Human Rights Watch (HRW) mengonfirmasi bahwa militer Israel menggunakan amunisi white phosphorus di area permukiman sipil di desa Yohmor, Lebanon selatan, pada 3 Maret. Penggunaan senjata tersebut dinilai melanggar hukum humaniter internasional karena dilakukan di wilayah berpenduduk.
Dalam laporan terbarunya, HRW menyatakan telah memverifikasi tujuh foto yang memperlihatkan ledakan artileri white phosphorus di udara (airburst) di atas kawasan permukiman. Ledakan tersebut memicu kebakaran yang merusak setidaknya dua rumah warga dan sejumlah properti sipil lainnya.
White phosphorus merupakan bahan kimia yang langsung menyala saat terkena oksigen. Senjata ini sering digunakan untuk membuat tirai asap atau penanda target di medan perang. Namun, jika digunakan di area padat penduduk, zat tersebut dapat menyebabkan luka bakar parah, kematian, atau cedera permanen seumur hidup.
HRW mengidentifikasi jenis amunisi yang digunakan sebagai proyektil artileri 155 mm seri M825, yang dapat dikenali dari pola awan asap khas yang dihasilkan ketika meledak di udara.
Menurut organisasi tersebut, penggunaan white phosphorus dengan metode airburst di wilayah berpenduduk berisiko tinggi mengenai warga sipil secara acak sehingga dianggap sebagai tindakan yang tidak diskriminatif dan melanggar hukum perang internasional.
HRW juga mendesak negara-negara sekutu Israel, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman, untuk menangguhkan penjualan senjata kepada Israel serta mempertimbangkan penerapan sanksi terhadap pejabat yang terlibat.
Sementara itu, konflik yang terus berlangsung di perbatasan Lebanon-Israel telah memicu krisis kemanusiaan besar. HRW mencatat lebih dari 500.000 warga Lebanon terpaksa mengungsi akibat serangan Israel.
Serangan tersebut juga dilaporkan telah menyebabkan 394 orang tewas dan lebih dari 1.000 lainnya terluka.
Situasi di Lebanon selatan kini semakin memanas seiring meningkatnya intensitas serangan lintas perbatasan dalam beberapa pekan terakhir, yang menambah kekhawatiran komunitas internasional akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
0 Komentar