FlashNews

8/recent/ticker-posts

ADB Kucurkan Pinjaman US$150 Juta ke Link Net (LINK) untuk Perluas Infrastruktur Fiber Optik di Indonesia

Daftar Isi [Tampilkan]


 

Bank pembangunan multilateral Asian Development Bank mengumumkan pemberian pinjaman senilai US$150 juta kepada PT Link Net Tbk. Pendanaan ini ditujukan untuk memperkuat infrastruktur digital Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas layanan broadband berbasis fiber optik.

Perusahaan dengan kode saham LINK tersebut akan menggunakan pembiayaan ini untuk memperluas jaringan fiber optik nasional serta memperkuat stabilitas bisnis di tengah pergeseran strategi perusahaan menuju model business-to-business (B2B).

Kepala Perwakilan Asian Development Bank untuk Indonesia, Bobur Alimov, mengatakan dukungan tersebut diharapkan dapat mempercepat pengembangan ekonomi digital nasional.

“Dengan mendukung perluasan layanan infrastruktur digital Link Net, kami ingin menyediakan akses yang lebih inklusif dan adil serta membuka potensi ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan mencapai US$366 miliar pada 2030,” ujarnya.

 

Perluasan Jaringan Fiber Optik Nasional

Dana pinjaman tersebut akan difokuskan untuk memperluas jaringan fiber-to-the-home (FTTH) milik Link Net. Teknologi ini memungkinkan layanan internet berkecepatan tinggi langsung tersambung ke rumah pelanggan melalui kabel fiber optik.

Selain itu, perusahaan juga akan mengembangkan model open access wholesale yang memungkinkan operator lain memanfaatkan infrastruktur jaringan yang sama. Model ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan broadband sekaligus memperluas jangkauan internet berkecepatan tinggi.

Investasi tersebut juga dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas ekonomi digital, khususnya bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang semakin bergantung pada konektivitas internet.

 

Industri Broadband Masih Tertinggal

Meskipun pertumbuhan broadband seluler di Indonesia meningkat pesat sejak 2015, penetrasi broadband tetap berbasis fiber optik masih relatif tertinggal dibandingkan beberapa negara tetangga di Asia Tenggara.

Tantangan utama masih berkaitan dengan tingkat adopsi, ketersediaan jaringan, serta harga layanan yang belum kompetitif di berbagai wilayah.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, pemerintah saat ini juga tengah mendorong reformasi kebijakan sektor telekomunikasi, termasuk penyederhanaan proses perizinan serta standarisasi struktur biaya bagi operator jaringan fiber optik.

Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan lanskap industri yang lebih kompetitif bagi para pemain broadband di Indonesia.

 

Link Net Sambut Positif Kerja Sama

Chief Executive Officer Link Net, Kanishka Gayan Wickrama, menyambut positif kemitraan dengan ADB dalam proyek penguatan infrastruktur digital ini.

Menurutnya, pembiayaan tersebut akan membantu perusahaan mempercepat pengembangan jaringan serta meningkatkan kualitas layanan bagi pelanggan.

“Kesepakatan pembiayaan ini memungkinkan kami menyediakan layanan yang lebih efisien dan cepat. Selain itu, kami juga dapat mengakses pendanaan jangka panjang yang sejalan dengan strategi operasional perusahaan,” ujarnya.

 

Didukung Axiata Group

Link Net sendiri merupakan salah satu penyedia layanan broadband terbesar di Indonesia yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Axiata Group Berhad, perusahaan telekomunikasi regional yang fokus pada layanan seluler dan broadband di Asia.

Sementara itu, Asian Development Bank merupakan lembaga keuangan pembangunan yang bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik melalui berbagai program pembiayaan dan kerja sama pembangunan.

Dengan dukungan pendanaan ini, Link Net diharapkan mampu mempercepat ekspansi jaringan fiber optik nasional dan memperkuat fondasi infrastruktur digital Indonesia di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital.

 

Posting Komentar

0 Komentar