Ticker

4/recent/ticker-posts

Ketidakakuratan Data Emisi Metana dari Tambang Batu Bara Indonesia

Daftar Isi [Tampilkan]


Receh.in
– Riset terbaru oleh lembaga think tank energi global, EMBER Climate, mengungkapkan bahwa data emisi gas metana dari tambang batu bara di Indonesia tidak dilaporkan dengan akurat. 

Menurut analisis mereka, jumlah gas metana yang dihasilkan oleh tambang batu bara di Indonesia bisa mencapai delapan kali lipat dari estimasi yang diberikan oleh pemerintah. 

Seperti dilansir Katadata, temuan ini memunculkan kekhawatiran serius terhadap komitmen Indonesia dalam Global Methane Pledge, yang merupakan kesepakatan antar 111 negara untuk mengurangi emisi gas metana sebanyak 30% pada tahun 2030.

Ketidakakuratan data di Indonesia ini disebabkan oleh penggunaan metode perhitungan lama oleh pemerintah. 

Dody Setiawan, Analis Senior Iklim dan Energi Indonesia dari EMBER Climate, menegaskan bahwa langkah pertama yang harus diambil adalah mengakui adanya masalah ini dan memperbarui metode estimasi gas metana untuk tambang batu bara. 

Hal ini penting dilakukan dalam laporan transparansi dua tahunan (BTR) yang akan disampaikan pada Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC) mendatang.

Laporan iklim Indonesia juga tidak memasukkan emisi dari aktivitas tambang bawah tanah yang dilakukan oleh 15 perusahaan batu bara. 

Dengan laju peningkatan emisi gas metana dari tambang batu bara terbuka yang mencapai 12% per tahun sejak tahun 2000, tambahan emisi dari tambang bawah tanah diperkirakan akan meningkatkan jumlah emisi secara signifikan.

Menurut Dorothy Mei, Manajer Proyek Global Coal Mine Tracker dari Global Energy Monitor (GEM), kurangnya transparansi serta sistem pengawasan, pelaporan, dan verifikasi (MRV) yang efektif menjadi tantangan utama dalam evaluasi aktivitas pertambangan. 

Sistem yang kuat diperlukan untuk memastikan data yang akurat dan terpercaya terkait emisi gas metana dari sektor pertambangan.

Metana sendiri merupakan komponen utama gas alam dan dapat bocor ke atmosfer selama proses produksi batu bara, terutama ketika terjadi retakan pada lapisan batuan. 

Operator tambang terkadang secara sengaja melepaskan gas metana ke atmosfer untuk mengurangi risiko kesehatan dan keselamatan bagi pekerja. 

Dibandingkan dengan karbon dioksida, gas metana memiliki kekuatan pemanasan yang 80 kali lebih besar dalam 20 tahun pertama keberadaannya di atmosfer, membuatnya menjadi gas rumah kaca yang sangat potensial dalam mempercepat pemanasan global.

Salah satu solusi yang diusulkan adalah penggunaan teknologi penangkap gas metana di atas tanah, yang saat ini hanya dipraktikkan oleh sejumlah kecil tambang. 

Implementasi teknologi semacam ini dapat mengurangi jumlah gas metana yang dilepaskan ke atmosfer, sehingga berkontribusi pada upaya global untuk mengurangi pemanasan global.

Laporan EMBER Climate ini juga menyoroti fakta bahwa banyak negara, termasuk Australia, tidak melaporkan emisi metana mereka dengan akurat. 

Pada 2022, Australia merevisi penghitungan polusi metana dari tambang batu bara terbuka, yang mengakibatkan total emisi tahunan nasionalnya naik 0,3% lebih tinggi dari yang dinyatakan selama lebih dari 30 tahun.

Temuan ini menegaskan pentingnya transparansi dan akurasi dalam pelaporan emisi gas rumah kaca. Untuk Indonesia, perbaikan metode perhitungan dan peningkatan transparansi dalam pelaporan dapat membantu negara ini memenuhi komitmennya dalam Global Methane Pledge dan berkontribusi pada upaya global dalam memerangi perubahan iklim. 

Langkah-langkah tersebut juga penting untuk memastikan bahwa Indonesia dapat berperan aktif dan bertanggung jawab dalam mengatasi masalah lingkungan global yang semakin mendesak ini.


Posting Komentar

0 Komentar