Prospek kinerja emiten operator jalan tol pelat merah Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) dinilai mulai menunjukkan titik terang pada 2026. Salah satu katalis utama datang dari meningkatnya kontribusi pendapatan ruas tol baru yang untuk pertama kalinya melampaui ruas tol yang sudah matang.
Analis UBS Sekuritas Indonesia, Joshua Tanja dan Ivan Reynaldo Sutheja, menilai perubahan struktur pendapatan ini menandai fase baru dalam siklus ekspansi Jasa Marga.
Menurut mereka, proyek-proyek tol yang dibangun dalam beberapa tahun terakhir mulai memasuki fase monetisasi, sehingga berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru bagi perseroan.
Pendapatan Tol Baru Lampaui Ruas Matang
Sepanjang 2025, ruas tol baru yang dioperasikan melalui anak usaha dan skema joint venture menyumbang pendapatan sekitar Rp10,6 triliun.
Jumlah tersebut melampaui kontribusi ruas tol matang, menandai pertama kalinya dalam sejarah perusahaan struktur pendapatan JSMR didominasi oleh jalan tol baru.
Secara keseluruhan, pendapatan dari segmen tol dan jasa lainnya mencapai Rp19,8 triliun, meningkat 6% secara tahunan (YoY).
Pergeseran ini menunjukkan bahwa ekspansi jaringan tol yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir mulai memberikan dampak nyata terhadap kinerja operasional.
“JSMR sedang menjalani transisi bertahap menuju kontribusi yang lebih besar dari jalan tol baru,” tulis analis UBS dalam laporan risetnya.
Tantangan dari Proyek yang Mundur
Namun demikian, tidak semua analis memandang prospek JSMR tanpa risiko.
Analis Panin Sekuritas, Aqil Triyadi, menilai adanya potensi tekanan dari keterlambatan beberapa proyek tol strategis.
Beberapa ruas yang mengalami penundaan jadwal operasi antara lain:
- Tol Prambanan – Purwomartani
- Tol Yogyakarta – Bawen
- Tol Probolinggo – Besuki
Penundaan tersebut dipicu oleh pengalihan anggaran infrastruktur pemerintah dan berpotensi menekan laba bersih karena munculnya beban operasional dan amortisasi utang sebelum pendapatan optimal tercapai.
Struktur Keuangan Masih Tertekan
Di sisi lain, langkah JSMR mengambil kendali penuh atas PT Jasa Marga Jogja Solo (JMJ) juga membawa konsekuensi pada struktur keuangan.
Aksi korporasi tersebut memang meningkatkan konsolidasi pendapatan, namun di saat yang sama juga memicu kenaikan biaya pendanaan (financing cost) yang mulai terasa sejak kuartal III/2025.
Meski begitu, fundamental bisnis perusahaan dinilai masih cukup kuat.
Direktur Utama JSMR, Rivan A. Purwantono, menyebut bahwa stabilitas kinerja tetap terjaga dengan beberapa indikator utama:
- EBITDA: Rp13,3 triliun
- EBITDA margin: 67%
- Core profit: Rp3,7 triliun
Prospek Pendapatan JSMR pada 2026
Sejumlah analis memperkirakan 2026 akan menjadi tahun pemulihan bagi JSMR.
Beberapa proyeksi yang muncul antara lain:
|
Proyeksi 2026 |
Estimasi |
|
Pertumbuhan pendapatan |
~8% YoY |
|
Pertumbuhan laba bersih |
~12% YoY |
|
Pendapatan total |
sekitar Rp31,3 triliun |
Katalis utama pertumbuhan tersebut diperkirakan berasal dari penyesuaian tarif tol berkala yang mulai diterapkan sejak awal 2026.
Menurut analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, kenaikan tarif akan dilakukan secara bertahap sepanjang tahun di sejumlah ruas utama.
Penyesuaian ini diyakini mampu meningkatkan yield tol tanpa membutuhkan tambahan belanja modal yang besar.
Trafik Jalan Tol Diperkirakan Tetap Stabil
Dari sisi operasional, trafik kendaraan diproyeksikan tetap tumbuh stabil.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai mobilitas masyarakat dan aktivitas logistik nasional akan tetap menjadi pendorong utama volume kendaraan.
Selain itu, karakteristik permintaan jalan tol yang relatif inelastis terhadap harga membuat kenaikan tarif tidak akan terlalu memengaruhi jumlah pengguna.
Dengan demikian, pertumbuhan pendapatan dapat terjadi secara organik melalui:
- peningkatan trafik kendaraan
- penyesuaian tarif berkala
- optimalisasi ruas tol baru
Ekspansi jaringan jalan tol yang dilakukan Jasa Marga (Persero) Tbk dalam beberapa tahun terakhir mulai memasuki fase monetisasi.
Dominasi kontribusi dari ruas tol baru menjadi sinyal bahwa strategi ekspansi perusahaan mulai membuahkan hasil.
Jika penyesuaian tarif berjalan sesuai rencana dan trafik kendaraan tetap stabil, 2026 berpotensi menjadi tahun pemulihan kinerja bagi JSMR, setelah tekanan dari siklus ekspansi besar pada periode sebelumnya.

0 Komentar