PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) baru saja merilis laporan keuangan tahun buku 2025 dengan catatan yang menarik. Di satu sisi, anak usaha Pertamina ini berhasil mencetak sejarah produksi operasional, namun di sisi lain, profitabilitas perusahaan harus menghadapi tekanan akibat kenaikan beban pokok.
Bagi investor pemegang saham PGEO, memahami dinamika antara pertumbuhan pendapatan dan koreksi laba bersih ini sangat penting untuk menentukan strategi investasi ke depan.
Pendapatan Tumbuh 6,29% Didorong PLTP Kamojang
Sepanjang tahun 2025, PGEO berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar US$432,72 juta (sekitar Rp7,32 triliun). Angka ini tumbuh 6,29% dibandingkan tahun sebelumnya. Kontributor utama pendapatan ini masih dipegang oleh PLTP Area Kamojang yang menyumbangkan US$155,67 juta.
Direktur Keuangan PGEO, Yurizki Rio, menekankan bahwa kenaikan ini mencerminkan fundamental keuangan yang solid. Apalagi, perusahaan mencatatkan kenaikan produksi sebesar 5,6%—sebuah pencapaian all-time high atau tertinggi sepanjang sejarah operasional perseroan.
Mengapa Laba Bersih PGEO Terkoreksi 14%?
Meskipun pendapatan (top line) tumbuh, laba bersih PGEO justru mengalami penyusutan. Perseroan membukukan laba bersih senilai US$137,69 juta (sekitar Rp2,33 triliun), turun sekitar 14,2% dari pencapaian 2024 yang sebesar US$160,49 juta.
Ada beberapa faktor utama di balik koreksi profitabilitas ini:
- Lonjakan Beban Pokok: Beban pokok pendapatan melonjak drastis sebesar 19,76% secara tahunan menjadi US$199,66 juta.
- Koreksi Laba Kotor: Akibat beban yang membengkak, laba kotor perseroan ikut terkoreksi tipis 3,05% menjadi US$233,06 juta.
Kondisi Neraca: Kas Kuat dan Aset Bertumbuh
Di balik tekanan pada laba, posisi keuangan PGEO sebenarnya masih sangat likuid. Hal ini terlihat dari beberapa indikator pada neraca perusahaan per akhir Desember 2025:
|
Posisi Keuangan |
Nilai (2025) |
Pertumbuhan (YoY) |
|
Kas & Setara Kas |
US$718,49 Juta |
+9,66% |
|
Total Aset |
US$3,03 Miliar |
+1,24% |
|
Total Ekuitas |
US$2,04 Miliar |
+1,83% |
|
Liabilitas |
US$988,88 Juta |
Stabil (+0,02%) |
Posisi kas yang tebal memberikan fleksibilitas bagi PGEO untuk terus melakukan ekspansi, termasuk proyek panas bumi di Bukit Daun yang kini masuk tahap evaluasi PLN, serta rencana roadshow global untuk implementasi teknologi di Filipina.
Update Harga Saham PGEO di Lantai Bursa
Hingga Senin pagi (9/3/2026), harga saham PGEO terpantau bertengger di level Rp990. Secara Year-to-Date (YtD), performa saham ini telah terkoreksi sebesar 12,44%.
Penurunan harga ini mungkin dipandang sebagai risiko oleh sebagian investor, namun bagi mereka yang percaya pada prospek energi baru terbarukan (EBT) jangka panjang, level harga saat ini bisa menjadi area pantau yang menarik mengingat fundamental kas perusahaan yang tetap kuat.
0 Komentar