Langkah drastis diambil oleh PT Hotel Fitra International
Tbk. (FITT) pasca perubahan pengendali perusahaan pada akhir 2025. Emiten yang
sebelumnya fokus pada industri pariwisata ini mengumumkan rencana besar untuk
banting setir sepenuhnya ke sektor sumber daya pertambangan, jasa pertambangan,
serta perdagangan produk tambang.
Keputusan ini diambil setelah manajemen di bawah kendali PT
Jinlong Resources Investment melakukan evaluasi mendalam. Hasilnya, bisnis
perhotelan yang selama ini dijalankan dinilai memiliki skala usaha terbatas dan
belum mampu memberikan performa finansial yang optimal bagi para pemegang
saham.
Alasan di Balik Reorientasi Bisnis ke Sektor Tambang
Direktur Utama FITT, Joni Rizal, menegaskan bahwa perubahan
haluan ini merupakan strategi untuk menyelamatkan kelangsungan usaha (going
concern) perseroan. Dalam public expose insidentil pada Selasa
(14/4/2026), manajemen mengungkapkan bahwa sektor pertambangan memiliki prospek
sinergi yang lebih kuat di bawah naungan pemilik baru.
Beberapa alasan utama di balik pengalihan fokus ini
meliputi:
- Kinerja
Keuangan yang Lemah: Bisnis perhotelan FITT terus mencatatkan kerugian
dan penurunan pendapatan yang signifikan.
- Kapasitas
Pengendali Baru: PT Jinlong Resources Investment memiliki rekam jejak
dan keahlian dalam operasional proyek pertambangan.
- Efisiensi
Operasional: Sektor tambang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan
perseroan pada satu lini bisnis yang tidak produktif dan meningkatkan
efisiensi secara menyeluruh.
Membedah Kondisi Keuangan Perseroan
Keputusan untuk meninggalkan sektor pariwisata diperkuat
oleh laporan keuangan terakhir yang menunjukkan performa kurang memuaskan.
Meskipun rugi bersih mengalami penyusutan, penurunan pendapatan tetap menjadi
lampu kuning bagi kesehatan finansial perusahaan.
Berikut adalah ringkasan perbandingan kinerja keuangan FITT
(Januari–September 2025 vs 2024):
|
Indikator Keuangan |
Jan-Sep 2025 |
Jan-Sep 2024 |
|
Pendapatan |
Rp6,36 Miliar |
Rp9,89 Miliar |
|
Rugi Bersih |
Rp5,66 Miliar |
Rp6,95 Miliar |
|
Total Aset |
Rp98,63 Miliar |
Rp102,33 Miliar |
|
Total Ekuitas |
Rp71,88
Miliar |
Rp77,54
Miliar |
|
Total Liabilitas |
Rp26,74 Miliar |
Rp24,79 Miliar |
Pembatalan Divestasi dan Rencana Akuisisi Baru
Seiring dengan perubahan arah bisnis, FITT juga melakukan
perombakan pada rencana aksi korporasinya. Perseroan memutuskan untuk
membatalkan rencana RUPSLB terkait divestasi dua anak usahanya, yakni PT Bumi
Majalengka Permai (BMP) dan PT Fitra Amanah Wisata (FAW). Selain itu, rencana
akuisisi perusahaan pelayaran PT Poseidon Shipping Indonesia juga resmi
dihentikan.
Sebagai gantinya, FITT kini sedang aktif melakukan evaluasi
dan penjajakan terhadap target akuisisi baru di bidang pertambangan. Strategi
ini diharapkan dapat menjadi mesin pertumbuhan baru yang mampu membalikkan
posisi rugi menjadi laba dalam jangka waktu tiga hingga lima tahun ke depan.
Proyeksi Jangka Panjang: Diversifikasi dan Sinergi
Meskipun Joni Rizal belum merinci komoditas tambang spesifik
yang akan disasar, manajemen optimis bahwa integrasi ke sektor energi ini akan
memberikan dampak positif bagi neraca perusahaan. Dengan dukungan dari
pengendali baru yang berpengalaman, FITT berharap setiap segmen usaha baru
nantinya dapat saling mendukung dari sisi sumber daya manusia maupun basis
pelanggan.
FITT kini berada di masa transisi yang krusial. Keberhasilan
transformasi ini akan sangat bergantung pada ketepatan manajemen dalam memilih
aset tambang yang akan diakuisisi serta kemampuan mereka dalam menavigasi
volatilitas harga komoditas global yang menjadi karakteristik utama sektor
pertambangan.

0 Komentar