Receh.in – Setelah sempat menyentuh Rp2.890 per saham pada awal semester II/2025, pergerakan saham PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) kini cenderung landai. Pada pembukaan pasar Senin (17/11), sahamnya diperdagangkan di Rp1.630. Koreksi signifikan ini memunculkan pertanyaan: apakah SSIA kini menawarkan ruang masuk yang lebih menarik?
Sejumlah analis menilai jawabannya ya, terutama karena valuasi yang lebih atraktif dan momentum pengembangan Subang Smartpolitan, megaproyek 2.717 hektare yang diarahkan menjadi pusat ekosistem kendaraan listrik (EV) Indonesia.
Valuasi Lebih Menarik & Dukungan Konglomerat Besar
BRI Danareksa Sekuritas menjadi salah satu yang paling optimistis. Mereka menaikkan target harga SSIA dari Rp2.050 menjadi Rp2.475 per lembar. Katalis utamanya adalah kombinasi antara:
- Subang Smartpolitan sebagai hub EV baru,
- Biaya tenaga kerja yang lebih kompetitif dibanding Karawang–Bekasi,
- Akses tol Cipali–Patimban yang memperkuat konektivitas, dan
- Kontribusi bisnis non-lahan yang stabil (34% dari laba kotor).
Dengan harga saat ini, valuasi SSIA dinilai jauh lebih menarik, terutama setelah koreksi signifikan sejak Juli.
Masuknya dua konglomerat besar—Grup Djarum (10,24%) dan entitas dekat Grup Barito (7,20%)—juga memberi dukungan strategis untuk percepatan pembangunan kawasan.
Ina Sekuritas turut mempertahankan rekomendasi beli dengan target Rp2.130, melihat potensi peningkatan nilai tanah sejalan dengan:
- Pembangunan tol Patimban
- Optimalisasi pelabuhan Patimban sebagai hub ekspor
- Partnership baru untuk mempercepat fase pembangunan
Dari konsensus Bloomberg, target harga 12 bulan ke depan bahkan lebih tinggi, yakni Rp2.806, dengan mayoritas analis memberikan rekomendasi beli (83,3%).
Tantangan Kinerja 2025, tapi Proyek Smartpolitan Jadi Mesin Baru
Dari sisi fundamental, kinerja SSIA hingga kuartal III/2025 memang melemah.
- Laba bersih turun 97,17% YoY menjadi Rp6,46 miliar
- Pendapatan susut 14,15% YoY menjadi Rp3,31 triliun
- Laba kotor anjlok 37,42% YoY
Pendapatan SSIA masih didominasi konstruksi (Rp2,64 triliun), disusul hotel dan kawasan industri. Beban pokok berhasil ditekan, tetapi belum cukup mengimbangi turunnya pendapatan.
Namun dari perspektif neraca, SSIA justru memperkuat fondasi aset:
- Aset naik 13,42% YtD ke Rp11,75 triliun
- Ekuitas tumbuh menjadi Rp8,18 triliun
- Liabilitas meningkat seiring ekspansi strategis
SSIA juga mengalokasikan capex Rp3,6 triliun di 2025 untuk mempercepat Subang Smartpolitan. Aksi ini termasuk potensi right issue atau kolaborasi baru untuk pendanaan infrastruktur, utilitas, dan fasilitas pendukung kawasan.
Subang Smartpolitan sendiri merupakan proyek multi-tahap dengan fokus pada industri EV, pusat logistik, komersial, residensial, hingga fasilitas pendidikan. Fase pertama masih berjalan sejak 2020, dan percepatan pembangunan diproyeksikan menciptakan arus kas yang lebih stabil mulai beberapa tahun ke depan.
Dengan hadirnya investor besar seperti Djarum dan Barito, sentimen pasar terhadap roadmap proyek ini menjadi lebih solid.
SSIA Berpotensi Rebound, Tapi Butuh Waktu
Meski kinerja kuartalan 2025 belum menggembirakan, prospek jangka menengah SSIA terlihat semakin menjanjikan. Valuasi yang lebih rendah membuka peluang entry point yang lebih menarik, sementara Subang Smartpolitan menjadi katalis utama yang menempatkan SSIA di posisi strategis dalam peta industri EV Indonesia.
Jika proyek infrastruktur sekitar Subang—seperti tol Patimban dan pelabuhan Patimban—beroperasi penuh, nilai lahan dan permintaan kawasan industri berpotensi melonjak.
Dengan konsensus target harga yang tinggi, dukungan konglomerat besar, serta peluang kolaborasi strategis, SSIA tampak berada pada fase akumulasi menarik untuk investor jangka menengah. Namun, kecepatan eksekusi proyek dan pemulihan kinerja operasional tetap menjadi faktor kunci yang perlu dicermati.
0 Komentar