Melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal 2026 membuka peluang bagi investor untuk kembali menelusuri saham-saham yang masih diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Dalam kondisi pasar yang volatil, sejumlah saham bank lapis dua justru menawarkan valuasi yang menarik.
Tiga emiten yang menonjol dari sisi valuasi adalah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), dan PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP). Ketiganya memiliki rasio price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) yang relatif rendah dibandingkan rata-rata sektor perbankan.
Dalam istilah yang kerap digunakan investor kawakan Lo Kheng Hong, saham-saham seperti ini kerap disebut sebagai “Mercy harga Bajaj”—perusahaan dengan fundamental kuat namun diperdagangkan dengan valuasi murah.
BBTN: Bank Perumahan yang Berpotensi Diuntungkan Program 3 Juta Rumah
Salah satu saham bank lapis dua yang paling menarik perhatian adalah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
Selain memiliki free float sebesar 39,77%, BBTN juga berpotensi menjadi salah satu penerima manfaat utama dari program 3 juta rumah yang digagas pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Dari sisi valuasi, saham BBTN tergolong sangat murah.
|
Indikator |
BBTN |
|
Harga saham |
Rp1.270 |
|
PBV |
0,49x |
|
PER |
5,17x |
Sebagai pembanding, saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) diperdagangkan dengan PBV 1,96x dan PER 13,47x. Sementara itu rata-rata sektor perbankan dalam IDX Sector Financials berada pada PBV 1,36x dan PER 14,14x.
Artinya, valuasi BBTN saat ini jauh di bawah rata-rata sektor.
Secara kinerja, BBTN juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup solid:
- Laba bersih: Rp3,5 triliun
- Total aset: Rp527,79 triliun
- Pertumbuhan aset: 12,4% YoY
Untuk 2026, manajemen menargetkan pertumbuhan laba 20–22%. Selain itu, bank ini juga tengah menyiapkan sejumlah inisiatif baru, termasuk:
- peluncuran layanan buy now pay later (BNPL)
- ekspansi bisnis multifinance
- penguatan ekosistem perumahan
Dari sisi analis, mayoritas juga masih optimistis. Sebanyak 19 dari 24 analis merekomendasikan buy untuk saham BBTN dengan target harga sekitar Rp1.535 per saham, atau potensi kenaikan sekitar 20,9%.
BDMN: Bank Murah Favorit Lo Kheng Hong
Saham bank lapis dua berikutnya yang juga dinilai murah adalah PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN).
Pada harga sekitar Rp2.530, saham BDMN diperdagangkan dengan valuasi:
|
Indikator |
BDMN |
|
PBV |
0,46x |
|
PER |
6,30x |
Valuasi ini juga lebih rendah dibandingkan rata-rata sektor keuangan.
Kinerja perusahaan sendiri masih menunjukkan pertumbuhan positif. Sepanjang tahun terakhir, BDMN mencatat:
- laba bersih konsolidasian Rp4,0 triliun
- pertumbuhan laba 14% YoY
Manajemen menyebut peningkatan profitabilitas didorong oleh beberapa faktor, antara lain:
- penurunan biaya kredit
- pertumbuhan penyaluran pinjaman
- kualitas aset yang tetap terjaga
Saham BDMN juga menjadi salah satu koleksi investor legendaris Lo Kheng Hong.
Menurutnya, alasan utama membeli saham ini cukup sederhana: kinerja yang baik dan valuasi yang murah.
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah free float BDMN yang masih 7,42%, lebih rendah dari ketentuan minimum yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan sebesar 15%.
NISP: Bank Stabil dengan Risiko Kredit Rendah
Selain BBTN dan BDMN, saham PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) juga masuk dalam daftar bank lapis dua dengan valuasi menarik.
Pada harga sekitar Rp1.465, saham NISP memiliki valuasi:
|
Indikator |
NISP |
|
PBV |
0,77x |
|
PER |
6,71x |
Secara fundamental, OCBC NISP dikenal sebagai bank dengan kualitas aset yang relatif konservatif.
Sepanjang 2025, perusahaan mencatat:
- laba bersih Rp5,1 triliun
- pertumbuhan laba 4% YoY
- pendapatan operasional Rp13,1 triliun
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit mencapai Rp173,4 triliun, tumbuh 2% YoY.
Kualitas kredit bank ini juga tergolong sehat, tercermin dari:
- NPL gross: 1,9%
- coverage ratio: 226%
Presiden Direktur NISP, Parwati Surjaudaja, menegaskan bahwa perusahaan akan tetap fokus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan pengelolaan risiko secara prudent.
Selain itu, perusahaan juga berencana membahas program buyback saham dalam RUPST pada April 2026.
Ringkasan Valuasi Saham Bank Lapis Dua
|
Kode |
Harga |
PBV |
PER |
|
BBTN |
Rp1.270 |
0,49x |
5,17x |
|
BDMN |
Rp2.530 |
0,46x |
6,30x |
|
NISP |
Rp1.465 |
0,77x |
6,71x |
Di tengah kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian, saham bank lapis dua seperti PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, dan PT Bank OCBC NISP Tbk menawarkan kombinasi yang menarik antara valuasi murah dan fundamental yang relatif solid.
Dengan rasio PER dan PBV yang jauh di bawah rata-rata sektor, ketiga saham ini kerap dianggap sebagai contoh klasik saham undervalued—atau meminjam istilah populer di kalangan investor, “Mercedes dengan harga Bajaj.”
Namun seperti biasa, investor tetap perlu mencermati risiko fundamental dan prospek pertumbuhan masing-masing bank sebelum mengambil keputusan investasi.
0 Komentar