Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global setelah Iran menutup jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada akhir Februari 2026.
Penutupan selat tersebut segera memicu kekhawatiran global. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah ini berpotensi mengguncang pasar energi internasional dan perekonomian global.
Tidak hanya memblokade jalur pelayaran, Iran juga mulai meningkatkan tekanan dengan menyerang kapal tanker dan infrastruktur energi negara-negara Teluk.
Selat Hormuz: Jalur Energi Paling Vital di Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Di titik tersempitnya, selat ini hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer, tetapi menjadi jalur utama pengiriman energi global.
Minyak dan gas dari sejumlah negara produsen besar melewati selat ini, termasuk:
- Arab Saudi
- Kuwait
- Irak
- Qatar
- Bahrain
- Uni Emirat Arab
- Iran
Sebagian besar ekspor energi tersebut dikirim ke pasar Asia, terutama ke negara-negara konsumen besar seperti China dan India.
Karena itu, gangguan di selat ini secara langsung memengaruhi stabilitas pasokan energi global.
Serangan Kapal dan Drone Picu Ketegangan Baru
Ketegangan di kawasan meningkat setelah sebuah kapal kontainer terkena proyektil misterius di perairan dekat Ras Al Khaimah di Uni Emirat Arab.
Insiden tersebut dilaporkan oleh UK Maritime Trade Operations (UKMTO). Kapal mengalami kerusakan, meski seluruh awak dilaporkan selamat.
Selain itu, sejumlah insiden militer juga terjadi di kawasan Teluk:
- Kuwait menembak jatuh 8 drone Iran
- Arab Saudi mencegat 5 drone yang menuju ladang minyak Shaybah
- Setidaknya 10 kapal tanker minyak dilaporkan menjadi target serangan sejak awal Maret 2026
Korps Garda Revolusi Iran, atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), menyatakan telah menguasai Selat Hormuz sebagai respons atas konflik yang sedang berlangsung.
Ratusan Kapal Tanker Terjebak di Teluk
Ketidakamanan di kawasan membuat perusahaan pelayaran global menghentikan operasinya di wilayah tersebut.
Beberapa perusahaan pelayaran terbesar dunia yang menangguhkan aktivitasnya antara lain:
- Maersk
- Hapag-Lloyd
- CMA CGM
- MSC Mediterranean Shipping Company
Akibatnya, sekitar 400 kapal tanker minyak dan produk energi kini tertahan di perairan Teluk.
Gangguan ini menciptakan efek domino terhadap rantai pasok energi global karena kapal-kapal yang biasanya mengangkut minyak ke berbagai negara tidak dapat melanjutkan perjalanan.
Harga Minyak Sempat Tembus US$120 per Barel
Krisis ini langsung tercermin pada pasar energi global.
Harga minyak sempat melonjak hingga hampir US$120 per barel, sebelum kemudian terkoreksi ke sekitar US$87 per barel. Meski demikian, kekhawatiran pasar tetap tinggi.
Para analis energi memperingatkan bahwa jika penutupan selat berlangsung lama, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Beberapa skenario yang dikhawatirkan antara lain:
- Harga minyak kembali menembus tiga digit
- Harga gas di Eropa kembali melonjak seperti krisis energi 2022
- Inflasi global meningkat akibat kenaikan biaya energi
CEO raksasa energi Saudi Aramco bahkan memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat menimbulkan dampak serius bagi perekonomian global.
Dunia Lebih Siap Dibanding Krisis Minyak 1973
Meski situasi ini mengingatkan pada krisis energi 1973, para analis menilai kondisi saat ini masih relatif lebih terkendali.
Perbedaannya terletak pada penyebab krisis:
|
Krisis Energi |
Penyebab |
|
1973 |
Embargo minyak oleh negara-negara OPEC |
|
2026 |
Gangguan distribusi akibat konflik geopolitik |
Selain itu, negara-negara maju kini memiliki sistem perlindungan energi yang lebih baik.
Negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memiliki cadangan minyak strategis setara sekitar tiga bulan impor. Cadangan ini dikelola oleh International Energy Agency (IEA).
Jika diperlukan, IEA dapat melepas cadangan tersebut ke pasar untuk menstabilkan harga dan menjaga pasokan energi global.
Namun, langkah ini hanya efektif jika konflik tidak berlangsung terlalu lama.
Tekanan Politik terhadap AS dan Israel
Penutupan Selat Hormuz juga membawa dampak politik besar bagi Washington dan sekutunya.
Kenaikan harga energi dapat memicu tekanan domestik terhadap pemerintahan Donald Trump, terutama menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November 2026.
Di sisi lain, gejolak ekonomi global akibat gangguan energi juga meningkatkan tekanan internasional agar konflik segera dihentikan.
Dengan mempertaruhkan jalur energi paling vital di dunia, Iran tampaknya mencoba menggunakan strategi ekonomi untuk memaksa lawan-lawannya mengakhiri kampanye militer yang sedang berlangsung.
Jika konflik terus berlanjut, Selat Hormuz berpotensi menjadi titik paling menentukan bagi stabilitas ekonomi global pada 2026.

0 Komentar