Receh.in—Emiten jasa pertambangan milik konsorsium Grup Bakrie–Salim, PT Darma Henwa Tbk (DEWA), membukukan laba bersih sebesar Rp247,6 miliar hingga kuartal III 2025. Namun hingga saat ini, perseroan belum merilis laporan keuangan sembilan bulan yang telah diaudit, karena masih berada dalam proses pemeriksaan auditor.
Berdasarkan laporan keuangan unaudited periode Januari–September 2025, DEWA mencatatkan pendapatan sebesar Rp4,65 triliun. Kinerja operasional perusahaan terlihat solid, tercermin dari EBITDA Rp1,26 triliun dengan margin EBITDA mencapai 27,2%, level yang relatif tinggi untuk emiten kontraktor tambang.
Dari sisi neraca, total aset yang disesuaikan mencapai Rp10,14 triliun, dengan likuiditas sebesar Rp4,35 triliun. Sementara itu, total ekuitas disesuaikan tercatat Rp3,85 triliun, mencerminkan struktur permodalan yang relatif membaik seiring pemulihan kinerja operasional.
Namun demikian, kinerja keuangan tersebut dibayangi isu kepatuhan. Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelumnya memberikan teguran kepada sejumlah emiten yang belum menyampaikan laporan keuangan kuartal III 2025, termasuk DEWA. Atas keterlambatan tersebut, BEI menyematkan notasi khusus “L”, yang berarti Perusahaan Tercatat belum menyampaikan laporan keuangan.
Pemberian notasi ini menjadi sinyal peringatan bagi investor terkait belum terpenuhinya kewajiban keterbukaan informasi. Dalam pengumuman resmi BEI No. Peng-S-00001/BEI.PLP/01-2026, bursa menegaskan bahwa emiten yang belum patuh akan dikenakan sanksi administratif bertahap, mulai dari Surat Peringatan Pertama (SP1) hingga SP3, serta potensi denda apabila keterlambatan berlanjut. Untuk emiten yang menerima SP1, termasuk DEWA, BEI memberikan tenggat waktu penyampaian laporan keuangan paling lambat 2 Januari 2026, tanpa denda.
Proyeksi Kinerja dan Peluang Dividen
Di tengah isu kepatuhan tersebut, prospek jangka menengah DEWA justru dipandang positif oleh pelaku pasar. UOB Kay Hian memproyeksikan pendapatan DEWA tumbuh 105% secara tahunan pada 2026, dan kembali meningkat 69% yoy pada 2027. Proyeksi ini terutama ditopang oleh lonjakan volume produksi internal.
Volume pemindahan lapisan tanah penutup (overburden removal) diperkirakan meningkat signifikan, masing-masing menjadi 146 juta BCM pada 2026 dan 209 juta BCM pada 2027. Dengan asumsi tersebut, pendapatan DEWA diproyeksikan mencapai Rp758 miliar pada 2026 dan Rp1,28 triliun pada 2027.
Seiring membaiknya kinerja, muncul pula spekulasi terkait potensi pembagian dividen. Perseroan saat ini tengah berkoordinasi dengan regulator dalam inisiatif pengurangan selisih kurs valuta asing, yang bertujuan mengompensasi kerugian kumulatif akibat penyesuaian kurs yang belum terealisasi. Jika mendapatkan persetujuan regulator dan auditor, langkah ini dapat membuka jalan bagi pembagian dividen di masa depan.
Meski demikian, UOB Kay Hian mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, antara lain potensi tekanan margin, cuaca buruk, serta risiko keterlambatan proyek. Kendati demikian, analis tetap memandang DEWA sebagai opsi investasi jangka panjang yang menarik, ditopang oleh pemulihan operasional, CAGR EBITDA enam tahun yang kuat sebesar 39,6% pada periode 2024–2030, serta potensi tambahan dari segmen tembaga yang belum diperhitungkan dalam skenario dasar.
0 Komentar