FlashNews

8/recent/ticker-posts

Kinerja ABMM 2025 Anjlok 49%, Masih Layak Dikoleksi ala Lo Kheng Hong?

Daftar Isi [Tampilkan]

 

Saham batu bara kembali menghadapi tekanan pada 2025, dan hal itu tercermin dari kinerja PT ABM Investama Tbk (ABMM). Emiten yang dikenal sebagai salah satu portofolio andalan Lo Kheng Hong ini mencatat penurunan laba dan pendapatan yang cukup tajam.

Namun, di balik pelemahan kinerja, ada sejumlah sinyal menarik yang justru membuka ruang analisis lebih dalam bagi investor—apakah ini warning sign atau justru peluang?

 

Laba ABMM Turun Tajam, Apa Penyebabnya?

Sepanjang 2025, ABMM membukukan:

  • Laba bersih: US$70,61 juta (turun 49,33% YoY)
  • Pendapatan: US$1,03 miliar (turun 13,50% YoY)
  • Laba kotor: US$103,67 juta (turun 20,97% YoY)

Penurunan ini tidak berdiri sendiri. Ada beberapa faktor utama yang mendorong pelemahan:

  • Harga batu bara melemah → berdampak langsung ke top line
  • Kontraksi volume atau efisiensi proyek di segmen kontraktor tambang
  • Margin tertekan, meski beban pokok ikut turun

Mayoritas pendapatan masih ditopang oleh:

  • Kontraktor tambang & batu bara: US$755 juta
  • Jasa: US$185 juta

Artinya, struktur bisnis ABMM masih sangat bergantung pada siklus komoditas.

 

Neraca Masih Sehat, Ini Sinyal Positifnya

Meski laba tertekan, kondisi fundamental ABMM tidak sepenuhnya melemah. Beberapa indikator justru menunjukkan ketahanan:

  • Kas & setara kas naik 17,15% → US$199,52 juta
  • Ekuitas naik 3,91% → US$880,42 juta
  • Liabilitas turun 5,88% → US$1,17 miliar

Dengan kata lain, perusahaan masih menjaga likuiditas dan struktur modal dengan cukup baik di tengah siklus turun.

Ini penting, karena di industri komoditas, survival saat downcycle adalah kunci sebelum masuk fase rebound.

 

Gerak Saham ABMM & Jejak Investor Kakap

Di pasar, saham ABMM berada di kisaran Rp2.860 per saham (17 Maret 2026):

  • YTD: naik 2,88%
  • 1 minggu: turun 2,39%

Menariknya, di tengah volatilitas ini, Lo Kheng Hong masih tercatat sebagai pemegang saham signifikan:

  • Kepemilikan: 154,83 juta saham (5,62%)

Selain ABMM, portofolio Pak Lo juga mencakup:

  • PT Intiland Development Tbk (properti)
  • PT Global Mediacom Tbk (media)

Strategi ini menunjukkan pendekatan klasik value investing: membeli saham saat murah, bahkan ketika kinerjanya sedang tertekan.

 

Murah atau Value Trap? Ini Cara Membacanya

Penurunan kinerja seperti ini sering memunculkan dua kemungkinan:

✔️ Peluang (Value Opportunity)

  • Siklus batu bara memang fluktuatif
  • Perusahaan masih punya kas kuat
  • Jika harga komoditas rebound → laba bisa pulih cepat

Risiko (Value Trap)

  • Jika harga batu bara turun lebih lama dari ekspektasi
  • Ketergantungan tinggi pada sektor komoditas
  • Diversifikasi bisnis belum cukup kuat

 

Kesimpulan: ABMM Masih Menarik?

Kinerja ABMM 2025 memang terlihat “jelek” secara angka. Tapi dalam dunia investasi, yang penting bukan hanya apa yang terjadi sekarang, tapi apa yang akan terjadi berikutnya.

Dengan:

  • Neraca yang masih sehat
  • Kas yang meningkat
  • Dukungan investor kawakan seperti Lo Kheng Hong

ABMM tetap menarik untuk dipantau—terutama bagi investor yang percaya pada siklus rebound komoditas.

Untuk investor Recehin:
Ini bukan saham “instan cuan”, tapi bisa jadi peluang jika kamu paham siklus dan siap bersabar.

 

Posting Komentar

0 Komentar