Receh.in – Gelombang optimisme tengah mengalir deras ke saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET). Emiten telekomunikasi yang tengah agresif berekspansi ini menjadi sorotan baru di Bursa Efek Indonesia (BEI), setelah sederet sekuritas ternama resmi memulai liputan riset dengan rekomendasi beli serempak.
Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (13/11/2025), seluruh lima sekuritas yang mengulas INET memberikan rating “buy” dengan target harga konsensus Rp546 per saham, mengindikasikan potensi kenaikan (upside) 24,1% dari harga penutupan terakhir Rp440 per lembar.
Meskipun saham INET sempat terkoreksi 2,65% di perdagangan hari itu, tren jangka menengahnya tetap impresif. Dalam sepekan terakhir, harga INET naik 41,03%, sedangkan dalam sebulan melesat 53,85%. Bahkan, sepanjang 2025 (year-to-date), saham ini sudah melonjak 658,62%, mencerminkan lonjakan minat investor terhadap potensi pertumbuhan eksponensial bisnis digital dan infrastruktur broadband Indonesia.
Fondasi Kuat: Ekspansi Besar, Teknologi Wi-Fi 7, dan Rights Issue Jumbo
Optimisme pasar tidak datang tanpa alasan. INET sedang menjalankan transformasi besar dari pemain konektivitas niche menjadi perusahaan infrastruktur pita lebar terintegrasi, dengan tiga proyek utama:
- Kontrak FTTH (Fiber-to-the-Home) di Pulau Jawa,
- Peluncuran jaringan Wi-Fi 7 berkecepatan tinggi di Bali dan Lombok,
- Pembangunan kabel bawah laut Jakarta–Singapura untuk memperkuat backbone konektivitas nasional.
Untuk mendanai ekspansi tersebut, INET tengah menyiapkan rights issue jumbo senilai Rp3,2 triliun, dengan penerbitan maksimal 12,8 miliar saham baru berharga Rp250 per saham. Dana segar ini akan disalurkan ke berbagai anak usaha, seperti PT Garuda Prima Internetindo (GPI) yang menggarap proyek Wi-Fi 7 di Bali–Lombok senilai Rp2,8 triliun, serta PT Pusat Fiber Indonesia (PFI) dan PT Internet Anak Bangsa (IAB) untuk memperluas jaringan kabel bawah laut dan FTTH di Jawa.
Aksi korporasi besar ini dinilai akan memperkuat neraca keuangan sekaligus mempercepat pertumbuhan pelanggan hingga jutaan rumah tangga baru. Tidak heran, sejumlah sekuritas menilai INET sebagai salah satu “kisah pertumbuhan infrastruktur digital paling menarik di Indonesia.”
Potensi Pertumbuhan Eksponensial, Margin dan Valuasi Menarik
Beberapa sekuritas besar kini bersaing menaikkan target harga saham INET.
- MNC Sekuritas menetapkan target Rp550 per saham, menilai valuasi masih menarik dengan proyeksi pertumbuhan jangka panjang berbasis peningkatan portofolio infrastruktur dan kolaborasi strategis dengan PT Solusi Sinergi Digital (WIFI).
- NH Korindo Sekuritas Indonesia memasang target Rp580 per saham, mengandalkan potensi pertumbuhan pendapatan eksponensial dan margin tinggi dari segmen FTTH Bali–Lombok.
- Sinarmas Sekuritas bahkan paling optimistis dengan target Rp590 per saham, menilai rights issue Rp3,2 triliun akan mempercepat peningkatan pendapatan hingga CAGR 85% dan EBITDA CAGR 110% hingga 2030.
- Semesta Indovest Sekuritas menargetkan Rp540, sedangkan Samuel Sekuritas Indonesia mempertahankan target Rp500 dengan proyeksi lonjakan laba bersih 960% pada 2026 dan hampir 200% pada 2027.
Secara fundamental, INET menunjukkan kinerja yang solid. Pada semester I/2025, perseroan mencatat pendapatan Rp45,01 miliar, naik 196,9% YoY, dengan laba bersih Rp7,77 miliar atau melonjak 666,65% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan dukungan ekspansi infrastruktur digital berskala besar, teknologi mutakhir Wi-Fi 7, serta dukungan finansial dari rights issue jumbo, INET kini bukan sekadar penyedia layanan internet, melainkan calon pemain utama di bisnis konektivitas masa depan Indonesia.

0 Komentar