FlashNews

8/recent/ticker-posts

Perang Iran Ganggu Jalur Perdagangan, Perusahaan Logistik China Cari Rute Alternatif

Daftar Isi [Tampilkan]


 

Perusahaan logistik di China mulai merasakan tekanan besar akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran. Lonjakan harga minyak mentah serta terganggunya jalur transportasi global kini memukul rantai pasok internasional.

Dampaknya terasa langsung pada industri logistik dan e-commerce. Banyak kargo dari China yang tertahan di kawasan Timur Tengah, sementara tarif pengiriman melonjak tajam.

Pelaku industri memperkirakan gangguan ini dapat berlangsung hingga beberapa bulan, meskipun Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa konflik tersebut berpotensi berakhir dalam waktu dekat.

 

Kargo E-Commerce Menumpuk

Dilansir SCMP, dalam sebuah forum logistik penerbangan di Guangzhou, seorang pelaku industri mengungkapkan bahwa sekitar 100.000 ton kargo tertahan di bandara, sebagian besar berupa paket e-commerce.

Perusahaan tersebut sebelumnya memindahkan pusat transitnya ke Doha sebelum barang diteruskan ke Madrid. Langkah ini diambil untuk menghindari ketegangan di Laut Merah, tempat kelompok Houthi menyerang kapal komersial dan militer sebagai respons terhadap perang Israel di Gaza.

Namun strategi tersebut justru berbalik menjadi masalah baru.

“Kami memilih rute ini dengan biaya lebih mahal untuk menghindari ketegangan di Laut Merah, tetapi situasi sekarang terlihat sangat suram,” ujar seorang pelaku industri, dikutip SCMP.

Ia menambahkan bahwa satu-satunya hal yang sedikit meringankan adalah waktu terjadinya konflik yang bertepatan dengan musim sepi pengiriman.

“Setidaknya perang ini terjadi saat off-season. Tahun Baru Imlek baru saja lewat dan Timur Tengah sedang menjalankan Ramadan, sehingga untuk sementara kerugian masih dalam batas yang bisa ditanggung perusahaan asuransi,” katanya.

 

Gangguan Bisa Berlangsung Hingga Enam Bulan

Dalam forum yang sama, manajer di Guangzhou Jialianxun Logistics memperingatkan bahwa gangguan terhadap industri logistik global dapat berlangsung hingga enam bulan.

Selain perusahaan logistik, produsen di Provinsi Guangdong—yang merupakan pusat ekspor paket kecil terbesar di China—juga mulai merasakan tekanan biaya.

Pendiri Guangzhou Quantitative Consulting, Yang Xuehai, mengatakan jalur transit melalui Timur Tengah kini mengalami pukulan besar.

Menurutnya, maskapai regional biasanya mengoperasikan pesawat besar seperti Airbus A380 dan Boeing 747 sehingga bandara di Timur Tengah menjadi pusat transit favorit bagi banyak penjual China yang mengirim barang ke luar negeri.

Sebelum konflik pecah, tarif pengiriman udara ke Timur Tengah sekitar US$3 per kilogram. Namun kapasitas yang menyusut membuat harga sempat melonjak dua hingga tiga kali lipat, meskipun belakangan mulai sedikit turun.

Yang juga mencatat bahwa dalam 24 jam setelah krisis di Selat Hormuz, kapasitas pengiriman di jalur utama Asia–Eropa melalui Timur Tengah langsung turun 26–40 persen, walaupun beberapa penerbangan kini mulai kembali beroperasi.

 

Harga Minyak Dorong Biaya Logistik

Lonjakan harga energi juga ikut memperparah kondisi industri.

“Transportasi udara, laut, dan darat semuanya mengonsumsi minyak mentah dalam jumlah besar,” kata Yang, dikutip SCMP. Ia juga mencatat harga bahan seperti serat sintetis, bahan kimia, plastik, dan karet mulai menunjukkan tren kenaikan.

Ketua Chamber of Hong Kong Logistics Industry, Ken Chung, mengatakan kenaikan harga minyak global telah mendorong biaya transportasi darat dari China daratan ke Hong Kong naik 15–25 persen.

Selain itu, kapal yang berangkat dari Hong Kong menuju berbagai destinasi internasional kini menghadapi biaya tambahan sekitar US$1.500 per muatan jika melewati wilayah dekat Selat Hormuz.

“Dalam skenario ekstrem, biaya logistik kami bisa naik lebih dari 30 persen,” kata Chung.
“Bahkan kami mungkin harus mengalihkan pengiriman melalui Tanjung Harapan di Afrika.”

 

Jalur Asia Tengah Jadi Alternatif

Kekacauan ini juga memicu minat pada jalur perdagangan alternatif. Seorang manajer perusahaan jasa kepabeanan yang fokus pada rute Asia Tengah dan Rusia mengatakan permintaan informasi mengenai jalur tersebut melonjak hingga lima kali lipat dalam sepekan terakhir.

Rute yang melewati perbatasan barat China menuju negara-negara Asia Tengah seperti Turkmenistan, atau melalui Azerbaijan lalu diteruskan melalui Turki menuju Eropa kini semakin diminati.

Ia bahkan menceritakan seorang klien dari Shenzhen yang panik setelah pusat data Amazon di Uni Emirat Arab terkena dampak konflik sehingga sistem pemrosesan pesanan perusahaan tersebut lumpuh.

“Dia kehilangan banyak pesanan dan langsung datang berkonsultasi untuk merombak sistem platform dan logistiknya,” katanya.

Menurut para pelaku industri, perang ini membuat semakin banyak penjual menyadari pentingnya diversifikasi jalur pengiriman dan tidak hanya bergantung pada satu rute cepat.

 

Tarif Pengiriman Diperkirakan Cetak Rekor

Manajer rute di sebuah perusahaan logistik, Yu Mingxin, memperkirakan tarif pengiriman global bisa mencapai rekor tertinggi tahun ini.

Ia menjelaskan bahwa kapasitas transportasi udara sebenarnya sudah menurun bahkan sebelum konflik terjadi.

“Armada pesawat global semakin menua. Maskapai memensiunkan sekitar 70–80 pesawat setiap tahun, tetapi hanya menerima 50–60 pesawat baru,” ujarnya.

Menurut Yu, gejolak di Timur Tengah hanya akan memperparah kekurangan kapasitas transportasi yang sudah terjadi di sektor logistik global.

 

Posting Komentar

0 Komentar