Pasar saham Indonesia memasuki fase penuh ketidakpastian usai libur panjang Lebaran 2026. Tekanan geopolitik global dan aksi jual investor asing membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi cukup dalam sepanjang kuartal I/2026.
Namun di tengah kekhawatiran itu, investor kawakan Lo Kheng Hong justru melihat peluang besar. Filosofi klasiknya kembali ditegaskan: saat pasar sedang tidak baik-baik saja, di situlah peluang terbaik muncul.
Lalu, bagaimana investor seharusnya bersikap di kondisi seperti ini?
IHSG Terkoreksi, Asing Kabur: Pasar Sedang “Diskon”?
Sepanjang awal 2026, pasar saham domestik mengalami tekanan signifikan:
- IHSG turun 17,81% (year to date)
- Net sell asing mencapai Rp8,51 triliun
- Sentimen global masih dibayangi tensi geopolitik
Kondisi ini membuat banyak saham—bahkan yang fundamentalnya kuat—ikut terkoreksi. Dalam perspektif value investing, situasi seperti ini sering disebut sebagai fase “salah harga” atau undervalued.
Artinya, harga saham turun bukan karena bisnisnya memburuk, tetapi karena sentimen pasar.
Strategi Lo Kheng Hong: Beli Saat Pasar Takut
Lo Kheng Hong dikenal sebagai penganut kuat value investing. Dalam kondisi pasar yang bergejolak, ia justru memberikan pandangan yang berlawanan dengan mayoritas pelaku pasar.
Inti strateginya sederhana:
- Berinvestasi saat kondisi pasar buruk
- Fokus pada saham dengan fundamental kuat
- Manfaatkan harga diskon untuk akumulasi
Menurutnya, banyak perusahaan bagus saat ini diperdagangkan di harga murah. Ini menjadi momentum bagi investor yang memiliki “uang dingin” untuk masuk secara bertahap.
Pendekatan ini bukan tanpa alasan. Secara historis, fase bearish sering menjadi titik awal keuntungan besar bagi investor jangka panjang.
Aksi Nyata: Borong Saham DILD dan BDMN
Wejangan Lo Kheng Hong tidak berhenti di teori. Ia langsung mengeksekusi strateginya di pasar.
1. Saham Properti – DILD
- Membeli total 6,26 juta saham sepanjang 2026
- Kepemilikan naik menjadi 6,77%
- Konsisten akumulasi dalam beberapa transaksi
2. Saham Perbankan – BDMN
- Kepemilikan naik menjadi 28,51 juta saham
- Fokus pada bank dengan kinerja solid dan valuasi murah
Alasan utamanya:
- Kinerja perusahaan dinilai baik
- Valuasi masih menarik
- Prospek pertumbuhan jangka panjang positif
Selain itu, Lo juga menyoroti sektor lain yang menarik:
- Perbankan
- Batu bara
- Perkebunan kelapa sawit
Strategi Investor di 2026: Jangan All In, Tapi Cerdas
Meski peluang terbuka, bukan berarti investor bisa sembarangan masuk. Kondisi pasar saat ini masih volatil, sehingga strategi menjadi kunci.
Beberapa pendekatan yang bisa dipertimbangkan:
1. Value Investing
- Cari saham undervalued dengan fundamental kuat
- Hindari saham yang turun karena masalah struktural
2. Fokus Dividen
- Saham dengan yield 4%–7% jadi menarik
- Cocok untuk meredam volatilitas
3. Diversifikasi Portofolio
- Kombinasikan:
- Saham defensif (perbankan, consumer non-siklikal)
- Saham growth (komoditas, energi)
4. Beli Bertahap (Averaging)
- Jangan langsung all in
- Masuk secara bertahap untuk mengurangi risiko timing
Prospek IHSG: Masih Volatil, Tapi Ada Peluang
Secara teknikal, pergerakan IHSG masih akan fluktuatif dalam waktu dekat.
Skenario yang mungkin terjadi:
- Bullish: menuju level 8.394
- Bearish: turun ke kisaran 6.746
Artinya, pasar masih mencari keseimbangan baru. Dalam fase seperti ini, disiplin dan manajemen risiko menjadi faktor penentu.
Kesimpulan: Saatnya Takut atau Justru Serakah?
Wejangan Lo Kheng Hong sebenarnya sederhana, tapi sulit dijalankan: berani membeli saat mayoritas orang takut.
Namun perlu digarisbawahi, strategi ini bukan sekadar “beli saat turun”, melainkan:
- Beli perusahaan bagus
- Dengan harga murah
- Untuk jangka panjang
Di tengah tekanan pasar 2026, peluang memang terbuka lebar. Tapi hanya investor yang disiplin, sabar, dan rasional yang bisa benar-benar memanfaatkannya.
Bagi investor Receh, pertanyaannya bukan lagi “pasar lagi
turun atau naik”, tapi:
apakah saham yang kamu beli benar-benar layak dimiliki saat pasar kembali
pulih nanti?
0 Komentar