FlashNews

8/recent/ticker-posts

Kinerja Bank Awal 2026 Moncer, Analis Tetap Waspadai Dampak Geopolitik AS–Iran

Daftar Isi [Tampilkan]

 


Sektor perbankan Indonesia memulai 2026 dengan kinerja yang cukup solid. Sejumlah bank besar mencatatkan pertumbuhan laba operasional dan kualitas aset yang membaik pada Januari 2026. Meski demikian, prospek pertumbuhan sektor ini masih dibayangi risiko geopolitik global, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam riset terbaru, RHB Sekuritas Indonesia mencatat bahwa 10 bank yang mereka pantau—termasuk PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), serta PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS)—mencatat pertumbuhan kinerja yang positif pada awal tahun.

 

Laba Operasional dan Kredit Tumbuh

Secara kumulatif, 10 bank tersebut membukukan pertumbuhan pre-provision operating profit (PPOP) sekitar 9% secara tahunan (YoY) pada Januari 2026.

Kinerja tersebut terutama ditopang oleh:

  • Margin bunga yang lebih kuat
  • Pertumbuhan kredit yang solid
  • Penurunan biaya kredit (cost of credit/CoC)

Di antara bank jumbo, BBNI dan BMRI mencatat pertumbuhan paling kuat. Sementara BBRI menunjukkan peningkatan moderat yang mencerminkan kondisi operasional sektor yang semakin stabil.

Pada saat yang sama, laba bersih kumulatif bank-bank tersebut melonjak 23,3% YoY, didorong oleh penurunan biaya kredit yang signifikan.

 

Bank Menengah Ikut Tumbuh Kencang

Momentum pertumbuhan juga terlihat pada bank-bank kelas menengah. Beberapa emiten seperti:

  • PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN)
  • PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA)
  • PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR)

mencatat kenaikan laba bersih yang cukup signifikan pada periode tersebut.

Penyaluran kredit sektor perbankan juga tetap kuat dengan pertumbuhan sekitar 11,1% YoY. Bank-bank besar masih menjadi motor utama pertumbuhan, dengan kontribusi terbesar dari BBNI dan BMRI, sementara BBRI memperlihatkan peningkatan pada segmen mikro dan UMKM.

 

Margin dan Likuiditas Membaik

Dari sisi profitabilitas, net interest margin (NIM) secara kumulatif meningkat menjadi sekitar 5,1%. Peningkatan ini menunjukkan tanda awal stabilisasi margin setelah proses penyesuaian suku bunga kredit.

Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan. Cost of credit turun menjadi sekitar 1,5%, didukung oleh kondisi likuiditas yang relatif stabil.

Beberapa indikator pendanaan juga menunjukkan kondisi yang sehat:

  • Loan to Deposit Ratio (LDR) turun menjadi 87,2%
  • Dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 14,4% YoY
  • Rasio dana murah (CASA) stabil di sekitar 71%

Menurut analis RHB Sekuritas, kondisi tersebut menunjukkan bahwa bank-bank Indonesia memasuki 2026 dengan fondasi yang cukup kuat dari sisi profitabilitas dan kualitas aset.

 

Risiko Geopolitik Bayangi Prospek

Meski demikian, sektor perbankan masih menghadapi sejumlah risiko eksternal. Ketegangan geopolitik global berpotensi memicu kenaikan harga energi dan inflasi yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Jika inflasi meningkat, bank sentral kemungkinan menunda pelonggaran kebijakan moneter. Kondisi ini berpotensi menekan permintaan kredit.

Selain itu, meningkatnya ketidakpastian global juga dapat memicu arus keluar modal asing yang berdampak pada volatilitas nilai tukar rupiah dan likuiditas domestik.

Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Erni Marsella Siahaan, menilai risiko geopolitik dapat meningkatkan biaya dana (cost of fund) hingga paruh kedua 2026.

Risiko tambahan juga datang dari penurunan prospek peringkat kredit Indonesia oleh Fitch Ratings, yang mengubah outlook utang negara menjadi negatif. Kondisi ini berpotensi meningkatkan imbal hasil obligasi dan menekan valuasi saham perbankan.

 

Saham Bank Pilihan Analis

Meski dihadapkan pada berbagai risiko, sejumlah sekuritas tetap optimistis terhadap prospek sektor perbankan Indonesia.

RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight dengan saham pilihan utama:

  1. BMRI
  2. BBRI
  3. BRIS
  4. BBTN

Sementara itu, analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim dan Faiq Asad, menempatkan prioritas saham bank sebagai berikut:

  1. BBCA
  2. BRIS
  3. BBRI
  4. BMRI
  5. BBNI

Selain valuasi yang masih relatif menarik dibandingkan rata-rata historis, sektor perbankan juga didukung oleh momentum pembagian dividen yang diperkirakan memberikan dividend yield sekitar 4,5% hingga 8,9% untuk bank-bank besar.

Dengan kombinasi kinerja awal tahun yang solid dan valuasi yang masih menarik, saham perbankan tetap menjadi sektor yang diperhatikan investor—meskipun ketidakpastian geopolitik global tetap menjadi faktor risiko utama sepanjang 2026.

 

Posting Komentar

0 Komentar