Tekanan harga saham tidak selalu mencerminkan memburuknya fundamental sebuah perusahaan. Hal inilah yang terjadi pada saham PT Bank Jago Tbk. Meski mengalami koreksi lebih dari 30% sejak awal 2026, sejumlah analis global masih melihat prospek cerah bagi bank digital tersebut.
Salah satu yang tetap optimistis adalah JPMorgan Chase & Co.. Bank investasi asal Amerika Serikat ini mempertahankan rekomendasi overweight terhadap saham ARTO karena menilai valuasinya kini jauh lebih menarik dibandingkan beberapa bulan lalu.
Penurunan harga saham justru membuka peluang bagi investor yang ingin masuk pada valuasi lebih murah, terutama jika melihat potensi pertumbuhan bisnis bank digital yang masih besar di Indonesia.
Valuasi Saham ARTO Turun, Fundamental Bank Jago Dinilai Tetap Kuat
Koreksi saham ARTO memang cukup dalam. Pada perdagangan 9 Maret 2026, harga sahamnya berada di kisaran Rp1.330 per lembar, atau turun sekitar 32,66% sejak awal tahun.
Dalam periode enam bulan terakhir bahkan penurunannya mencapai sekitar 37%. Penurunan ini jauh lebih dalam dibandingkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan yang hanya melemah sekitar 3,7% pada periode yang sama.
Beberapa faktor memicu volatilitas saham ARTO. Salah satunya adalah karakter saham yang memiliki beta tinggi, sehingga lebih sensitif terhadap sentimen pasar. Selain itu, likuiditas perdagangan yang relatif kecil juga membuat pergerakan harga menjadi lebih fluktuatif.
Sentimen lain yang sempat membebani harga saham adalah kekhawatiran pasar terkait kemitraan Bank Jago dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Saat ini sekitar 21% portofolio kredit Bank Jago terhubung dengan ekosistem GoTo, meningkat dari sekitar 8,3% dua tahun sebelumnya.
Namun analis menilai kekhawatiran tersebut berlebihan. Apalagi GoTo telah mencapai titik impas dan tidak memiliki kebutuhan mendesak untuk melakukan aksi korporasi yang berpotensi menekan mitra bisnisnya.
Di sisi lain, fundamental Bank Jago dinilai masih kuat. Kapitalisasi pasar perusahaan masih berada di kisaran US$1,2 miliar, sementara model bisnis digitalnya dinilai memiliki ruang ekspansi yang besar.
Potensi pertumbuhan kredit Bank Jago bahkan diperkirakan dapat mencapai 30%–40% dalam lima tahun ke depan. Sementara itu, margin bunga bersih berbasis risiko mulai menunjukkan stabilitas dan pendapatan non-bunga terus berkembang.
Diversifikasi sumber pendapatan juga semakin luas seiring bertambahnya kemitraan ekosistem digital yang mendukung pertumbuhan transaksi dan layanan keuangan.
Proyeksi Kinerja Bank Jago dan Potensi Kenaikan Saham
Prospek kinerja Bank Jago dalam beberapa tahun ke depan juga dinilai masih menjanjikan. Untuk kuartal IV/2025 saja, laba bersih perusahaan diperkirakan mencapai sekitar Rp83 miliar, naik signifikan secara tahunan.
Stabilnya margin bunga bersih (NIM) serta penurunan biaya dana di sistem perbankan dinilai dapat membantu meningkatkan profitabilitas secara bertahap.
Pada saat yang sama, biaya kredit diperkirakan tetap terjaga dengan rasio cadangan kerugian kredit sekitar 2%. Sepanjang 2025, Bank Jago diproyeksikan mampu mencatat pertumbuhan kredit sekitar 42% dan pertumbuhan deposito sekitar 36%.
Jika tren ini berlanjut, leverage operasional perusahaan dapat meningkat secara signifikan. Infrastruktur teknologi yang sudah terbangun juga memungkinkan biaya operasional tumbuh lebih lambat dibandingkan ekspansi aset.
Dalam jangka menengah, rasio biaya terhadap pendapatan diperkirakan turun dari sekitar 59% pada 2025 menjadi sekitar 42%. Efisiensi ini akan memperkuat profitabilitas perusahaan.
Lebih jauh lagi, proyeksi jangka panjang menunjukkan potensi lonjakan laba yang sangat signifikan. Laba per saham Bank Jago bahkan diperkirakan dapat tumbuh hampir lima kali lipat pada 2028 dibandingkan realisasi 2025.
Konsensus analis juga masih sangat positif terhadap saham ARTO. Dari 20 analis yang meliput perusahaan ini, sebanyak 18 analis memberikan rekomendasi beli.
Target harga konsensus analis bahkan mencapai sekitar Rp2.633 per saham, yang berarti berpotensi memberikan kenaikan hampir 98% dari harga pasar saat ini.
Selain JPMorgan Chase & Co., dukungan juga datang dari UBS Group AG yang tetap memberikan rekomendasi beli terhadap saham ARTO dengan target harga Rp1.890.
Valuasi yang lebih murah dibandingkan sektor bank digital serta potensi pertumbuhan kredit yang tinggi menjadi alasan utama optimisme tersebut.
Dengan kombinasi fundamental yang kuat, potensi pertumbuhan kredit yang agresif, serta valuasi yang kini lebih menarik, saham Bank Jago masih dipandang sebagai salah satu peluang investasi menarik di sektor perbankan digital Indonesia.
0 Komentar