Di saat banyak pengembang properti masih berjibaku mengejar
target penjualan unit untuk bertahan hidup, PT Indonesian Paradise Property
Tbk. (INPP) justru mengambil langkah berbeda. Emiten ini memilih strategi
memperkuat recurring income atau pendapatan berulang sebagai fondasi
bisnis. Strategi ini terbukti efektif menjadi bantalan saat daya serap pasar
apartemen sedang menyusut, sekaligus menjadi mesin pertumbuhan jangka panjang
yang stabil.
CEO INPP, Anthony Prabowo Susilo, mengungkapkan bahwa
pendekatan ini mengubah aset properti dari sekadar produk jual-beli menjadi
sumber arus kas yang berkelanjutan. Dengan porsi pendapatan berulang yang kuat,
perseroan mampu menjaga fleksibilitas keuangan meskipun pasar residensial
sedang fluktuatif.
Konsep 4M dan Ekspansi Agresif Terukur
INPP tidak hanya fokus pada satu wilayah, melainkan telah
merambah delapan kota besar di Indonesia, mulai dari Batam, Jakarta, hingga
Makassar. Dalam waktu dekat, Semarang dan Balikpapan menjadi target ekspansi
selanjutnya. Strategi pengembangan perusahaan didasarkan pada konsep 4M:
Mixed-use development, Mid-scale, Middle-up, dan Major cities.
Menariknya, INPP selalu mendahulukan pembangunan aset yang
menghasilkan recurring income sebelum masuk ke proyek residensial.
Berikut adalah rencana target performa INPP untuk tahun 2026:
|
Indikator Target |
Proyeksi Tahun 2026 |
Faktor Pendorong
Utama |
|
Pertumbuhan Pendapatan |
5% - 10% |
Monetisasi Antasari
Place & 23 Semarang |
|
Porsi Recurring Income |
> 75% |
Operasional
hotel dan pusat perbelanjaan baru |
|
Pertumbuhan Profit |
Double Digit |
Intensifikasi aset dan
ekspansi terukur |
Adaptasi di Balikpapan: Fokus Lifestyle, Bukan Mal Besar
Dalam menyasar pasar Balikpapan, INPP menerapkan pendekatan
yang sangat spesifik. Alih-alih membangun mal megah yang berisiko tinggi,
perusahaan memilih konsep mixed-use dengan CBD zone yang memiliki
kepadatan rendah hingga menengah (mid to low density).
Fokus utama di wilayah ini adalah pembangunan ruko tiga
lantai yang menyasar sektor kafe dan lifestyle, karena dinilai lebih
sesuai dengan kesiapan pasar lokal. Selain itu, INPP juga membidik segmen hotel
bintang empat plus melalui rencana pembangunan Hyatt Place, mengingat
posisi strategis Balikpapan sebagai motor ekonomi di Kalimantan.
Realisme Proyek Residensial: Menghindari Risiko Mangkrak
Anthony secara terbuka menyatakan bahwa pengembangan
apartemen high-rise saat ini semakin tidak layak secara bisnis (feasible)
karena daya serap pasar yang melemah. Sebagai langkah mitigasi, INPP lebih
memilih mengembangkan proyek mid-rise yang dianggap lebih realistis dan
sehat secara finansial.
Beberapa poin penting terkait strategi residensial INPP
meliputi:
- Fokus
pada Penyerapan: Kesehatan proyek ditentukan oleh seberapa cepat pasar
menyerap unit, guna menghindari risiko proyek mangkrak.
- Keberhasilan
Antasari Place: Proyek ini mencatatkan performa impresif dengan hanya
menyisakan sekitar 70 unit dari total 980 unit yang tersedia.
- Manfaat
Insentif: Penjualan Antasari Place sangat terbantu oleh kebijakan PPN
DTP pada tahun 2025, yang mendorong perseroan untuk segera menyiapkan
rencana pembangunan menara (tower) kedua.
Menuju 2026 yang Lebih Stabil
Optimisme INPP untuk tahun 2026 didasarkan pada penyelesaian
beberapa proyek strategis, termasuk pusat perbelanjaan 23 Semarang. Dengan
menargetkan porsi recurring income di atas 75%, INPP berupaya melepaskan
diri dari ketergantungan pada siklus penjualan properti yang seringkali tidak
menentu.
Kombinasi antara ekspansi di kota-kota besar, pemilihan
segmen middle-up, dan fokus pada pendapatan sewa pusat perbelanjaan
serta perhotelan diharapkan mampu menjaga profitabilitas perusahaan tetap
tumbuh di angka dua digit. Bagi investor, model bisnis yang mengutamakan arus
kas rutin ini menawarkan profil risiko yang lebih terukur di tengah dinamika
industri properti nasional.

0 Komentar