Pasar keuangan Indonesia dikejutkan dengan pergerakan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis baru. Pada perdagangan Senin (9/3/2026), rupiah dibuka melemah ke posisi Rp17.001 per dolar AS. Angka ini bukan sekadar angka biasa, karena telah melampaui rekor terlemah saat pandemi Covid-19 (2020) maupun titik nadir Krisis Moneter Juni 1998 yang berada di kisaran Rp16.800.
Apa yang sebenarnya terjadi di balik "tumbangnya" mata uang Garuda terhadap greenback? Simak analisis faktor internal dan eksternalnya berikut ini.
Perbandingan Rupiah di Berbagai Era Krisis
Pelemahan kali ini tercatat sebagai yang terdalam dalam sejarah ekonomi Indonesia. Sebagai perbandingan, berikut adalah posisi nilai tukar rupiah pada momen-momen krusial:
|
Era / Momentum |
Level Nilai Tukar (Per Dolar AS) |
|
Krisis Moneter (Juni 1998) |
Rp16.800 |
|
Pandemi Covid-19 (Maret 2020) |
Rp16.600 – Rp16.700 |
|
Hari Ini (9 Maret 2026) |
Rp17.001 |
Faktor Internal: Tekanan Fiskal dan Outlook Negatif Fitch Ratings
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa pelemahan ini sangat dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri. Berikut adalah dua poin utama yang memicu kekhawatiran pasar:
- Penurunan Prospek oleh Fitch Ratings: Lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch, menurunkan prospek Indonesia dari stabil menjadi negatif. Hal ini memicu aksi jual di pasar aset domestik.
- Rasio Pajak (Tax Ratio) yang Menurun: Pasar khawatir terhadap kemampuan penerimaan negara. Tax ratio Indonesia tercatat turun dari 10,08% pada 2024 menjadi 9,31% pada 2025.
- Beban Belanja Sosial: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproyeksikan menelan biaya 1,3% dari PDB (periode 2025–2029) dinilai menjadi beban fiskal yang memicu kewaspadaan investor terhadap defisit anggaran.
Faktor Eksternal: Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak
Kondisi global tidak kalah panas. Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki hari ketujuh. Ketegangan ini berdampak langsung pada:
- Lonjakan Harga Minyak: Sebagai importir minyak, kenaikan harga komoditas ini akan memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia.
- Ancaman Inflasi Global: Harga energi yang tinggi memicu kekhawatiran inflasi baru, yang membuat bank sentral AS (The Fed) diprediksi akan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga.
Prediksi Rupiah Sepanjang Pekan Ini
Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah akan tetap fluktuatif namun cenderung ditutup melemah. Untuk sisa pekan ini, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp16.850 hingga Rp17.010 per dolar AS.
Pemerintah saat ini dilaporkan tengah berupaya mengerek kembali tax ratio guna memberikan kepastian pada lembaga pemeringkat internasional dan menstabilkan kepercayaan pasar.
0 Komentar