FlashNews

8/recent/ticker-posts

TBS Energi (TOBA) Incar Proyek PLTB di NTT, Nilai Investasi Bisa Tembus Rp1,1 Triliun

Daftar Isi [Tampilkan]

 


Transformasi menuju bisnis energi rendah karbon terus dilakukan oleh PT TBS Energi Utama Tbk. Salah satu langkah terbaru yang sedang disiapkan perusahaan adalah mengincar proyek pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di Nusa Tenggara Timur.

Perusahaan dengan kode saham TOBA tersebut menargetkan kapasitas pembangkit angin sekitar 22 megawatt (MW). Proyek ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk memperbesar portofolio energi terbarukan.

Jika proyek ini terealisasi, nilai investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai ratusan miliar hingga lebih dari Rp1 triliun.

 

Proyek PLTB 22 MW Masih Menunggu Tender PLN

Manajemen TBS Energi menyebut proyek pembangkit listrik tenaga bayu tersebut saat ini masih berada dalam pipeline perusahaan. Namun realisasinya masih menunggu proses tender yang akan dibuka oleh PT PLN (Persero).

Proyek PLTB ini sebenarnya sudah sempat masuk dalam proses tender sebelumnya, tetapi dua kali dibatalkan oleh PLN. Meski demikian, proyek tersebut masih tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), sehingga peluang untuk kembali dilelang masih cukup besar.

Dari sisi investasi, kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk pembangkit bayu diperkirakan sekitar US$2 juta hingga US$3 juta per megawatt.

Dengan target kapasitas 22 MW, total investasi yang diperlukan diperkirakan berkisar antara Rp739 miliar hingga Rp1,11 triliun dengan asumsi kurs sekitar Rp16.800 per dolar AS.

 

Strategi Transformasi Menuju Energi Rendah Karbon

Sepanjang 2025, TBS Energi memang tengah melakukan penataan ulang portofolio bisnis. Langkah ini menjadi bagian dari strategi repositioning perusahaan untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus mengarahkan bisnis ke sektor yang lebih berkelanjutan.

Fokus utama transformasi ini adalah mengurangi ketergantungan terhadap bisnis batu bara dan memperbesar kontribusi sektor energi bersih serta bisnis berkelanjutan lainnya.

Dari sisi operasional, perusahaan mencatat EBITDA disesuaikan sebesar US$47,2 juta pada 2025. Selain itu, posisi kas perusahaan juga berada di level yang cukup sehat, yakni sekitar US$102,3 juta atau meningkat sekitar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Bisnis Limbah Mulai Jadi Penopang Baru

Selain energi terbarukan, TBS Energi juga mulai memperkuat bisnis pengelolaan limbah sebagai sumber pertumbuhan baru. Salah satu langkah penting adalah akuisisi Sembcorp Environment yang kini beroperasi dengan nama Cora Environment.

Akuisisi ini memperluas jejak bisnis TBS di sektor pengelolaan limbah, khususnya di Singapura, sekaligus meningkatkan kapasitas aset perusahaan untuk mendukung ekspansi jangka panjang.

Sepanjang 2025, segmen pengelolaan limbah menyumbang sekitar US$155,4 juta atau sekitar 41 persen dari total pendapatan perusahaan.

Sementara itu, bisnis pertambangan dan perdagangan batu bara masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan sekitar US$194,6 juta atau 51 persen dari total pendapatan. Namun kontribusi ini sudah menurun cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 81 persen.

Meski pendapatan tetap solid, TBS Energi mencatatkan rugi bersih sekitar US$162 juta pada 2025. Kerugian tersebut dipengaruhi oleh turunnya harga batu bara global serta dampak non-kas dari divestasi aset pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) senilai sekitar US$97 juta.

Langkah divestasi tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk mempercepat transformasi menuju bisnis energi yang lebih ramah lingkungan.

 

Posting Komentar

0 Komentar