Ticker

4/recent/ticker-posts

Investor Kakap Berguguran di Saham BUMI, Ada Apa dengan Emiten Batu Bara Ini?

Daftar Isi [Tampilkan]
 Broker distribution di saham BUMI per 24 Desember 2025

Receh.in – Pergerakan saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) sepanjang 2025 menyerupai grafik detak jantung: naik tajam, lalu diguyur tekanan jual dari investor besar. Di balik reli harga yang membuat saham ini kembali jadi primadona trader, terjadi satu fenomena penting yang patut dicermati: keluarnya sejumlah investor kakap dari saham BUMI secara bertahap namun konsisten.

Nama-nama besar seperti UBS AG hingga Chengdong Investment Corporation tercatat aktif melepas ratusan juta hingga miliaran lembar saham. Aksi ini berlangsung saat harga saham BUMI sedang berada dalam tren naik kuat, bahkan mencetak kinerja spektakuler secara year-to-date. Kombinasi antara reli harga dan distribusi saham besar-besaran menjadi sinyal yang menarik—dan berisiko—bagi investor ritel.

 

UBS AG dan Pola Jual-Beli yang Tidak Pernah Sepi

UBS AG menjadi aktor utama dalam dinamika kepemilikan saham BUMI sepanjang 2025. Bank investasi global ini tercatat berulang kali keluar-masuk, mengombinasikan fase akumulasi agresif dengan aksi jual masif dalam rentang waktu yang relatif singkat.

Puncaknya terjadi pada pertengahan Desember 2025, saat UBS AG London melepas lebih dari 627 juta saham BUMI di harga Rp366 per saham. Nilai transaksi yang tercipta menembus Rp229 miliar dan menurunkan porsi kepemilikan UBS menjadi di bawah 6%.

Meski berstatus sebagai transaksi tidak langsung dan dikaitkan dengan aktivitas lindung nilai derivatif klien, fakta di pasar menunjukkan bahwa UBS secara konsisten mengurangi eksposur bersihnya terhadap BUMI sejak puncak akumulasi November 2025.

 

Rangkuman transaksi besar UBS di saham BUMI sepanjang 2025:

  • 11 September: Jual 105,42 juta saham (Rp11,4 miliar)
  • 22 September: Beli 421,36 juta saham (Rp50,2 miliar)
  • 9 Oktober: Jual 588,91 juta saham (Rp86,3 miliar)
  • 11 November: Beli 2,29 miliar saham (Rp416,9 miliar)
  • 14 November: Beli 2,92 miliar saham (Rp578 miliar)
  • 17 November: Jual 3,57 miliar saham (Rp808,7 miliar)
  • 20 November: Jual 769,45 juta saham (Rp176,2 miliar)
  • 15 Desember: Jual 627,35 juta saham (Rp229,6 miliar)

Pola ini mencerminkan karakter perdagangan institusi besar: bukan keluar total, tetapi melakukan distribusi terukur di tengah euforia pasar.

 

Chengdong Mulai Lepas Kendali, Divestasi Jadi Kata Kunci

 

Jika UBS bermain di wilayah taktis dan teknis, Chengdong Investment Corporation bergerak lebih strategis. Investor yang sebelumnya dikenal sebagai pemegang saham besar BUMI ini mulai mempercepat divestasi sejak paruh kedua November 2025.

Sepanjang akhir November hingga awal Desember, Chengdong melepas lebih dari 3,7 miliar saham BUMI dengan harga rata-rata di kisaran Rp238 per lembar. Penjualan berlanjut pada awal Desember dengan tambahan pelepasan puluhan juta saham.

Yang menarik, aksi Chengdong dilakukan secara langsung dan bukan bagian dari skema transaksi jangka pendek seperti repo. Ini mengindikasikan perubahan sikap jangka panjang, di mana Chengdong tidak lagi berupaya mempertahankan pengendalian.

 

Data penguatan aksi jual Chengdong:

  • Total penjualan akhir November 2025: 3,71 miliar saham
  • Penjualan awal Desember 2025: 84,76 juta saham
  • Kepemilikan tersisa: ±25,98 miliar saham atau sekitar 7%
  • Tujuan transaksi: divestasi

Dengan sikap tersebut, tekanan suplai saham dari sisi pemegang lama berpotensi belum sepenuhnya selesai.

 

Harga Saham Naik Tajam, Tapi Distribusi Diam-Diam Terjadi

Ironisnya, seluruh rangkaian aksi jual investor kakap ini terjadi saat harga saham BUMI justru mencatatkan kinerja impresif. Dalam tiga bulan terakhir, saham ini melesat lebih dari 150%. Secara year-to-date, penguatannya menembus 200%.

Namun, reli harga ini tidak sepenuhnya mencerminkan proses akumulasi sehat. Data transaksi menunjukkan lonjakan volume dan nilai yang ekstrem—ciri klasik fase distribusi di saham berkapitalisasi besar.

Kinerja saham BUMI (hingga 24 Desember 2025):

  • Harga terakhir: Rp362
  • Kinerja 1 bulan: +64,55%
  • Kinerja 3 bulan: +158,57%
  • Kinerja YtD: +206,78%
  • Kontribusi ke IHSG: +61,09 poin (peringkat 8 top leaders)

 

Rekor Transaksi dan Euforia Pasar

Lonjakan harga saham BUMI berjalan seiring dengan ledakan nilai transaksi. Pada November 2025, total nilai perdagangan saham BUMI menembus Rp39,5 triliun—melonjak hampir empat kali lipat dibanding Oktober.

Angka ini menjadi rekor tertinggi dalam satu bulan selama satu dekade terakhir. Bagi trader, ini adalah ladang likuiditas. Namun bagi investor jangka menengah-panjang, lonjakan semacam ini sering kali menandai fase krusial: apakah tren akan berlanjut, atau justru memasuki tahap distribusi lanjutan.

 

Antara Reli dan Realita

Saham BUMI sepanjang 2025 mengajarkan satu pelajaran penting: kenaikan harga tidak selalu berarti akumulasi sehat. Ketika investor besar mulai mengurangi porsi secara bertahap, pasar ritel kerap datang belakangan—membeli saat distribusi sudah berjalan.

Selama arus transaksi masih deras, volatilitas akan tetap tinggi. Namun begitu tekanan jual investor kakap kembali membesar, arah harga bisa berubah cepat. Di titik inilah disiplin membaca data kepemilikan, bukan sekadar grafik harga, menjadi kunci bertahan di saham dengan karakter seagresif BUMI.

Bagi investor Receh.in, satu hal patut diingat: ketika gajah mulai berjalan keluar kandang, semut sebaiknya tidak lengah melihat rumput yang masih hijau

Posting Komentar

0 Komentar