan karena penyaluran kredit modal kerja kepada perusahaan korporasi serta peningkatan pada kredit konsumsi bekerjasama dengan perusahaan P2P Lending dengan skema channeling," tulis maajemen ARTO dalam keterbukaan di Bursa Efek Indonesia.

Sekarang kita lihat penyaluran kredit Bank Mandiri PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang menyalurkan kredit secara konsolidasi sebesar Rp 1.014,3 triliun pada semester I/2021. Realisasi ini tumbuh 16,4% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp 871,6 triliun.

Kita akan kesulitan membandingkan kinerja keuangan ARTO dengan BMRI jika diteruskan, karena memang tidak apple to apple. Satu bank kecil yang tengah berjuang dengan konsep digital, yang satu bank besar milik negara yang sudah cukup settle dari segi banyak hal. 

Namun, di pasar saham, kita tidak perlu susah payah membandingkan kinerja keduanya untuk tahu bahwa pemegang saham ARTO mendapat keuntungan jauh lebih besar daripada pemegang saham BMRI.


Situasi hanya membenarkan bahwa mencari keuntungan di pasar saham bisa sangat tidak terprediksi bagi orang-orang yang mengikuti text book. Utamnya para pengikut value investing

Memang, value investing atau value investor tidaklah salah. Teorinya juga tidak salah. Hanya saja, anomali memang sering terjadi dan mereka juga perlu beradaptasi. Tentunya, jika ingin mendapat cuan dalam rentang investasi jangka pendek dan menengah. 

Sementara itu, value investing melihat semuanya dalam horison yang sangat jauh ke depan. Untuk itu, kita masih perlu waktu membuktikan ke depan bagaimana nasib saham-saham hype saat ini. 

Bank Digital

Lalu, apakah kita bisa memasukkan alasan bank digital sebagai alasan logis untuk menilai saham Bank Jago begitu tinggi? Selain bahwa memang ada yang me-maintain harga saham ini. 

Bagi sebagian kalangan bank digital tampak menjanjikan. Kita asumsikan bahwa bank akan jadi jauh lebih efisien dari segi infrastruktur, tidak harus memiliki properti cabang di mana-mana untuk bisa menjangkau sebanyak mngkin nasbah. Alhasil, mereka bisa menekan biaya operasi, yang selama ini menjadi beban besar perbankan.

Sayangnya, kalau kita lihat kinerja bank-bank besar, walau ongkos hidupnya cukup mahal dan harus mengelola aset tak bergerak di mana-mana, nyatanya bank-bank besar terus mendulang laba dari tahun ke tahun.

Bahkan, saat pandemi pun bank-bank besar masih bisa mendapatkan laba. 

Sementara itu, meski mampu mengurangi angka kerugian, ARTO tetap masih membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp46,78 miliar pada semester I/2021.


Lantas, kalau kita pikir bank-bank kecil ini bisa dengan mudah mengeskalasi penyaluran kredit, yang adalah bisnsi utama perbankan, bagaimana caranya mereka bisa menjangkau para peminjam jika tidak punya tangan di mana-mana?

Mungkin aplikasi digital bisa menjadi solusi, tetapi itu hanya untuk peminjam kecil dan yang sudah punya infrastruktur. Sementara itu, korporasi yang mengajukan pinjaman miliaran tidak bisa sekadar klik-klik di handphone dan kemudian uang mengalir. 

Ada namanya analisis kelayakan kredit, misalnya melihat kalayakan bisnis atau aset yang jadi agunan, dan berbagai syarat lain-lain. 

Lalu, jika target bank digital ini adalah pengguna ritel, atau masyarakat umum, pelaku usaha kecil, itu juga tidak mudah. Perlu keahlian khsusus dalam penyalran kredit untuk usaha kecil dan mikro.

Itulah kenapa tidak semua bank mau menyalurkan kredit mikro, dan segmen ini lebih banyak digarap fintek, PMN atau BBRI yang punya keahlian khusus di usaha skala kecil.

Barangkali, masuknya Jerry Ng bisa jadi solusi. Kenapa? Karena kesuksesannya di BTPN ataupun BTPS adalah dengan menggarap segmen UMKM. Namun, yah, lagi-lagi itu tidak semudah menjetikkan jari.

Tak mudah juga menghubungkan ekosistem Gojek/Goto ke dalam Bank Jago. Toh, tidak semua UMKM yang jadi mitra usaha Gojek butuh pembiayaan, atau barangkali mereka juga sudah terikat nyaman dengan bank lain.  

Gojek tidak bisa semena-mena menyuruh mitranya memakai aplikasi Bank Jago. 

Belum lagi kita juga harus memperhitungkan kompetisi dengan sesama bank digital yang kian agresif, sebut saja Bank Neo yang di atasnya ada Alibaba, atau BBHI, juga kelompok MNC dengan Motion Banking.

Lantas, apakah harga ARTO saat ini rasional atau irasional.

Tidak penting, jika melihat fakta apa yang terjadi di pasar saham. Ini adalah perburuan cuan, pencari keuntungan, bukan bicara soal bisnis sektor riil. Maka, fundamental Bank Jago sudah lama bercerai dengan kinerja harga sahamnya.