PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) baru saja merilis laporan keuangan tahun buku 2025 dengan hasil yang cukup unik.
Meskipun secara garis besar pendapatan perusahaan mengalami koreksi yang cukup dalam, anak usaha dari PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) ini justru berhasil membalikkan keadaan dengan mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang solid.
Paradoks Keuangan: Efisiensi Menekan Beban di Tengah Penurunan Omzet
Secara angka, MBMA membukukan pendapatan sebesar US$1,43 miliar sepanjang 2025. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai US$1,84 miliar, terdapat penurunan sekitar 22,23% secara tahunan (YoY). Penurunan ini tidak lepas dari dinamika harga nikel dunia yang cenderung fluktuatif.
Namun, yang menarik adalah performa laba bersihnya. MBMA sukses mengantongi laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$29,56 juta (sekitar Rp492,64 miliar), atau melesat 29,77% dibandingkan laba tahun 2024 yang sebesar US$22,78 juta. Keberhasilan ini didorong oleh pencapaian EBITDA sebesar US$219 juta serta efisiensi biaya tunai produksi Nickel Pig Iron (NPI) yang berhasil ditekan hingga 9% YoY.
Integrasi Tambang SCM sebagai Mesin Utama Operasional
Kunci ketangguhan MBMA terletak pada integrasi hulu ke hilir yang semakin matang. Tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) menjadi pilar utama dengan volume produksi yang signifikan. Optimalisasi di sisi tambang memungkinkan perusahaan menjaga pasokan bahan baku secara stabil dan kompetitif.
Sepanjang 2025, MBMA mencatatkan hasil produksi bijih yang impresif:
- Bijih Saprolit: Mencapai 7,0 juta wet metric ton (wmt).
- Bijih Limonit: Mencapai 14,7 juta wmt.
Produksi bijih ini bukan sekadar angka, melainkan fondasi penting bagi fasilitas hilir perusahaan untuk memproses nilai tambah yang lebih tinggi tanpa bergantung sepenuhnya pada pihak eksternal.
Agresivitas Hilirisasi: Dari NPI hingga Proyek Strategis HPAL
Di sisi hilir, MBMA terus memacu produksi untuk memperkuat portofolio produk nikelnya. Fokus perusahaan tidak hanya pada satu jenis produk, melainkan diversifikasi ke berbagai turunan nikel yang memiliki permintaan tinggi di ekosistem baterai kendaraan listrik.
Berikut adalah rincian produksi hilir MBMA sepanjang 2025:
- Nickel Pig Iron (NPI): 73.871 ton.
- High-Grade Nickel Matte (HGNM): 19.998 ton.
- Mixed Hydroxide Precipitate (MHP): 25.994 ton (melalui teknologi HPAL).
Progres positif pada proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) menjadi sinyal kuat bahwa MBMA siap menjadi pemain kunci dalam rantai pasok material baterai global.
Target 2026: Ambisi Swasembada Bijih 100%
Memasuki tahun 2026, manajemen MBMA memasang target yang sangat agresif. Salah satu misi utamanya adalah mencapai swasembada bijih nikel hingga 100% untuk kebutuhan fasilitas hilirnya sendiri. Strategi ini diharapkan mampu memangkas biaya logistik dan operasional lebih jauh lagi.
|
Indikator Target 2026 |
Estimasi Volume |
|
Produksi Bijih Saprolit |
8 - 10 Juta wmt |
|
Produksi Bijih Limonit |
20 - 25 Juta wmt |
|
Produksi NPI |
70.000 - 80.000 Ton |
|
Produksi HGNM |
44.000 - 48.000 Ton |
|
Produksi MHP |
27.000 - 30.000 Ton |
Selain mengejar target volume, MBMA juga tengah menyiapkan operasional jalur pertama proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) yang berkapasitas raksasa (90.000 ton per tahun) pada semester kedua 2026. Dengan segala persiapan ini, MBMA tampak siap melaju lebih kencang di jalur hijau industri baterai.

0 Komentar