Pergerakan investor asing di pasar saham Indonesia masih menunjukkan tekanan jual, meski intensitasnya mulai mereda. Pada perdagangan Kamis, 12 Maret 2026, transaksi investor global di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup dengan net sell atau penjualan bersih sebesar 36,35 juta lembar saham.
Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan hari sebelumnya yang mencatat net sell hingga 1,47 miliar lembar. Dengan kata lain, tekanan jual dari investor asing mulai berkurang, meskipun arus dana keluar dari pasar saham domestik masih terjadi.
Aktivitas Investor Asing Masih Tinggi
Meskipun net sell terjadi, aktivitas transaksi investor asing tetap relatif tinggi. Total volume perdagangan asing berada di kisaran 5,4 miliar lembar saham.
Berikut gambaran aktivitas transaksi investor asing:
|
Jenis Transaksi |
Volume |
|
Foreign Buy |
5,45 miliar lembar |
|
Foreign Sell |
5,49 miliar lembar |
|
Net Sell |
36,35 juta lembar |
Volume pembelian investor asing meningkat dibandingkan hari sebelumnya, sementara volume penjualan sedikit menurun. Hal ini membuat tekanan net sell tidak sebesar perdagangan sebelumnya.
Saham yang Banyak Diborong Investor Asing
Beberapa saham justru menjadi target akumulasi investor asing pada perdagangan tersebut. Mayoritas berasal dari sektor energi dan komoditas.
Berikut daftar saham dengan net buy terbesar:
|
Saham |
Net Buy |
|
BIPI |
248,59 juta lembar |
|
BUMI |
122,98 juta lembar |
|
BNBR |
109,15 juta lembar |
|
ADRO |
84,99 juta lembar |
|
DEWA |
55,69 juta lembar |
Saham dengan akumulasi terbesar adalah PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) dengan net buy hampir 250 juta lembar.
Selain itu, saham komoditas seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) juga menjadi incaran investor asing.
Tren ini menunjukkan bahwa investor global masih melihat sektor energi dan sumber daya alam sebagai sektor defensif di tengah ketidakpastian global.
Saham yang Banyak Dilepas Investor Asing
Di sisi lain, beberapa saham besar justru mengalami tekanan jual dari investor asing, terutama sektor teknologi dan perbankan.
Berikut saham dengan net sell terbesar:
|
Saham |
Net Sell |
|
GOTO |
611,07 juta lembar |
|
BUKA |
75,10 juta lembar |
|
BBRI |
42,91 juta lembar |
|
BBNI |
29,39 juta lembar |
|
KPIG |
26,40 juta lembar |
Saham yang paling banyak dilepas adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan net sell lebih dari 611 juta lembar.
Saham teknologi lain seperti PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) juga mengalami tekanan jual.
Sementara dari sektor perbankan, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turut mencatatkan net sell.
Apa Arti Pergerakan Ini bagi Pasar?
Perubahan pola transaksi ini menunjukkan beberapa dinamika penting di pasar saham Indonesia.
1. Tekanan jual asing mulai mereda
Net sell turun drastis dibandingkan hari sebelumnya.
2. Rotasi sektor mulai terlihat
Investor asing lebih aktif mengakumulasi saham energi dan komoditas.
3. Saham teknologi masih tertekan
Beberapa saham teknologi besar masih menjadi sumber net sell.
Jika tren ini berlanjut, maka saham sektor energi dan komoditas berpotensi tetap mendapatkan aliran dana dari investor global, terutama di tengah volatilitas geopolitik dan harga komoditas yang masih tinggi.
Perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada 12 Maret 2026 menunjukkan bahwa tekanan jual investor asing mulai melandai dengan net sell sebesar 36,35 juta lembar.
Saham energi seperti BIPI, BUMI, dan ADRO menjadi target akumulasi, sementara saham teknologi seperti GOTO dan BUKA masih mengalami tekanan jual.
Pergerakan ini mencerminkan rotasi dana asing ke sektor yang dianggap lebih defensif di tengah ketidakpastian global.

0 Komentar