FlashNews

8/recent/ticker-posts

Mengapa China Berpotensi Diuntungkan Saat AS Alihkan Aset Militer untuk Perang Iran

Daftar Isi [Tampilkan]


 

Keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik di Iran dinilai dapat membawa konsekuensi strategis yang lebih luas, termasuk di kawasan Asia Timur. Sejumlah analis di China menilai pengalihan aset militer Washington ke Timur Tengah berpotensi memberi keuntungan geopolitik bagi Beijing, khususnya di sekitar Selat Taiwan.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Li Yihu, dekan Taiwan Research Institute di Peking University sekaligus delegasi Kongres Rakyat Nasional China.

Menurut Li, keterlibatan Amerika dalam beberapa konflik sekaligus—termasuk perang yang melibatkan Iran—membuat sumber daya militer AS semakin terbebani dan berpotensi mengurangi kehadiran militernya di Asia.

 

Pengalihan Sistem Rudal AS

Komentar Li merujuk pada laporan mengenai pemindahan sebagian sistem pertahanan rudal Amerika dari Korea Selatan ke Timur Tengah.

Sistem yang dipindahkan termasuk bagian dari sistem anti-rudal THAAD serta baterai pertahanan udara Patriot missile system.

Menurut Li, pengalihan ini dapat berdampak pada konfigurasi kekuatan militer Amerika di Asia Timur.

“Setiap pelemahan kehadiran militer AS di Asia-Pasifik pada akhirnya akan menguntungkan pihak tertentu—dan Anda bisa membayangkan siapa,” ujarnya dilansir SCMP.


 

Keunggulan Area-Denial China

Li menilai Beijing dapat memperoleh keuntungan karena militer China terus meningkatkan kemampuan area-denial di sekitar Taiwan. Kemampuan ini dirancang untuk mencegah kekuatan asing mendekati wilayah konflik.

Militer China, People's Liberation Army, dalam beberapa tahun terakhir semakin intens melakukan latihan militer di sekitar Taiwan.

Sejak 2022, PLA telah menggelar tujuh latihan militer besar di kawasan tersebut. Latihan terakhir pada Desember bahkan mensimulasikan blokade terhadap pulau Taiwan, termasuk penutupan pelabuhan utama, serangan terhadap target maritim, serta upaya menghalau intervensi internasional.

Menurut Li, latihan tersebut menunjukkan kemajuan pesat dalam kemampuan penolakan akses (anti-access/area denial).

“Manuver PLA di sekitar Taiwan semakin dekat dan kemampuan penolakannya berkembang signifikan,” katanya.

 

Komitmen China pada Reunifikasi Damai

Meski demikian, Li menegaskan bahwa Beijing tetap berkomitmen menyelesaikan isu Taiwan melalui jalur damai.

China memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya yang suatu saat harus bersatu kembali dengan daratan utama.

Sebagian besar negara di dunia, termasuk Amerika Serikat dan Jepang, tidak secara resmi mengakui Taiwan sebagai negara merdeka. Namun Washington menentang upaya penyatuan Taiwan melalui kekuatan militer dan tetap memberikan dukungan pertahanan kepada pulau tersebut.

 

Penjualan Senjata Taiwan Jadi Sorotan

Di tengah ketegangan geopolitik, isu penjualan senjata Amerika ke Taiwan kembali menjadi perhatian.

Media AS melaporkan bahwa pemerintahan Donald Trump menunda pengumuman paket penjualan senjata ke Taiwan senilai US$13 miliar. Nilai ini bahkan akan melampaui paket penjualan sebelumnya sebesar US$11 miliar yang disetujui pada Desember.

Li mendesak Washington untuk menghentikan sepenuhnya penjualan senjata ke Taiwan, bukan sekadar menunda pengumuman menjelang pertemuan puncak antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Trump di Beijing akhir bulan ini.

Menurut Li, isu penjualan senjata kemungkinan akan menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan kedua pemimpin tersebut.

 

Kerangka Hukum Kompleks

Hubungan keamanan antara Amerika Serikat dan Taiwan diatur oleh beberapa dokumen sejarah yang kompleks.

Di satu sisi, Washington terikat oleh Taiwan Relations Act yang mewajibkan AS membantu Taiwan mempertahankan diri dengan menyediakan senjata yang bersifat defensif.

Di sisi lain, dalam komunike bilateral China–AS tahun 1982, Washington menyatakan niatnya untuk secara bertahap mengurangi kualitas dan jumlah senjata yang dijual ke Taiwan.

Namun, Amerika juga memberikan apa yang dikenal sebagai “Six Assurances” kepada Taiwan—yang salah satunya menyatakan bahwa Washington tidak akan meminta persetujuan Beijing dalam keputusan penjualan senjata ke pulau tersebut.

 

Dampak Geopolitik Lebih Luas

Konflik di Timur Tengah kini berpotensi menciptakan efek domino dalam geopolitik global.

Jika Amerika harus mengalokasikan lebih banyak aset militernya untuk konflik di kawasan seperti Iran, sebagian analis menilai keseimbangan kekuatan di Asia Timur dapat ikut berubah.

Dalam konteks ini, Beijing melihat peluang strategis untuk memperkuat posisinya di sekitar Selat Taiwan—meskipun secara resmi tetap menekankan bahwa reunifikasi dengan Taiwan diharapkan terjadi melalui cara damai.

Posting Komentar

0 Komentar