Daftar IsiTampilkan


JAKARTA
— Emiten yang selama ini dikenal di industri kreatif dan periklanan, PT Fortune Indonesia Tbk. (FORU), mantap mengambil langkah manuver bisnis yang monumental. Perseroan kini bersiap masuk ke sektor energi dengan mentransformasi diri menjadi perusahaan induk (holding) pertambangan batu bara.

Untuk memuluskan langkah mega-akuisisi tersebut, FORU berencana menggelar Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue senilai Rp27,10 triliun.

Guna mengeksekusi rencana ini, perseroan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu, 22 Juli 2026. Agenda utama RUPSLB meliputi persetujuan perubahan kegiatan usaha, peningkatan modal dasar hingga Rp50 triliun, serta restu penyetoran modal dalam bentuk selain uang (inbreng).

 

Skenario Inbreng Rp20,8 Triliun dan Porsi Publik

Dalam gelaran rights issue ini, FORU akan menerbitkan maksimal 215,09 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp126 per saham. Majoritas dana hasil aksi korporasi ini tidak dihimpun secara tunai, melainkan melalui transaksi inbreng.

Pihak pengendali, IMR Asia Holding (IMR AH), bakal menyetor modal non-tunai berupa saham PT Borneo Prima (BP) senilai Rp20,82 triliun (sekitar 76,81% dari total rights issue). Dengan demikian, FORU akan secara resmi menguasai PT Borneo Prima yang berfokus pada industri batu bara kokas (coking coal).

Sementara itu, sisa dana sebesar maksimal Rp6,28 triliun diincar dari pemegang saham publik dalam bentuk uang tunai.

"Rencana inbreng merupakan langkah strategis yang akan perseroan ambil seiring dengan perubahan kegiatan usaha perseroan menjadi perusahaan induk (holding company) untuk pengembangan usaha pertambangan batu bara," tulis manajemen FORU dalam keterbukaan informasi.

Manajemen menambahkan, dana tunai dari publik nantinya dialokasikan sebagai pinjaman modal kerja bagi PT Borneo Prima guna mendukung operasional penambangan. Namun, jika penyerapan publik tidak penuh, modal kerja BP akan ditopang oleh kas internal perusahaan.

 

Lompatan Neraca dan Prospek Baru

Masuknya PT Borneo Prima diprediksi akan mengubah peta keuangan FORU secara drastis. Berdasarkan kalkulasi proforma per 31 Maret 2026, setelah laporan keuangan BP dikonsolidasikan:

  • Total Aset: Melesat hingga Rp8,71 triliun.
  • Total Ekuitas: Meningkat menjadi Rp7,78 triliun.
  • Total Liabilitas: Terjaga di kisaran Rp1,56 triliun.

Diversifikasi ke sektor coking coal—yang menjadi bahan baku penting industri baja—diharapkan tak hanya memperluas keran pendapatan perseroan, tetapi juga memberikan pijakan finansial yang jauh lebih solid dan berkelanjutan di masa depan.