Sejumlah sekuritas mulai merevisi naik rekomendasi saham emiten batu bara pelat merah PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) sepanjang Februari hingga Maret 2026. Revisi tersebut muncul di tengah kombinasi faktor fundamental perusahaan, dinamika harga batu bara global, serta perubahan struktur kepemilikan BUMN sektor tambang.
Berdasarkan data yang dihimpun, gelombang revisi rekomendasi terhadap saham PTBA mulai terlihat sejak Februari 2026. Saat itu, Ajaib Sekuritas dan Bahana Sekuritas menaikkan rekomendasi saham PTBA menjadi beli.
Memasuki Maret 2026, dua institusi keuangan global juga mengikuti langkah serupa.
Pada 2 Maret 2026, Citigroup (Citi) menaikkan rekomendasi saham PTBA menjadi buy dengan target harga Rp3.600 per saham. Sementara itu, JPMorgan Chase merevisi rekomendasi saham PTBA dari sebelumnya lebih konservatif menjadi netral, dengan target harga Rp3.130.
Mayoritas Sekuritas Masih Optimistis
Secara keseluruhan, terdapat 27 sekuritas yang mengulas saham PTBA.
Rinciannya hingga 13 Maret 2026:
- 10 sekuritas: rekomendasi buy
- 9 sekuritas: rekomendasi hold
- 8 sekuritas: rekomendasi sell
Adapun target harga konsensus analis dalam 12 bulan ke depan berada di sekitar Rp2.629,33 per saham.
Target tersebut sebenarnya berada di bawah harga pasar saat ini, mengingat saham PTBA diperdagangkan di level Rp2.910 pada penutupan sesi pertama perdagangan 13 Maret 2026. Kondisi ini mencerminkan bahwa sebagian analis masih melihat ruang kenaikan yang terbatas dalam jangka pendek.
Volume Produksi dan Penjualan Masih Tumbuh
Secara operasional, kinerja PTBA menunjukkan pertumbuhan dari sisi volume produksi dan penjualan.
Hingga akhir September 2025, perusahaan mencatat:
- Produksi batu bara: 35,89 juta ton (+9% YoY)
- Penjualan batu bara: 33,7 juta ton (+8% YoY)
Pertumbuhan tersebut mencerminkan ekspansi operasional yang masih berlanjut, meskipun pasar batu bara global mengalami tekanan harga.
Namun, kenaikan volume tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi pelemahan harga komoditas.
Harga acuan batu bara global mengalami penurunan cukup signifikan:
- Newcastle Index: turun 22% YoY
- ICI-3 (Indonesian Coal Index): turun 16% YoY
Akibatnya, harga jual rata-rata PTBA turun sekitar 6% secara tahunan, yang berdampak pada tekanan terhadap kinerja pendapatan perusahaan.
Permintaan Domestik Jadi Penopang
Di tengah volatilitas pasar global, pasar domestik menjadi salah satu penopang utama kinerja PTBA.
Pada periode yang sama:
- Penjualan domestik: 18,8 juta ton (+11% YoY)
- Penjualan ekspor: 14,8 juta ton (+4% YoY)
Untuk pasar ekspor, lima negara tujuan utama PTBA meliputi:
- Bangladesh
- India
- Filipina
- Vietnam
- Korea Selatan
Diversifikasi pasar ekspor ini membantu perusahaan menjaga stabilitas permintaan meskipun harga batu bara global sedang melemah.
Perubahan Status Persero di Bawah Aturan Baru BUMN
Di sisi lain, PTBA juga mengalami perubahan penting dari sisi struktur kepemilikan setelah implementasi Undang-Undang BUMN terbaru.
Menurut COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, pemerintah menetapkan bahwa negara tetap memiliki 1% saham Seri A Dwiwarna pada perusahaan besar BUMN.
Kebijakan tersebut juga berlaku untuk PT Bukit Asam (Persero) Tbk dan PT Aneka Tambang Tbk.
Sementara itu, 99% saham lainnya dikelola oleh Danantara, sesuai ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang BUMN.
Skema ini bertujuan menjaga status hukum perusahaan sebagai BUMN strategis, sekaligus memastikan negara tetap memiliki kendali melalui saham khusus.
Kedua perusahaan tersebut juga tetap berada dalam ekosistem holding pertambangan nasional MIND ID yang berfungsi sebagai lembaga supervisi dan monitoring.
Penting untuk Kelangsungan Izin Tambang
Menurut Dony, keberadaan saham negara meskipun hanya 1% memiliki peran penting secara hukum.
Tanpa status sebagai BUMN, perusahaan seperti Antam dan Bukit Asam berpotensi menghadapi kendala dalam:
- penguasaan Izin Usaha Pertambangan (IUP)
- mandat strategis dari negara
- peran sebagai perusahaan pengelola sumber daya alam nasional
Karena itu, negara tetap mempertahankan kepemilikan langsung sebagai pengait legal agar perusahaan tetap diakui sebagai BUMN.
Revisi naik rekomendasi saham PT Bukit Asam (Persero) Tbk mencerminkan optimisme sebagian analis terhadap prospek perusahaan, terutama dari sisi volume produksi yang terus tumbuh dan permintaan domestik yang kuat.
Namun, tekanan harga batu bara global masih menjadi faktor yang membatasi potensi kenaikan saham dalam jangka pendek.
Di sisi lain, perubahan struktur kepemilikan melalui kebijakan baru BUMN memastikan perusahaan tetap berada di bawah kendali negara, sekaligus menjaga keberlanjutan operasional di sektor pertambangan strategis Indonesia.

0 Komentar